
"Ogah. Udah kayak gak normal aja ma Loe!"
Awan menolak permintaan dari temannya, si Dika. Bukan apa-apa, ini karena dulu, Mamanya Dika, pernah melarang anaknya itu, untuk berteman dekat dengan Awan.
Mamanya Dika berpikir bahwa, Awan tidak memilki orang tua yang lengkap, jadi pastinya ada sesuatu yang terjadi pada keluarnya. Mama Dika tidak mau jika, anaknya ikut terpengaruh oleh latar belakang keluarga Awan.
Padahal, mamanya Dika tidak tahu apa-apa tentang keluarga Awan. Dia juga tidak tahu, jika Awan adalah pewaris tunggal dari keluarga Samudra, yang pastinya bukan sembarang keluarga. Yang dia tahu hanyalah kesederhanaan Awan, dalam berpakaian dan handphone yang di pakai oleh Awan.
Tapi Awan juga tidak melakukan pembelaan diri. Dia hanya diam dan pergi dari rumah temannya itu, pada saat mamanya Dika menasehati anaknya.
Awan sempat mendengar semua perkataan mamanya Dika, karena pad saat itu, Mamanya Dika berbicara dengan Dika di dapur. Sedangkan Awan, sedang ada di dalam kamar mandi, tak jauh dari dapur tersebut.
Itulah sebabnya, sekarang ini, Awan tidak pernah lagi main ataupun pergi-pergi bersama dengan Dika. Meskipun dia tidak menjauh dari temannya, jika ada di sekolah.
Awan juga tidak mengatakan apa-apa, tentang apa yang sudah dia dengar waktu itu.
Cukup Awan tahu, bagaimana penilaian orang, berhadapan dirinya, yang memang di didik oleh omanya, untuk tidak terbiasa sederhana, memakai barang-barang yang tidak terlihat mahal.
Dan Awan juga cukup nyaman dengan apa yang dia pakai. Dia tidak ingin terlihat wah, jika hanya untuk membuat orang bersimpati.
Awan ingat betul pesan dari omanya, yang mengatakan bahwa, 'langit tidak perlu menunjukkan pada yang lain, bahwa dia itu tinggi. Begitu juga dengan laut, yang tidak perlu memberitahukan pada dunia, bahwa dia itu luas.'
"Please Wan!"
Dika masih berusaha untuk bisa membuat Awan setuju dengan permintaannya tadi.
"Naik ojek online atau taksi online ajalah. Gue ada acara dengan oma." Awan memberikan alasan, kenapa dia tidak mau mengantarkan Dika sepulang sekolah nanti.
"Ihsss, kan bisa setelah antar Gue Wan?" sahut Dika, dengan wajah dibuat semelas mungkin.
"Sorry Dik. Gue gak bisa."
Dika terdiam. Dia sudah tidak bisa lagi memaksa temannya itu, Awan, untuk mengantarkan dirinya pulang sekolah nanti. Dia tidak tahu, kenapa akhir-akhir ini, Awan sepertinya mulai menjauh dan terkesan lebih dingin, dibanding sebelumnya.
"Ya udah deh. Gue pesan ojek aja sama pak Lek. Biar dia yang cariin."
Akhirnya, Dika mengirim pesan untuk pak Lek, yang punya warung makan dan penitipan sepeda motor.
__ADS_1
"Itu ide bagus." Awan mengacungkan jari jempolnya pada Dika.
Tapi Dika hanya mencibir. Dia tidak merespon perkataan Awan, karena masih menunggu jawaban pesan yang tadi dia kirim pada pak Lek.
*****
Anjani segera membersihkan dirinya terlebih dahulu, begitu dia sampai di rumah. Dia tidak mau jika suaminya tahu, jika dia baru saja selesai menangis.
Mungkin sekitar lima belas menit lagi, suaminya baru akan sampai di rumah.
Anjani pergi ke dapur, untuk menyiapkan minuman dan beberapa macam makanan, untuk dihidangkan pada tamunya nanti.
Meskipun tamu tersebut adalah orang yang sudah menyerempet motor suaminya, dan membuat suaminya itu juga terluka, tapi orang itu tetaplah tamu, yang harus dihormati oleh tuan rumah.
Dan benar saja, tak lama kemudian, terdengar suara mobil, yang berhenti di depan rumah.
Anjani segera keluar, untuk melihat, apakah benar jika yang datang adalah suaminya, orang yang disebutkan oleh suaminya tadi, melalui telpon.
Saat pintu mobil terbuka, tampak seorang wanita dengan pakaian kerjanya, yang terlihat high class.
Begitu juga saat pintu mobil bagian supir terbuka. Ada seorang laki-laki yang keluar dengan pakaian yang tidak jauh berbeda dengan wanita tadi. Terlihat berkelas. Apalagi, mobil yang dikendarai juga bukan mobil murahan.
Anjani segera berjalan mendekat. Dia membantu suaminya itu, untuk bisa keluar dari dalam mobil.
Wanita dan laki-laki tadi, juga ikut membantu Anjani.
"Terima kasih."
Anjani mengucapkan terima kasih, pada mereka berdua, saat Abimanyu sudah keluar dari dalam mobil.
"Mari Tuan, Nyonya. Silahkan mampir ke rumah Kami." Abimanyu, menawari kedua orang tersebut, untuk mampir dan singgah sebentar ke rumahnya.
"Emhhh, terima kasih deh Mas. Tapi Kami buru-buru. Besok-besok kita akan datang menjenguk kok. Kami akan bertanggung jawab atas kesembuhan Mas hingga benar-benar pulih. Jadi tidak usah khawatir jika kami lari dari tanggung jawab."
Sang wanita melonak tawaran Abimanyu. Apalagi saat melihat keadaan rumah Abimanyu, yang lebih kecil dibanding dengan bangunan rumahnya, untuk para pelayannya di rumah.
Wanita itu juga memberikan penjelasan yang panjang, agar Abimanyu tidak perlu khawatir dengan biaya kesehatan dan perawatan luka-lukanya.
__ADS_1
Padahal sebenarnya, bukan itu maksud dari tawaran Abimanyu, agar mereka bisa mampir ke rumahnya.
Abimanyu hanya tidak mungkin, membiarkan mereka pergi begitu saja, setelah repot menunggui dirinya tadi saat berada di klinik, dan sekarang juga sudah mau repot lagi, untuk mengantarkan dia pulang. Meskipun sebenarnya, orang tadi bisa saja asal memberikan uang dan pergi begitu saja.
Abimanyu, ingin menghargai sikap baik mereka padanya. Tapi sepertinya, mereka justru salah paham, dengan maksud dan perkataan dari Abimanyu yang tadi.
Akhirnya, Abimanyu hanya bisa mengangguk saja. Begitu juga dengan Anjani.
"Mungkin mereka memang sedang sibuk Mas. Apalagi tertunda dengan adanya inseden ini," ujar Anjani, pada suaminya, Abimanyu, setelah kedua orang tadi pergi dari rumahnya.
"Iya. Bisa jadi begitu Bun."
Abimanyu juga tidak mau berpikir macam-macam. Dia hanya tidak enak hati, jika tidak memberikan tawaran tadi pada kedua orang tersebut.
Sekarang, Anjani menuntun suaminya itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Duduk dulu Mas. Jani ambilkan minum dan makanan juga. Setelah itu, baru minum obatnya dan istirahat tidur."
Anjani membantu Abimanyu, supaya bisa duduk di kursi tamu. Dia segera berlalu untuk mengambilkan minuman dan makanan, untuk suaminya itu.
Tak lama kemudian, Anjani sudah kembali ke ruang tamu, dengan membawa nampan berisi minuman dan makanan, untuk Abimanyu.
"Ini Mas, ayok di minum dulu."
Abimanyu sedikit heran, dengan waktu yang singkat, saat Anjani sudah datang dengan membawa nampan tersebut.
"Cepat sekali Bun?" tanya Abimanyu, yang tidak tahan untuk mendapatkan jawabannya. Dia berpikir bahwa, Anjani sudah menyediakan hidangan, untuk kedua tamu tadi. Karena dia sendiri yang sudah memberi kabar pada isterinya, tadi di saat istrinya itu masih berada di rumah ayahnya, ayah Edi.
"Iya Mas. Tadi Jani sudah siapkan semua. Tapi ternyata, mereka berdua tidak mau mampir. Ya sudah tidak apa-apa. Kita positif thinking saja."
Abimanyu mengangguk mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh istrinya itu. Dia tidak tahu, bahwa kedua orang tadi, memang orang-orang yang sibuk dengan usaha dan pekerjaan mereka.
"Yasmin belum sampai ya?" tanya Abimanyu, yang ingat bahwa, adiknya itu, Yasmin, akan pulang dari rumah sakit hari ini.
"Tadi waktu Jani dari sana, belum. Gak tahu juga kalau sekarang Mas," jawab Anjani, dengan membantu suaminya itu untuk membuka obat-obatan, yang dia dapatkan dari klinik.
Obat-obatan tersebut, berguna untuk meringankan rasa ngilu yang dialami oleh Abimanyu, pasca kecelakaan yang dia alami tadi.
__ADS_1
Anjani dengan telaten, membantu Abimanyu.
Ini membuat Abimanyu tersenyum, dan dalam hati bersyukur kepada Tuhan, karena mendapat seorang istri yang baik dan sabar, meskipun banyak sekali hal yang terjadi, dan itu bukan sesuatu yang membuat hati menjadi senang dan juga bahagia.