Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Bukan Jodoh?


__ADS_3

Selama Elang di rawat di rumah sakit, Anjani yang selalu menjaga dan menemani. Sesekali, mama Amel dan papa Ryan, datang menjenguk.


Adhisti, hanya sekali saja datang, karena kondisi tubuhnya yang belum pulih benar pasca melahirkan dan Awan, anaknya, tidak mungkin dia bawa-bawa ke rumah sakit.


Siang, saat Andhisti datang menjenguk Elang, dia melihat sendiri, bagaimana Anjani dengan telaten merawat Elang. Menyuapi makan, membantunya saat minum obat, Elang paling susah jika minum obat, dan saat Elang mau tidur kembali. Adhisti melihat semua, dari balik pintu kamar pasien, karena dia memang belum masuk dan menampakkan diri.


Setelah beberapa lama kemudian, saat Andhisti yakin jika Elang sudah tidur, Andhisti masuk.


"Jani, maaf ya. Aku justru tidak bisa menemani Mas Elang, saat dia sakit. Kamu tahu sendiri, bagaimana keadaanku saat ini," kata Andhisti, dengan wajah sedih. Ya, dia sedih, karena selama ini salah menilai Anjani.


"Iya gak apa-apa Mbak. Ini juga kewajiban Jani kok, untuk jaga dan merawat mas Elang. Nanti, jika Jani sudah tidak lagi menjadi istrinya mas Elang, Mbak Adhis yang akan sepenuhnya memiliki dia."


"Maksud Kamu apa Jani?" tanya Adhisti kaget. Dia tidak menyangka, jika Anjani masih memiliki keinginan untuk berpisah dengan Elang, suaminya.


"Jani, tidak mungkin ada dalam ikatan pernikahan ini selamanya Mbak. Masih ada banyak waktu yang harus Jani jalani dalam hidup ini. Jani ingin, Mbak Adhis dan mas Elang, bisa bahagia tanpa ada pihak ketiga seperti sekarang ini. Aku akan segara menikah dengan orang lain."


Jawaban dari Anjani, justru membuat Andhisti merasa sedih. Dia ragu, jika bisa merasa bahagia, seperti yang dikatakan oleh Anjani, atau hanya sekedar keinginan dirinya saja untuk memiliki Elang sepenuhnya, seperti yang terjadi selama ini.


"Tidak Jani."


Dari arah pintu, mama Amel datang dengan menolak keinginan Anjani. Dia tampak mengeleng mendengar kata-kata Anjani yang berharap bisa lepas dari pernikahan ini, bersama dengan anaknya, Elang.


"Mama!"


"Mama."


Keduanya terkejut. Andhisti dan Anjani, bersamaan menyapa mama Amel, karena tidak tahu, jika mama Amel akan datang sekarang ini.


"Mama dan papa, justru akan meminta pada Elang, untuk segera menikahi Kamu secara resmi Jani. Ini sudah mama katakan pada Elang, dari bulan-bulan kemarin. Tapi, Elang masih menjaga perasaan Andhisti karena sedang hamil."


Penjelasan yang diberikan oleh mama Amel, membuat Andhisti terkejut. Bukan hanya Andhisti, Anjani lebih terkejut lagi.


"Ma," Jani mengeleng melihat ke arah mama mertuanya itu.

__ADS_1


"Tidak Jani. Aku sudah pernah katakan ini pada Adhisti dan Elang. Jodoh, bukan berarti dengan orang yang kita cintai dan harapkan. Jodoh itu datang dari Tuhan. Dan kecelakaan yang terjadi dulu, saat mereka sedang menyiapkan pernikahan adalah pertanda yang tidak baik. Apalagi, dari kecelakaan itu, justru Elang mendapat istri, meskipun keadaannya tidak diketahui nasibnya, karena dalam keadaan koma."


Anjani, terus mengeleng mendengar kata-kata mama mertuanya itu. Dia tidak pernah berpikir, jika mama Amel akan meminta pada Elang, untuk menikahi dirinya secara resmi.


"Tidak Ma. Mama kan tahu sendiri, Jani sudah ada bang Abimanyu. Mama juga kenal dengan dia kan?" Anjani, menjelaskan pada mama Amel, tentang Abimanyu.


Adhisti, yang masih dalam keadaan terkejut, tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya diam dan mendengarkan semua perkataan Anjani, bersama mama Amel.


"Jani akan tunggu mas Elang sembuh Ma. Dan setelah itu, Anjani akan meminta mas Elang mengucapkan kata cerai. Kami hanya menikah secara siri, jadi tidak perlu ada proses yang panjang untuk cerai," kata Anjani, setelah beberapa saat kemudian.


Mama Amel, menghela nafas panjang beberapa kali untuk melapangkan rasa sesak yang ada di dada.


Adhisti, merasa tidak enak hati karena membuat suasana menjadi semakin tidak karuan, seperti sekarang ini. Dia memegang tangan suaminya yang tertidur. Dia berharap, suami bisa membuat keputusan yang tepat nanti, saat dia sudah sembuh dan pulang ke rumah.


"Jani. Apa selama hampir satu tahun kalian bersama, tidak ada yang terjadi di antara kalian berdua?" tanya mama Amel, menyelidik. Dia tidak percaya jika, anaknya Elang dengan Anjani, tidak pernah melakukan hubungan suami-istri selayaknya pasangan normal lainnya.


"Ma. Kami terbiasa bersama selama hampir satu tahun ini. Bukan hanya itu yang terpikir oleh kami. Semua ini, hanya sebatas tanggung jawab. Mama boleh tanya pada mas Elang, jika dia sudah bangun nanti."


Sebenarnya, mama Amel menyayangkan keputusan yang diambil oleh Anjani. Dia juga merasa sudah cocok dengan menantunya itu, meskipun mereka belum kenal lama, seperti dia mengenal Adhisti. Apalagi, ada sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan sendiri untuk saat ini.


"Sayang, Kamu datang ke sini ya. Terus ini ada apa?" tanya Elang, yang terbangun dari tidur, karena mendengar suara-suara yang tidak begitu jelas di telinga.


"Mas. Ini, ada mama Amel juga," jawab Adhisti dengan menoleh ke arah mama mertuanya, yang masih berbincang-bincang dengan Anjani, soal permintaan cerai dari Elang.


"Ma," panggil Elang.


"Kamu terbangun ya, mendengar suara Mama?" tanya mama Amel, merasa bersalah karena membuat Elang jadi terganggu.


"Ada apa Ma?" tanya Elang lagi, meminta penjelasan.


"Mas. Jani minta, mas Elang membuat keputusan untuk Jani. Ini sama seperti yang sudah-sudah dari kemarin itu. Tolong, bantu Jani untuk bisa lepas dari semua ini, demi kebaikan kita bersama Mas."


Elang, bingung dengan perkataan Anjani, yang tiba-tiba membahas masalah perceraian yang dia minta.

__ADS_1


Adhisti mengenggam tangan Elang erat, memberikan kekuatan agar Elang bisa membuat keputusannya saat ini.


"Apa Kamu merasa keberatan, menjagaku selama sakit?" tanya Elang, mengira jika Anjani merasa capek untuk merawatnya di rumah sakit.


"Bukan Mas. Bukan begitu maksudku. Jani..."


"Baiklah, jika itu yang Kamu inginkan. Aku, Elang Samudra, menalakmu Anjani Ashita. Mulai sekarang ini."


Anjani terkejut, mendengar keputusan yang diambil oleh Elang padanya saat ini. Ada rasa lega, tapi ada juga sebagian hatinya yang terasa hilang. Begitu juga dengan mama Amel yang ikut terkejut. Dia sangat menyayangkan keputusan yang diambil anaknya, melepaskan Anjani sebagai istrinya.


Adhisti, tersenyum samar, mendengar keputusan yang diambil oleh suaminya. Dia, mengenggam tangan Elang, menyatakan rasa terima kasih, karena telah diutamakan.


"Terima kasih Mas. Secepatnya, Jani akan pindah dari rumah itu." Anjani, tersenyum melihat ke arah Elang dan juga Adhisti. Dia juga mengucapkan selamat kepada Andhisti, "selamat Mbak Adhis. Mulai sekarang, Mbak Adhis bisa tenang dan juga merawat Awan dengan baik. Semoga pernikahan kalian bisa langgeng dan dipenuhi dengan kebahagiaan."


Sekarang, Anjani, mengemas semua barang miliknya, juga milik Elang, karena besok pagi, Elang sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.


"Sayang, kemas barang milikku. Dia sudah tidak berhak memegangnya," kata Elang, pada Andhisti.


"Saya, akan menunggu sampai mas Elang pulang besok. Tidak apa-apa, Aku akan menyelesaikan tugasku." Anjani, mengatakan apa yang dia pikir baik.


"Tidak, pulanglah. Aku bisa sendiri," sahut Elang cepat.


Anjani, dengan perasaan yang tidak menentu, akhirnya pamit untuk pulang terlebih dahulu.


"Baiklah. Jani pamit dan maaf jika ini terjadi di saat yang tidak tepat."


Anjani, menyalami Andhisti, tapi Elang menolak saat Jani mendekat dan mengulurkan tangannya.


"Ma. Maaf jika Jani tidak bisa memenuhi keinginan Mama," kata Jani berpamitan pada mama Amel.


"Jani, harusnya tidak seperti ini yang terjadi," kata mama Amel, memeluk Anjani dengan wajah kecewa.


"Maaf Ma," kata Jani, melepaskan pelukannya pada mama Amel, kemudian melangkah keluar dari kamar pasien Elang, mantan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2