Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Gagal Jalan-jalan


__ADS_3

"Bunda, awas!"


Anggi berteriak keras, memberikan peringatan pada bundanya, Anjani.


Saat ini, Anjani sedang berada dalam posisi berkelahi dengan beberapa preman, yang tadi mencopet dompet seorang ibu-ibu yang ada di jalan dekat arah ke Mall.


Anjani, yang sewaktu masih muda adalah pelatih bela diri dan juga panjat dinding, bisa saja melawan mereka. Tapi karena usia dan juga akibat kecelakaan yang dia alami dulu, akhirnya dia tidak pernah lagi melakukan latihan.


Namun, jika dalam keadaan terdesak oleh keadaan, dia tetap bisa melakukan apa-apa yang masih bisa dia ingat dengan beberapa jurus, meskipun hanya untuk menghindar dari serangan.


Anjani sadar, jika dia tidak mungkin bisa melawan ke-dua orang yang tinggi kekar, khas seorang preman. Tapi karena merasa kasihan dengan ibu-ibu tadi, dia memberanikan diri untuk melawan mereka. Meskipun dia sendiri tidak tahu, apakah masih bisa bertahan dalam hitungan menit.


"Dasar sok jadi pahlawan. Lihat saja, payah begitu. Gue jadi kasihan jika sampai melukai wajah Kamu itu!"


Salah satu dari preman tersebut, meledek Anjani, yang baru saja terkena tendangan dibagian kakinya, sehingga membuatnya terjatuh.


Sedangkan yang satu lagi, tertawa senang, mengejek Anjani.


Anggi hanya bisa menjerit-jerit, dalam pelukan ibu yang tadi jadi korban, jauh dari tempat bundanya dan dua preman tadi.


Jalanan sedang sepi, karena ini bukan jalan raya. Ini jalan gang, yang diambil Anjani, untuk bisa cepat sampai di jalan raya untuk bisa mendapatkan bus menuju ke Mall.


Pada saat preman tadi tidak waspada, Anjani mengambil segenggam tanah yang bisa dia ambil, untuk ditabur pada wajah ke dua preman tadi.


Dan begitulah akhirnya, dengan gerakan cepat, dua preman itu menjadi perih pada matanya, karena taburan tanah yang baru saja mengenai mata mereka.


Keduanya jadi tidak bisa melihat dan mengucek mata. Kesempatan ini diambil oleh Anjani, untuk merebut tas ibu-ibu tadi, yang masih ada di tangan salah satu dari preman tersebut.


Setelah itu, Anjani segera berlari ke arah Anggi dan ibu yang menjadi korban copet, kemudian mengajak mereka berdua untuk lari menjauh dari tempat itu.


Tapi karena dalam keadaan berlari dan tidak memerhatikan bagaimana keadaan jalan, mereka bertiga, hampir saja tertabrak motor, yang dikendarai dua remaja.


Suara decitan ban motor yang bergesekan dengan aspal, terdengar menyayat hati dan pendengaran.


Untungnya, pengendara sepeda motor mengerem dengan cepat, sehingga kecelakaan tersebut bisa dihindari.


Ciiittt!


"Awas!"


"Bunda!"

__ADS_1


"Ahhh!"


Kurang dari setengah meter, motor berhenti dengan paksaan rem yang dilakukan oleh pengendaranya.


Anjani memeriksa keadaan Anggi dan ibu tadi. Dia merasa lega, karena mereka hanya terjatuh karena kaget. Padahal, dia sendiri juga terjatuh dan lecet pada bagian kakinya.


Apalagi ada sedikit luka lebam juga di bagian kaki Anjani, yang tadi terkena tendangan preman.


"Hah, Untungnya Bro!"


Remaja yang membonceng, bernafas lega dengan menepuk pundak temannya yang ada di posisi depan. Dia merasa kaget, tapi juga lega, karena terhindar dari kecelakaan itu.


Motor berhenti dan dibawa ke pinggir. Pengendara turun dan memeriksa ketiga orang yang hampir saja di tabrak tadi.


"Maaf. Ibu tidak apa-apa?" tanya remaja tadi, pada Anjani.


"Tidak apa-apa m Justru kami yang meminta maaf, karena kami berlari tanpa melihat keadaan," jawab Anjani, sambil mengangguk dan meminta maaf juga.


"Kenapa ibu berlarian dari arah gang itu?" Remaja tersebut kembali bertanya, tentang keadaan yang mereka alami, sehingga berlari-lari seperti tadi.


Akhirnya Anjani menceritakan tentang kejadian yang dialami oleh ibu, yang saat ini bersama dengannya.


Ke-dua remaja tadi, menoleh ke arah gang, dimana mereka bertiga tadi muncul. Dan benar saja, ada dua orang laki-laki kekar, yang saat ini muncul dari arah gang itu.


Salah satu dari dua laki-laki preman tadi, menunjuk pada Anjani.


Dua remaja tadi berdiri dan melihat ke arah dua preman, yang berjalan dengan wajah marah.


"Mau apa kalian?" tanya remaja tadi menantang.


"Dia itu mangsa kami. Kamu tidak usah ikut campur!" bentak satu dari preman tersebut.


"Tapi, mereka sekarang milikku. Apa yang bisa Kalian lakukan?" tantang remaja itu lagi, dengan gaya yang sama seperti yang dilakukan oleh preman tadi.


"Hah! Dasar ingusan. Apa kalian mau merasakan bogem mentah kami?" kembali preman tadi menantang lawannya.


Anjani dan Anggi, berdiri bersama dengan ibu tadi. Kini mereka bertiga diam-diam mencari tempat yang lebih aman, untuk berlindung dan melihat keadaan.


"Lebih baik juta pergi saja Bu," ajak ibu yang menjadi korban.


"Tapi, kasihan remaja itu, jika mereka berdua kenapa-kenapa." Anjani tidak tega, membiarkan kedua remaja itu mengambil alih posisinya yang tadi. Meskipun ini menguntungkan untuknya.

__ADS_1


Anggi hanya diam dengan memeluk tangan bundanya. Dia merasa ketakutan dengan kejadian yang baru saja dia alami ini.


"Tapi suami saya menunggu anak Saya sendirian di rumah sakit. Bagaimana ya ini?" Ibu itu mengatakan kecemasannya.


Akhirnya, Anjani menyuruh ibu itu untuk pergi terlebih dahulu dan berpesan untuk berhati-hati dengan tasnya.


Setelah ibu itu mengucapkan terima kasih, dia dengan berat hati meninggalkan Anjani dan Anggi, yang menunggu kedua remaja tadi.


"Kalau begitu Saya pergi dulu ya Bu. Terima kasih banyak atas bantuannya. Ini ada sedikit uang jajan untuk adik," kata ibu tadi, dengan memberi beberapa lembar uang pada Anggi.


"Tidak usah Bu, terima kasih. Lebih baik, uang itu Ibu gunakan untuk biaya pengobatan anak Ibu. Kami baik-baik saja kok." Anjani menolak pemberian dari ibu tadi.


Tapi sebelum ibu itu pergi, ternyata kedua remaja tadi sudah berhasil membuat kedua preman tersebut pergi menjauh karena kalah.


Kini, mereka mendekat ke tempat Anjani.


"Mereka sudah pergi Bu," kata satu dari mereka memberitahu.


"Oh, terima kasih ya Nak. Kami tidak tahu, apa yang terjadi tadi, jika tidak ada Kalian," ucap Anjani.


Ibu tadi juga mengangguk mengiyakan.


"Tidak ada. Ibu juga sudah menyelamatkan ibu ini. Oh ya, itu lukanya diobati Bu. Ayo ke rumah sakit!" ajak remaja itu.


"Ah, tidak perlu. Ini tidak apa-apa kok," sahut Anjani cepat sambil memeriksa luka-lukanya.


Anggi yang hampir saja menangis, jadi ikut melihat luka-luka yang ada di kaki bundanya.


"Sakit bunda?" tanya Anggi, dengan wajah meringis, karena ikut merasa sakit. Ngilu membayangkan bagaimana rasa sakit yang dirasakan oleh bundanya.


"Tidak apa-apa Anggi. Nanti Bunda kompres air dingin, biar gak bengkak," jawab Anjani, sambil tersenyum, menenangkan hati anaknya.


Setelah berbincang-bincang sebentar, ibu tadi akhirnya di antar salah satu dari remaja tersebut ke rumah sakit. Sedang Anjani, diantar satunya lagi kembali ke rumah, dengan mengunakan taksi online yang dia pesan.


"Kami bisa pulang sendiri kok Mas. Terima kasih atas bantuannya," kata Anjani, yang menolak saat mau diantar.


"Tidak apa-apa Bu. Biar nanti teman Saya jemput Saya di rumahnya Ibu. Nanti ada apa-apa, anaknya Ibu tidak tahu, apa yang harus dilakukan," ujar remaja itu.


Akhirnya Anjani mengalah dan mengikuti saran dari remaja tadi. Dia mau diantar pulang dengan taksi yang sekarang sudah datang.


Rencana Anggi yang meminta jalan-jalan pada bundanya, gagal karena kejadian ini. Tapi Anggi merasa senang, karena bundanya tidak kenapa-kenapa. Dia juga jadi tahu, jika bundanya itu bisa menjadi pahlawan dengan menyelamatkan ibu yang tadi jadi korban preman copet.

__ADS_1


Anggi jadi punya cerita nanti, yang bisa dia ceritakan kembali pada kakaknya Ara, atau pada ayahnya, Abimanyu, jika mereka berdua sudah kembali dari Bogor besok.


__ADS_2