
Pagi hari, saat Abimanyu sudah pergi ke salah satu kantor perusahaan yang mengundangnya, Anjani diam di kamar saja. Dia sedang berkirim pesan dengan karyawan kafe rumah_nya yang membantunya memasak selama ini.
Tok... tok... tok!
Pintu kamar diketuk dari luar. Anjani, menaruh handphone yang ada ditangannya di atas meja. Dia berjalan menuju ke pintu, yang diketuk seseorang dari luar.
Clek!
Pintu dibuka Anjani. Tampak Sekar, adik iparnya dari balik pintu.
"Ya, ada apa Sekar?" tanya Anjani, setelah pintu terbuka sempurna.
"Mbak, emhhh... itu, Sekar mau... mau minta tolong bisa?" tanya Sekar terbata-bata.
"Minta tolong apa?" tanya Anjani bingung, karena Sekar tidak mengatakan apa yang dia butuhkan.
"Itu... itu, Sekar minta tolong buat... buat ganti tabung gas elpiji. Bibi sedang ke pasar. Tidak ada orang. Sekar mau buat mie, tapi tabung gas habis. Sekar gak bisa ganti," jawab Sekar, sambil tersenyum kikuk. Dia juga bicara dengan gugup, mungkin karena merasa malu, karena tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah, hanya sekedar mengganti tabung gas elpiji saja.
"Oh, ayok!"
Anjani tersenyum, dan keluar dari kamar. Mereka berdua, Anjani dan Sekar, turun ke lantai bawah dan menuju ke arah dapur.
Ternyata, gas yang habis sudah di lepas dari selang dan Sekar, tidak bisa memasang dengan tabung gas elpiji yang baru.
Anjani, segera membantu Sekar memasangkan tabung gas elpiji, hingga pas dan bisa menyala lagi.
"Sudah Sekar," kata Anjani, setelah semuanya terpasang rapi.
"Eh iya, terima kasih ya Mbak. Emhhh... Mbak Jani mau Sekar buatkan mie juga?" Sekar, mengucapkan terima kasih dan menawari Anjani juga.
"Tidak usah, terima kasih. Kamu kenapa bikin mie pagi hari begini? kan masih ada makanan juga?" tanya Anjani sedikit heran.
"Emhhh... Sekar malas Mbak, gak selera makan. Jadi mau bikin mie saja," jawab Sekar sambil tersenyum canggung.
__ADS_1
"Mau Mbak bikinin omlet sayur gak, buat ganti sarapan nasi?" Anjani menawari Sekar.
"Mbak bisa, boleh-boleh, kalau tidak merepotkan." Sekar, dengan senang hati menerima tawaran dari Anjani, untuk dibuatkan omlet sayur sebagai sarapan paginya yang sudah telat.
Akhirnya, Anjani meminta Sekar untuk mengambil dua telur dan sayur-sayuran yang ada di lemari pendingin. Anjani, memilih-milih sayuran yang pas untuk dibuat omlet pagi ini.
Seperempat jam kemudian, omlet sayur buatan Anjani sudah matang dan disajikan di atas piring.
"Tara... omlet sayur untukmu Sekar. Silahkan dinikmati. Semoga suka."
Anjani, meletakkan piring berisi omlet sayur buatannya di depan Sekar, yang duduk menunggu dan melihatnya sedari tadi di meja makan.
Sekar, tersenyum senang, karena bisa sarapan pagi lebih baik, dibanding harus menyantap mie instan pada waktu masih pagi hari.
"Wah Mbak, kayaknya enak ini. Ah, Sekar jadi merepotkan pagi-pagi," ucap Sekar, merasa tidak enak hati karena sudah mempunyai penilaian yang buruk terhadap kakak iparnya itu. Dia jadi merasa bersalah, karena telah salah menilai Anjani selama ini.
"Ah, ternyata dia tidak seburuk yang Aku pikirkan selama ini ya," kata Sekar dalam hati, sambil memotong-motong omlet di depannya.
Anjani, menyodorkan gelas berisi air putih di dekat Sekar. Ini membuat Sekar kembali merasa tidak enak, karena ternyata Anjani adalah kakak ipar yang baik dan pengertian.
Sekar, meminta maaf pada Anjani, soal kelakuannya yang tidak baik kemarin-kemarin.
Anjani, tersenyum dan meminta Sekar untuk melanjutkan makannya. "Tidak apa-apa, Kamu kan tidak tahu. Sudah-sudah, ayo dilanjutkan makannya. Dihabiskan ya," kata Sekar tanpa banyak berkomentar soal kelakuan adik iparnya itu.
Sekarang, Sekar jadi tahu jika kakak iparnya, Anjani, adalah istri yang baik untuk Mas_nya, Abimanyu.
*****
Sore, sekitar pukul tujuh belas. Anjani dan Abimanyu, bersiap-siap untuk pulang ke Bogor. Mobil dan semua keperluan mereka, sudah masuk ke dalam bagasi. Tinggal mereka yang masih berpamitan pada keluarganya.
Ayah Edi, ibu Sofie dan kedua anak gadisnya, Sekar dan Yasmin, sudah berdiri di teras, mengantar Abimanyu dan Anjani yang akan bersiap untuk berangkat.
"Yah, Kami berangkat dulu ya," kata Abimanyu, saat berpamitan dengan ayahnya.
__ADS_1
"Ya, hati-hati ya. Jaga keluarga Kamu sebaik-baiknya. Semoga, secepatnya kalian dapat momongan," kata ayah Edi, memberikan dukungan pada anaknya, Abimanyu.
"Iya Yah, aamiin."
Abimanyu, mengamini harapan dari ayahnya itu. Dia juga berharap hal yang sama seperti yang dikatakan ayahnya itu.
"Bu, Kami berangkat." Abimanyu ganti berpamitan pada ibunya, Sofie.
Ibu Sofie hanya mengangguk. Dia tidak ingin mengatakan apa-apa lagi. Sepertinya, ibu Sofie tidak mau di tegur lagi sama suaminya itu, sama seperti malam kemarin.
Abimanyu, beralih kepada kedua adiknya. Dia banyak memberikan pesan dan nasehat pada mereka berdua. Baik untuk pergaulan,. kuliah mereka serta untuk tetap rukun dalam keluarga yang ada sekarang ini.
"Iya Mas," jawab kedua adiknya Abimanyu, secara bersamaan.
Anjani juga melakukan hal yang sama seperti suaminya. Dia berpamitan pada ayah dan ibu mertuanya serta kedua adik iparnya.
Dia menyalami mereka semua, dan memeluk ibu mertuanya sebentar, karena ibu Sofie, tidak begitu menanggapinya dengan baik.
Anjani ganti menyalami Yasmin dan memeluknya sebentar. Setelah itu, dia berganti lagi pada adiknya yang satu lagi, yaitu Sekar.
Sekar justru memeluk Anjani erat dan lama. Dia juga menangis tersedu-sedu saat berada di dalam pelukan Anjani, kakak iparnya.
"Mbak Jani. Hati-hati ya, hiks... hiks..."
Sekar tidak tahu, jika ibu dan saudaranya, Yasmin, sedang melihatnya dengan wajah tanda tanya. Dalam hati, mereka berdua saling berbincang tanpa harus mengeluarkan kata-kata. "Sekar kenapa sih, aneh. Apa itu sandiwara, atau dia sudah kena racun Anjani? sudah kena pelet juga dia." Begitu kira-kira, mereka berdua, ibu Sofie dan Yasmin, membicarakan tentang Sekar.
"Iya, terima kasih ya. Kamu yang rajin belajar dan kuliahnya. Kalau ada waktu, main-main ke Bogor. Mbak pasti akan senang," kata Anjani, masih dalam keadaan memeluk Sekar. Adik iparnya yang sudah tidak lagi memandanginya dengan mata kebencian.
Beberapa saat kemudian, Abimanyu dan Anjani sudah masuk ke dalam mobil. Mereka berdua melambaikan tangan kepada keluarnya, kemudian segera berangkat, agar tidak terlalu malam sampai di Bogor.
Saat berada di perjalanan, Abimanyu bertanya pada Anjani, istrinya, "Sekar tadi kenapa, kok nangis begitu?" Abimanyu, tidak tahu, jika adiknya itu sudah merasa bersalah, karena ikut-ikutan memusuhi Anjani selama ini. Penilaiannya terhadap Anjani, salah besar. Itulah sebabnya, dia jadi menyesal.
"Tidak tahu Mas. Mungkin karena setelah ini, rumah jadi sepi kan ya, dia merasa kesepian mungkin," jawab Anjani memberikan beberapa kemungkinan, yang dia sendiri sebenarnya tidak ketahui.
__ADS_1
"Oh, iya juga. Semoga akan ada waktunya kita bisa ke Jakarta lagi dalam waktu dekat ini. Mas juga kasihan sama adik-adik. Mereka jadi tidak ada yang di mintai bantuan jika ada kesulitan saat belajar."
Selama ini, adik-adiknya Abimanyu memang mengandalkan dirinya, jika mengalami kesulitan dalam belajar. Sekarang, Anjani jadi tahu juga mengenai alasan, kenapa kemarin-kemarin ibu dan adik-adik iparnya itu, meminta Abimanyu untuk bisa tetap berada di Jakarta. Bukan hanya tentang dirinya, tapi lebih untuk kepentingan mereka juga.