Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Handphone Aku Mana?


__ADS_3

Waktu yang berjalan, kadang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Meskipun kadang kala ada juga masa-masa, yang memberikan kejutan-kejutan yang manis, yang tidak pernah kita sangka sebelumnya.


Banyak hal yang terjadi, pada masa-masa itu. Baik dan buruk, keberuntungan dan kerugian, adalah hal yang wajar, dalam kehidupan seseorang.


Semua harus dijalani, dan diterima dengan hati yang lapang.


Apapun yang terjadi, manusia wajib bersyukur dan tetap berusaha, diiringi dengan doa.


Sama seperti yang terjadi pada keluarga kecil Anjani dan Abimanyu. Banyak hal yang harus mereka lalui, sejak awal mereka berdua menikah.


Dari ketidak nyamanan atas sambutan anggota keluarga Abimanyu, ibu Sofie dan kedua anak perempuannya.


Gagalnya menjaga anak pertama mereka, karena insiden yang disebabkan oleh Yasmin.


Kasus Wawan, suaminya Yasmin, yang beruntun sedari awal. Bahkan kasusnya juga ada yang menyangkut nama baik Anjani juga.


Kecelakaan Abimanyu, waktu Ara masih kecil. Dan itu membuat perekonomian keluarga kecil mereka jatuh dan tidak lagi ada pada kehidupan yang nyaman.


Dan semuanya itu, kini sudah mulai kembali normal, meskipun tidak akan pernah bisa sama seperti yang dulu.


Tapi dari semua yang telah dilewati, itu membuat Anjani dan juga Abimanyu menjadi seorang pribadi yang lebih kuat, dan selalu berpikir positif akan takdir dari Tuhan, untuk kehidupan mereka.


Tidak akan ada sesuatu cobaan, yang akan melampaui batas kesanggupan makhluk Tuhan.


Dan tentu saja, Tuhan lebih tahu, apa yang terbaik dan waktu yang tepat, untuk semua umat-Nya.


*****


"Kayaknya, barang yang Oma inginkan tidak ada di sini Wan. Balik aja yuk!"


Awan, yang sedari tadi menemani omanya, mama Amel, untuk berkeliling toko buku, hanya bisa mengangguk saja.


Mama Amel akhirnya mengajak Awan, untuk keluar dari dalam toko, dan menemui Abimanyu yang sedang menunggu mereka, bersama dengan Ara.


"Maaf ya Bi, jadi nunggu," ucap mama Amel, di saat sudah berada di luar toko, dan menemui Abimanyu.


"Tidak apa-apa Ma. Dapat yang di cari tadi?" Abimanyu, menjawab dan bertanya juga, karena tidak melihat jika mama Amel membawa sesuatu yang dia beli dari dalam toko buku tersebut.


"Gak ada. Tapi gampang, nanti Mama cari di toko yang lain."


Abimanyu mengangguk mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh mama Amel.


Sekarang, mama Amel mengajak Abimanyu dan juga Ara, untuk ikut bersama dengannya. "Kita cari makan sebentar yuk! Sekalian ada yang ingin mama bicarakan juga," ajak mama Amel, pada Abimanyu.


Mama Amel juga tampak tersenyum, saat melihat Ara, yang ternyata mengenakan tas yang dia beli waktu itu.


Tas yang dia berikan melalui cucunya, Awan, dengan alasan sebagai hadiah.


Awalnya, Abimanyu bingung dengan ajakan mama Amel. Tapi, karena tidak enak untuk menolak ajakan tersebut, Abimanyu hanya bisa mengangguk, mengiyakan saja.

__ADS_1


Abimanyu berpikir bahwa, nantinya, dia juga akan tahu, apa yang sebenarnya diinginkan oleh atasannya itu.


Setelah menimbang dan mencari-cari tempat yang cocok atau bisa digunakan untuk makan sekaligus sebagai tempat untuk berdiskusi, mama Amel mengajak Abimanyu dan Ara, untuk mengikuti mobil yang dia bawa.


Mereka menuju ke sebuah resto dan cafe, yang menyediakan gazebo-gazebo, yang akan membuat pembicaraan mereka jadi lebih nyaman dan aman. Karena terpisah dari para pengunjung yang lainnya juga.


"Yah. Memang apa yang ingin dibicarakan oleh oma Amel?" tanya Ara, yang ingin tahu, apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh omanya Awan. Bos ayahnya, di tempat kerja.


"Ayah juga tidak tahu Kak," jawab Abimanyu, yang memang tidak tahu, apa yang diinginkan oleh mama Amel sekarang ini.


Saat sampai di parkiran resto, Ara ingin menghubungi bundanya, Anjani, untuk memberitahukan bahwa, dia dan ayahnya sedang ada keperluan lain.


"Lho Yah, handphone Aku mana?"


Ara terkejut, saat tidak menemukan handphone miliknya di dalam tas slempang, tas hadiah dari omanya Awan, yang diberikan oleh Awan sendiri beberapa bulan kemarin.


"Emang di taruh di mana Kak?"


Abimanyu, ikut mencari-cari, di dalam tas belanja yang di gantung motor.


"Di tas ini juga tidak ada Kak," ujar Abimanyu, yang tidak menemukan handphone milik anaknya, Ara.


"Oh ya, telpon bunda aja Yah. Sapa tau ketinggalan di rumah," kata Ara, memberikan usulan untuk menghubungi bundanya di rumah.


"Oh iya benar."


Tadi, saat berangkat bersama dengan ayahnya, Ara sudah memasukkan handphonenya ke dalam tas. Dia tidak tahu jika, adiknya, Anggi, mengambil handphone tersebut, tanpa ijin darinya.


Itulah sebabnya, dia tidak tahu jika, Anggi yang mengambil handphone miliknya, dan dia mengira bahwa, handphonenya masih ada di dalam tas.


Akhirnya, Abimanyu menghubungi istrinya, Anjani, di rumah.


Tut!


Tut!


Tut!


..."Halo Yah. Sudah dapat bukunya?" ...


Anjani menjawab dan bertanya tentang buku yang tadi ingin dicari oleh Ara.


..."Iya sudah Bunda. Ini Ayah mau tanya Bun, apa handphone Ara ketinggalan di rumah, dia dalam kamar mungkin?" ...


..."Handphone?"...


..."Iya, handphone miliknya Ara Bun."...


..."Lho, bukannya di kasih ke Anggi tadi? ini dipakai Anggi tadi Yah, buat main game."...

__ADS_1


Abimanyu memberi tahu Ara, jika handphone miliknya ada di rumah, dan di pakai oleh Anggi.


"Kak, kata bunda handphone Kakak ada di rumah. Di pakai Anggi buat main game. Kakak yang kasih dan lupa ya?"


"Gak Yah. Ara gak kasih ke Anggi kok!"


Abimanyu kembali bicara dengan Anjani, melalui panggilan telpon.


..."Katanya gak Bun. Coba nanti tanya ke Anggi ya Bun. Kakak jadi kepikiran jika handphonenya hilang kan ini jadinya."...


..."Iya Yah. Nanti Bunda tanya ke Anggi ya. Ini dia sedang main dengan Miko dan Nanda juga."...


..."Oh, ada mereka berdua di rumah?" ...


..."Iya. Ada Ibu juga kok. Tadi datang bareng Nanda."...


..."Oh, ya sudah. Ayah tutup dulu ya, ini ditunggu mama Amel. Tadi ketemu di toko buku."...


"Oh... salam buat mama Amel Yah kalau gitu."


..."Iya Bun."...


Klik!


Ara menghela nafas panjang, kemudian membuangnya dengan bibir mengerucut. Dia merasa kesal, dengan ulah adiknya yang mengambil handphone miliknya tanpa ijin darinya.


"Udah Kak. Yang penting ternyata tidak hilang kan?" Abimanyu berusaha untuk menenangkan anaknya, Ara.


"Yuk! Itu udah di tungguin," ajak Abimanyu, saat melihat lambaian tangan mama Amel, yang sudah turun dari dalam mobil.


Tadi, Abimanyu sudah sampai lebih dulu, karena pakai sepeda motor. Sedangkan mama Amel, mengunakan mobil, yang tentunya lebih praktis motor, jika berada di jalanan Jakarta.


"Cari tempat Wan, atau Ara bisa bantu juga. Oma mau ke toilet dulu ya," kata mama Amel, meminta pada cucunya, Awan dan juga Ara, untuk menentukan tempat mereka duduk untuk makan.


Awan dan Ara mengangguk secara bersamaan. Dan ini membuat mama Amel tersenyum tipis, melihat kekompakan yang ada pada mereka berdua.


Sedangkan Abimanyu, hanya diam dan tidak melakukan apa-apa. Dia hanya ikut di belakang Ara, sedang Awan, mencari-cari gazebo yang kosong dan cocok menurut selera omanya.


*****


Di rumah Anjani, Anggi ditanya oleh bundanya. "Adek. Tadi ambil handphone milik kakak ijin tidak?"


"Hehehe... gak Bun. Salahnya sendiri, kakak gak mau ajak Anggi juga," ujar Anggi, memberikan alasan kenapa dia mengambil handphone milik kakaknya tadi.


"Tapi itu tidak baik Dek. Kakak jadi bingung, dan cemas juga. Kan takut jika handphonenya hilang," sahut Anjani, menasehati anaknya yang masih kecil.


Anggi hanya menunduk, karena merasa bersalah. Dia baru sadar jika, apa yang dia lakukan tadi adalah salah.


"Maaf Bun," ucap Anggi, dengan wajahnya yang masih menunduk.

__ADS_1


"Lain kali jangan diulangi lagi ya," kata Anjani lagi, dengan mengelus rambut Anggi.


... ...


__ADS_2