Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kebersamaan


__ADS_3

Besok pagi, adalah hari kepulangan keluarga Abimanyu ke Indonesia. Tapi, Ara tidak bisa ikut pulang bersama dengan mereka bertiga.


Dan malam ini, adalah malam terakhir mereka berempat bisa berkumpul dan makan malam bersama.


Dan sebelum waktunya untuk makan malam, Ara sedang berbincang dengan ayahnya, Abimanyu.


"Yah," panggil Ara, dengan mata berkaca-kaca.


Abimanyu menoleh ke arah Ara, yang tadi memanggilnya. Dia merentangkan kedua tangannya, untuk menyambut anaknya itu ke dalam pelukannya.


"Hiks... Ayah. Hiks... Ara pulang ke Indonesia saja ya, jika udah lulus."


Mendengar perkataan anaknya, dan juga tangisannya Ara, Abimanyu ikut merasa sedih. Dia mendongakkan kepalanya, untuk menahan air matanya agar tidak menetes.


"Iya. Iya gak apa-apa. Kakak bisa pulang begitu lulus nanti."


Ara mendongak menatap ke arah wajah ayahnya. Dia mendengar suara ayahnya yang seperti sedang mau menangis.


"Ayah jangan nangis. Ara jadi sedih Huhuhu..."


"Hehehe... Bukannya sedari tadi Kamu emang udah sedih? Ayah ikut sedih karena Kamu sedih Kak," ujar Abimanyu, dengan mencubit hidung anaknya itu.


"Hihhh... Ayah. Huhuhu..."


Sekarang, Ara benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Dia merasa sedih, karena tidak bisa mengingat perlakuan ayahnya yang hangat seperti ini.


"Ck! Masa calon pengantin masih nangis kayak anak kecil!"


Dari arah kamar, muncul Anggi yang berkomentar saat melihat ayah dan kakaknya itu. Dia mencibir tingkah kakaknya, yang menurutnya seperti anak kecil saja. Padahal, di dalam hatinya sendiri juga merasa sangat sedih.


Meskipun di mulutnya mengatakan hal semacam itu, Anggi juga merasa tidak tega , melihat kakaknya itu, yang harus ditinggalkan di Amerika sini sendiri.


Bukannya sendiri, tapi ada Awan juga. Yang merupakan calon suaminya.


Tapi budaya Indonesia tentunya mengharuskan mereka berdua untuk tetao tinggal terpisah, sebelum meresmikan hubungan mereka berdua dengan sebuah pernikahan.


"Ada apa?"


Dari arah dapur, muncul Anjani yang sudah selesai dengan pekerjaannya.


Tadi, sebenarnya semuanya mau ikut membantu. Tapi dilarang oleh Anjani sendiri. Dia ingin mengerjakan semuanya sendiri, untuk malam ini.


"Itu kak Ara Bun," jawab Anggi, dengan menunjuk ke arah kakaknya, yang sedang memeluk ayahnya di kursi tamu.


Tapi sedetik kemudian, Anggi ikut duduk dan memeluk kakaknya dari arah belakang.


"Huhuhu... Kakak. Jangan nangis! Anggi Jan jati ikut sedih." Anggi protes, dengan apa yang terjadi pada kakaknya sekarang ini.

__ADS_1


Dia jadi ikut merasa sedih. Padahal, perpisahan yang sebenarnya masih besok pagi.


Anjani hanya bisa tersenyum tipis, dengan air mata haru. Dari tempatnya berdiri.


"Sini Bun!" panggil Abimanyu, meminta pada istrinya itu, supaya ikut duduk dan berpelukan bersama dengan mereka bertiga.


Dan apa akhirnya, mereka berempat jadi saling berpelukan dengan rasa sedih, hari, dan semua perasaan yang tidak bisa mereka katakan dengan bersuara.


Tet tet tet!


Pintu apartemen berbunyi. Ada seseorang yang datang untuk berkunjung. Dan tentunya mereka semua juga tahu, siapa yang datang kali ini ke rumah mereka.


Ara melepaskan pelukannya pada ayahnya. Dia meminta pada adiknya, Anggi, supaya melepaskan dirinya juga. Dia ingin berdiri dan membukakan pintu untuk tamu yang datang.


Karena yang datang kali ini adalah Awan. Tunangan sendiri, yang memang sengaja diundang oleh ayahnya. Supaya ikut makan malam bersama dengan mereka semua, sebelum besok pagi mereka berangkat ke Indonesia.


Clek!


Pintu dibuka dari dalam oleh Ara. Tapi ternyata, bukan Awan yang datang.


"Assalamualaikum kak Ara. Apa i datang pada waktu yang tidak tepat?" tanya Ahmed, yang melihat perubahan warna pada wajah Ara. Begitu melihat dirinya yang datang.


"Eh, emhhh... waallaikumsalam. Ayok masuk!"


Ara hanya membalas salam yang diucapkan oleh Ahmed. Tapi dia tidak menjawab pertanyaan dari teman dekat adiknya itu.


"Dek, ada calon mantu!"


Karena teriakan Ara, yang menyebutkan bahwa, calon mantu yang datang. Dan mereka berdua tahu, siapa orang yang di maksud oleh Ara pada saat ini.


"Oh tidak! Kenapa dia datang juga? Siapa yang mengundangnya?" gumam Anggi bertanya pada dirinya sendiri.


Dia tidak merasa mengundang Ahmed, untuk datang ke rumahnya malam ini.


"Bunda Sayang yang undang dia. Kan dia muridnya Bunda," ujar Anjani, memberitahu Anggi.


Karena Anjani mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Anggi dalam gumamannya tadi.


"Bunda?"


"Hehehe... maaf Dek!"


Anjani pura-pura tidak paham, dengan apa yang dirasakan oleh anaknya yang kedua itu. Dia menangkupkan kedua tangannya, untuk meminta maaf pada Anggi.


"Sudah-sudah!"


Abimanyu mencoba untuk menenangkan keduanya, supaya Anggi tidak melanjutkan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan untuk istrinya itu.

__ADS_1


Tapi pada saat Ahmed sudah berjalan untuk masuk, dan Ara bermaksud untuk menutup pintu kembali, Awan yang baru saja datang, menahan daun pintu tersebut. Supaya Ara tidak bisa menutupnya.


Ara memang tidak melihat kedatangan tunangannya, Awan. Karena dia tidak melihat ke arah luar tadi.


"Kakak!"


Ara menyapa Awan, dengan rasa terkejutnya. Dia merasa malu, karena hampir saja menutup pintu tanpa melihat kedatangannya.


"Kakak gak di suruh masuk?" tanya Awan dengan muka dibuat masam.


"Hehehe..."


Tapi Ara justru cengengesan, melihat wajah Awan yang tidak seperti biasanya.


"Merajuk. Kayak Anggi saja. Hehehe..."


Awan mengacak rambut Ara, karena disamakan dengan adiknya yang suka ngambek-ngambek, jika ada kemauannya yang tidak dituruti.


Sekarang, mereka berdua berjalan beriringan menuju ke tempat duduk. Di mana semua orang juga sudah duduk di kursi tamu.


Begitu juga dengan Ahmed, yang sudah berbincang-bincang dengan Abimanyu dan juga Anjani.


Sedangkan Anggi, sedari tadi hanya diam saja. Dengan melirik-lirik ke arah Ahmed.


*****


Makan malam bersama sudah selesai. Sekarang, Abimanyu, Awan dan berbincang-bincang dengan santai di ruang tamu.


Setelah beberapa saat kemudian, Anjani dan kedua anaknya, sudah selesai membersihkan dan merapikan meja serta peralatan makan malam bersama mereka tadi.


"Maaf ya Wan, Nak Ahmed. Bunda gak but kue-kue. Karena barang-barang yang dapur sudah banyak yang dirapikan," kata Anjani, yang datang dengan membawa teh hangat untuk mereka semua.


Sedangkan Ara, membawa toples kaca, berisi keripik pisang yang dibuat oleh bundanya beberapa hari yang lalu.


"Iya Bun gak apa-apa," sahut Awan, yang duduk di samping Abimanyu.


"I juga sudah kenyang Bun." Ahmed juga mengatakan jika dia tidak keberatan. Karena dia juga tadi datang dengan membawa kue-kue ringan dari tokonya.


Dan tak lama kemudian, Anggi datang dengan membawa piring berisi kue yang tadi dibawa oleh Ahmed.


"Ini dia, kue buatan murid Bunda!"


Abimanyu, dengan wajah tersenyum mengatakan bahwa, kue yang dibawa Anggi kali ini adalah kue buatan Ahmed sendiri.


"Masa Yah? Wah, hebat dong dia!"


Awan menimpali perkataan Abimanyu, dengan menunjukkan kedua jari jempol tangannya.

__ADS_1


Ini membuat Ahmed tersenyum malu-malu. Dia merasa sangat senang, karena kehangatan yang dia rasakan di keluarga Anggi.


Meskipun dia sendiri belum lama kenal dengan mereka. Tapi, mereka cukup terbuka dan menerimanya dengan senang hati.


__ADS_2