Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Mau Berapa?


__ADS_3

Tapi apa yang dikatakan oleh Awan memang benar-benar dia realisasikan. Karena begitu mereka berdua selesai sarapan pagi, kemudian istirahat sebentar. Untuk memberikan waktu agar makanan bisa turun ke dalam perut.


Setelah dirasa cukup, Awan segera membopong tubuh istrinya itu untuk kembali ke dalam kamar.


"Ahhh..."


"Kakak... Bikin kaget tau!"


Teriakan Ara kembali terdengar. Untungnya, di rumah sedang tidak ada siapapun. Hanya ada mereka berdua saja. Jadi memang sepi.


"Udah gak usah banyak protes! Pokoknya Kamu harus menerima hukuman!"


"Ehhh... itu tadi, Oma telpon tanya apa? Ada yang penting kah?" Ara mencoba untuk mengalihkan perhatian suaminya, dengan membahas mengenai telpon dari mama Amel tadi. Saat mereka berdua sedang sarapan pagi.


"Halah... tadi kan Kakak udah kasih tau. Gak ada alasan buat nolak pokoknya! Soalnya ini juga pesanan dari Oma."


Ara menatap lurus ke dalam mata suaminya. Namun tak lama kemudian, dia bertanya juga. Dengan apa yang dipesan oleh mama Amel tadi. "Pesanan Oma apa Kak?"


"Kasih cicit secepatnya!"


"Ehhh!"


Ara langsung menutup mulutnya sendiri, saat mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya itu.


Tapi Awan tidak peduli. Dia hanya ingin mengerjai istrinya itu untuk seharian ini. Itulah sebabnya, dia sudah memesan makanan yang banyak, untuk persediaan hingga siang nanti.


Tapi ternyata apa yang dipikirkan oleh Ara salah. Karena setelah mereka berdua tiba di dalam kamar, Awan menidurkan dirinya. Sedangkan Awan sendiri, juga ikut berbaring di sebelahnya. Tanpa melakukan apa-apa. Hanya berbaring dengan posisi miring, melihat keberadaan Ara.


"Kak."


"Hemmm... tidurlah Dek. Kamu pasti masih capek. Masih sakit kah itu?" tanya Awan, yang sebenarnya merasa khawatir dengan kondisi istrinya. Terutama pada area sensitif nya Ara.


Ara mengeleng sebagai jawabannya. Dia juga tampak tersenyum malu-malu, dengan wajahnya yang memerah.


"Kak."


Ara kembali memanggil suaminya, karena merasa tidak nyaman dengan dipandang terus menerus dalam keadaan seperti sekarang ini. Sepertinya Ara jadi salah tingkah sendiri.


"Apa? Kamu mau Aku makan lagi?"


Dengan cepat Ara mengelengkan kepalanya lagi.


"Mau main lagi? Yakin kuat?"


Pluk!

__ADS_1


Ara memukul lengan suaminya itu, karena selalu bertanya hal yang ambigu untuk di dengar oleh telinga orang awam, yang belum terbiasa. Sama seperti dirinya sendiri.


"Apa" tanya Awan lagi, setelah memposisikan dirinya untuk duduk dan tidak lagi dalam keadaan berbaring seperti tadi.


"Kakak gak apa-apa jika gak pulang ke rumah? Emhhh... maksud Ara, pulang ke rumah Oma."


Sekarang Awan tahu, apa yang sedang mengganjal pikirannya Ara saat ini.


"Gak apa-apa kok Dek. Oma dan juga ayah ngerti keadaan kita. Bahkan Kamu dengar sendiri tadi. Oma dan Opa justru mau ikut bersama kita, jika ada rencana pergi ke Bogor dalam waktu dekat ini."


Ara tahu, jika keluarga suaminya itu sangat baik. Mereka juga banyak membantu ayah dan bundanya, di saat masa-masa sulit mereka dulu.


Tapi sebagai seorang istri, dan wanita, Ara juga merasa sensitif. Karena takut jika dia akan dianggap menguasai keberadaan Awan saat ini.


Secara, Awan itu adalah anak dan cucu satu-satunya di keluarga Samudra.


Ini menjadi PR juga buat Ara, agar dia bisa membuat suasana rumah mertuanya lebih ramai. Dengan keberadaan cucu dan cicit yang akan dia lahirkan suatu hari nanti.


"Kakak mau punya anak berapa?"


Tiba-tiba Ara mengajukan pertanyaan kepada suaminya itu. Tentang keinginannya untuk memiliki anak suatu hari nanti, dalam jangka panjang.


"Kamu mau nya berapa?"


"Ihsss... Ara kan tanya Kakak," sahut Ara cepat. Dengan tidak memberikan sebuah jawaban juga.


"Kan Kamu yang mengandung Sayang....Kakak cuma nanam saham. Untung atau tidaknya, terganggu Kamu juga."


"Hihihi... Kakak aneh-aneh saja!"


Ara justru terkikik geli, mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya itu. Apalagi, Awan juga menjawabnya dengan memberikan sebuah gambaran. Sama seperti sebuah perusahaan. Dengan mengunakan istilah saham.


"Lah iya bener kan?"


"Kakak cuma nitip saham. Yang menerima dan mengembangkannya itu kamu. Mau dijadikan apa juga dari modal saham itu, tergantung yang mengelola."


Awan memberikan penjelasan, sama seperti orang yang sedang melakukan referensi pada saat meeting.


"Helehhh... mentang-mentang pengusaha muda. Yang dibicarakan saham, modal dan..."


"Ayo! Kakak mau nitip saham lagi ini."


Ara terbelalak kaget, saat Awan memotong kalimatnya yang belum selesai. Dan sambil berbicara, Awan sudah membalikan badannya. Jadi, sekarang ini Awan ada di atas tubuhnya Ara. Mengurung tubuh yang sebenarnya masih lelah juga, sehingga tidak bisa melakukan apa-apa, agar bisa melepaskan diri. Tapi dia juga tidak menolaknya, karena sesungguhnya, Ara juga menginginkannya.


"Kita harus kejar target Dek!"

__ADS_1


Ara sudah tidak bisa lagi menjawab dengan suaranya. Karena bibirnya sudah dikunci oleh awan, dengan bibirnya yang disatukan.


Mereka berdua, kembali mengulang kegiatan mereka semalam. Dalam suasana rumah yang sepi, membuat mereka berdua bebas melakukan apa saja. Tanpa merasa khawatir jika akan diketahui oleh siapapun.


Meskipun mereka berdua sudah resmi sebagai pasangan suami istri. Tapi jika melakukan kegiatan mereka pada waktu pagi hari seperti saat ini, tentu saja rawan dengan gangguan orang-orang yang bisa saja tiba-tiba datang ke rumah mereka ini.


*****


Di rumah sakit.


Perawat yang berjaga di ruang ICU, sedang berkeliling mengontrol keadaan pasien.


Tiba di tempat tidur pasien yang ditempati oleh Dika, suster tersebut terkejut. Karena dia menikmati mata Dika yang ternyata sudah dalam keadaan terbuka.


Dengan cepat, suster tersebut memangil dokter yang bertugas. Agar segera datang untuk memeriksa keadaan pasien Dika.


Pasien yang sudah koma selama lebih dari tiga bulan ini, tentu saja tidak pernah diduga bisa sadar kembali.


Setelah beberapa saat kemudian, dokter sudah selesai melakukan pengecekan dan pemeriksaan pada kondisi Dika.


"Sepertinya dia menang tidak bisa mengingat apa-apa lagi."


"Matanya yang sudah terbuka, tidak merespon cahaya senter saat dinyalakan."


Emhhh... catat semua laporan dan hasil pemeriksaan."


"Baik Dok."


Dika memang masih dalam keadaan sadar. Tapi sepertinya tidak dengan ingatannya. Otaknya tidak lagi bisa berfungsi kembali, sama seperti dulu.


Sebenarnya, apa yang dialami oleh Dika saat ini, juga pernah dialami oleh Abimanyu. Di saat Abimanyu pulang dari kantor, pada malam hari. Kemudian mengalami kecelakaan, yang membuat keadaannya cukup fatal juga saat itu.


Lumpuh, dan tidak mengingat apa-apa lagi.


Abimanyu masih beruntung, karena ada Anjani yang merawatnya dengan baik dan sabar.


Bahkan Abimanyu juga bersikap kasar dan mudah marah pada Anjani saat itulah. Apalagi jika ingatannya tidak bisa untuk dia ajak berkompromi.


Tapi sekarang Dika jauh dari kata beruntung. Karena di saat dirinya dalam keadaan seperti ini, kedua orang tuanya juga tidak ada disampingnya. Memberikan semangat dan kekuatan, untuk bisa menemani dirinya di rumah sakit.


Mamanya Dika, harus mendekam di penjara. Setelah melakukan kecurangan dalam kerjasamanya dengan PT SAMUDERA GROUP.


Sedangkan papanya Dika, saat ini dalam proses hukum juga. Karena menjadi tersangka dalam kasus perampokan dan penculikan berencana terhadap Ara dan Anggi.


Jiwa Dika melayang tak tentu arah. Tubuhnya ada di rumah sakit, tanpa bisa melakukan apa-apa. Sedangkan jiwanya, kosong dan tidak ada yang bisa dia ketahui tentang siapa sebenarnya dirinya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2