
Masa remaja merupakan masa, dimana timbulnya berbagai kebutuhan dan emosi serta tumbuhnya kekuatan dan kemampuan fisik yang lebih jelas, serta daya fakir menjadi matang.
Namun masa remaja penuh dengan berbagai perasaan yang tidak menentu, cemas dan bimbang, dimana berkecamuk harapan dan tantangan, kesenangan dan kesengsaraan, semuanya harus dilalui dengan perjuangan yang berat, menuju hari depan dan dewasa yang matang. Istilah yang sering digunakan adalah masa labil.
Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu sedang berintegritasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber.
Termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok dimana transformasi intelektual yang khas. Dari cara berfikir remaja ini, memungkinkan juga untuk mencapai intregasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari perkembangan dimasa sekarang.
Intinya, anak-anak yang baru tumbuh remaja, tidak mau lagi disamakan dengan anak-anak kecil lagi, secara umum. Mereka ingin diakui sebagai individu yang bisa diajak berbicara tentang segala hal, dan tidak ada lagi sesuatu yang tabu, untuk mereka ketahui.
Kadang, sulit juga untuk orang tua mengendalikan emosi anak mereka, yang mulai tumbuh remaja. Ini dikarenakan gejolak emosi mereka yang belum bisa terarah, dan hanya sekedar ambisi, mengandalkan emosi sesaat.
Dan Anjani, sedang bersiap-siap untuk menghadapi proses masa transisi Ara, dari anak-anak usia sekolah dasar menuju ke sekolah menengah pertama.
Anjani tidak mau jika, Ara salah langkah, dalam mencari teman untuk pergaulannya. Karena pengaruh teman-teman di luar rumah, justru banyak mempengaruhi keadaan seseorang, apalagi untuk anak seperti Ara, yang sedang terjadi tumbuh dan meninggalkan masa kecilnya.
Hari ini adalah, hari pertama anak-anak untuk masuk sekolah lagi. Liburan kenaikan kelas sudah usai. Jadi, kesibukan di pagi hari kembali normal.
"Kak, ayo bangun! Hari ini kali pertama kakak masuk sekolah. Jangan sampai terlambat." Anjani membangunkan anaknya, yang harus bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Ini adalah hari pertama dia menjadi murid resmi di sekolah, yayasan, barunya.
"Hemmm... hoammm..."
Ara mengeliat dan menguap. Dia sebenarnya masih merasa malas, karena masih terbiasa dengan hari-hari libur panjang kemarin.
"Kak, ayok!"
Anjani kembali membangunkan anaknya, sampai Ara benar-benar terbangun. Dia menunggu hingga Ara bangkit dari tempat tidur, supaya anaknya itu tidak kembali berbaring, dan tertidur kembali.
"Ayah sudah bangun Bunda?" tanya Ara, karena hari pertamanya ke sekolah, dia ingin di antar oleh ayahnya sendiri. Meskipun waktu pulangnya nanti, dia akan dijemput oleh tukang ojek, yang sudah sepakat untuk menjadi langganan.
Ara akan memakai jasa ojek, untuk berangkat dan pulang sekolah. Kedua orang tuanya, tidak memakai jasa ojek online, karena untuk menjaga keamanan Ara sendiri.
Setidaknya, ojek yang akan menjadi langganan mereka adalah, ojek yang biasa mangkal di depan jalan perumahan, dengan tempat tinggalnya, rumah tukang ojek, yang tidak terlalu jauh dari perumahan mereka. Jadi, jika terjadi sesuatu bisa dengan mudah untuk melakukan perundingan atau untuk bertanya-tanya.
__ADS_1
Setelah Ara masuk ke kamar mandi, Anjani baru membangunkan anaknya yang satu lagi, Anggi.
"Dek. Adek. Ayo bangun. Hari ini sekolah dimulai lho. Nanti kita berangkat bersama Miko juga sekalian."
Anggi langsung membuka matanya. Dia tampak antusias, sehingga begitu mendengar kata 'sekolah' dia langsung terbangun.
"Yeee... Anggi akan sekolah hari ini. Anggi gak anak kecil lagi! Yeye... yeye...!"
Anggi justru bangun dengan bersorak gembira. Dia merasa sangat senang, karena bisa membatah, jika Miko mengolok-olok dirinya sebagai seorang anak kecil.
Anjani mengeleng, melihat kedua anaknya, yang berbeda saat dibangunkan tadi. "Ada-ada saja kalian. Tapi Anggi nunggu Kak Ara selesai mandi ya," kata Anjani, mengingatkan Anggi.
"Kak Ara, buruan!" Anggi justru berteriak keras, memangil kakaknya, supaya mandi lebih cepat lagi. Dia tidak sabar untuk segera mandi dan pergi ke sekolah.
Anggi sedang bersemangat, untuk kali pertama dia masuk sekolah.
"Ck. Bentar Napa Dek! Kakak juga baru masuk kok," jawab Ara, dari dalam kamar mandi.
"Ihsss, tapi jangan lama-lama. Itu shampoo Anggi, yang aroma strawberry jangan dipakai lagi Kak!"
"Eh, Kakak bukan anak kecil ya Dek! ngapain pake shampoo strawberry juga!" sahut Ara cepat, dari dalam kamar mandi.
"Sudah sih, kalian ini berebut mulu deh. Kakak sudah punya shampo sendiri Dek. Jadi gak usah takut, jika Kak Ara akan pakai shampoo miliknya Adek."
Anjani menjelaskannya pada Anggi, yang tidak suka, jika barang-barang miliknya, diambil oleh orang lain. Itu juga yang menyebabkan dia sering berselisih dengan Miko. Karena Miko memang suka membuatnya berteriak dan menangis dengan segala keusilannya.
"Bunda tunggu di meja makan ya! Kalian sarapan dulu, sebelum berangkat ke sekolah," pamit Anjani, kemudian keluar dari dalam kamar anaknya.
"Kak! buruan," teriak Anggi lagi, setelah bundanya itu pergi dari kamar mereka.
Tak lama kemudian, Ara sudah selesai, dan segera keluar dari dalam kamar mandi.
"Adek berisik banget tau! sabar napa? sekolah juga deket ini," gerutu Ara, sambil mencubit pipi adiknya, Anggi.
__ADS_1
"Kakak!"
Anggi merenggut kesal, karena ulah dari kakaknya, yang sudah mencubit pipinya tadi.
Tapi Ara tidak menghiraukan teriakan dari Anggi. Ara justru tertawa, kemudian mencari pakaian sekolah yang baru. Dia juga sudah menyiapkan kaos kaki, sepatu dan tas, untuk pergi ke sekolah nanti.
"Hahaha... udah sono buraun mandinya, nanti telat dan ditinggal si Miko!nangis lagi!"
Dengan perasaan kesal, Anggi segera masuk ke dalam kamar mandi. Dia tidak ingin berdebat lagi, karena takut terlambat, sama seperti yang tadi dikatakan oleh kakaknya tadi.
"Apa sih Kakak ini!" ucap Anggi kesal, kemudian masuk ke dalam kamar mandi, Mengantikan posisi Ara.
"Huh, baru juga taman kanak-kanak. Udah begitu, hehehe..."
Ara bergumam seorang diri, mengomentari tentang adiknya, yang dia pikir sok tahu dan juga sok dewasa. Padahal tahun ajaran baru ini, baru masuk sekolah taman kanak-kanak.
Sekolah yang sama, seperti sekolahnya dulu, bersama dengan Nanda, dan juga Miko untuk sekarang ini.
*****
"Kakak hati-hati ya, dan tetap patuhi aturan-aturan yang berlaku di sekolah ini. Apalagi, Kakak itu murid baru dengan beasiswa yang terpilih, jadi harus jaga image dan prestasi juga." Abimanyu menasehati Ara, saat Ara baru saja turun dari boncengan motor.
Pagi ini, Abimanyu harus memutar arahnya, karena harus mengantar Ara terlebih dahulu, untuk hari pertamanya masuk sekolah yang juga baru.
"Oh ya, nanti pulang dijemput pak ojek, jadi tenang saja ya," alat Abimanyu, mengingatkan kembali.
"Ya yah," jawab Ara patuh. Dia juga mengangguk patuh, kemudian menyalami dan mencium tangan ayahnya, baru setelah itu memasuki gerbang sekolah, dan menuju ke dalam sekelasnya sendiri. Di sana, sudah ada banyak murid-murid baru, yang juga sudah datang.
Abimanyu baru pergi dari tempatnya menurunkan Ara, setelah anaknya itu benar-benar masuk ke dalam sekolah.
Dengan sepeda motor, Abimanyu melanjutkan perjalanannya menuju ke arah kantor, dengan memutar arahnya terlebih dahulu.
Sekolah anaknya yang baru, tingkat SMP, berbeda arah dan tidak satu jalur dengan jalan menuju ke kantor.
__ADS_1
Itu juga yang membuat Abimanyu khawatir, karena merasa jika dia dan istrinya, tidak bisa dengan mudah memantau keadaan dan situasi Ara jika harus pergi ke sekolah dengan naik angkutan ataupun bus. Apalagi dengan ojek online, yang sedang trend saat ini.
Akhirnya setelah berpikir dan menimbang-nimbang, Abimanyu dan Anjani, memutuskan untuk mengunakan jasa ojek tetangga saja. Apalagi ojek itu sudah terbiasa ada di pangkalan ojek dengan perumahan. Tujuan mereka agar lebih mudah, jika ada sesuatu yang terjadi, atau perlu ditanyakan ini itunya seandainya ada sesuatu yang terjadi. Dan itu akan lebih mudah jika, mereka sudah saling mengenal satu sama lain.