Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Pertanyaan Yang Diajukan


__ADS_3

Di pangkalan barang-barang bekas.


Wawan, yang sudah kembali menjadi suaminya Mami, sedang sarapan bersama dengan istrinya.


"Mi. Aku mau undang Nanda ke sini gak apa-apa kan Mi?" tanya Wawan, yang sedang meminta ijin pada istrinya, untuk bisa mengundang anaknya ke rumah istrinya ini.


"Undang saja Mas. Aku juga senang kok, jika Nanda mau datang. Sama seperti saat kita menikah kemarin."


Tentu saja Mami merasa senang pada anak suaminya itu. Karena Nanda, beda jauh dengan suaminya ini.


Meskipun ada kemiripan dengan wajah mereka berdua, Nanda dan Wawan, tapi tidak dengan sifat dan melakukannya.


Mami merasa jika, anaknya Wawan itu pemuda yang baik dan sopan. Dia juga tidak memanfaatkan kesempatan, untuk meminta uang pada papanya sendiri.


Bahkan, Mami pernah melihat Nanda, yang menolak sejumlah uang yang diberikan papanya itu.


Padahal waktu itu Wawan bercerita bahwa, saat ini Nanda sedang memerlukan banyak uang. Untuk biaya skripsi dan tugas kuliahnya yang lain.


Nanda memang sedang sibuk dengan kuliahnya. Karena sebentar lagi, dia akan lulus dan menjadi seorang sarjana.


Wawan dengan bangga, selalu membicarakan soal keberhasilan anaknya itu.


Padahal Mami juga tahu jika, biaya kuliah dan kehidupan sehari-hari Nanda, bukan ditanggung oleh Wawan.


Tapi dibiayai oleh mamanya sendiri, bersama dengan papa tirinya Aksan.


Ini diketahui oleh Mami dari pengakuan Nanda sendiri, setelah selesai melakukan acara pernikahannya dengan Wawan untuk yang kedua kalinya.


Dan yang lebih mengejutkan Mami adalah, Nanda juga mengatakan jika, papanya itu belum resmi bercerai dengan istrinya yang terakhir.


Tapi karena semuanya sudah terlanjur, Mami juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia bersyukur saja, karena pernikahannya yang kali ini hanya siri. Meskipun dia tetap saja merasa was-was. Jika suatu hari nanti, dia di tuntut oleh pihak istrinya Wawan, yang sekarang ini juga tidak tahu ada di mana.


Menurut pengetahuan Mami, yang didengar dari ceritanya Wawan, istrinya itu sudah tidak mau lagi melayaninya. Istrinya pergi dengan laki-laki lain, dan tidak ada kabarnya.


Itulah sebabnya, dia menjadi terlunta-lunta sendiri, untuk beberapa bulan yang lalu. Sebelum bertemu kembali dengan Mami.


Untuk saat ini, Mami cuma bisa berharap supaya, suaminya itu benar-benar bisa berubah dan tidak lagi menjadi Wawan yang sama seperti dulu.


"Terima kasih ya Mi. Nanda akan mampir besok, sepulangnya dia dari kampus."


Suara Wawan yang mengucapkan terima kasih kepadanya, membuat Mami tersadar dari lamunan.


"Iya Mas, gak apa-apa."


Dan Wawan pun mendekat ke tempat duduknya Mami, kemudian memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Terima kasih Mi. Nanda pasti juga sangat senang. Karena Mami itu baik dengannya," kata Wawan, yang mengucapkan terima kasih sekali lagi.


"Ya. Semoga saja," ucap Mami, dengan tersenyum bahagia dalam pelukan suaminya itu.


*****


Nanda menerima panggilan telpon dari papanya, Wawan, saat berada di rumahnya Mita.


Papanya, Wawan, bermaksud untuk meminta dirinya, supaya kapan-kapan bisa datang ke rumahnya.


Rumah istri dari papanya, Wawan, yang merupakan bos barang-barang bekas.


..."Oya Pa. Besok Nanda mampir sepulang dari kampus."...


..."Iya beneran ya Nda? Mami pasti seneng banget, jika Kamu bisa punya waktu berkunjung ke sini."...


..."Iya Pa."...


..."Ya sudah kalau begitu. Sampai ketemu besok ya!"...


..."Iya Pa."...


Klik!


Sambungan telpon tertutup. Nanda menghela nafas panjang, mengingat kembali bagaimana keadaan dirinya di waktu kecil dulu.


Dia tidak mau ada dendam di dalam hatinya, untuk papanya, Wawan.


Apalagi, sekarang mamanya, Yasmin, juga sudah mendapatkan kebahagiaan, bersama dengan keluarga barunya. Dengan papa tirinya, Aksan.


Meskipun sekarang ini mamanya tinggal di kampung, dan tidak berada di Jakarta. Hal ini juga yang harus membuatnya jauh dari mamanya.


Tapi karena Nanda cukup dewasa dalam menyikapi hal tersebut, dia pun tidak mempermasalahkan soal itu. Yang penting, mamanya bisa berbahagia dan melupakan semua kenangan pahit, saat masih bersama dengan papanya, Wawan.


"Telpon dari siapa Kak?" tanya Mita, yang datang dengan membawa minuman dingin untuk Nanda.


"Dari Papa."


Jawaban pendek yang diberikan oleh Nanda, membuat Mita mengerutkan keningnya melihat ke arah tamunya itu.


"Kamu kenapa repot-repot bawain Kakak minum Mita. Biarin saja, nanti bibi yang bawa. Atau Kakak juga bisa kok ambil sendiri."


"Hehehe... ini juga yang buat bibi Kak. Tapi Mita yang minta untuk bawa sendiri," sahut Mita, sambil terkekeh geli. Menyadari bahwa, apa yang dikatakan oleh Nanda, sama seperti sedang menyindir dirinya.


"Oh..."

__ADS_1


Mulut Nanda membola, sambil mengangguk-angguk kepalanya paham.


Di rumah Mita, Nanda jadi terbiasa. Sama seperti jika sedang di rumah sendiri. Meskipun dia juga tidak pernah melampaui batas sebagai seorang tamu.


Karena tempat mereka berdua berada saat ini, adalah di teras samping, yang ada di dekat ruangan dapur.


Dan Nanda sudah beberapa kali keluar masuk dapur, di rumahnya Mita ini. Karena pada saat itu, Mita sedang sakit. Dan Nanda hanya membantu bibi, yang ingin mengambil air minum untuk Mita.


Atau, pada saat membantu Mita, untuk mengambil pisau. Yang akan digunakan untuk mengupas buah-buahan.


"Memangnya, Papa kak Nanda di mana?" tanya Mita, yang tidak pernah tahu, bagaimana keadaan keluarganya Nanda.


Selama ini, meskipun mereka berdua sudah tampak sangat dekat, Nanda tidak pernah menceritakan tentang keadaan mama atau papanya.


Yang pernah Nanda ceritakan hanya tentang rumah eyang Kakungnya. Karena Mita juga tahu jika, Nanda tinggal bersama dengan eyangnya. Bukan dengan kedua orang tuanya.


"Papa ada di Jakarta. Tapi, tidak tinggal dengan Kakak."


Sepertinya, Nanda enggan untuk membicarakan tentang papanya, Wawan.


"Eh, itu formulir pendaftaran mahasiswa baru. Kamu bisa isi, jika Kamu memang sudah yakin mau pindah kuliah."


Nanda mengalihkan pembicaraan mereka berdua, tentang papanya.


Setelah membuka tas ransel miliknya, Nanda mengemukakan beberapa lembar kertas, yang merupakan berkas untuk pengisian data dan informasi lainnya. Sebagai syarat untuk pendaftaran mahasiswa baru di kampusnya.


Semalam, Mita menghubungi Nanda, dan menceritakan tentang rencananya untuk pindah kuliah ke kampusnya Nanda.


Itulah sebabnya, tadi saat berada di kampus, Nanda datang ke tempat pendaftaran mahasiswa baru, dan meminta formulir pendaftaran untuk diberikan kepada Mita.


Dari penuturan dan sikap yang tampak jelas ini, Mita tidak lagi bertanya-tanya tentang papanya Nanda.


Mita berpikir jika, mungkin saja ada sesuatu yang tidak sebaiknya untuk diceritakan pada orang lain. Apalagi, Mira sadar jika, dia bukanlah siapa-siapa bagi Nanda.


"Kak..."


Nanda menoleh, di saat Mita memangilnya. Tapi Nanda masih diam. Dia ingin tahu, apa yang ingin disampaikan oleh Mita kepadanya.


"Apa... Apa Kak Nanda... emhhh, itu Kak Nanda sudah punya pacar?"


Akhirnya Mita bisa bertanya pada Nanda. Meskipun dengan suara dan kalimat yang terbata-bata.


Mita segera menunduk malu, setelah selesai memberikan pertanyaan tersebut.


Dia merasa sangat takut jika, Nanda akan marah dan tidak mau lagi datang menemaninya di rumah.

__ADS_1


"Maaf Kak. Tidak usah dipikirkan." Mita mengucapkan permintaan maafnya, dengan cepat.


Karena dia memang belum siap, untuk mendengarkan jawaban dari Nanda, yang menyatakan bahwa, kakak kelasnya itu sudah memiliki seorang pacar.


__ADS_2