Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Berbahagialah


__ADS_3

"Calon mantu?"


Abimanyu bertanya dengan bingung. Karena dia tidak melihat keberadaan Awan di rumahnya.


Dan dia juga tidak yakin jika, Awan bisa membuat kue, sama seperti yang dikatakan oleh istrinya itu.


Sedangkan Anggi, yang duduk di samping istrinya, mengerucutkan bibir. Sepertinya dia merasa kesal dengan perkataan bundanya tadi. Yang mengatakan bahwa, kue putri ayu yang sedang di makan adalah kue buatan calon menantunya.


"Hihihi... iya Yah. Tuh!"


Anjani terkikik sendiri, menyadari bahwa, Anggi memberengut kesal. Dan dia menunjuk ke arah Ahmed, dengan mengunakan dagunya.


Abimanyu melihat dengan menaikkan kedua alisnya. Setelah sadar, dia tertawa terbahak-bahak. Melihat bagaimana reaksi Anggi yang seperti biasanya. Bibir Anggi, sama seperti bibir Donald duck.


"Hahaha... bunda. Lihat tuh!" teriak Abimanyu sambil tertawa. Dia menunjuk ke arah Anggi, dengan mengunakan lirikan mata.


Ahmed hanya ikut tersenyum-senyum sendiri. Karena dia belum paham benar, dengan apa yang terjadi di antara keluarga teman dekatnya, Anggi.


Karena dia tidak bisa mengartikan secara langsung, jika pembicaraan mereka dengan bahasa Indonesia, dengan cara bicara yang cepat dan bukan dengan bahasa yang baku.


"Anggi, apa yang ayah dan bunda u bicarakan?"


Ahmed justru bertanya kepada Anggi. Tentu saja, ini membuat Anggi gelagapan. Dia tidak mungkin menerangkan kepada Ahmed, tentang arti perkataan ayah dan bundanya. Karena itu menyangkut dirinya Ahmed juga.


"Emhhh... itu, anu. Emhhh..."


"Tuh yah liat! Mereka tampak mesra ya Yah. Ahmed itu tipenya romantis gimana gitu. Ayah udah lama gak romantis kayak gitu lho," ujar Anjani, dengan maksud menggoda anaknya.


"Yah Bun. Ayah kan udah tua. Gak up date gitu bagaimana caranya romantis. Hahaha..."


Anggi, yang belum bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk memberikan penjelasan kepada Ahmed, jadi keki dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Di saat mendengar perkataan ayah dan bundanya yang saling bersahutan. Dan Anggi merasa yakin jika, kedua orang tuanya itu dengan sengaja melakukan semua ini padanya.


"Ayah Bunda. Ihsss..."


"Hehehe... gak apa-apa kok Dek. Bagus dia, ada perjuangan yang berat dan tidak begitu mencolok. Masa gak tau sih?"


Anjani pura-pura bertanya, meskipun sebenarnya dia juga tahu jika, Anggi itu paham dengan perasan Ahmed padanya.


"Bun. Udah-udah." Abimanyu meminta pada istrinya itu, supaya berhenti dan tidak lagi melanjutkan keinginannya untuk menggoda anaknya itu.


Apalagi, dia melihat Ahmed yang sedari tadi hanya diam dan senyum-senyum sendiri. Karena masih kebingungan, tidak tahu bagaimana harus menanggapi perkataan dari mereka bertiga.


Abimanyu yang sudah ikut duduk bersama, akhirnya mengambil satu kue putu ayu, untuk dia cicipi.

__ADS_1


Ahmed tampak tersenyum senang, melihat ayahnya Anggi juga ikut makan kue buatannya. Dia menunggu komentar dari Abimanyu dengan rasa deg-degan.


Setelah satu dua menit, Abimanyu belum mengatakan apa-apa.


Baru setelah dia selesai makan kue tadi, dan minum air putih, dia mengatakan sesuatu. "Enak. Mirip buatan Bunda lho!"


Anjani tersenyum. Begitu juga dengan Anggi. Sedangkan Ahmed, membuang nafas lega.


Dia yang tadi was-was jika ayahnya Anggi memberikan komentar tak enak, tentu merasa sangat lega. Karena ternyata, kue buatannya juga di nilai sama seperti penilaian bundanya Anggi.


"Bagus Bun. Dia sukses jadi muridnya Bunda. Apa dia juga direkomendasikan untuk menjadi mantu ke dua?"


"Ihhh... Ayah! Kok balik bicara soal itu lagi," protes Anggi kesal.


"Hahaha..."


"Hihihi... Adek-adek."


Anjani dan Abimanyu merasa sangat senang, karena bisa membuat Anggi merasa kesal dengan perkataan dan godaan yang mereka lakukan.


*****


Di PT SAMUDERA GROUP, Indonesia.


Mama Amel merasa geram dengan apa yang terjadi di tempat proyek.


Dari kasus ini ternyata diketahui bahwa, orang-orang yang mengurus negosiasi dengan para warga melakukan kecurangan.


Dari uang ganti rugi yang seharusnya berjumlah sekian, sesuai dengan perjanjian hanya diberikan dengan jumlah separuhnya saja. Dan itu untuk semua warga.


Tentu saja, uang yang masuk ke kantong orang-orang suruhan PT SAMUDERA GROUP lebih banyak. Di bagi mereka-mereka saja.


Sedangkan warga mengalami kerugian dari kecurangan yang mereka lakukan.


Dan dari beberapa warga yang ikut bernegosiasi pada waktu itu, meminta penjelasan sebelum lahan mereka dieksekusi atau dibersihkan.


Itulah yang menjadi penyebab utama kekacauan di proyek yang baru saja akan berjalan.


"Ma. Itu kan laporan sesuai dengan kesepakatan. Uang juga deal. Mana Elang tahu Ma, jika mereka menyelewengkan dana."


Elang berusaha untuk membela diri, dan tidak mau disalahgunakan oleh mama Amel.


"Iya. Kamu gak salah Lang. Makanya, sekali-kali, saat menengok atau meninjau lokasi itu ngobrol dengan warga. Atau, Kamu bisa pergi ke daerah warga, tanpa atribut dirimu sebagai pemimpin perusahaan. Jadi, Kamu tahu, apa dan bagaimana situasi di bawah."

__ADS_1


Elang hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya saja.


Karena dia tahu, mamanya ini, jauh lebih berpengalaman dalam bidangnya ini. Di banding dengan dirinya sendiri.


"Besok-besok, jangan sampai ini terjadi. Mama akan panggil Awan pulang ke Indonesia saja, untuk menangani perusahaan. Dan Kamu yang ke Amerika."


"Atau, Kamu juga mau beristirahat? Cari istri atau apa gitu?" tanya mama Amel, memberikan beberapa pilihan.


Sekarang, Elang sadar jika, mungkin dia memang bukan di bidang usaha seperti milik keluarganya ini.


Dengan menghela nafas panjang, Elang akhirnya berkata pada mamanya. "Sepertinya Elang memang tidak bakat jadi pengusaha Ma. Elang ingin istirahat saja nanti. Setelah Awan menikah."


"Eh, bukan maksud Mama ya bikin Kamu dwon Lang. Mama hanya berpikir bahwa, lebih baik Kamu juga berpikir untuk diri Kamu sendiri. Bahagiakan dirimu Lang!"


Mama Amel jadi merasa menyesal, karena sudah berkata hal yang mungkin membuat anaknya itu tersinggung.


"Gak apa-apa Ma. Sebenarnya, Elang sudah berpikir untuk beristirahat saja. Minta Awan yang mengantikan Elang. Tapi karena dia masih ada di Amerika, dan belum menikah, Elang belum mengatakan ini pada siapapun."


Sekarang, mama Amel yang ganti menghela nafas panjang. Dia tahu, anaknya ini kesepian sejak dulu.


Bahkan saat almarhum istrinya masih hidup, Elang tidak pernah merasakan kehangatan sebuah hubungan keluarga pada umumnya.


Keegoisan Adhisti, membuat anaknya ini dingin dan takut untuk memulai sebuah hubungan yang baru.


"Ah... sudahlah. Itu bisa dipikirkan nanti lagi."


Akhirnya, mama Amel mencoba untuk membuang pikirannya soal almarhum menantunya. Dia juga meminta pada Elang, supaya tidak memikirkan permalasahan ini lagi.


Dia yakin, suatu saat nanti, Elang akan menemukan kebahagiaan yang sebenarnya. Entah kapan waktunya. Karena mama Amel juga tidak tahu, apa dan seperti apa rencana takdir Tuhan untuk anaknya ini.


"Jadi, mama benar-benar tidak jadi ke Amerika?"


Tiba-tiba, Elang teringat dengan rencana mamanya yang akan pergi ke Amerika.


"Tidak. Mama akan berada di sini. Mama ada untuk Kamu Lang."


"Ma..."


Elang segera memeluk mamanya erat. Dia merasa sangat bahagia, karena sedari dulu, mamanya ini selalu ada untuknya.


Meskipun Elang tahu, dia selalu saja membuat mamanya kecewa.


"Maafin Elang ya Ma!"

__ADS_1


__ADS_2