Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Awal Yang Baik


__ADS_3

"Jadi, orang yang menculik Anggi udah ketangkep Yah?" tanya Anggi, setelah ayahnya menceritakan tentang kejadian tadi. Setelah ada pertemuan di kantor Lawyer.


"Tadi, kak Ara kasih kabar. Jika papanya Dika, udah mau menyerahkan diri kepada pihak kepolisian."


"Berarti, dia juga yang dulu pernah menyerempet motor Ayah itu?" tanya Anjani, yang akhirnya ingat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat suaminya itu terserempet mobil seseorang. Dan akhirnya, anak orang itu justru punya niatan untuk melamar Ara.


Abimanyu mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh istrinya. Dia juga tidak pernah menyangka jika, orang tersebut juga yang sudah membuat perusahaan PT SAMUDERA GROUP hampir bangkrut beberapa tahun kemarin.


"Berati, motif penculikan dan rekayasa perampokan di rumah kita ini adalah balas dendam?"


Mereka, yang orang tua, merasa benci dengan keluarga Awan. Sebagai pemilik PT SAMUDERA GROUP. Sedang anaknya, Dika itu, dendam dengan Ara. Begitu Yah?"


Anjani kembali bertanya pada suaminya, dengan memperjelas maksud dari cerita yang disampaikan oleh Abimanyu tadi.


Abimanyu juga kembali menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan dari Anjani. Karena memang seperti itulah, kira-kira motif yang membuat keluarga Dika melakukan kejahatan kemarin.


"Apa papanya itu tidak sadar. Jika anaknya sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi? Kenapa justru dia yang malah melakukan kejahatan?"


Sekarang, Anggi yang bertanya, dengan semua hal yang menurutnya sangat tidak masuk akal.


"Dendam itu atas dorongan setan Dek. Gak ada akal sehat. Gak ada kesadaran dan pemikiran yang baik. Makanya, setan suka membantu orang-orang yang punya hati seperti itu. Tapi, dia tidak akan membantu lagi, dan hanya ada penyesalan. Jika sudah selesai dengan adanya kegagalan."


Sekarang, Anjani memberi penjelasan kepada anaknya, Anggi. Yang tadi mengajukan pertanyaan.


Setelah mereka bertiga terdiam beberapa saat.


"Ayah mau bersih-bersih dulu. Setelah itu kita makan ya!" Abimanyu pamit, untuk pergi ke kamar mandi terlebih dahulu.


"Ya Yah," sahut Anggi, dengan menganggukkan kepalanya.


Sedang Anjani, hanya mengangguk dan ikut beranjak dari tempat duduknya. Dia melangkah ke arah dapur. Melanjutkan pekerjaannya yang tadi. Yaitu menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga.


*****


Di rumah sakit.

__ADS_1


Hari sudah malam. Tapi karena Awan dan Ara sekarang adalah anggota keluarga dari pasien koma, Dika, jadi mereka berdua bisa datang kapan saja. Apalagi dengan alasan yang dibuat oleh Awan, yang sudah ditandatangani oleh pihak kepolisian dan juga lawyer yang menjadi jaminan.


Di sini, Dika dianggap sebagai saksi. Karena dia bisa memberikan kesaksian, atas sindikat yang nanti akan dilaporkan oleh papanya.


Kumpulan orang-orang yang terlibat dalam perdagangan manusia ke luar negeri. Di mana Dika dan papanya pernah ikut serta di dalam anggota sindikat tersebut.


Sekarang, Awan dan Ara bisa masuk bersama-sama. Untuk menjenguk dan melihat keadaan Dika.


Mereka berdua, ditemani oleh satu orang dokter. Yang memang khusus berjaga di ruang ICU.


Dokter tersebut menjelaskan tentang keadaan Dika, setelah tadi ada perubahan dari layar layar monitor. Setelah Awan menjenguk dan mengajaknya berbicara.


Menurut dokter tersebut, syarat-syarat tertentu Dika, mulai ada tanda-tanda jika berfungsi dengan baik. Tidak sama seperti kemarin-kemarin. Jadi, kunjungan mereka diharapkan dapat membantu Dika, yang ada pada posisi koma ini.


Menurut dokter, tubuhnya Dika memang tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi, pendengarnya bisa berfungsi. Hanya saja, entah kenapa dia tidak bisa mengerakkan apapun pada anggota tubuhnya.


"Semoga saja, kedatangan Kalian berdua, bisa membuat kemajuan pada pasien. Meskipun nanti, jika dia bisa sadar. Kemungkinan besar juga tidak bisa melakukan apa-apa lagi secara normal."


Awan dan Ara, menyimak dengan baik, apa yang dikatakan oleh dokter tersebut.


"Apa Dika akan lumpuh maksudnya Dok?" tanya Ara, yang merasa keterangan yang diberikan oleh dokter, mengarah ke pada lumpuhnya anggota badan Dika.


Tapi, dokter memaklumi bahwa, kekhawatiran pasti akan dirasakan oleh setiap orang. Jika ada anggota keluarga atau temannya yang dalam keadaan seperti Dika ini.


"Iya. Tapi itu hanya kemungkinan. Semua kita serahkan kepada Tuhan saja. Dokter, hanya melakukan usahanya untuk bisa menyembuhkan pasien. Bukankah begitu Mas, Mbak?" Dokter tersebut menjawab dengan berdiplomasi. Karena tidak bisa memberikan jawaban dengan pasti.


Awan dan Ara, mengangguk mengiyakan perkataan dokter tersebut. Mereka berdua juga tahu, jika semua hal adalah kehendak dan takdir dari Tuhan.


Sekarang, dokter memberikan kesempatan kepada keduanya, untuk bisa berbicara dengan pasiennya. Yaitu Dika.


Ara menatap ke arah tubuh Dika yang terbaring tanpa daya. Tubuh itu sudah tidak lagi gagah, sama seperti waktu terakhir kalinya Ara berjumpa dengan Dika.


Wajahnya juga terlihat tirus, pucat dan tidak segar seperti dulu.


"Kak. Ara datang kak Dika."

__ADS_1


Ara mengajak Awan lebih mendekat ke tempat tidur Dika. Dia juga mengengam tangan suaminya itu, karena miris melihat keadaan Dika yang sekarang ini.


"Maafkan Ara Kak Dika. Ara tidak bisa menerima kak Dika, sama seperti yang diinginkan oleh kak Dika selama ini."


"Ara datang ke sini, bersama dengan suaminya Ara. Kak Awan."


"Kak Dika cepat sadar dan kembali sehat ya! Ara memaafkan semua kesalahan Kakak. Hiks..."


Ara tidak bisa menahan air matanya, untuk tidak mengalir saat mengatakan semua itu. Dia akhirnya menangis dan memeluk tangannya Awan.


Awan pun segera memeluk tubuh istrinya itu dari arah samping. Dia membiarkan istrinya itu mengatakan apa saja yang ingin dia sampaikan kepada Dika.


*****


Di rumah Mita.


Nanda mengantar Mita, sekalian ingin bertemu dengan kedua orang tuanya Mita juga. Dia ingin menyampaikan keinginannya untuk melamar kekasihnya itu dalam waktu dekat ini.


Tentu saja, papa dan mamanya Mita menyambutnya dengan suka cita. Mereka berdua, menyetujui keinginan Nanda.


"Kami berdua setuju saja nak Nanda. Kapan dan di mana, nak Nanda bilang saja. Biar pihak EO yang mengaturnya nanti."


Nanda mengelengkan kepalanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh papanya Mita.


"Maaf Om. Bukannya Nanda lancang dan menolak tawaran yang Om berikan. Tapi, menurut Nanda, lamaran ini hanya sederhana saja. Nanda hanya ingin lebih serius dan menjadi penyemangat untuk Nanda berusaha ke depan nanti."


"Nanda tahu, Om dan Tante, tidak akan kekurangan. Meskipun harus mengeluarkan biaya besar untuk acara lamaran nanti. Tapi maaf, Nanda tidak setuju."


"Tapi Nak Nanda, kami ingin acara ini meriah. Nak Nanda kan tahu, Mita itu anak kami satu-satunya."


Mamanya Mita berusaha untuk memberikan penjelasan dan alasan yang jelas pada Nanda. Kenapa dia ingin membuat pesta yang meriah, untuk lamaran anaknya, Mita.


"Ma. Kita dengarkan dulu, apa yang direncanakan nak Nanda dan Mita. Jika ada yang kurang pas, baru kita kasih pendapat. Sederhana juga gak apa-apa. Yang penting niat mereka itu baik."


Akhirnya, papanya Mita memberikan pengertian kepada istrinya. Agar tidak terburu-buru untuk memaksakan kehendaknya. Apalagi, dia bisa melihat keseriusan di mata Nanda.

__ADS_1


Dia juga melihat kebahagiaan yang ada di wajah anak gadisnya, Mita. Itu adalah kebahagiaan tersendiri bagi papanya Mita.


Akhirnya, mamanya Mita mengikuti apa yang dikatakan oleh suaminya. Apalagi, di saat dia diberi isyarat suaminya, untuk melihat bagaimana keadaan wajah anaknya yang berseri-seri. Menandakan bahwa Mita sedang berbahagia dengan rencananya Nanda.


__ADS_2