Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Menunggu Wawan


__ADS_3

Satu jam kemudian dokter baru keluar dari dalam ruangan operasi, dimana Yasmin ada didalamnya. Dokter sudah selesai dengan penanganan medisnya. Tapi, Yasmin masih ada di dalam dan tidak ada seorangpun yang diperoleh untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.


Tadi, Wawan diminta untuk keluar dari dalam ruangan, karena dokter sedang menangani Yasmin. Ternyata, Yasmin mengalami pendarahan pasca operasi Caesar. Padahal hak ini jarang sekali terjadi. Apalagi, tadi saat menjalani operasi tidak terjadi apa-apa.


Wawan mengatakan pada ibu dan ayah mertuanya, jika luka operasi Yasmin, mendadak keluar darahnya dan merembes dengan cepat.


"Apa tadi sudah di tutup dengan baik saat usai operasi? kenapa masih bisa merembes begitu?" tanya ibu Sofie dengan khawatir.


Ayah Edi, langsung terduduk dengan lemas. Wajahnya terlihat pucat karena takut terjadi sesuatu pada anaknya, Yasmin.


"Ayah. Ayah, minum dulu."


Sekar menyodorkan botol minum untuk ayahnya. Dia juga membantu ayahnya itu, agar bisa minum dengan baik.


"Mas. Apa yang terjadi pada Yasmin?" Anjani juga ikut merasa khawatir. Dia takut jika terjadi sesuatu pada adik iparnya itu. Meskipun keseharian Yasmin berkelakuan kurang baik padanya, tapi Anjani tidak mempunyai perasaan yang buruk pada adik iparnya. Saat ini dia hanya Yasmin selamat.


"Kita berdoa saja ya, supaya Yasmin bisa keluar dari masa kritisnya yang sekarang." Abimanyu, menenangkan pikiran Anjani. Padahal dia juga merasa cemas dan khawatir dengan keadaan adiknya.


"Hiks hiks hiks... kenapa ini terjadi pada Yasmin? Hiks... harusnya dia kan baik-baik saja. Ayah, lakukan sesuatu pada Yasmin Yah..." Ibu Sofie menangis dan merengek pada suaminya. Padahal dia juga bisa melihat, jika suaminya itu sekarang ini dalam keadaan yang sama cemasnya. Bahkan, ayah Edi terlihat lemas dan tidak ada tenaga.


"Mas. Itu ayah dan ibu, coba tenangkan dulu," kata Anjani, meminta pada suaminya supaya melihat dan memenangkan pikiran ayah dan ibunya juga.


Abimanyu mengangguk mengiyakan permintaan Anjani. Dia mendekat ke tempat duduk ayah Edi dan juga ibu Sofie. Abimanyu berusaha untuk tetap memberikan semangat dan motivasi yang baik supaya mereka berdua tidak terlalu cemas, karena itu bisa mempengaruhi keadaan dan kesehatan mereka berdua.


"Ayah, Ibu. Sebaiknya kita berdoa, agar Yasmin bisa selamat dan tidak ada kekurangan suatu apapun. Kita tidak bisa berbuat apa-apa, biarkan dokter yang menangani, kita hanya bisa pasrah dan berdoa Sany. Tetaplah berpikir positif supaya tidak terjadi apa-apa pada Yasmin."


Ayah Edi dan juga ibu Sofie, mengangguk mengiyakan perkataan Abimanyu. Mereka berdua sekarang jadi lebih tenang, meskipun sesekali isakan tangis dari ibu Shofie masih terdengar.


Wawan yang sedang kalut, minta ijin untuk pergi sebentar. Ada sesuatu yang ingin dia urus, mengenai semua biaya persalinan Yasmin ini.


"Jika ada kekurangan, bilang saja. Nanti Mas akan bantu," kata Abimanyu, memberitahu pada adik iparnya itu, supaya tidak mencemaskan soal biaya.

__ADS_1


"Iya Mas, terima kasih." Wawan hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, mendengar perkataan kakak iparnya yang dulu pernah memberinya bogem mentah. Dalam hati, dia ingin membalasnya, tapi itu sudah tidak mungkin lagi bisa dia lakukan. Dia tidak ingin dibilang sebagai adik ipar yang kurang ajar, jika hanya ingin membalas dendam.


"Akan ada waktunya untuk balas dendam. Dan semua itu akan lebih menyakitkan!" kata Wawan dalam hati. Dia masih merasa belum puas, jika belum melihat Abimanyu hancur dan terlihat tidak berguna sebagai seorang laki-laki.


*****


Dua hari kemudian, Yasmin sudah bisa bergerak dan duduk sendiri. Tadinya, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia hanya berbaring dan manggis jika menginginkan sesuatu.


Ibu Sofie dan Sekar, ikut merawatnya secara bergantian di rumah sakit. Begitu juga dengan Anjani, yang ikut menemaninya.


Ayah Edi, juga ikut mampir setiap pulang dari kantor. Dia baru akan pulang jika malam hari.


Wawan, sering pulang malam dan akan pergi ke tempat kerja jika hari sudah siang. Dia beralasan jika sekarang ini sudah menjadi kepala bagian, jadi bisa sedikit bebas untuk masuk kerja, karena beralasan jika ada calon pembeli yang memintanya untuk bertemu atau sedang mengurus sesuatu.


Sore itu, Abimanyu mampir untuk menjemput Anjani. Dia ingin mengajak Anjani pulang untuk beristirahat, karena selama ini, Anjani lebih banyak berada di rumah sakit, menemani Yasmin. Itu karena semua orang sedang sibuk bekerja dan Sekar mengurus acara wisudanya.


"Yasmin, Mbak pulang dulu ya. Ibu dan ayah sudah datang. Jadi Kamu masih ada temannya," kata Anjani, berpamitan pada Yasmin.


"Iya, Kamu beristirahat di rumah. Besok tidak usah ke sini tidak apa-apa. Wawan kan besok libur juga kerjanya, pasti dia tidak akan kemana-mana. Terima kasih ya Anjani."


Kali ini, ayah Edi yang berkata. Yang mengatakan terima kasih, juga yah Edi. Dia merasa tidak enak, pada menantunya itu, karena anak dan istrinya acuh dan tidak memperhatikan Anjani.


"Iya Yah," jawab Anjani pendek, kemudian pergi bersama dengan Abimanyu, setelah keduanya menyalami ayah Edi dan Shofie.


"Kaki pulang dulu Yah, Bu." Abimanyu juga berpamitan. Keduanya keluar bersama, setelah ayah Edi mengangguk.


"Ibu, Yasmin. Kalian berdua ini seharusnya berterima kasih pada Anjani. Apa kalian tidak tahu, dia itu sedang hamil juga, dan masih mau capek-capek hanya untuk menemani Kamu Yasmin. Jika bukan Anjani, pasti Kamu akan kesepian sepanjang hari."


Ayah Edi memarahi Yasmin, yang dirasa sudah keterlaluan dan tidak tahu berterima kasih pada Anjani.


"Ayah, sudah. Ini di rumah sakit. Kenapa Ayah marah-marah? Anjani kemari juga tidak ada yang minta. Dia sendiri yang mau, mungkin karena dia juga merasa kesepian jika di rumah sendiri. Kan pamali juga kalau hamil tidur saja seharian dari pagi."

__ADS_1


Ibu Sofie, justru mengomel karena suaminya sedang memarahi anaknya, Yasmin. Dia tidak mau, jika anaknya itu kena marah. Ini karena saat melahirkan, dia mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh Yasmin. Yaitu sama-sama menjalani operasi Caesar.


"Hahhh!"


Ayah Edi membuang nafas kasar. Dia pergi keluar kamar, tanpa mengatakan apa-apa lagi.


Wawan belum juga datang hingga malam hari. Bahkan, ini sudah hampir jam sembilan malam. Ayah Edi yang mau pulang, jadi mengurungkan niatnya karena menantunya itu belum juga datang, untuk menggantikannya menunggu Yasmin.


"Ini kenapa Wawan belum datang? Ayah dan ibu kan ingin pulang yasmin," tanya ayah Edi, yang merasa jika Wawan akan terlambat datang. Mungkin sampai tengah malam, jika tidak diminta untuk datang, Wawan akan lupa jika istrinya masih berada di rumah sakit.


"Ayah pulang saja. Ibu akan menemani Yasmin. Mungkin saja, Wawan sedang ada perkejaan sampingan, seperti yang dia katakan kemarin malam."


Ibu Shofie ingat, jika kemarin malam, Wawan berkata bahwa dia sedang ada kerja sampingan bersama dengan temannya. Hasil kerja sampingan ini juga yang dia gunakan untuk menutup biaya operasi dan perawatan Yasmin bersama dengan bayinya.


Yasmin mengangguk mengiyakan perkataan ibunya. Dia juga tahu, jika selama ini suaminya itu sudah berusaha dengan keras mendapat uang untuk membeli semua kebutuhan dan kemauannya selama ini.


"Mas Wawan juga sedang menabung Yah. Dia ingin membeli rumah yang besar untuk keluarga kami nanti," kata Yasmin menyakinkan ayahnya.


Ayah Edi hanya diam dan menghela nafas panjang. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan menantunya itu. Apalagi dengan laporan-laporan yang dia terima dari teman-temannya, yang ikut mengurus bisnis dealer yang dia ikuti sebagai pemilik modalnya.


"Apa mereka ada yang tidak suka dengan Wawan ya, makanya mereka membuat cerita semacam itu padaku?" tanya ayah Edi, dalam hati. Dia belum berani mengambil kesimpulan dari berbagai cerita tentang Wawan yang dia dengar kemarin-kemarin. Dia tidak ingin, anaknya Yasmin, kepikiran dan mempengaruhi kondisi tubuhnya yang baru saja usai menjalani operasi Caesar. Itu akan berpengaruh pada ketenangan hati Yasmin, dan ASI_nya juga. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada cucunya.


"Semoga saja itu hanya cerita yang tidak benar. Aku berharap, Wawan benar-benar berubah dan tidak melakukan kesalahan lagi, sama seperti yang dulu dia lakukan pad Yasmin."


Ayah Edi, berharap dan berdoa untuk kebahagiaan anaknya. Dia tahu, jika menantunya itu tidak sebaik yang terlihat saat ini.


Satu jam kemudian, sekitar pukul sebelas malam, Wawan baru sampai. Dia terlihat sangat lelah dan mengantuk. Dia juga meminta maaf pada ayah Edi dan ibu Shofie, yang terlambat pulang karena harus menunggu kedatangannya terlebih dahulu.


Dia berjanji, jika besok-besok akan tepat waktu dan tidak terlambat lagi. Dia merasa tidak enak hati, karena merepotkan ayah dan ibu mertuanya itu.


"Terima kasih banyak Yah, Bu. Maaf jika Wawan masih merepotkan terus."

__ADS_1


"Iya tidak apa-apa Wawan. Semua ini juga Kamu lakukan untuk anak kami, Yasmin. Yang penting, sekarang Kamu bisa membahagiakan Yasmin," kata ibu Sofie, menyahuti perkataan menantunya, Wawan.


__ADS_2