Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Biarkan Waktu Yang Menjawabnya


__ADS_3

"Lho Wan, kok cuma ada dua minuman? yang lain belum di antar ya?"


Tiba-tiba, datang mama Amel dengan Abimanyu. Apalagi mama Amel juga langsung bertanya pada Awan, cucunya itu, soal minuman yang dipesan.


Mama Amel tentu saja bertanya pada cucunya, karena melihat pelayan resto, yang datang dengan nampan, yang hanya membawa dan meletakkan dua gelas es jus melon, dan dua piring spaghetti, yang siap untuk dinikmati.


Ada juga beberapa camilan, seperti udang goreng tepung krispi, kentang goreng dan jamur goreng, sebagai teman mengobrol.


Tapi tentu saja, itu bukan menu utama, untuk dua orang dewasa, seperti mama Amel dan juga Abimanyu.


Awan, jadi merasa bersalah dan kikuk, karena melupakan kehadiran omanya, dan juga ayahnya Ara. Dadanya terasa sesak dan wajahnya memerah karena malu juga.


Hal yang sama juga terjadi pada Ara. Dengan wajah yang tidak bisa digambarkan dengan rasa malunya, dia menggigit bibirnya, untuk menahan diri agar tidak mengatakan apa-apa.


Sebenarnya, tadi Ara sudah hampir mengingatkan Awan. Tapi melihat Awan yang sudah terlanjur memesan makanan dan minuman, dan pelayan juga sudah pergi dari gazebo tempat mereka berada, Ara jadi mengurungkan niatnya.


Dan sekarang, rasa deg-degan itu dialami Ara lagi. Dia merasa sangat menyesal, karena tidak segera mengingatkan Awan.


Akhirnya, Ara berinisiatif untuk memberikan spaghetti miliknya, pada ayahnya. Dia berharap, agar Awan juga melakukan hal yang sama, seperti yang dia lakukan saat ini.


"Ini sebenarnya untuk Ayah dan Oma. Pesanan untuk Kami belum datang kok Oma," kata Ara, dengan tersenyum canggung, karena menahan rasa malunya.


"Eh, iya Oma. Kami pesan yang lain. Sebenarnya, kami gak tahu, Oma dan Om Abi mau makan apa. Tapi karena pelayan merekomendasikan spaghetti sebagai menu favorit pengunjung, ya udah, kita pesan dua untuk Oma dan Om Abi."


Akhirnya, Awan dengan lancar membuat alasan, untuk diberikan kepada omanya.


Awan berharap supaya omanya itu tidak lagi bertanya-tanya.


Mama Amel tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh cucunya.


Begitu juga dengan Abimanyu sendiri. Dia merasa senang, karena melihat Awan yang tidak tampak canggung, sama seperti biasanya.


Dan tak lama kemudian, Awan pamit untuk pergi ke kamar kecil terlebih dahulu.


"Oma. Awan ke toilet dulu ya?"


Mama Amel hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. Kemudian Awan pun segera pergi, ke toilet, sama seperti yang dia katakan tadi.


Tapi yang sebenarnya adalah, Awan membelok ke arah kasir, dan menambahkan dua pesanan yang berbeda dari pesanan yang tadi sudah di antar oleh pelayan.


"Mbak, dua lagi ya! Ke gazebo nomer tujuh belas. Tapi jus-nya yang ini jambu aja. Terus makanan juga ganti dengan steak jamur. Bukan spaghetti lagi."


"Oh ya Mas. Di tunggu ya Mas."

__ADS_1


Pelayan yang ada di belakang meja kasir, memberikan jawaban atas pesanan Awan.


"Mbak, yang ini jangan terlalu lama. Jika kelamaan, dan kami gak mood untuk makan, kami tinggal dan gak mau bayar, karena kelamaan."


Tentu saja, ancaman dan gertakan Awan adalah hal yang tidak biasa. Pelayan hanya tersenyum tipis, karena mendengar ancaman anak muda yang menurutnya cukup arogan.


Padahal, penampilan Awan, tidak mencerminkan bahwa, dia adalah anak muda yang sesuka hatinya dan suka merugikan orang lain.


"Ya Mas. Di tunggu ya. Gazebo nomer tujuh belas ya?"


Awan hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya pasti.


Setelah melakukan manipulasi pemesanan makanan dan minuman yang ada kesalahan sebelumnya, karena Awan lupa dengan keberadaan Oma dan ayahnya Ara, Awan kembali ke gazebo, di mana oma dan ayahnya Ara menunggu.


Bahkan, Ara juga masih ada di gazebo tersebut.


"Kok lama Wan ke toiletnya?" tanya omanya.


"Iya Oma. Kebetulan toiletnya antri, karena ada dua ruangan yang sedang dibersihkan."


"Lah ini, makanan dan minuman buat kalian berdua juga, kok lama?" tanya omanya lagi, yang seakan-akan curiga, jika tadi Awan memang hanya memesan dua porsi saja.


"Mungkin lama prosesnya Oma. Makan saja dulu, kita bisa makan yang ini kok," jawab Awan lagi, dengan melihat ke arah Ara.


"Sepertinya itu pesanan yang lainnya baru datang," kata Awan, dengan melihat ke arah datangnya pelayan.


Mama Amel dan Abimanyu, ikut melihat ke arah, di mana Awan melihat saat ini.


Sedangkan Ara, tidak berani mendongakkan kepalanya sedari tadi. Dia hanya menunduk saja.


Di dalam hatinya mama Amel, bertanya-tanya tentang sikap cucunya itu. 'Tumben-tumbenan dia bicara lebih banyak dan lancar. Biasanya cuma banyak diamnya. Ada apa ini ya?'


Dan benar saja. Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menyuguhkan minuman dan makanan yang sudah dipesan Awan, dengan cara susulan, atau tambahan karena lupa.


*****


Malam hari, di rumah Abimanyu.


Ara dan Anggi, sudah dipastikan jika dalam keadaan tertidur di kamar.


Abimanyu, yang sedang ada di dalam kamarnya sendiri, mengajak berbicara Anjani, tentang apa yang tadi dia bicarakan dengan mama Amel.


"Mama Amel usul begitu Yah?"

__ADS_1


"Ya Bun. Menurut Bunda sendiri bagaimana?" jawab Abimanyu, sekaligus bertanya tentang pendapat dari istrinya.


Tadi saat di resto dan cafe, mama Amel menceritakan tentang keinginan untuk menjodohkan Awan dengan Ara. Tapi tanpa sepengetahuan mereka berdua.


Biar mereka berdua yang nantinya menentukan sendiri, bagaimana perasaan mereka setelah dewasa nanti.


Untuk saat ini, orang-orang yang tua, hanya memantau perkembangan keadaan dan perasaan mereka berdua.


Jadi, sekedar untuk mendekatkan, dan tidak ikut campur urusan hati, karena kadang-kadang, waktu bisa merubah perasaan seseorang. Meskipun untuk saat ini sudah ada rasa cinta, belum tentu untuk lima atau tujuh tahun ke depan.


Apalagi, perubahan perasaan dan hati anak-anak, yang sering kali berubah-ubah, seiring keadaan. Baik tempat maupun pengaruh pertemanan.


Anjani mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh suaminya itu.


"Kalau Ayah sendiri bagaimana?" tanya Anjani, yang ingin mengetahui, apa sikap dan langkah yang akan dilakukan oleh suaminya pada anaknya, Ara.


"Ayah menyerahkan semuanya pada waktu Bun. Dan itu hak anak-anak, untuk menentukan pilihan dan masa depannya. Sama seperti yang dilakukan oleh mama Amel juga."


Kini, Anjani kembali menganggukkan kepalanya paham, dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Dia juga tidak mau, jika ada tekanan dan arahan, dan perasaan dan pikiran anaknya, agar hanya menuju ke Awan saja.


"Kamu tidak trauma dengan pernikahan yang pernah dijalani oleh mas Elang kan Bun?" tanya Abimanyu, soal perasaan istrinya, yang dulu pernah menjadi istri dari Elang. Ayahnya Awan, sebelum menjadi istrinya.


Tapi Anjani tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dia hanya tersenyum saja menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh suaminya itu.


"Bun. Ini tidak ada paksaan. Ayah juga sudah bilang sama mama Amel, jika ini hanya rahasia kita saja, dan tidak untuk anak-anak. Tapi jika Bunda tidak setuju, Ayah tidak akan memaksa juga," kata Abimanyu, yang tidak ingin membebani pikiran istrinya.


Anjani mengangguk mengerti, dengan apa yang di maksud oleh suaminya dan juga mama Amel.


"Iya Yah. Bunda hanya tidak menyangka, jika anak kita sudah remaja dan menuju dewasa. Bunda pikir, dia masih kecil, sama seperti Anggi juga."


Mata Anjani berkaca-kaca, saat mengatakan apa yang dia rasakan saat ini.


Abimanyu mengerti, dengan apa yang dikatakan oleh istrinya. Dia pun berpikir hal yang sama seperti yang dipikirkan oleh istrinya itu.


"Sudah Bun. Jangan terlalu dipikirkan. Biarkan saja semua berjalan dengan apa adanya. Kita hanya mengawasi dan mendampingi mereka."


Abimanyu memeluk istrinya, yang sekarang jadi terisak dengan sendirinya.


Anjani menangis haru, dengan apa yang terjadi pada kehidupannya dan juga keluarganya.


Sekarang, Anjani jadi membayangkan bagaimana keadaan dan perjalanan kehidupan selama ini.


Hanya satu yang tidak diinginkan oleh Anjani pada anak-anaknya. Dia tidak ingin, nasibnya yang dulu, terjadi juga pada Ara, ataupun Anggi di masa depan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2