Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Hujan Pagi Hari


__ADS_3

Hujan deras baru saja datang. Padahal, Ara sedang bersiap untuk berangkat ke sekolah. Apalagi hari ini, tepatnya siang nanti, dia akan mengikuti ujian secara tertulis di sekolah yayasan yang akan memberikan beasiswa untuknya.


"Huhfff... kenapa malah turun hujan," kata Ara mengeluh. Dia jadi merasa tidak nyaman, jika harus berangkat ke sekolah dalam keadaan basah karena kehujanan.


Meskipun memakai payung, tetap saja, baju dan sepatunya akan basah karena air hujan juga. Apalagi, jika angin bertiup dengan kencang.


"Bunda. Hujan deras ini, bagaimana?" tanya Ara kecewa.


Dia terlihat sangat kesal karena hujan yang turun pagi ini.


"Hujan itu anugrah Sayang. Jangan mengurutu hanya karena hujan. Banyak orang yang menantikan kedatangan hujan, jadi Tuhan juga memberikan hujan untuk umatnya yang membutuhkan. Kalau tidak ada hujan, air di rumah juga akan kering nanti, karena mata air akan hilang dan tidak ada sumber air yang berasal dari hujan."


Anjani, menenangkan hati anaknya, supaya tidak lagi merasa kesal.


"Ayo Ara!" panggil ayahnya, Abimanyu.


Saat ini, Abimanyu sudah memakai sepeda motor sendiri untuk berangkat ke kantor. Dia sudah siap dengan mantel hujan. Dia juga sudah menyiapkan mantel hujan anak, untuk Ara.


"Hujan Yah," kata Ara sambil memakai mantelnya.


Ara dibantu oleh bundanya, Anjani, untuk memakai mantel hujannya.


"Setelah ini, masuk ke kelas pakai payung. Mantelnya di lepas saja, biar disimpan ayah," kata Anjani, dengan merapikan mantelnya Ara.


"Iya Bun," jawab Ara pendek.


Setelah semuanya selesai, Ara naik ke atas boncengan motor ayahnya.


"Ara sudah siap Yah!" teriak Ara, supaya suaranya terdengar, karena harus bersaing dengan suara hujan deras yang turun.


Setelah berpamitan dengan Anjani, Ara dan ayahnya, Abimanyu, segera berangkat. Abimanyu harus mengantar Ara ke sekolah terlebih dahulu, dan baru berangkat ke kantor setelahnya.


Ara juga tidak langsung pergi ke sekolah yayasan yang akan dia ikuti tes. Tapi dia akan berangkat ke sana, bersama dengan satu temannya yang lain, yang ikut diterima dan akan mengikuti tes juga siang ini.


Dia sudah merasa deg-degan sedari pagi tadi, waktu bangun tidur. Ara merasa sangat cemas, seandainya dia tidak lolos nanti.


Untungnya, bunda dan juga ayahnya, memberikan beberapa nasehat dan juga motivasi, untuk tetap berpikir positif dan tidak banyak memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Yang penting, Ara harus berkonsentrasi pada pekerjaannya dan tidak memikirkan hal yang lainnya.


Akhirnya, setelah semalam mendapatkan nasehat dari kedua orang tuanya itu, Ara bisa tidur dengan nyenyak dan pagi ini siap untuk melakukan tes tersebut.


Sayangnya, cuaca pagi ini membuat semangat Ara turun. Dia juga merasa kecewa, karena sepatunya yang sudah dia persiapkan sedari kemarin, harus basah dan tidak rapi lagi, karena pastinya tidak akan sama jika cuaca tidak hujan.

__ADS_1


"Jangan banyak berpikir yang tidak-tidak. Jika keberuntungan tidak ada pada Ara hari ini, ayah dan bunda tidak akan marah dan kecewa. Ara tetap akan bersekolah, yang berkualitas, meskipun tidak di tempat yayasan itu."


Abimanyu, memberikan nasehat pada anaknya, setelah Ara turun dari boncengan motor. Dia melipat mantel hujan Ara, dan menyimpannya di bawah jok motor.


Ara mengangguk mengiyakan perkataan ayahnya. Ini juga nasehat yang diberikan bundanya semalam.


"Iya Yah. Doakan saja, Ara bisa mengikuti tes ini dan bisa mengerjakan soal dengan lancar," ucap Ara sambil menyalami tangan ayahnya, kemudian mencium punggung tangannya juga.


"Baca doa ya, sebelum mengerjakan soal," kata Abimanyu, menasehati Ara.


Ara mengangguk mengiyakan perkataan ayahnya. Dia segera masuk ke, karena gerbang sekolah juga sudah terbuka. Banyak anak-anak yang lain, juga sudah pada datang, dengan membawa payung sendiri-sendiri.


*****


Awan, belum bangun tidur. Padahal saat ini jam di dinding kamarnya, sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


Itu artinya, dua butuh satu jam setengah, untuk bisa sampai di sekolah.


Tok tok tok!


"Den. Den Awan!"


Bibi pembantu rumah mama Amel, mengetuk pintu kamar Awan, dan berusaha untuk membangunkannya juga.


Tok tok tok!


Bibi pembantu rumah, berteriak lagi untuk membangunkan tuan mudanya itu.


Tapi sepertinya Awan tidak juga terbangun. Dia merasa hati masih malam, karena cuaca di dalam kamarnya yang nyaman dan masih terlihat gelap.


Tentu saja, di kamar Awan masih terlihat gelap. Itu karena tirai jendela kamarnya, belum ada yang membuka. AC di kamar juga tetap akan menyala sepanjang hari, meskipun hujan turun dengan derasnya.


Apalagi, tidak ada omanya, mama Amel, yang biasanya memaksa untuk masuk ke dalam kamar, dan berteriak keras untuk membangunkan Awan.


Biasanya, mama Amel akan membuka tirai jendela kamar terlebih dahulu, sebelum menarik selimut yang dipakai Awan. Ini untuk membuat jari-jari kaki Awan terasa dingin, dan dia juga akan segera bangun dari tidurnya.


Jika cara itu tidak juga berhasil, mama Amel akan berteriak-teriak di dekat telinga Awan, supaya dia cepat terbangun dan segera bersiap untuk berangkat ke sekolah.


"Den. Den Awan!"


Bu i kembali berteriak. Tapi tetap saja hasilnya nihil.

__ADS_1


Drettt


Drettt


Drettt


Di dalam kamar, handphone milik Awan bergetar. Tanda jika ada pesan yang masuk.


Tapi karena Awan masih tidur dengan nyenyak, pesan yang masuk itu tidak juga terbaca olehnya.


"Den Awan belum bangun juga?" tanya supir, yang sudah siap untuk mengantar Awan ke sekolah.


"Belum Pak," jawab bibi pembantu, yang terlihat pasrah saja, karena Awan tidak berhasil dia bangunkan.


"Masuk saja Yu!"


"Moh ah Pak. Nanti Den Awan marah bagaimana?" jawab bibi pembantu, yang merasa sungkan dan juga bingung, karena di minta untuk masuk ke dalam kamar oleh pak supir.


"Bapak saja yang masuk ya, bangunkan den Awan. Dia bisa terlambat nanti," kata bibi pembantu, memberikan usulan yang berganti posisi dengan dirinya.


"Di kongkon malah ganti ngongkon Yu. Piye jal?"


Mereka berdua, Pak supir dan bibi pembantu, justru saling berdebat dengan mengunakan bahasa mereka sendiri.


"Ya sudah. Kita bareng-bareng saja masuk. Kita bangunkan den Awan sama-sama. Kalau dia tidak berangkat sekolah, bisa-bisa, nyonya akan marah saat telpon dan bertanya."


Bibi pembantu, meminta pada pak supir untuk ikut masuk ke dalam kamar Awan, dan bersama dengannya, membangunkan tuan mudanya, yang susah untuk dibangunkan pagi-pagi.


Akhirnya, mereka berdua masuk ke dalam kamar Awan, tanpa mengetuk pintu lagi, sama seperti tadi.


"Kamu buka tirai jendela Yu!" kata oak supir, memberikan perintah pada bibi pembantu, karena itu adalah kebiasaan nyonya besarnya, mama Amel.


"Kalau dibuka dan den Awan tahu cuacanya hujan, dia akan segera bangun atau malah kembali tidur? Bisa-bisa, dia malah malas untuk bangun, dan memilih untuk tetap tertidur sepanjang hari nanti."


Bibi pembantu, menerka-nerka, apa yang akan terjadi jika tirai jendela kamar Awan dibuka. Dia berharap, agar Awan tidak akan melakukan apa-apa, yang tadi dia pikirkan.


"Den. Den Awan. Sudah siang Den, bangun dan pergi sekolah Den!"


Bibi pembantu, memanggil-manggil Awan, dan berusaha untuk membangunkannya.


Pak supir mencari-cari keberadaan remote AC, dan bermaksud untuk mematikan AC kamar Awan. Dia berharap, dengan matinya AC, Awan akan merasa kepanasan dan segera bangun dari tidurnya.

__ADS_1


Kira-kira, Awan akan bangun dan berangkat ke sekolah, atau bangun dan marah-marah, karena merasa terganggu dengan ulah kedua orang yang saat ini berada di dalam kamarnya?


__ADS_2