Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Pacarnya Yasmin


__ADS_3

Seminggu sudah Yasmin di rawat di rumah sakit. Kondisi tubuhnya dan kandungannya juga sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, sehingga pagi tadi, dia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter yang memeriksanya, hari ini juga.


Selama seminggu ini juga, ayah Edi dan Abimanyu, mencari keberadaan pacarnya Yasmin. Banyak sekali tempat-tempat yang mereka kunjungi, sesuai dengan petunjuk orang-orang yang memberikan informasi.


Dari pencarian mereka berdua itulah, akhirnya Abimanyu dan ayah Edi, tahu kebiasaan dan perilaku Wawan yang sebenarnya.


Dari beberapa orang yang diminta keterangan tentang siapa dan dimana pacarnya Yasmin, Abimanyu bisa menemukan kembali, dimana persembunyian pacar adiknya itu, selain kamar kost yang sudah dia tinggalkan selama dua minggu kemarin, untuk menghindari Yasmin dan semua orang yang mencari keberadaan dirinya. Karena ternyata, Wawan itu adalah pemuda yang tidak bekerja, dan sering berhutang pada teman atau kenalannya selama ini.


Ayah Edi, meminta pada Wawan, nama pacarnya Yasmin, untuk bertanggung jawab atas segala perbuatannya pada anak gadisnya, yaitu Yasmin, yang sekarang ini sudah hamil.


"Tapi, Saya belum bekerja Om. Apa yang bisa Saya berikan pada Yasmin nantinya?" kata Wawan, saat berhadapan dengan ayah Edi. Selain itu sebagai alasan, dia juga berharap agar ayah Edi tidak memintanya untuk tetap bertanggung jawab atas semua perbuatannya pada Yasmin.


"Kalau belum bekerja, kenapa berani melakukan semua itu? Kamu tahu kan, Yasmin hamil dan hampir saja dia kehilangan bayinya, bahkan nyawanya juga!" kata ayah Edi, dengan nada marah. Wajahnya juga memerah, karena mencoba untuk bisa tetap menahan dirinya sendiri, agar tidak lepas kontrol.


"Ini bukan salah Saya saja Om. Yasmin juga yang mau kok. Bahkan, dia yang sering datang ke kost-kostan Saya." Wawan mengatakan pembelaan diri dari semua tuduhan yang dia terima. Dia juga mengatakan jika bukan hanya dia sajalah yang bersalah dalam kejadian itu, tapi Yasmin juga bersalah.


Ayah Edi, menghela nafas panjang kemudian membuangnya kasar. Dia tidak pernah menyangka, jika akan mendapatkan jawaban yang jauh dari pemikirannya sendiri, tentang kelakuan anak gadisnya yang paling kecil, yaitu Yasmin. Terpaksa, dia memutuskan untuk menerima Wawan sebagai seorang menantu yang tidak bisa bertanggung jawab secara materi terhadap anaknya, Yasmin. Entah secara moral, ayah Edi juga meragukannya.


Ayah Edi bertekad, akan menanggung beban biaya Yasmin selama mengandung dan melahirkan nanti. Dia hanya tidak ingin, aib Yasmin terdengar dan terlihat pada orang-orang di sekitarnya. Ini demi keselamatan dan nama baik keluarga.


"Yang penting, Kamu mau


bertanggung jawab atas segala perbuatan-mu itu. Kerja bisa dipikirkan nanti. Saya akan bantu mencarikan pekerjaan, asal Kamu mau. Tapi Kamu harus tetap ikut kami sekarang juga!"


Akhirnya, ayah Edi terpaksa mengajak Wawan untuk bisa ikut dengannya, saat itu juga. Dia juga menghubungi ibu Sofie, meminta pada istrinya itu, supaya mempersiapkan segala sesuatu, yang diperlukan untuk mendaftarkan pernikahan Yasmin dengan Wawan. Secepatnya, dalam waktu dekat ini.

__ADS_1


Wawan, pacar anaknya, Yasmin, hanya bisa pasrah dan menurut. Dia tidak mungkin bisa melawan lagi, karena tadi, dia sudah di hajar juga oleh Abimanyu, kakak laki-laki dari Yasmin.


Tadi, Abimanyu lepas kendali dan tidak bisa menguasai emosinya, karena Wawan berusaha untuk kabur dari tempat persembunyiannya. Dia juga bilang, tidak tahu yang bernama Wawan, saat di tanya untuk pertama kalinya. Bahkan, Wawan masih tidak mau mengakui jika dia sendirilah yang bernama Wawan.


Itulah alasannya, kenapa Abimanyu marah. Dia merasa dipermainkan oleh Wawan. Dia juga merasa kasihan pada ayahnya, yang sudah lelah dan putus asa, karena tidak pernah mendapatkan hasil, dalam pencariannya, selama seminggu ini. Dan disaat ketemu, Wawan justru mempermainkan perasaan mereka berdua.


"Jika Kamu tidak mau bertanggung jawab pada adikku, Aku pastikan jika Kamu tidak akan merasakan ketenangan dalam menjalani hari-harimu nanti."


Begitulah Abimanyu mengancam Wawan tadi. Jadi mau tidak mau, Wawan terpaksa mengikuti mereka berdua, ikut di bawa di rumah sakit. Toh dia juga di berikan pekerjaan nanti, jadi tidak perlu repot-repot lagi mencari pekerjaan yang sangat susah dia dapatkan.


Sesampainya di rumah, ternyata Yasmin baru saja sampai. Dia pulang dari rumah sakit, bersama dengan ibu Sofie dan Anjani. Mereka bertiga, baru saja turun dari mobil.


"Ayah!" Yasmin memeluk ayahnya yang baru saja turun dari mobil juga. Dia merasa sangat senang karena ayahnya itu, bisa menemukan pacarnya, Wawan. Dia juga segera berganti dengan memeluk Abimanyu sebentar, kemudian memeluk Wawan dengan erat.


"Ihhh, kemana saja Sayang? Aku kan kangen. Anak kamu ini juga, hiks... hiks. Kamu jangan pergi-pergi lagi ya," kata Yasmin, dalam pelukan Wawan.


Abimanyu mengiring Wawan masuk ke dalam rumah juga, diikuti oleh Anjani dan ibu Sofie yang paling terakhir. Mereka semua masuk ke dalam rumah.


"Yasmin, Kamu sudah pulang?" tanya Sekar, dari arah anak tangga. Dia baru mau naik, tapi mengurungkan niatnya, karena mendengar langkah kaki yang tidak hanya terdengar dari satu orang saja.


"Iya kenapa?" tanya Yasmine ketus. Dia mencibir kakaknya itu, karena melihat Wawan dengan memicingkan mata.


"Ka_kamu, Wawan kan?" tanya Sekar, tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Ternyata, Sekar mengenal Wawan.


Yasmin jadi bingung dan juga curiga, dari mana kakaknya itu mengenal Wawan, pacarnya. Selama ini, dia belum pernah memperkenalkan Wawan pada siapapun pada pihak keluarga. Itulah sebabnya, dia bingung, saat Sekar mengenal Wawan, begitu melihatnya untuk pertama kali.

__ADS_1


Wawan hanya tersenyum tipis, saat Sekar mengenalinya. Bagaimana mungkin Sekar lupa, jika Wawan ini adalah mantan pacar sahabat Sekar di kampus. Dia pernah dikenalkan sahabatnya itu, dengan pacarnya, dan itu adalah Wawan.


Ayah Edi dan Abimanyu duduk di kursi ruang tengah. Dia mendengar semua pembicaraan antara Sekar dan Wawan, bersama dengan Yasmin juga. Sedang ibu Sofie dan Anjani, langsung masuk ke dalam kamar masing-masing.


"Jadi, begitu putus dengan sahabatku itu, Kamu pacaran dengan Yasmin? atau jangan-jangan, yang dibilang sahabatku jika Kamu selingkuh itu, dengan Yasmin juga?" tanya Sekar menebak apa yang sebenarnya terjadi antara Wawan, Yasmin dan sahabatnya sendiri.


Wawan hanya meringis, mendapatkan pertanyaan demi pertanyaan dari Sekar. Dia juga tidak menyangka, jika akan seperti ini kejadiannya. Apalagi, Sekar ternyata adalah kakaknya Yasmin, pacar dan juga selingkuhannya, sewaktu masih berpacaran dengan sahabatnya Sekar.


Mendengar percakapan Sekar dengan Wawan, ayah Edi menarik kesimpulan tentang calon menantunya itu. Dia merasa jika, Wawan bukanlah pemuda yang baik. Tapi dia berharap, suatu saat nanti, Wawan bisa berubah dan bertanggung jawab pada keluarganya. Dua akan membantu Wawan mendapatkan pekerjaan yang baik nantinya.


Berbeda dengan ayah Edi, Abimanyu memiliki penilaiannya sendiri terhadap calon adik iparnya itu. Dia merasa jika Wawan tipe pemuda yang tidak bisa diatur, dan semaunya. Mungkin, dia kabur dari keluarganya juga karena tidak mau diatur oleh orangtuanya. Karena saat Abimanyu bertanya kepadanya soal keluarga, Wawan hanya menjawab, jika dia sudah tidak memiliki keluarga. "Tidak mungkin, jika dia tidak memiliki satu pun keluarga. Pasti ada sesuatu yang dua sembunyikan." Begitulah pikiran Abimanyu. Tapi karena dia sudah terlalu capek dan pusing, akhirnya dia pergi dari ruang tengah, menyusul istrinya ke kamar.


"Abi masuk ke dalam kamar dulu Yah," pamit Abimanyu pada ayahnya.


Ayah Edi, hanya mengangguk. Dia masih memperhatikan bagaimana cara Wawan berbicara dengan Sekar.


"Sudah-sudah. Kakak ini sok kenal dan sok tahu. Kakak salah paham mungkin!" ucap Yasmin kesal, dengan semua perkataan kakaknya, Sekar.


"Yasmin. Kakak tidak mengada-ada. Ini kenyataan. Kakak mana mungkin bicara seperti itu, jika Kakak tidak tahu tentang dia." Sekar masih membela diri, dengan mengatakan bahwa apa yang dia katakan tadi memang benar-benar terjadi.


"Sekar. Sudah, kembalilah ke kamar. Aku bicara dengan Wawan Yasmin." Ayah Edi, mengakhiri perdebatan kedua anaknya itu.


Sekar menurut. Dia segera naik ke lantai atas, dan Yasmin bersama dengan Wawan, duduk di dekat ayah Edi, sesuai dengan permintaannya.


"Ayah akan bicara dengan kalian berdua. Sekarang, Wawan ada disini, di rumah ini. Tapi, tentu saja tidak satu kamar dengan Kamu Yasmin. Dia akan tidur di kamar tamu. Pernikahan kalian akan diadakan empat hari lagi. Selama empat hari ini, dia akan ayah carikan pekerjaan juga. Jadi, setelah menikah nanti, dia akan memiliki pekerjaan dan memiliki penghasilan sendiri untuk kalian berdua."

__ADS_1


Wawan tersenyum, mendengar perkataan calon ayah mertuanya itu. Sedang Yasmin, merenggut kesal. Dia merasa ditekan oleh ayahnya sendiri dengan menentukan segala sesuatu yang akan dia jalani bersama dengan Wawan. Dia tidak suka, dengan sikap ayahnya yang satu ini.


__ADS_2