Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Rasa Yang Sebenarnya


__ADS_3

Sehari setelah jenasah Adhisti tiba di Jakarta, pemakaman juga langsung dilaksanakan hari itu juga, tanpa menunggu lama. Semua sudah diatur oleh mama Amel, sehingga tidak ada kendala yang berarti untuk pemakaman menantunya itu.


Mama Amel dan papa Ryan, menyesalkan tindakan yang dilakukan oleh menantunya, yang harus mengambil keputusan untuk kematiannya dengan cara yang tidak baik.


Tapi mereka berdua tidak bisa melakukan apa-apa, karena semua sudah terjadi, mereka berdua hanya bisa berdoa, semoga Adhisti bisa tenang dan mendapatkan tempat yang lebih nyaman di alamnya sana.


Begitu juga dengan Elang sendiri. Dia yang tidak pernah menyangka jika istrinya itu akan berbuat nekad, merasa sangat menyesal karena telah memanjakan istrinya sedari dulu. Itu membuat Adhisti pendek akal dan tidak bisa berpikir jernih, dalam mengahadapi suatu masalah.


Dan kesadaran Adhisti, justru membuatnya nekad melakukan tindakan bunuh diri dengan caranya sendiri.


Awan, yang berada di dalam dekapannya hanya diam saja. Anak kecil itu tidak tahu apa-apa. Dia tidak menangis saat jenasah bundanya di turunkan ke liang lahat. Mungkin dia memang belum mengerti secara benar, jika setelah ini, dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan bundanya.


Apalagi selama hidupnya, Adhisti tidak mengakrabkan diri dengan anaknya itu. Dia punya kegiatan sendiri dan menjadikan baby sitter sebagai pengganti dirinya untuk merawat anaknya, Awan.


Setelah semua selesai, mama Amel dan papa Ryan, masih ikut menunggu dan tinggal di pemakaman bersama dengan Elang. Mereka bertiga menunggu hingga semua pelayat pulang. Sedang Awan dan baby sitter, menuggu mereka di dalam mobil bersama dengan supir.


"Elang. Ikhlaskan saja istrimu. Biar jalannya ke alam sana lancar dan tidak terhambat karena perasaanmu itu. Ini demi kebaikannya juga," kata mama Amel menasehati Elang yang masih diam tanpa berkata-kata, di depan nisan Adhisti Andriyani.


"Jangan ada air mata yang menetes di pemakaman. Itu tidak baik dan akan membuat Adhisti semakin sedih, dan terhalang perjalanannya."


Papa Ryan, juga ikut menasehati anaknya, Elang Samudra. Dia tahu, jika Elang sangat terpukul dengan kepergian istrinya, yang sangat mendadak, dengan cara yang tragis juga.


Elang hanya mengangguk saja, kemudian berdiri dan mengajak kedua orang tuanya untuk pergi dari pemakaman tersebut.


"Ayo Ma, Pa. Biar Adhisti beristirahat dengan tenang dengan keputusan yang dia ambil sendiri."


Akhirnya, mereka bertiga berjalan bersama menuju ke arah tempat parkir mobil, yang ada di area pemakaman tersebut. Di sana, Awan sudah menunggu bersama dengan baby sitter dan supir mereka.

__ADS_1


Mereka semua, meninggalkan arena pemakaman dengan berbagai macam perasaan masing-masing, yang pernah mereka rasakan saat Adhisti masih ada bersama dengan mereka semua.


Elang, dengan rasa cintanya kepada istrinya itu. Dengan semua perasaan dan cinta yang dia miliki, membawa kehidupan yang penuh dengan lika-likunya, susah dan senang. Meskipun Adhisti tidak pernah mau tahu, tapi Elang tetap menyayangi istrinya, bagaimanapun keadaan Adhisti.


Mama Amel dan papa Ryan, merasa senang karena Adhisti bisa membuat anaknya berpikir untuk mandiri. Meskipun mereka berdua tahu, jika Adhisti tidak menginginkan kehidupan yang dipilih oleh suaminya. Karena Adhisti ingin hidup enak dengan menumpang hidup di antara kekayaan mertuanya. Sayangnya, Elang memilih untuk pergi dan berusaha sendiri, jauh dari kedua orang tuanya.


Baby sitter, menjadi lebih dekat dengan Awan, anak asuhnya. Ini karena bundanya Awan, Adhisti, selalu memintanya untuk menemani Awan, meskipun ada dirinya di rumah. Bahkan, jika Adhisti ada di dekat Awan, dia merasa stress dan meminta baby sitternya untuk menjauhkan Awan darinya. Baby sitter kadang merasa heran, karena ada seorang ibu yang tidak ingin lebih dekat dengan anaknya sendiri.


Apalagi Awan. Dia juga tidak tahu apa-apa. Dia yang tidak dekat dengan bundanya itu, tidak merasakan kehilangan atau semacamnya. Dia hanya tahu, jika bundanya pergi, sama seperti hari-hari biasanya jika dia ditinggal oleh bundanya itu. Dia tidak tahu, jika setelah ini, dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan bundanya, untuk selamanya.


*****


Anjani, yang mendapat kabar tentang kematian Adhisti, merasa ikut bersedih hati. Tapi dia juga tidak bisa ikut hadir dalam acara pemakaman tersebut. Ini karena dia masih berada di rumah sakit, menuggu suaminya, yang sedang dalam perawatan.


Yang ikut datang sebagai perwakilan keluarga Abimanyu, hanya ayah Edi dan Juna. Ibu Sofie bersama dengan Sekar sedang mempersiapkan acara lamaran dan juga pernikahan Yasmin dengan Aksan.


"Mbak Adhis, maaf ya. Jani gak bisa ikut hadir dalam pemakaman Mbak. Semoga saja Mbak Adhis tenang dan dilapangkan kuburnya. Aamiin."


Anjani hanya bisa mendoakan agar Adhisti tenang, dan dimudahkan jalannya ke alamnya yang sudah berbeda.


"Siapa yang meninggal Jani?" tanya Abimanyu, yang tidak tahu tentang berita kematian Adhisti.


"Itu Mas, Mbak Adhis," jawab Anjani dengan wajah sedih.


"Adhisti maksud Kamu?" tanya Abimanyu memastikan.


Anjani hanya mengangguk saja. Dia tidak mengatakan apa-apa tentang kematian istri mantan suaminya dulu.

__ADS_1


"Sakit apa atau kecelakaan di mana?" tanya Abimanyu lagi, ingin tahu menyebabkan kematian Adhisti. Mungkin dia merasa jika Adhisti masih muda, jika bukan karena penyakit atau kecelakaan, tidak bisa meninggal dunia dengan secepat mungkin.


"OD Mas. Mama Amel yang kasih kabar."


Abimanyu mengerutkan keningnya memikirkan jawaban dari istrinya itu. Dia pikir, setelah kasus korupsi Adhisti yang ketahuan dulu, waktu Anjani masih menjadi istrinya Elang juga, Adhisti sudah kapok dan tidak lagi berbuat macam-macam. Tapi nyatanya, malahan terkesan lebih parah lagi di banding dengan kelakuannya yang dulu.


"Apa tidak ada yang tahu, jika dia memakai obat-obatan tersebut?" tanya Abimanyu lagi, seperti tadi. Ingin tahu kelanjutan ceritanya lagi.


"Anjani tidak tahu Mas. Tapi mama Amel bilang jika kematian Adhisti ada di panti rehabilitasi kok. Mungkin dia dalam masa penyembuhan di panti tersebut," jawab Anjani dengan wajah yang tidak tahu juga.


"Ayah dan Juna, ikut hadir di pemakaman tersebut. Mungkin mereka lebih tahu nanti. Kita bisa bertanya kepada mereka, agar lebih jelas dan tidak hanya sekedar kemungkinan," kata Anjani lagi, meminta pada suaminya itu, agar tidak lagi bertanya-tanya. Itu karena dia sendiri kurang tahu kebenaran dari kabar yang diberikan oleh mama Amel.


Abimanyu mengangguk mengiyakan perkataan istrinya itu. Dia hanya merasa heran dengan sikap istrinya Elang.


Dia jadi merasa bersyukur karena sudah mendapatkan Anjani sebagai istrinya. Anjani yang tidak mudah putus asa dan selalu bisa hidup bersama dengannya dalam keadaan apapun.


Abimanyu, merasa sangat bahagia karena istrinya itu mau bersabar dengan keadaannya yang seperti sekarang ini. Lumpuh dan tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa, dan hanya mengandalkan Anjani, yang selalu ada di dekatnya setiap saat.


"Sayang. Terima kasih ya, Kamu mau bersabar dengan diriku yang seperti ini," kata Abimanyu dengan meminta Anjani, untuk mengengam tangannya.


Dia ingin memberitahu pada istrinya, jika benar-benar merasa sangat bahagia karena adanya Anjani sebagai istrinya sekarang dan nanti.


Anjani, yang tahu apa yang diinginkan suaminya itu, segera mendekat dan memegang tangan Abimanyu. Dia juga mengengam tangannya itu dengan erat, seakan-akan memberikan kekuatan pada Abimanyu, agar bisa tetap tenang dan bersemangat dengan cobaan yang mereka berdua dapat saat ini.


"Mas Abi yang sabar ya. Ini semua adalah cobaan. Jika kita sabar dan tetap bisa bersemangat untuk bisa keluar dari keadaan ini, Tuhan pasti akan memberikan kesempatan dan kebaikan pada kita. Jani yakin itu. Dan Mas Abi harus yakin, jika Jani akan tetap ada di dekat mas Abi, dalam keadaan apapun itu."


Abimanyu mengangguk sambil tersenyum, mendengar perkataan dari istrinya itu. Dia benar-benar merasa sangat bahagia dan bersyukur karena adanya Anjani dalam kehidupannya, sebagai seorang istri yang baik dan sabar.

__ADS_1


__ADS_2