
..."Mbak. Udah enakan belum? Apa masih pusing?"...
Anjani menerima panggilan telpon dari adiknya, Sekar. Adiknya itu, merasa khawatir, dengan keadaan Anjani, yang tadi pamit pulang, karena merasa sedang tidak enak badan.
..."Ya lumayan Dek, udah mendingan. Apa Yasmin sudah sampai di rumah?"...
..."Ya Mbak. Setengah jam yang lalu. Tapi jika Mbak Jani masih merasa pusing atau tidak enak badan, tidak usah ke sini tidak apa-apa. Istirahat saja di rumah Mbak."...
..."Iya. Terima kasih Dek. Nanti, jika Mbak udah lebih baik, pasti datang ke sana kok."...
..."Iya Mbak. Tidak usah dipaksakan. Lebih baik, jaga kesehatan Mbak Jani. Nanti, Anggi dan Miko biar di jemput bibi, dan di ajak main-main ke rumah eyangnya. Biar lihat adik baru."...
..."Oh ya. Terima kasih ya Dek."...
Klik!
Panggilan telpon terputus. Anjani menolehkan kepalanya, ke arah suaminya, yang sedang tertidur di sofa ruang tamu. Tak jauh dari tempat duduknya sendiri.
Mungkin pengaruh obat yang tadi di minum Abimanyu, jadi dia mengantuk dan akhirnya tertidur sebelum sempat pindah ke dalam kamar.
Anjani menggelengkan kepalanya, melihat suaminya itu. Dengan pelan, dia menepuk-nepuk pipi Abimanyu, supaya bangun dan pindah ke dalam kamar, agar bisa beristirahat dengan tenang dan lebih baik daripada berada di kursi sofa.
Puk-puk
"Mas. Mas Abi. Pindah ke kamar yuk! Di sini tidak nyaman, nanti badan Mas Abi malah tambah pegel semua lho," kata Anjani, sambil menepuk-nepuk pipi Abimanyu, supaya cepat terbangun.
"Hemmm..."
Tapi karena pengaruh obat yang tadi dia minum, Abimanyu susah juga untuk membuka mata.
"Mas," panggil Anjani lagi.
"Hemmm... iya. Bantu Mas bangun, ini susah di gerakkan."
Abimanyu menunjuk pada kakinya, yang sulit dia gerakkan. Dan memang terasa kaku.
"Mas. Dulu pen yang di pasang, pada saat kecelakaan waktu itu, udah di lepas semua kan?" Anjani, mencoba untuk mengingat-ingat kembali, pen-pen yang membantu tulang-tulang suaminya.
Dia bertanya juga pada suaminya itu, Apakah pen tersebut sudah dilepas semua atau belum.
"Sepertinya sudah kok. Bahkan, yang ada di tulang belakang juga sudah di ambil." Abimanyu, menjelaskan pada Anjani, jika pen-pen itu sudah tidak ada lagi di dalam tubuhnya.
__ADS_1
"Tapi tadi Mas Abi diperiksa tidak tulang-tulangnya? Takutnya, ada yang retak atau geser lagi mas," ujar Anjani, dengan wajah yang terlihat sangat cemas.
"Sudah semua. Dan Alhamdulillah, semua baik-baik saja. Tidak ada yang retak atau geser. Ayah cuma keserempet Bun, bukan tabrakan kayak dulu. Yang parah motornya Ayah tuh, ada di bengkel." Abimanyu, menjawab pertanyaan dari istrinya, dan juga menjelaskan bahwa dia baik-baik saja, supaya Anjani tidak merasa khawatir lagi.
"Ya sudah, Mas istirahat di kamar. Nanti Aku siapkan makan siang ya," sahut Anjani, dengan tersenyum.
Anjani membantu Abimanyu, supaya bisa berdiri dan juga berjalan dengan pelan-pelan, menuju ke arah kamar.
"Hati-hati Mas. Jalan pelan-pelan saja, biar tidak ngilu."
Abimanyu mengangguk mengiyakan perkataan Anjani. Dia berusaha untuk bisa sampai di dalam kamar, supaya bisa beristirahat dengan cukup baik, dengan posisi tidur yang baik juga.
"Yasmin sudah sampai?" tanya Abimanyu, begitu mereka berdua sudah sampai di dalam kamar.
Dan sekarang, Abimanyu juga sudah duduk di pinggir tempat tidur, karena belum memposisikan dirinya untuk berbaring.
"Sudah kok Mas. Tadi, barusan Sekar kasih kabar."
"Sebaiknya Kamu ke sana saja Sayang. Biar orang-orang tidak merasa curiga, karena Kamu tidak terlihat di sana," kata Abimanyu mengusulkan agar Anjani pergi ke rumah ayahnya. Ayah Edi.
"Tadi, Aku berasalan jika sedang tidak enak badan Mas. Makanya pulang dan tidak ikut bantuin kerjaan di rumah ayah, untuk acara syukuran.
"Iya tidak apa-apa. Itu kan permintaan dari Mas juga, sehingga Kamu pulang ke rumah. Sekarang, biar mereka tidak merasa khawatir dengan keadaannya, dan tidak menyusul ke rumah ini, Kamu yang harus ke sana, ya?"
"Kalau begitu, Jani ke rumah ayah Edi sekarang Mas." Anjani pamit pada suaminya, yang sekarang ini sudah memposisikan diri untuk tidur.
"Tapi Jani siapkan makanan untuk mas Abi dulu. Nanti Jani taruh di meja ya ini Mas."
Abimanyu mengangguk mengiyakan perkataan istrinya itu. Dia juga menoleh ke arah meja, yang tadi ditunjuk oleh Anjani.
Meja kecil, yang ada di dekat tempat tidurnya. Itu akan memudahkan dirinya sendiri, untuk mengambil air minum atau makanan yang sudah disediakan oleh istrinya, Anjani.
*****
"Ra!"
Ara menoleh ke belakang, saat ada yang memanggil namanya.
"Ayok Kak, cepetan!"
Ara berseru memanggil Nanda, yang sedang berjalan mendekat ke arahnya berdiri. Mereka berdua, akan segera pulang, dan langsung menuju ke rumah ayah Edi. Eyang mereka berdua.
__ADS_1
"Wah, Tante Yasmin pasti sudah ada di rumah ini Kak!"
"Pasti!" sahut Nanda pendek dan cepat.
Nanda bercerita pada Ara, tentang mamanya, dan juga adiknya yang baru saja lahir.
"Dulu, Kakak pikir gak akan punya saudara kandung lagi. Sebab, mama selalu keguguran, saat baru hamil beberapa minggu atau berapa bulan. Untungnya, yang ini busa bertahan. Itu pun karena papa Aksan sangat protektif, terhadap mama. Dia melarang mama melakukan apa-apa di Taiwan. Jadi, mama benar-benar istirahat waktu hamil yang ini."
Ara menganggukkan kepalanya, paham dengan apa yang dikatakan oleh kakak sepupunya itu.
"Kakak sangat senang dan juga bersyukur, karena papa Aksan, bisa menerima mama dan Aku sebagai anaknya. Dia memperlakukan kami dengan sangat baik, dan tidak pernah membedakan, antara anak kandung dan anak bawaan mama."
Nanda bercerita tentang papanya Aksan, yang baik dan tidak pernah memperlakukan dirinya, sebagai seorang anak tiri.
"Baik banget ya Om Aksan itu. Dia juga bisa membimbing tante Yasmin. Ara seneng denger Kak. Itu tandanya, om Aksan laki-laki yang bertanggung jawab."
"Ya Ra. Aku juga bersyukur karena papa Aksan sangat baik, dan tidak sama seperti papaku sendiri. Wawan."
Ara mengangguk-anggukkan kepalanya, karena dia juga tahu, bagaimana kelakuan papa kandung kakak sepupunya itu.
Bahkan, kemarin-kemarin, juga sempat bertemu dan datang mencari keberadaan Nanda.
Tapi Ara tidak mau bercerita tentang papanya, Wawan, pada Nanda. Jadi, sampai saat ini, Nanda belum tahu jika papanya itu sudah keluar dari penjara.
"Ini ra!"
Nanda menyerahkan satu helmnya, untuk dipakai oleh Ara.
Tak lama kemudian, Nanda dan Ara, sudah naik motor, kemudian keluar dari parkiran motor milik Pak Lek.
Mereka berdua tidak tahu jika, di tempat yang tidak jauh dari mereka berdua berada tadi, ada dua pasang mata, yang memperhatikan. Meskipun dari dua tempat yang berbeda juga.
Ada Awan yang berada di tempat parkir motornya sendiri, dan yang satunya lagi ada si Dika, teman Awan, yang sedang menunggu ojek pesanannya.
Tapi baik Awan ataupun Dika, tidak ada yang berani mendekati Ara. Meskipun sebenarnya jarak mereka tidak begitu jauh.
Itu karena, ada Nanda yang selalu ada bersama dengan Ara.
Bahkan, anak-anak yang lain, menyangka jika Ara dan Nanda adalah sepasang kekasih. Dan mereka berdua, tidak ada yang membantah ataupun menyangkal tuduhan itu.
Sedangkan cewek-cewek di sekolahnya, sering berbisik-bisik, jika Ara terlalu kecil untuk pacaran. Mereka juga menyayangkan jika, Nanda harus memilih Ara sebagai pacarnya.
__ADS_1
Menurut mereka, masih ada banyak cewek-cewek cantik di sekolah, dan kenapa mesti Ara, yang dipilih Nanda untuk jadi pacar. Bahkan Awan dan si Dika, cowok-cowok keren itu juga memperebutkan Ara. Mereka melihatnya saat Nanda baru saja datang dan menjemput Ara waktu itu.