
..."Bos. Dua cewek Bos. Gak cuma satu yang kami bawa."...
..."Dua? Anak-anak apa ibu-ibu?"...
..."Remaja dua-duanya Bos."...
..."Bagus. Gue akan segera datang. Jaga mereka berdua. Jangan sampai ada yang kabur!"...
..."Siap Bos!"...
..."Dan ingat! Jangan sampai mereka berdua kenapa-kenapa."...
..."Ok Bos. Siap!"...
Klik!
Salah satu dari para Pengacau itu menghubungi seseorang, yang dia panggil dengan sebutan bos.
Entah siapa yang dia panggil. Karena dia sendiri, tidak tahu secara pasti. Sebab, orang yang tadi dia panggil dengan sebutan bos, tidak pernah menampakkan wajah aslinya.
Bos itu selalu mengunakan kacamata hitam dan masker. Untuk menutup wajah aslinya.
Bos yang di maksud oleh para Pengacau itu adalah, seseorang yang saat ini menjadi kaki tangan Bos besar.
Sedang yang di maksud dengan bos besar adalah, ketua dari kelompok pengedar narkoba dan penjualan wanita-wanita ke luar negeri. Untuk dijadikan pelayan di rumah-rumah bordir.
Sayangnya, Bos besar tidak pernah menampakkan diri di kelompok mereka.
Yang bisa berhubungan dan bertemu dengan Bos besar hanya dia, yang tadi mereka panggil dengan sebutan bos.
Itulah sebabnya, selain merampok para target, mereka juga menculik gadis-gadis, atau remaja yang bisa mereka jual nantinya.
"Kasih minum dulu itu mereka. Bos tidak mau jika terjadi sesuatu pada mereka."
Orang yang tadi menghubungi Bos, meminta pada temannya untuk memberikan air minum pada tawanan mereka. Yaitu Ara dan Anggi.
"Tapi, mereka berdua kan dalam keadaan terikat Ceng. Mulut mereka juga di plester. Apa harus di buka?"
"Iyalah. Goblok itu jangan di ambil sendiri! Lagian mereka hanya remaja kecil. Gak akan berani juga mereka!"
Mereka berdua, para Pengacau itu, berkata dengan saling sahut-sahutan. Ini membuat suasana teman-temannya yang lain terganggu. Karena sedang dalam keadaan tertidur.
Karena mereka sudah tidak tidur dari kemarin siang. Hanya untuk menyiapkan segala sesuatunya, untuk tugas mereka malam tadi.
"Hai! Bisa diam gak?"
"Berisik sekali kalian ini!"
"Tau tuh. Bego aja dia!"
__ADS_1
Teman-temannya yang protes, tidak tahu apa yang sebenarnya tadi mereka perdebatkan. Mereka hanya tahu bahwa, kedua temannya itu saling berdebat saja.
"Diam lu pada!"
Orang yang tadi menghubungi Bos, dan di sebut dengan sebutan Ceng, membentak semua teman-temannya. Dia juga melotot marah, melihat mereka yang tadi menegurnya.
Sekarang, ketiga temannya itu terdiam dan tidak lagi berani untuk berbicara.
"Sana kasih minum!"
"Siap Ceng!"
Akhirnya, orang yang tadi bicara dengan Ceng, mengambil sebotol air mineral, untuk dia bawa ke dalam ruangan. Di mana Ara dan Anggi dalam keadaan terikat sebagai tawanan mereka.
"Kalian berjaga-jaga. Aku mau pergi cari sarapan. Ini udah jam setengah enam pagi. Pasti ada banyak warung yang sudah buka."
"Siap Ceng!"
"Oh ya bersihkan rumah ini! Sebagaimana layaknya sebuah rumah hunian. Agar tidak ada yang curiga dengan kegiatan di dalam rumah ini."
"Ok Ceng. Yang enak ya beli sarapan nya!"
"Sip!"
Orang yang dipanggil dengan Ceng, segera berjalan keluar dari dalam rumah. Dia akan mencari warung atau tempat makan, yang sudah buka sepagi ini.
*****
Di dalam ruangan, di mana Ara dan Anggi di tahan.
Clek!
Pintu terbuka. Tapi dengan cepat di tutup lagi.
Clek!
Salah satu orang yang tadi diperintahkan oleh Ceng, masuk dengan sebuah botol air mineral untuk tahanan.
"Kalian haus?" tanya orang tersebut, dengan memperhatikan keadaan Ara dan Anggi. Yang tidak mungkin bisa menjawab pertanyaan darinya.
"Oh iya Aku lupa. Kalian kan bisu. Hahaha..." Dia tertawa senang, karena melihat ke dua tawanannya yang tidak berdaya.
Ara dan Anggi, hanya diam saja tanpa mengeluarkan suara apapun. Karena jika mereka mengeluarkan suara, orang tersebut juga belum tentu tahu. Dan tidak mungkin mau membuka plester di mulut mereka.
creekkk!
Plester yang menutupi mulut Ara di buka.
"Emhhh..."
__ADS_1
Ara menahan rasa sakit pada bibir dan sekitar mulutnya, akibat plester yang di buka dengan kasar.
Anggi cepat bereaksi. Karena mendengar suara kakaknya yang seperti sedang dalam keadaan kesakitan.
Tapi, dengan cepat juga tangan Ara menahan dan memberi kode pada Anggi, supaya tetap diam dan tidak melakukan apa-apa.
"Ini minumlah. Tapi Kalian bisa kan minum tanpa mengunakan tangan?" Orang tersebut, mengiming-imingi Ara dengan sebotol air mineral, yang dia pegang.
Dan Ara hanya pura-pura mengangguk mengiyakan pertanyaan dari orang tersebut.
Dia juga pura-pura menahan rasa sakit, pada area mulutnya.
"Oh oke. Karena Aku adalah orang yang baik hati dan tidak sombong. Maka dari itu, Aku akan memberimu minum. Tapi ingat, Kamu harus tetap patuh padaku. Hahaha..."
"Ya. Tapi Aku juga ingin tahu, siapa kalian? Dan kenapa tahu jika di rumahku ada pesta?"
Ara mencoba mencari tahu, tentang siapa yang ada di balik semua kejadian ini. Karena semalam, di saat dia ada di dalam mobil, mendengar pembicaraan mereka yang mengatakan bahwa, bos mereka sudah sangat tahu, bagaimana situasi di rumah target. Rumahnya Ara.
"Hahaha... apa peduliku. Yang penting, Aku dan teman-teman dapat hasil yang banyak. Dan satu lagi! Kali ini, bukan hanya satu gadis yang kami bawa. Tapi dua! Hahaha..."
"Berapa uang yang kamu terima, jika satu gadis?" tanya Ara ingin tahu.
"Satu orang lima juta. Cukup untuk kami pergi bersenang-senang. Belum lagi hasil rampasan semalam. Jika di jual dan kami bagi, itu sudah lebih dari cukup. Hahaha..."
Ara mencoba untuk bernegosiasi dengan orang tersebut. "Bagaimana jika Aku bisa memberimu lebih dari semua itu?" tanya Ara merayu.
"Berapa?" tanya orang itu, ingi tahu seberapa besar yang ditawarkan oleh Ara.
"Terserah. Kamu mau berapa?" tanya Ara menantang.
"Apa Kamu tidak main-main?" tanya orang itu lagi, merasa sedikit ragu.
Orang tersebut melihat Ara dengan seksama. Dia tahu jika, Ara bukan dari keluarga biasa. Apalagi, perhiasan yang tadi dia ambil dari kotak seserahan yang ada di kamar Ara, adalah emas asli dengan karat dua puluh empat. Dan jumlahnya juga tidak main-main.
"Jika Kamu bisa membantuku keluar dari sini. Kamu bisa mendapatkan semua perhiasan yang tadi Kamu ambil. Juga sejumlah uang, yang akan Aku transfer di rekening milikmu."
"Tapi, Kamu harus bisa menjaga diri, dan pura-pura tidak tahu bagaimana cara kami kabur."
Orang tersebut masih terdiam mempertimbangkan segala sesuatu, yang ditawarkan oleh Ara. Baik dan buruk yang ada di depan, jika dia menerima atau menolak tawaran tersebut.
"Bagaimana?"Ara bertanya dengan nada ditekan. Seperti mengintimidasi lawan bicaranya.
"Tapi bagaimana caranya?" orang itu bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Agar bisa membantu tawanannya ini keluar dari ruangan dan rumah ini.
"Sini!"
Ara meminta pada orang tersebut untuk mendekat ke tempat duduknya.
"Mana minumannya? Kenapa sedari tadi Kamu tidak membukakan tutup botolnya?" tanya Ara, mengingatkan kembali pada tujuan awalnya masuk ke dalam ruangan ini.
__ADS_1