
Dika sudah tiba di rumahnya, bersama dengan Awan dan pak supir. Di tambah dengan satu perawat, yang akan merawat Dika. Selama dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Perawat tersebut, akan mendapatkan libur satu hari setiap minggunya. Sedangkan pak supir dan istrinya, yang akan selalu stay di rumah. Untuk menemani Dika.
Semua sudah di atur oleh Awan, yang meminta pada pengacara keluarga, untuk mengurus segala sesuatunya untuk semua keperluan yang dibutuhkan.
Istrinya pak supir, yang ikut tinggal di rumah ini, tiba tak lama kemudian. Di saat mobil Awan baru saja masuk ke dalam pekarangan rumah.
Sekarang, mereka semua masuk ke dalam rumah. Dengan membawa barang-barang yang mereka bawa.
Yang paling banyak membawa barang bawaan, tentunya pak supir dengan istri. Yang datang menyusul. Karena mereka berdua, memang akan tinggal di rumah ini. Menemani Dika, dan membantu perawat, untuk menjaga dan merawat Dika juga.
"Den. Duduk aja Den! Biar Bapak yang bawa."
Pak supir merasa tidak enak hati, karena Awan ikut membawa kardus yang berisi pakaian miliknya. Yang memang di bawa istrinya tadi.
"Gak apa-apa Pak. Dika juga udah di urus perawat. Lha Awan cuma melenggang seorang diri kan?"
Pak supir tentu saja sungkan. Dia sudah dikerjakan oleh keluarga Awan sejak lama. Diperlakukan dengan baik, dan sering mendapatkan bantuan juga jika ada keperluan. Sama seperti jika, dia sedang membutuhkan dana tambahan. Untuk biaya kuliah kedua anaknya yang ada di Jogja.
Itulah sebabnya, pak supir juga tidak mau mengecewakan keluarga majikannya itu. Apa pun yang ditugaskan untuknya, dia jalani sebagai bukti bahwa, dia adalah pekerja yang baik dan bertanggung jawab.
Dika hanya diam saja di kursi roda. Tak jauh dari tempat duduknya Awan. Tidak ada pergerakan yang berarti, yang dilakukan oleh Dika.
Tatapan matanya, juga kosong. Tidak ada sesuatu yang bisa menarik perhatiannya, untuk mengingat sedikit saja, tentang memory yang ada di dalam otaknya.
"Sus. Tolong di rawat dengan baik ya teman Saya itu!" Pesan Awan, di saat perawat Dika keluar dari dalam kamar. Di mana Dika akan ditempatkan nantinya.
"Iya pastinya Mas."
Perawat menjawab dengan mengiyakan. Karena dia memang direkomendasikan langsung oleh dokter yang menangani Dika.
Setelah di rasa cukup, Awan pamit untuk pulang terlebih dahulu. Karena hari juga sudah berganti dengan malam.
"Saya pamit pulang dulu ya Pak! Bapak hati-hati. Jika ada sesuatu yang terjadi, segera hubungi Saya, seperti biasanya." Awan memberikan beberapa nasehat dan penjelasan, kepada pak supir.
"Siap-siap Den! Pastinya lah... ke mana lagi Bapak melaporkan semua ini, jika bukan pada Aden," sahut pak supir, dengan tersenyum.
"Oh ya, untuk kendaraan. Besok ada supir yang mengantar mobilnya ke sini."
"Wahhh, makasih banyak Den. Mobilnya juga nanti kebanyakan nganggur pastinya. Hehehe..."
"Hahaha... buat jaga-jaga Pak!"
"Oke. Siap-siap!"
Akhirnya, setelah selesai dengan urusannya bersama orang-orang yang dia tugaskan, Awan keluar dari dalam rumah. Kemudian masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mobil Awan tampak keluar dari halaman rumah Dika.
*****
Ara sudah bersiap untuk berangkat tidur. Di saat mobil Awan terdengar tiba di depan rumah.
Clek!
Ara membuka pintu kamar, berbarengan dengan Anggi. Yang juga keluar dari dalam kamarnya.
"Siapa yang datang Kak? Apa itu Kak Awan?" tanya Anggi, ingin tahu.
"Iya. Sepertinya itu kak Awan."
Ara menjawab pertanyaan dari adiknya, dengan tidak jelas. Karena dia sendiri juga tidak tahu, siapa yang datang kali ini.
Tok tok tok!
"Sayang! Assalamualaikum..."
Terdengar suara Awan dari luar rumah, yang mengucapkan salam.
"Nah bener kan. Itu Kak Awan."
Akhirnya, Ara berjalan menuju ke arah pintu. Kemudian membukakan pintu untuk suaminya. Yang baru saja datang.
Clek ceklek Clek!
Kunci pintu diputar, kemudian pintu rumah terbuka. Tampak Awan yang berdiri di depan pintu rumah, dalam keadaan lelah.
Awan masuk ke dalam rumah, dengan mengulurkan tangannya pada istrinya.
"Kak," sapa Ara, dengan menyambut uluran tangan Awan. Kemudian mencium punggung tangan suaminya itu.
Awan tersenyum, meskipun sebenarnya badannya sangat lelah. Karena kegiatannya hari ini.
Anggi hanya diam saja, memperhatikan kakak iparnya itu. Tapi akhirnya dia pamit untuk kembali ke dalam kamar lagi.
"Kak. Anggi balik ke kamar ya!"
Ara hanya mengangguk saja, kemudian kembali fokus memperhatikan keadaan suaminya. Yang saat ini duduk di kursi tamu.
"Kakak mau makan, atau mandi dulu?"
"Bentar Dek. Kakak mau duduk sebentar."
"Sebenarnya, Kakak pengen nyapa baby yang ada di perut itu. Tapi Kakak belum mandi. Nanti dia mual-mual. Karena bau keringat papanya. Hehehe..."
__ADS_1
Jawaban yang diberikan oleh Awan, membuat Ara tertawa senang.
"Hehehe... Kakak bisa aja."
"Oh ya, tadi bagaimana ditunggui Oma-oma dan Opa-opa juga di rumah?" tanya Awan, tentang keadaan Ara tadi siang. Di saat dia sedang pergi ke rumah sakit untuk mengurus Dika.
Awan ingin tahu, bagaimana cara omanya itu membuat Ara senang dan tidak merasakan mual-mual sepanjang hari ini.
Sebenarnya, Awan sudah diberi kabar mama Amel. Dengan semua kegiatan mereka tadi siang. Yang mengadakan rujak masal di rumah ini. Karena ada ibu Sofie, dan juga Sekar. Yang ikut meramaikan acara rujakan tersebut.
Tapi Ara tidak mau menceritakan kembali tentang suasana seru tadi siang.
"Kakak mandi dulu. Ara siapkan makanan. Setelah itu, kita tidur. Nanti Ara cerita," pinta Ara, supaya Awan mandi terlebih dahulu.
"Ok-ok Sayang. Jangan mual-mual ya nanti. Papa mau jenguk Kamu di dalam sana," ujar Awan, menggoda istrinya. Yang sekarang ini jadi cemberut.
"Ihsss... kakak mesummm ih!"
"Hehehe... ya gak apa-apa lah! Kan messumm nya juga akhirnya jadi ini!" Awan tetap saja terasa tidak seperti yang dikatakan oleh Ara.
Awan segera berlari menuju ke arah kamar, sebelum lengannya di pukul Ara.
"Hehehe..."
Ara tertawa senang, melihat suaminya itu berlari menuju ke kamar.
Setelah itu, dia pun akhirnya berjalan menuju ke arah dapur. Dia ingin menyiapkan makan malam untuk suaminya.
Karena Ara tahu, meskipun Awan baru saja dari luar. Suaminya itu tidak akan makan sendiri, di luar rumah, jika tidak bersama dengannya atau keluarga yang lain.
Awan mulai membiasakan diri, untuk bisa makan apapun yang ada di rumah. Dan tentunya itu bukan hal yang sulit untungnya. Karena selain dia memang tidak terbiasa dengan keluar rumah sendiri. Dia juga merasa tidak nyaman, jika harus menikmati makanan seorang diri.
Jadi, lebih baik makan di rumah. Dengan makanan yang memang di masak sendiri. Meskipun rasanya berbeda dengan makanan di luar. Tapi setidaknya, itu bisa membuat ikatan cinta mereka semakin kuat.
Menghargai apa yang sudah diusahakan oleh istrinya. Apalagi saat ini, Ara sedang dalam keadaan hamil.
Beberapa hari yang lalu, Awan sudah mengusulkan agar memperkerjakan seorang pembantu rumah tangga. Tapi Ara menolaknya.
Ara berasalan jika, dia akan merasa bosan. Karena tidak bisa mengerjakan apa-apa di rumahnya sendiri. Karena ada bibi pembantu rumah, yang akan mengerjakan semua tugas rumah.
"Besok-besok jika Ara sudah merasa repot, baru cari pembantu Kak. Saat ini biar Ara sendiri. Itung-itung buang kantuk dan olah raga juga."
Begitulah alasan yang dibuat oleh Ara pada Awan.
#Untuk Indonesia jaya 🇮🇩
Merdeka ✊
__ADS_1
17/8/2022