Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Tidak Menyangka


__ADS_3

Acara pembukaan gerai toko kue dilaksanakan. Pita untuk dipotong, sudah dipotong.


Setelahnya, pintu toko di buka.


Semua orang bertepuk tangan, kemudian pemilik toko memberikan beberapa kata untuk sambutannya. Dan mempersilakan para undangan untuk masuk ke dalam toko. Mencicipi kue-kue yang sudah disediakan.


Karena kue-kue itu juga, yang nantinya akan dijual di toko ini.


Security yang berjaga, sebisa mungkin memberikan pengamanan yang diperlukan. Apalagi, jika ada tamu yang mencurigakan atau tidak membawa kartu identitas diri, sebagai penghuni apartemen ini.


Beberapa orang bahkan di usir keluar, karena membuat keributan dengan melakukan hal-hal yang belum membuat ijin persetujuan.


Mereka adalah orang-orang yang membuat konten, tapi tidak meminta ijin terlebih dahulu.Sama seperti yang tadi Anggi lakukan.


Sayangnya, Anggi juga ditolak oleh security. Dan tidak mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan pemilik toko, untuk meminta ijin.


Tapi dasarnya Anggi, dia tetap saja tidak mau jika diam dan mengalah. Handphone tetap dia aktifkan dan dalam keadaan on untuk siaran langsungnya. Meskipun posisinya, tidak mencolok seperti saat sedang melakukan konten.


Sambil mengikuti bundanya, yang mengambil beberapa kue, Anggi memperhatikan bagaimana dekorasi toko yang ternyata mewah juga menurut Anggi.


Ada lukisan abstrak di dua sisi dinding, yang akhirnya saling berhadap-hadapan.


Ada juga hiasan dekorasi, yang memiliki ciri khas bukan dari Amerika atau Eropa pada umumnya.


Setelah diperhatikan dan diingat-ingat Anggi, dekorasi ornamen khas itu adalah dari timur tengah. Bahkan, toko kue ini juga ada sertifikat halalnya.


Itu artinya, pemilik toko memang berasal dari timur tengah, yang kebanyakan adalah orang-orang muslim.


"Pantas saja bunda tidak khawatir untuk makan kue nya," gumam Anggi, yang masih memperhatikan bagaimana dekorasi toko yang menarik perhatiannya.


Pluk!


Anggi menolehkan kepalanya dengan cepat, saat ada seseorang yang menepuk pundaknya.


Mata Anggi terbelalak, melihat siapa yang ada di depan matanya sekarang ini.


"Ahmed?" tanya Anggi tidak percaya.


Orang yang tadi menepuk pundaknya Anggi, tersenyum ramah. Dengan matanya yang menyiratkan kerinduan pada anak gadis kecilnya, yang sekarang ini sedang memanggil namanya.


Anggi, bukan lagi gadis kecil yang dulu pernah menjadi teman baiknya di sekolah.


Ahmed melihat Anggi, sekarang sudah tampak lebih besar di banding dengan yang dulu.


"How are you Anggi?" sapa Ahmed, dengan bertanya kabarnya Anggi.


"I... i m fine. You?"

__ADS_1


Ahmed tersenyum. Memamerkan giginya yang putih berderet rapi.


"Kamu... kamu kapan balik ke sini?" tanya Anggi, yang tidak tahu kabar dari Ahmed selama dia pindah ke negara asal papanya.


"I balik ke Amerika sini satu bulan yang lalu," jawab Ahmed memberitahu Anggi.


"Kenapa tidak bilang?"


Ahmed kembali tersenyum, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Anggi padanya.


"I mengikuti semua kegiatan U di sosmed Anggi. Apa U tidak tahu?"


Sekarang, Anggi yang melongo mendengar jawaban dan pertanyaan itu.


"Iya. I ikut Kamu sejak awal. Sejak Aku pindah ke Qatar."


Qatar adalah salah satu negara yang terletak di kawasan Teluk, berbatasan darat dengan Arab Saudi di bagian selatan. Dan sisanya berbatasan dengan Teluk Persia. Teluk ini juga yang memisahkan Qatar dari Bahrain.


Ibu kota Qatar adalah Doha. Dan Ahmed, tinggal di kota Doha tersebut. Karena papanya berasal dari sana.


Sedangkan mamanya Ahmed, berasal dari China. Tapi ada keturunan Jepang juga.


Anggi tetap saja tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ahmed. Karena sepertinya, dia tidak pernah tahu jika ada followers nya dengan nama Ahmed.


"I tidak pakai nama asli Anggi. Jadi, U pasti tidak akan tahu. Hehehe. Sorry!" tutur Ahmed menjelaskan.


"Adek!"


Anjani merasa khawatir, karena tidak menemukan anaknya itu ada di dekatnya. Itulah sebabnya, dia memanggilnya segera, begitu melihat keberadaan Anggi.


"Itu bundaku!"


Ahmed tersenyum, mendengar perkataan Anggi, yang secara tidak langsung memberitahu dirinya, siapa sosok yang tadi memanggilnya.


Akhirnya, Anggi bersama dengan Ahmed, mendekat ke arah Anjani.


"Lho..."


"Assalamualaikum Bunda. I Ahmed. Temannya Anggi," sapa Ahmed, memperkenalkan dirinya pada Anjani.


"Kamu... Kamu kan anaknya pemilik toko kue ini?"


Anjani ingat, jika Ahmed adalah anak yang diperkenalkan oleh pemilik toko, tadi saat pemilik toko memberikan beberapa sambutan.


"Ah, benarkah?" tanya Anggi tidak percaya.


Tadi, Anggi memang tidak memerhatikan apa yang dikatakan oleh pemilik toko saat acara pembukaan.

__ADS_1


Dia sibuk mempersiapkan handphone miliknya, yang sedang melakukan siaran langsung. Jadi, tentu saja dia tidak tahu jika, Ahmed adalah anak pemilik toko kue ini.


Ternyata Ahmed memang sengaja minta pada mamanya, yang punya usaha di bidang kuliner. Untuk membuka sebuah gerai toko kue di sekitar apartemen milik keluarga Anggi.


Dia ingin bisa dekat lagi dengan anak Indonesia itu.


Dia yang akan mengelola toko kue ini. Karena dia juga sudah tidak lagi sekolah dasar, sama seperti Anggi.


*****


Di kampus Awan.


Acara opera sudah mau di mulai. Dan Ara, juga sudah kembali dari kamar kecil bersama dengan Awan.


Sekarang, mereka berdua duduk di kursi tamu undangan, yang sudah disediakan oleh pihak penyelenggara opera.


Dengan hikmat, acara demi acara dimulai.


Dari pembuka, pengenalan dan acara opera berlangsung sesuai dengan susunan acara yang memang sudah tercantum di undangan.


"Kisahnya sedih ya Kak," kata Ara, saat di tengah acara.


Opera adalah sebuah bentuk seni, dari pentasan panggung dramatis sampai pentasan musik. Dalam mementaskan sandiwara, opera memakai elemen khas teater seperti pemandangan, pakaian, dan akting. Namun kata-kata dalam opera dinyanyikan tidak dituturkan.


Dialog opera berupa nyanyian.


"Iya. Meskipun kisah ini umum, dan biasa di tayangkan, tetap saja terasa menyedihkan."


Kisah Romeo dan Juliet, adalah kisah cinta menyedihkan sepanjang masa. Dan kali ini, opera yang berlangsung juga menceritakan kisah mereka.


"Semoga, kisah kita tidak seperti mereka."


Ara menoleh ke arah Awan, yang berkata demikian. Dia tersenyum, melihat Awan yang juga sedang tersenyum menatapnya dengan pandangan mata yang penuh dengan cinta.


Apalagi sedari tadi, Awan juga tidak pernah melepaskan tangannya dari mengengam tangan Ara.


Ini membuat Ara menjadi seperti seorang gadis yang benar-benar sangat dicintai.


Beberapa saat kemudian, setelah acara selesai. Awan ingin mengajak Ara untuk makan malam terlebih dahulu. Apalagi, mereka memang belum makan tadi. Dan hari belum begitu malam juga.


"Kita makan dulu ya sebelum pulang," ajak Awan, meminta persetujuan dari Ara sendiri.


Ara hanya mengangguk saja, mengikuti apa yang diinginkan oleh kekasihnya itu.


Dengan senang hati, Awan melajukan mobilnya menuju ke sebuah restoran, yang tentunya juga bisa mereka nikmati.


Dan Ara, tidak protes ke mana Awan membawanya makan. Karena dia juga tahu jika, Awan akan selalu mempertimbangkan segala sesuatu, dari segi apa yang seharusnya boleh di makan dan tidak untuk mereka.

__ADS_1


Di negara yang bebas dari segala macam hal, kita harus berhati-hati dan waspada. Karena kadang kala, ada juga beberapa restoran yang tidak menyediakan makanan halal bagi pengunjung muslim.


Itulah sebabnya, harus tetap mencari tahu terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk masuk dan memesan makanan yang tersedia di tempat tersebut.


__ADS_2