Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Lebih Baik Bagaimana?


__ADS_3

Kita lompat agak cepat ya gaesss, biar gak bosen sama kisah yang culun, karena masih usia remaja dan anak-anak. Mohon maaf, jika alurnya akan maju mundur cantik. 🤗🤗🙏


Tiga tahun kemudian.


Ara sudah mulai masuk kampus. Dia loncat naik kelasnya, sehingga lebih cepat juga tingkat pendidikannya, dibandingkan dengan yang seharusnya.


Ini karena, Sewaktu Ara masih di sekolah asrama. Di saat Ara bisa meraih prestasi yang sangat gemilang, dengan kemenangannya di perlombaan olah raga cabang bela diri yang dia raih, antar sekolah di tingkat yang sama, di Atlanta.


Nama Ara, langsung melejit naik. Semua siswa siswi, di tempat Ara sekolah, ingin tahu, apa sosok Ara yang memiliki kemampuan di atas mereka, yang orang-orang bule.


Mereka berpikir bahwa, Ara adalah anak ajaib, yang tinggi besar, dan berkacamata tebal. Sama seperti Bety atau sejenisnya, yang menjadi salah satu tokoh di telenovela.


Tapi ternyata dugaan mereka salah. Ara berperawakan kecil, dibanding dengan ukuran normal mereka. Orang-orang Amerika sendiri.


Mereka juga tidak menemukan seorang gadis, dengan kacamata tebal, sama seperti para gadis-gadis culun, yang ada di telenovela-telenovela, yang tayang di layar kaca.


Tapi, dengan keunikan yang dimiliki oleh Ara, menjadikan semuanya itu daya tarik tersendiri, untuk mereka ingin kenal lebih dekat.


Sayangnya, Ara tidak lama berada di sekolah itu lagi. Dia segera lulus, dan masuk ke universitas.


Itulah sebabnya, Ara bisa masuk kampus dengan waktu yang relatif singkat.


jadi, sekarang dia tidak lagi tinggal di asrama. Tapi pulang dan pergi dari apartemen keluarganya, dan bisa selalu berkumpul dengan adiknya juga.


*****


Anggi, yang masih sekolah di tempat yang sama, dengan tingkat SD, semakin banyak temannya.


Dia yang ramah, dan suka usil, akhirnya berpikir dan bersikap lebih dewasa, dibanding dengan usianya sendiri.


Apalagi, teman-temannya Anggi, juga dari keluarga orang-orang, yang memiliki pola pikir bebas, sama seperti kehidupan orang-orang bule pada umumnya.


Untungnya, Anggi tidak terlalu terpengaruh dengan apa yang mereka lakukan. Dia tetap menjunjung tinggi nilai-nilai moral, dan juga etika dalam kehidupan sehari-hari. Baik di sekolah ataupun dj tempat lain.


Ini karena, bundanya tetap meminta kepada anak-anaknya, agar tidak terpengaruh oleh budaya barat, meskipun mereka saat ini, tinggal dengan orang-orang Amerika di benua Amerika juga.


Anjani selalu, dengan tidak bosan-bosannya, memberikan contoh dan pesan, yang baik pada kedua anaknya itu.


Jadi, meskipun Anggi banyak teman cowok, termasuk temannya yang unik, blesteran dari timur tengah dan Chinese, dia juga tetap berteman baik dengan cewek-cewek di sekolah.

__ADS_1


Dia juga belajar dengan serius dan tekun. Dia tidak mau ketinggalan dengan kakaknya, Ara. Meskipun dia sendiri menyadari, jika otaknya, tidaklah se_encer kakaknya itu.


Tapi karena keramahan dan bentuk fisiknya yang khas, Anggi juga cukup di kenal di antara teman-teman sekolah dan guru-guru mereka.


Apalagi, Anggi juga tidak segan-segan untuk menolong, sama seperti budaya Indonesia, yang terkenal baik dan ramah.


*****


Awan masih kuliah, dan mulai belajar mengurus kantor, dengan dibantu oleh Abimanyu, calon mertuanya sendiri.


Dia akan pergi ke kantor, jika jam kelas dan tugasnya tidak padat.


Tentu saja, ini juga atas inisiatif dari pihak keluarga Awan sendiri. Yang ingin agar Awan bisa langsung terjun ke perusahaan, jika dia sudah lulus nanti.


Dan Mama Amel, omanya Awan, justru memintanya untuk segera menikah, agar bisa lebih tenang dan tidak was-was terus.


"Oma, kenapa meminta Awan untuk segera menikah terus Oma?" tanya Awan, pada pada omanya, saat omanya membahas masalah pernikahan lagi.


"Ini demi kebaikan kalian berdua. Dan Oma, juga ingin segera mengendong cicit."


Begitulah alasan yang dibuat oleh mama Amel, pada saat Awan bertanya kepadanya.


"Gak apa-apa Awan. Dia sudah tujuh belas tahun lebih. Dan dia masih bisa tetap kuliah, meksipun nanti sudah menikah dengan Kamu. Dan Kamu tahu, Oma juga dulu, menikah pada usia sembilan belas tahun. Makanya, Oma masih terlihat muda, meskipun sudah punya cucu."


Mama Amel justru membandingkan dirinya sendiri, yang dulu menikah pada usia muda, dan meminta pada Awan, agar menikah juga pada usia muda.


"Jadi, kalian berdua bisa melihat bagaimana anak-anak dan cucu-cucu Kalian nanti, dengan usia yang juga belum terlalu tua. Itu berpengaruh juga, pada saat kita mendidik dan memperhatikan mereka."


Mama Amel memberikan beberapa contoh, dari kehidupannya sendiri, agar Awan mau menerima permintaannya tadi.


Menurut mama Amel, menikah muda itu ada untungnya juga. Selain bisa menikmati masa berdua tanpa khawatir, karena sudah sah, juga bertujuan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Menekan timbulnya omongan orang-orang, karena terlalu lamanya sebuah hubungan yang belum juga diresmikan.


Kemudian yang paling penting adalah, masa subur wanita dan tenaga muda pasangan, bisa membuat hubungan mereka menjadi lebih baik dan hangat.


Seandainya punya anak, mereka berdua bisa melihat tumbuh kembang anak mereka, dengan cara yang baik, karena masa-masa mereka tidak terlalu jauh. Sehingga sedikit banyak tahu, bagaimana cara mengatasi dan menangani anak-anak mereka.


"Tapi, apa Om Abi dan Bunda Jani setuju?" tanya Awan ragu, dengan rencana omanya itu.

__ADS_1


"Kita tanya pada mereka terlebih dahulu. Jika setuju, kita akan segera menyusun rencana, untuk melanjutkan hubunganmu dengan Ara."


"Apa tidak terlalu buru-buru Oma?"


Pertanyaan Awan, lebih karena rasa takutnya sendiri, pada sebuah hubungan, karena umur mereka yang belum terhitung matang.


"Kamu tanyakan pada Ara. Apa dia siap untuk diajak menikah muda?" Mama Amel, memberikan saran kepada Awan, agar bertanya pada ara terlebih dahulu, dengan rencana mereka itu.


Mama Amel, kemudian melanjutkan kalimatnya lagi, "Jika Ara setuju, kita akan segera menyusun rencana selanjutnya. Yaitu melamar dan mengadakan pesta pernikahan. Lebih cepat, akan lebih baik."


"Bagaimana Wan?" tanya mama Amel, karena melihat Awan, yang hanya diam mendengarkan perkataannya tadi.


"Ayah bagaimana Oma?" tanya Awan, yang tidak mungkin melupakan keberadaan ayahnya sendiri Elang.


"Bagaimana lagi? Ayahmu terlalu sibuk, dengan semua pekerjaan yang dia miliki. Padahal, Oma sudah memintanya untuk memberikan beberapa pekerjaan, pada asistennya. Tapi dia tidak mau."


Sekarang, mama Amel mengeluhkan tentang sikap anak semata wayangnya, Elang. Karena akhir-akhir ini Elang seperti orang yang gila kerja.


Bahkan, begitu sampai di rumah, Elang juga membuka laptopnya, untuk mengerjakan pekerjaannya, yang selalu dia bawa pulang ke rumah.


"Apa ayah benar-bener tidak mau menikah lagi? Maksud Awan, mungkin saja, saat ini ayah punya calon. Tapi kita yang tidak tahu Oma," ujar Awan, berandai-andai, jika ayahnya itu, berpikir untuk menikah lagi.


"Apa Kamu keberatan, jika ayahmu ingin menikah lagi?" tanya mama Amel, menyelidik curiga, pada Awan yang tadi bertanya soal ayahnya, Elang Samudra.


"Tidak Oma. Awan justru merasa senang, jika ayah punya keinginan untuk menikah lagi."


Awan menjawab pertanyaan dari omanya itu, dengan mengelengkan kepalanya juga.


"Entahlah. Oma juga tidak tahu lagi, bagaimana caranya agar ayahmu itu bisa move on, dan mengisi hari-harinya, yang tidak lagi muda."


"Apa Ayah masih mengharapkan bunda Jani Oma?"


Mama Amel terkejut, dengan pertanyaan yang diajukan oleh awan padanya, saat ini.


'Kenapa Awan memiliki pertanyaan yang sama seperti yang Aku miliki, sejak dulu?'


Mama Amel justru membatin, dan tidak segera menjawab pertanyaan dari Awan, soal perasaan ayahnya, Elang dengan mantan istrinya, Anjani.


Padahal, Anjani adalah bundanya Ara, yang saat ini menjadi kekasihnya Awan.

__ADS_1


__ADS_2