
Wawan tiba di pangkalan barang-barang bekas, saat Nanda dan Mita sudah berada di tempat itu, selama kurang lebih satu jam lamanya.
"Assalamualaikum..."
"Lho Nda, kapan datang?"
Wawan mengucapkan salam, begitu memasuki halaman pangkalan barang-barang bekas. Sedang mobil pick up yang dia kendarai, terparkir di depan, di pinggir jalan.
"Waallaikumsalam..."
Nanda, Mita dan Mami, menjawab salam yang diucapkan oleh Wawan bersamaan.
"Udah lama Mas," jawab istrinya, si Mami.
"Gak Pa. Nanda belum lama datangnya kok," sahut Nanda, mengoreksi jawaban dari Mami.
"Kok gak kasih kabar tadi Mi?" tanya Wawan, yang merasa bersalah. Karena anaknya itu harus menunggu kedatangannya dalam waktu yang lama.
"Mami..."
"Maaf Pa, Nanda yang melarang Mami menelpon Papa tadi."
Nanda menyahut, dengan memotong jawaban dari Mami yang belum selesai.
Mami mengangguk mengiyakan. Begitu juga dengan Mita, yang sedari tadi hanya diam saja.
"Ini... ini pacar Kamu Nda? Eh maaf ya Neng. Papanya Nanda, bau ini. Maklum kena debu jalanan Jakarta yang tidak bisa dihalau. Hahaha..."
Wawan terbahak-bahak sendiri, saat menyapa dan memberikan alasan tentang keadaan dirinya pada Mita.
"Iya, gak apa-apa Om."
Akhirnya, Nanda memperkenalkan Mita dengan papanya.
Setelah basa-basi sebentar. Nanda pun akhirnya mengutarakan maksudnya, dengan kedatangan dirinya bersama Mita siang ini.
"Lalu, kapan acaranya?" tanya Wawan, saat Nanda mengatakan jika, dalam waktu dekat ini akan melamar Mita.
"Mungkin dua hari lagi Pa."
"Kamu mau Neng Mita, sama anaknya Om ini? belum kerja lho dia." Wawan bertanya pada Mita, dengan maksud untuk menguji sejauh mana Mita serius dalam menjalin hubungan dengan anaknya itu.
Mita hanya mengangguk sambil tersenyum, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh papa kandungnya Nanda, Wawan.
Dia tahu, bagaimana masa lalu calon mertuanya itu. Tapi yang lebih penting lagi adalah, sekarang ini, calon papa mertuanya itu sudah tidak lagi melakukan apa-apa yang sama seperti kebiasaannya di masa lalu.
Wawan menganggukkan kepalanya, setelah Mita mengangguk dengan pasti tadi.
"Ya sudah. Mau apalagi ditunda-tunda? Papa hanya bisa memberikan restu dan doa saja. Untuk hubungan kalian berdua, kedepannya nanti."
Setelah memberitahukan kepentingannya datang ke pangkalan barang-barang bekas siang ini, Nanda dan Mita pamit untuk pulang.
"Sering-sering datang ke sini ya Nda, neng Mita. Mami akan senang jika kalian mau mampir."
__ADS_1
"Iya itu. Papa juga akan sangat senang dengan kehadiran kalian berdua. Meskipun tidak setiap hari."
Wawan dan istrinya, Mami, meminta pada Nanda dan juga Mita, supaya tidak lupa untuk mampir ke rumah mereka ini.
Setelah dirasa cukup berbincang-bincang, Nanda mengajak Mita untuk pamit pulang.
*****
Elang dan Abimanyu, sudah mendapat kabar dari pihak pengacara mereka. Dengan kemajuan yang diperoleh dari penyidik.
Sekarang, mereka berdua ada di kantor lawyer.
"Awan dan Ara tidak ikut ke sini Mas Elang?" tanya Abimanyu, yang semalam dikabari Ara, jika dia akan ikut datang juga.
"Nanti. Mungkin sebentar lagi. Tadi udah kasih kabar jika ada di jalan."
Abimanyu mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Elang barusan.
Dua menit sebelum tiba giliran mereka untuk bertemu dengan lawyer, Awan dan Ara datang.
"Ayah," sapa Ara, langsung menyalami ayahnya, Abimanyu.
Begitu juga dengan Awan, yang menyalami ayahnya sendiri, Elang.
Setelahnya, Ara berganti dengan menyalami Elang. Sedang Awan, ganti menyalami Abimanyu.
Tak lama kemudian, asisten lawyer meminta mereka untuk masuk ke dalam ruangan. Untuk membicarakan tentang kemajuan kasus mereka.
"Jadi, Dika sedang koma di rumah sakit?" tanya Awan cepat di saat pengacara selesai memberikan penjelasan kepada mereka semua.
Abimanyu hanya diam menyimak. Begitu juga dengan Elang sendiri. Mereka berdua, memiliki pemikiran masing-masing.
"Kak," panggil Ara dengan suara yang lirih.
Awan menoleh. Dia menunggu istrinya itu, untuk melanjutkan kalimatnya lagi.
"Bagaimana jika kita bantu Dika?" tanya Ara, yang ingat dengan kejadian Clarissa di Amerika sana.
"Caranya?" tanya Awan balik.
"Kita bantu biaya pengobatan Dika Kak. Kita gak usah honeymoon. Biaya untuk honeymoon, bisa kita alihkan untuk membantu Dika."
"Kamu..."
"Kak. Jangan cemburu dulu. Pasti ini motif papanya Dika adalah balas dendam. Sama seperti Clarissa juga. Lalu, untuk apa kita mengikuti terus. Gak ada habisnya kan?"
Awan mulai mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh istrinya itu.
"Nanti kita bicarakan ini dengan ayah Elang dan juga ayah Abi."
Ara mengangguk mengiyakan. Meskipun sebenarnya dia tidak merasa yakin bahwa, ke-dua ayahnya itu akan bisa mengikuti jalan pikirannya saat ini.
Apalagi, jika apa yang dia katakan tadi didengar oleh orang-orang yang ada di rumah. Entah bagaimana tanggapan mereka semua.
__ADS_1
Tapi Ara hanya mengikuti nasehat dari bundanya, Anjani. Yang sering mengatakan bahwa, kejahatan tidak harus selalu dibalas dengan kejahatan. Lebih baik, kita mencari jalan yang baik, agar orang yang berbuat jahat pada kita akan sadar dengan sendirinya.
*****
Kunjungan Awan dan Ara di kantor lawyer bersama dengan ayah-ayah mereka, sudah berakhir. Kini, dia dan yang lainnya ada di halaman parkir.
Tapi sebelum mereka masuk ke dalam mobil masing-masing, Awan meminta pada kedua ayahnya itu untuk berbicara terlebih dahulu.
"Ada apa Wan, Ra?" tanya Elang, yang tidak tahu. Bagaimana pemikiran anaknya kali ini.
"Bagaimana jika kita menutup kasus ini yah?"
"Maksud Kamu?" tanya Awan cepat.
Dia tentu saja tidak mengerti, apa yang dikatakan oleh anaknya itu.
Berbeda-beda dengan Abimanyu, yang sudah tahu bagaimana sifat Awan. Karena untuk beberapa tahun terakhir ini, dia lebih dekat dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan menantunya itu di kantor. Saat berada di Amerika sana.
"Kita cari tempat untuk bicara soal ini Yah. Biar jelas dan gamblang."
Akhirnya, mereka sepakat untuk pergi ke rumah makan, untuk membahas mengenai keinginan Awan tadi. Sekaligus untuk makan siang. Karena waktunya makan siang sudah hampir lewat.
*****
Di rumah Abimanyu.
Anjani sedang sendirian, karena Anggi sudah mulai aktif masuk sekolah.
Dia sedang sibuk dengan urusan dapur, saat ada orang yang datang ke rumahnya.
Ting tong!
Ting tong!
Anjani gegas mengelap telapak tangannya yang basah. Baru kemudian berjalan ke arah depan.
Dia melihat orang yang datang ke rumahnya, dengan mengintip dari balik tirai jendela.
"Miko?"
Clek!
"Bunda..."
Miko langsung memeluk Anjani, dengan wajah sedihnya. Tentu saja Anjani bingung. Karena Miko datang masih dengan memakai pakaian seragam sekolahnya.
Padahal, biasanya dia jam segini dia belum pulang dari sekolah.
"Miko, ada apa?"
Miko tidak langsung menjawab pertanyaan dari Anjani. Dia hanya menampakkan wajah sedihnya saja sedari tadi.
Anggi memang tidak pindah sekolah, di sekolah yang sama dengan Miko. Tapi, Anggi memilih sekolah dengan standar internasional. Yang tentu saja lebih jauh letaknya.
__ADS_1
Setelah duduk diam, dan Anjani juga tidak lagi bertanya-tanya. Miko akhirnya mau menjawab pertanyaan dari bundanya itu, yang seharusnya sudah dia jawab juga sedari tadi.
"Bunda. Anggi beneran pacaran dengan teman Arab nya itu?"