Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Keputusan Yang Diputuskan


__ADS_3

"Ara, how... can you explain to us? Bagaimana Kamu memberikan penjelasan pada kami tentang berita ini?"


Ara tersenyum tipis, mendengar pertanyaan, yang diajukan oleh dekan.


"Maaf sir. Kenapa Anda tidak bertanya pada ketiga orang, yang sudah menyebarkan berita tersebut, sehingga menjadi heboh? Bukannya mereka bertiga lebih tahu bagaimana untuk menjelaskannya?"


Pertanyaan yang diajukan oleh dekan, tidak dijawab oleh Ara, dan justru, dia balik bertanya.


"Ini bukan Saya membuat pembelaan diri. Tapi, karena Saya benar-benar tidak tahu, apa maksud mereka membuat berita ini kemarin."


"Bukannya mereka lebih dari apa yang Saya lakukan, jika bertemu dengan kekasih mereka?"


"Apa karena Saya imigran, dan kulitnya juga berwarna? lalu, di mana yang katanya negara ini adalah negara yang menjunjung kebebasan dan universal?"


"Apa ini yang di namakan menghormati hak asasi? lagipula, Saya tidak merugikan siapapun. Dan orang yang ada bersama dengan Saya adalah, calon suami Saya sendiri. Apa ada yang salah dengan apa yang Saya lakukan?"


Dekan dan semua orang yang ada di ruangan tersebut, terdiam mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Ara, terkait foto-foto dan berita tentang dirinya.


Apa yang dikatakan dan ditanyakan oleh Ara, semuanya tidak bisa di bantah oleh mereka. Karena semuanya itu memang benar adanya.


Tapi, karena mahasiswi yang tiga orang itu adalah warga negara Amerika asli, dan dari golongan kulit putih, tentu saja, perlakuannya kepada mereka juga berbeda. Tidak akan sama jika, mereka adalah orang dari golongan kulit berwarna.


Ara sadar betul bagaimana perlakuan orang-orang, yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan di negara adidaya ini.


Akhirnya, dekan yang tidak bisa membantah lagi, dan juga ke-tiga mahasiswi tersebut, memberikan keputusan untuk skorsing ke-tiga mahasiswi_nya itu, selama satu semester.


Sedangkan Ara sendiri, juga mendapat skorsing selama dua pekan.


Dekan lupa, jika satu pekan ke depan, Ara ada pertandingan bela diri antar universitas se_Atlanta.


Tapi, Ara juga tidak membela diri dan mengingatkan pada dekan, tentang jadwal pertandingannya tersebut.


Ara justru tersenyum tipis mendengar keputusan yang diambil oleh dekan.


'Aku bisa pulang ke Indonesia, tanpa harus repot-repot lagi meminta ijin cuti. Baguslah kalau begini.'


Batin Ara, justru mengucapkan syukur atas apa yang diputuskan oleh dekan untuknya.


Ke_tiga mahasiswi itu keluar dari dalam ruangan dekan dengan menundukkan kepalanya. Tapi di saat hampir keluar dari pintu, mereka semua, menoleh ke arah Ara, yang masih duduk di tempatnya.


Senyuman licik, terbit di bibir mereka. Dan Ara, melihat senyuman itu.


'Apa lagi yang mereka rencanakan ke depan?' tanya Ara, dalam hati.

__ADS_1


Tapi Ara tidak ingin memikirkan hal lain. Dia akan fokus pada hasil sidangnya kemarin.


Tak lama kemudian, Ara pamit pada dekan dan rekannya yang masih memperbincangkan tentang keputusan mereka tadi.


"Maaf sir. Saya permisi dulu. Terima kasih," ucap Ara, yang berpamitan pada kedua orang tersebut.


"Ok Ara. Be your self."


"Thanks sir."


Ara pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke arah pintu. Dia keluar juga dari tempat yang menurutnya tidak jelas dengan semua keputusan yang dia dengar tadi.


"Bagaimana girl, are you ok?"


Di luar ruangan, ternyata dosen muda yang kemarin memberikan kabar pada Ara, sudah menuggu di luar.


Dosen muda tersebut, bertanya kepada Ara. Dia juga ingin tahu, apa keputusan dekan barusan.


"Yes sir, I m ok."


Akhirnya, Ara juga memberitahukan kepada dosen muda tersebut, akan keputusan yang telah ditetapkan oleh dekan.


"Hai, bagaimana bisa Dekan juga menskors Kamu? Apa dia lupa jika, ada pertandingan bela diri untuk Kamu ikuti pekan depan?"


"Tidak masalah. Ini hanya pertandingan kecil untuk kampus sebesar ini sir. Biarkan mahasiswi yang lain, yang akan maju pekan depan."


Ara, memberikan penjelasan kepada dosen muda tersebut, untuk pertandingan bela diri pekan depan.


Ini karena, bukan hanya dia saja yang akan maju. Masih ada dua mahasiswi lainnya juga, yang ikut serta selain Ara.


"Tapi, seharusnya memang ada tiga Ara," sahut dosen muda tersebut.


"Saya akan bicarakan ini dengan dekan segera," sambung dosen muda.


"Tidak usah sir. Ini akan membuat Saya seakan-akan mengadu dan ingin meminta keringanan untuk tidak mendapatkan hukuman."


"Tapi di kasus ini, Kamu tidak bersalah Ara." Dosen muda tersebut, tetap merasa yakin jika, ada kesalahan yang sudah dibuat oleh dekan, dalam membuat keputusan tadi.


Tapi, Ara tetap mencegah dosen muda tersebut. Dia tidak mau jika, akan kembali dituduh sebagai seorang yang mencari perhatian dan membujuk dosen muda, untuk kepentingan dan keuntungan pribadinya.


*****


Awan, yang tidak tahu apa permasalahan Ara di kampus, merasa heran, saat menerima panggilan telpon dari Ara. Dan Ara, memintanya untuk tidak menjemput dirinya hari ini.

__ADS_1


..."Kakak tidak usah jemput Ara ya. Ara sudah mau pulang. Kakak akan terlambat untuk sidang kelas nanti."...


..."Lho, tumben sekali sudah mau pulang? Bukannya Kamu ada jadwal latihan juga hari ini?"...


Awan tentu saja hafal dengan semua jadwal kekasihnya itu. Itulah sebabnya, dia juga tidak tergesa-gesa menuju ke kampus Ara, karena perkiraannya sama seperti hari-hari sebelumnya. Karena hari ini, biasanya Ara ada latihan olahraga beladiri.


..."Tidak apa-apa Kak. Ara mau pulang cepat aja kok."...


..."Yakin Kamu tidak apa-apa?"...


..."Iya Kak. Ara naik bus atau taksi aja pulangnya."...


..."Ya sudah. Kamu naik taksi aja, biar aman dan cepat sampai di rumah."...


..."Iya Kak."...


..."Hati-hati ya. Kakak akan ke rumah jika kelas selesai."...


Klik!


Sambungan telpon tertutup. Ara kembali berjalan menuju ke luar area kampus. Dia ingin pulang saja, karena sudah tidak ada lagi yang bisa dia kerjakan saat ini.


Tadi, kata dosen muda yang menemui dirinya, hasil sidangnya akan di umumkan langsung lewat pengumuman yang ada di majalah kampus.


Aplikasi kampus, yang kemarin membuat namanya semakin dikenal oleh orang-orang yang menjadi warga kampusnya ini.


"Hai, itu kan yang mahasiswi yang heboh kemarin?"


"Iya. Itu dia."


"Wah, coba dia mau dengan Aku ya?"


"Eh, bicara apa sih Kamu?"


"Hahaha... siapa tahu, dia juga doyan plus minus, sama seperti kita-kita. Hahaha..."


Jadi, beberapa mahasiswi yang kebetulan melihat dan membicarakan Ara adalah golongan basah kering. Alias doyan cewek atau cowok.


Hal itu sudah lumrah, dan biasa terjadi juga pada anak-anak muda di negara bebas seperti Amerika.


Karena hanya ada di negara seperti Amerika, yang orang-orangnya tidak ada malu, untuk memperlihatkan apapun. Meskipun itu adalah sesuatu yang melenceng.


Tapi, kebebasan dan universal yang mereka agung-agungkan, tidak akan berlaku untuk mereka, yang bukan dari golongan yang sama seperti mereka.

__ADS_1


Hal yang sangat bertolak belakang, dengan apa yang mereka perjuangkan sendiri. Yaitu sebuah kebebasan, baik untuk bereksperimen ataupun bertindak sebagai seorang pribadi secara privasi.


__ADS_2