
"Yang Saya takutkan justru Mita, karena bisa jadi, dia masih memikirkan kak Dika hingga saat ini."
Mama dan papanya Mita, saling pandang. Mereka berdua, bingung dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Nanda pada mereka.
"Maksud Nak Nanda?" tanya mamanya Mita lagi.
"Karena kak Dika pergi tanpa berkabar. Dan pada saat ini, mungkin di dalam hatinya Mita, masih belum bisa menerima kenyataan ini. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa, kak Dika adalah orang pertama yang mengisi hatinya Mita."
Nanda mencoba untuk memberikan penjelasan kepada mama dan papanya Mita. Karena dia sendiri tidak bisa menebak, bagaimana dengan hatinya Mita yang paling dalam.
Di dalam hatinya Nanda sendiri, ada rasa takut jika, Mita hanya menginginkan dirinya karena keadaannya yang ada sekarang. Bukan karena perasaan yang benar-benar ada di hatinya Mita sendiri.
Dari masa lalu Nanda sedari kecil, tentu banyak hal yang sudah membuatnya kecewa dan trauma. Terutama dari papanya sendiri. Yaitu Wawan.
Kehidupan keluarganya yang tidak utuh. Segala kekecewaan dan penderita mamanya. Yang dia saksikan sendiri sedari kecil. Dan bahkan, kelakuan papanya yang sering membuat masalah dengan orang-orang sekitarnya.
Apalagi, begitu banyak wanita yang sakit hati karena papanya juga.
Ini membuat Nanda bertindak sangat hati-hati. Dia juga tidak mudah percaya dengan orang lain.
Dan semua itu Nanda lakukan untuk menjaga hatinya sendiri, agar tidak tersakiti. Dan tentunya juga untuk orang-orang di sekitarnya.
"Semoga Mita tidak mempunyai pikiran yang seperti itu Nak Nanda. Tante akan bertanya, apakah dia siap untuk menikah dengan Kamu secepatnya atau tidak."
Nanda menautkan kedua alisnya, mendengar perkataan yang diucapkan oleh mamanya Mita.
Sedangkan papanya Mita sendiri, menoleh dengan cepat ke arah istrinya. Dia kaget, di saat istrinya itu mengatakan hal yang belum pernah mereka bicarakan sebelumnya.
"Ma," tegur papanya Mita.
"Maksud Tante?" tanya Nanda bingung.
"Gak Pa. Mama gak mau Mita masih memikirkan Dika. Anak yang tidak tahu diri itu. Mama mau, Mita fokus pada kuliah dan mengurus suaminya saja."
Mamanya Mita, menjeda kalimatnya. Dia menghela nafas panjang, kemudian melanjutkan kalimatnya lagi. "Mungkin dengan begitu, dia tidak ada waktu untuk berpikir hal yang tidak-tidak. Terutama Dika."
"Iya Ma. Benar juga itu," jawab papanya Mita, yang menyetujui usulan dari istrinya.
Tapi berbeda dengan Nanda. Dia hanya diam saja. Dia tidak tahu harus berkata apa, dengan usulan dari mamanya Mita sendiri.
__ADS_1
"Bagaimana Nak Nanda, Kamu setuju kan dengan usulan Tante ini?"
Ternyata, mamanya Mita meminta pendapat pada Nanda. Dia ingin Nanda menyetujui usulan tersebut.
"Apa ini tidak terlalu cepat Tante? Emhhh... maksud Nanda, bagaimana dengan Mita sendiri?"
"Apalagi, Saya juga masih berstatus sebagai mahasiswa. Belum ada pekerjaan yang bisa menghidupi Mita dan rumah tangga kami nantinya." Nanda tidak yakin jika, Mita juga akan setuju dengan usulan tersebut.
"Tidak usah dipikirkan Nak Nanda. Yang penting, Kamu setuju dengan usulan ini. Kami akan urus semuanya."
Nanda mengeleng sebagai jawabannya. Dia tidak mau aji mumpung. Apalagi jika terkesan memanfaatkan kesempatan untuk bisa menjadi menantu dari keluarga Atmojo.
Dia ingin punya pekerjaan tetap terlebih dahulu. Agar bisa hidup mandiri bersama dengan istrinya kelak.
Apalagi, dia adalah laki-laki. Beda cerita jika dia adalah seorang wanita, yang akan menjadi seorang istri.
Karena laki-laki adalah pemimpin dan imam bagi keluarga dan rumah tangganya. Sebagai tulang punggung juga. Dan Nanda, tidak ingin mendapatkan citra yang sama seperti papanya, Wawan.
"Jangan Tante. Saya tidak mau menekan Mita untuk buru-buru menikah. Biar dia menikmati masa-masa sekarang. Ada kesibukan kuliah yang baru saja dia mulai juga."
Mamanya Mita, menghela nafas panjang. Tapi akhirnya dia mengangguk mengiyakan perkataan Nanda.
Mereka berdua, akhirnya memutuskan untuk tidak lagi membicarakan tentang pernikahan.
"Baiklah. Kami tidak akan mengatakan ini pada Mita. Biar dia sendiri nanti yang ada pikiran ke arah sana."
"Terima kasih Nak Nanda. Dan kami minta maaf, jika kami jadi terkesan memaksakan kehendak kami ini. Terutama Tante sendiri. Sekali lagi maaf ya Nak," ucap mamanya Mita, yang merasa dirinya telah memaksakan kehendaknya kepada Nanda.
"Tidak apa-apa Tante. Saya memaklumi kondisi Mita dan juga Tante. Sebagai orang tua, apalagi Mama, pasti ingin yang terbaik untuk anaknya."
Mamanya Mita tersenyum, mendengar jawaban yang diberikan oleh Nanda.
Dia merasa sangat yakin jika, anaknya akan bahagia. Jika menikah dengan laki-laki seperti Nanda.
*****
Di rumah mama Amel.
Semua sudah siap untuk berangkat ke bandara. Tapi Elang, yang ingin ikut mengantarkan mama dan papanya, malah tidak bisa ikut. Karena ada panggilan telpon dari sekretarisnya yang sedang berada di kantor.
__ADS_1
..."Ada apa?"...
..."Tuan. Ada keributan di proyek yang baru saja jalan."...
..."Maksudnya?"...
..."Warga mengamuk Tuan. Katanya, uang ganti rugi yang diberikan belum clear. Dan mereka menghalangi proses pembersihan area lahan proyek."...
..."Bagaimana bisa begitu? Ada orang-orang yang mengurus kan? Ada berkas laporan keuangan yang keluar untuk penggantian ganti rugi juga. Cepat hubungi pihak terkait dan juga kuasa hukum perusahaan. Dan selidiki kasus ini. Jika ada penyelewengan dana proyek, biar di proses cepat."...
..."Baik Tuan."...
..."Saya akan ke kantor segera."...
..."Baik Tuan."...
Klik!
"Ada apa Lang?" tanya mama Amel, yang mendengar suara anaknya yang bernada tinggi.
Dia merasa khawatir jika Elang sudah mulai marah-marah karena pekerjaan.
"Gak apa-apa Ma. Hanya ada beberapa masalah di proyek yang baru saja berjalan." Elang mencoba untuk menenangkan hati mamanya, supaya tidak merasa khawatir dengan keadaannya dan juga kantor.
"Yakin?" tanya mama Amel lagi.
Dan Elang, mengangguk mengiyakan dengan cepat.
Akhirnya, mama Amel hanya bisa menghela nafas panjang. Dia melihat ke arah suaminya, papa Ryan, yang sedari tadi hanya diam saja.
Di saat Elang pergi ke arah dapur untuk mengambil air minum, mama Amel bertanya pada papa Ryan. "Pa. Apa kita akan tetap ke Amerika?"
"Kenapa? Mama tidak tega melihat Elang ada masalah?" Papa Ryan justru balik bertanya pada istrinya.
"Pa..."
"Ma. Biarkan dia membuat keputusan dan mengambil tindakan apapun itu, tanpa harus kita ikut terlibat. Biarkan dia belajar mengatasi masalahnya sendiri."
Mama Amel hanya bisa mengangguk, dan membuang nafas panjang.
__ADS_1
Dia memang selalu merasa khawatir. Dengan apa yang terjadi dan akan dilakukan anaknya itu. Dia tidak mau jika, Elang akan melakukan kesalahan demi kesalahan yang sama seperti waktu dulu. Di saat memilih seorang istri yang tidak baik, dan akhirnya membuat Elang trauma untuk menjalin hubungan dan berumahtangga untuk kedua kalinya.