
Bandara internasional Soekarno-Hatta. Satu tahun yang lalu, di hari keberangkatan keluarga Abimanyu, ke Amerika.
"Huhuhu... ikut Anggi Ma... Pa. Huhuhu..." Miko terus saja menangis dengan keras, saat akan di tinggalkan oleh Anggi dan Ara, yang ikut bersama dengan kedua orang tuanya, untuk menetap di Amerika.
Mamanya Miko, Sekar, berusaha untuk membujuk anaknya itu, yang tidak tahu, jika Amerika tidak hanya sekedar ke Bogor, atau ke mall yang ada di daerah Jakarta saja.
Miko juga tidak tahu, jika Amerika itu sejauh apa dan bagaimana keadaan di sana.
Yang pasti, dia hanya ingin ikut bersama dengan Anggi. Dan tetap bisa bermain bersama sepupunya itu.
Miko tetap menangis, berharap agar papanya, Juna, mengijinkan dirinya untuk ikut bersama dengan Anggi ke Amerika.
"Gak mau! Pokoknya mau ikut Anggi sama bunda Jani. Huhuhu..."
Lain halnya dengan Nanda. Dia yang sudah pasti tahu, bagaimana perpisahan ini terjadi, tidak banyak bicara.
Nanda hanya diam saja, karena tidak ingin membuat Ara jadi ikut sedih juga. Padahal sebenarnya, Nanda merasa sangat sedih.
Sekarang Nanda jadi tahu, bagaimana perasaan Ara dulu, saat dia tinggal pergi ke Taiwan.
Di saat Nanda ikut dengan mamanya, Yasmin, dan juga papa sambungnya, Aksan.
"Kak Nanda."
Ara memangil Nanda, yang diam di samping Eyang putrinya. Ibu Sofie. Karena hanya dengan kakaknya itu, dia belum berpamitan tadi.
Nanda tidak menyahuti panggilan Ara. Tapi dia langsung datang dan memeluk Ara, sebagai tanda perpisahan mereka berdua.
"Kamu jangan nakal di sana ya. Jangan buat bunda dan ayah khawatir."
Ara mengangguk mengiyakan, di dalam pelukannya Nanda.
"Kakak akan berusaha untuk bisa mendapatkan beasiswa ke Amerika juga. Biar kita bisa bareng lagi," ucap Nanda lagi, menyambung perkataannya yang tadi.
Ara hanya bisa mengangguk lagi, karena dia juga sudah tidak bisa menahan air matanya yang mengalir.
"Hiks hiks hiks... Kakak juga jangan buat eyang khawatir ya? salam buat tante Yasmin dan om Aksan, jika Kakak pulang ke kampung."
Sekarang, ganti Nanda yang mengangguk mengiyakan perkataan Ara. Dia juga tidak bisa berkata-kata lagi, karena tenggorokannya terasa kaku dan tercekat ketika ingin mengeluarkan suara.
"Kak, ayo," ajak Abimanyu, karena waktu mereka untuk naik ke pesawat sudah diumumkan.
"Kakak..."
"Hati-hati Ra," ucap Nanda, melepaskan pelukannya pada Ara.
Nanda menyalami tangan Abimanyu lagi, untuk perpisahan mereka.
__ADS_1
"Belajar yang rajin Nda. Dan tetap jaga diri. Jangan buat Eyang khawatir," kata Abimanyu, memberikan nasehat dan pesan pada Nanda.
"Iya Yah," jawab Nanda pendek, dengan mengangguk.
Tak lama, terdengar lagi suara tangisan Miko, yang terdengar sangat keras, saat Anggi pergi dan melambaikan tangan.
"Anggi... huhuhu..."
"Kak Miko, nanti bisa main dengan Adek di rumah. Kan adek juga udah mulai bisa berjalan."
Mamanya, Sekar, berusaha untuk membujuk Miko, supaya tidak lagi menangisi Anggi, yang ikut pindah ke Amerika, bersama dengan ayah dan bundanya.
"Tapi Adek gak bisa diusilin kayak Anggi Ma. Hiks... Anggi juga ngeselin, tapi gemes. Hiks... Anggi kan pacarnya Miko. Masak pergi ninggalin Miko sih! Huhuhu..."
Miko, dengan wajah cemberutnya, berkata-kata dengan masih sesenggukan.
Semua orang yang melihat tingkah Miko, bukan merasa ikut sedih, tapi justru tertawa-tawa senang, karena perkataan Miko yang seperti sedang melawak.
Nanda juga ikut tersenyum, melihat tingkah adik sepupunya itu.
"Udah, gak usah nangis lagi. Nanti Mama ajak main-main ke mall bareng kak Nanda juga. Main ke Time Zone mau gak?"
Sekar berusaha untuk mengalihkan kesedihan anaknya, Miko.
Tentu saja, perkataan dan tawaran dari mamanya, membuat Miko tertarik. Dia langsung mengangguk mengiyakan, dan mengusap air mata dan ingus yang sempat hampir jatuh.
"Cepat kan ngrayu Miko."
"Dasar gembul. Di kasih iming-iming langsung lupa jika sedang nangis."
Juna, ayah Edi dan ibu Sofie, saling berkomentar, tentang tingkah Miko, yang dengan cepat lupa akan kesedihannya.
"Ayok Nda," ajak ayah Edi, saat mereka semua akan meninggalkan bandara, untuk pergi ke Mall, sesuai perkataan Sekar tadi.
Mereka semua tidak mau jika, Miko akan menagih janji, jika sampai di rumah, dan tidak jadi mampir ke mall untuk bermain di Time Zone.
*****
Di hari perpisahan sekolah tingkat SMA.
"Anak-anak SMP libur ya Bro?" tanya Dika, saat melihat ke arah bangunan sekolah SMP, yang terlihat sepi.
"Iya," jawab Awan pendek.
"Wah, sayang sekali!"
Awan menoleh sekilas, ke arah Dika, tanpa bertanya atau mengatakan sesuatu, dengan apa yang dimaksud oleh Dika tadi.
__ADS_1
Sejak kejadian di rumah Ara, di waktu Dika ingin menembak Ara dan ternyata salah paham dengan dikiranya Ara dan Awan sudah berpacaran, hubungan keduanya, Awan dan Dika, masih sama seperti dulu.
Tetap baik, meskipun tidak lagi terlihat sering bicara satu sama lain.
Apalagi di waktu itu, waktu ujian segera datang, sehingga mereka berdua disibukan dengan aktifitas belajar dan belajar.
Dika juga belum sempat menunjukkan mobil barunya, dan baru kali ini, saat perpisahan sekolah, dia mengendarai mobil sport mewah miliknya.
Sayangnya, Ara tidak bisa melihat semua itu. Dika juga tidak tahu, jika Ara sudah berangkat ke Amerika dua hari yang lalu.
Keberangkatan Ara dan keluarganya ke Amerika, sudah atas ijin dari pihak sekolah.
Segala sesuatu yang diperlukan untuk kepindahan ke Amerika, akan diurus oleh pihak yayasan.
Semua itu juga karena campur tangan mama Amel, yang mempunyai wewenang juga di dalam kepengurusan yayasan sekolah.
Tapi ternyata, Awan sendiri juga tidak tahu. Dan dia memang tidak berusaha untuk mencari tahu, tentang kabarnya Ara.
Karena dia sudah dipesan oleh Omanya, mama Amel, agar tidak perlu memikirkan banyak hal. Dan fokus pada tujuannya, yang akan melanjutkan pendidikannya ke Amerika.
Nanda, sebagai ketua OSIS, tentu saja ikut datang untuk mewakili siswa siswi SMA, untuk mengikuti acara perpisahan mereka, anak-anak kelas dua belas.
Tapi Nanda juga diam saja, dan tidak perlu bicara tentang Ara pada mereka berdua, Awan dan Dika.
Apalagi, Nanda juga tidak mendapatkan pertanyaan apa-apa dari kedua-duanya, yang selama ini diketahui Nanda, sebagai cowok yang cukup dekat dengan Ara.
Dan menurut Nanda, sepertinya mereka berdua juga memiliki perasaan terhadap adik sepupunya itu.
Tapi ternyata Dika memberanikan diri, untuk bertanya pada Nanda soal Ara.
"Hai Nda. Apa kabar adik sepupu Loe?" tanya Dika, di saat Nanda baru saja turun dari panggung, karena acara sambutan dari ketua OSIS.
"Adek sepupu yang mana?" tanya Nanda, pura-pura tidak paham, dengan apa yang ditanyakan oleh Dika.
"Adik sepupu Loe, siapa lagi kalau bukan si Diyah, atau Ara itu!"
"Oh, maaf Kak. Adik sepupu Aku itu banyak. Ada yang besar dan kecil. Ada yang cewek, ada juga yang cowok."
"Halah, Loe pikir ngapain Gue tanya adik sepupu Loe yang lain. Gak penting amat. Pastinya cuma adik sepupu Loe yang sekolah di mari, and Gue kenal dia juga kan?" Dika berkata untuk menjelaskan, dengan nada yang sewot.
Nanda hanya tersenyum, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Dika. Tapi Nanda tidak juga menjawab pertanyaan, yang diajukan oleh Dika soal kabarnya Ara.
"Gue mau kuliah ke ke universitas terkenal dan paling mahal di Jakarta. Gue juga udah punya mobil mentereng, jadi gak perlu adik Loe yang sok cantik itu jual mahal. Gue pasti bisa dapat yang lebih dari dia."
Mendengar perkataan tersebut, Nanda sebenarnya ingin memukul kepalanya Dika, supaya bisa berpikir jernih.
Tapi sepertinya itu tidak penting juga. Biarkan saja si Dika ngoceh apa saja. Toh, Ara tidak sama seperti yang dikatakan olehnya juga.
__ADS_1
Nanda yang lebih tahu, bagaimana sebenarnya adik sepupunya, Ara.