
Di Indonesia, Wawan mencari-cari keberadaan anaknya, Nanda.
Beberapa minggu kemarin, Wawan, yang sekarang ini sudah berpisah dengan istrinya, Mami, yang punya usaha barang-barang bekas, sekarang sudah memiliki istri lagi.
Tapi, istrinya itu tidak bisa diajak untuk hidup enak, sama seperti istrinya yang kemarin.
Padahal, Wawan selalu ingin hidup dengan enak, tanpa harus bekerja keras, sama seperti orang-orang pada umumnya.
"Angkat kenapa Nda, telpon papa," gumam Wawan, karena telponnya, tidak pernah di angkat oleh anaknya.
Wawan tidak tahu jika, saat ini, Nanda sedang sibuk-sibuknya untuk persiapan semester.
Nanda kuliah di Jakarta, karena tidak diperbolehkan pergi jauh-jauh oleh mamanya, Yasmin.
Mamanya Nanda, memintanya untuk tetap di Jakarta saja, dan tinggal di rumah eyangnya saja.
Yasmin mengancam Nanda, jika dia tidak menurut, akan menjemputnya pulang ke kampung saja, dan membantu pekerjaan ayah sambungnya.
Dan tentu saja, ancaman itu tidak hanya sekedar untuk menakut-nakuti Nanda. Karena Yasmin juga mengancam, tidak akan membiayainya kuliah.
Yasmin mengancam Nanda karena, dia baru saja tahu jika, anaknya itu, berhubungan dan berkomunikasi dengan papanya, Wawan, tanpa sepengetahuan dirinya.
Nanda hanya diam saja, saat Yasmin marah. Dia sadar jika dia melakukan kesalahan, dengan menemui papanya, pada saat-saat tertentu, tanpa sepengetahuan mamanya.
Tapi, ayah Edi mengatakan bahwa, dia mengetahui tentang apa yang dilakukan oleh Nanda sejak lama.
Dan Yasmin juga diberikan nasehat oleh ayahnya itu, ayah Edi, bahwa tidak baik mengekang kebebasan Nanda, hanya untuk berhubungan dan bertemu dengan papanya.
Bagaimanapun juga, Wawan adalah papanya Nanda. Yang penting, Nanda tidak mengikuti jejak dan sifat papa kandungnya sendiri, yaitu Wawan.
Mendengar penjelasan dan nasehat-nasehat yang diberikan oleh ayahnya, akhirnya Yasmin memberi kelonggaran kepada Nanda, namun dengan syarat bahwa, Nanda harus tetap berada di rumah eyangnya, dan tidak boleh menginap atau ikut tinggal bersama papanya itu.
Manda juga tidak boleh terlalu sering, datang dan menemui papanya. Yasmin merasa takut jika, lama-lama nanti, Nanda akan terpengaruh dengan kelakuan papanya.
Yasmin juga tidak mau, seandainya terjadi sesuatu pada mantan suaminya itu, Nanda akan ikut terlibat juga.
..."Pokoknya, Mama tidak mau jika, Kamu dekat-dekat dengan papa Kamu itu. Apalagi jika sampai terjadi sesuatu pada papamu, dan Kamu ikut diseret-seret juga."...
Begitulah kira-kira, Yasmin mewanti-wanti anaknya, Nanda, supaya tidak terlalu sering datang dan menghubungi Wawan.
Nanda pun mengiyakan permintaan mamanya, Yasmin.
Nanda tahu jika, mamanya itu sudah tidak mau berurusan dengan papanya, Wawan, karena masa lalu yang pernah mamanya alami, di saat masih hidup bersama dengan papanya itu.
Itulah sebabnya, Nanda juga sudah jarang menemui atau menerima panggilan telpon dari papanya, Wawan.
Apalagi sekarang ini, dia juga sudah sibuk di kampus, dengan banyaknya tugas dan kegiatan yang dia miliki.
__ADS_1
Tut tut tut!
Tut tut tut!
Wawan berusaha untuk menghubungi anaknya lagi. Dia hanya ingin minta tolong pada anaknya itu, supaya mengijinkan dirinya untuk tinggal sementara dengan teman atau siapa saja, yang Nanda kenal.
Baik di rumah, kontrakan atau kost juga tidak apa-apa.
Karena bagi Wawan, yang penting dia mendapat tempat tinggal untuk tidur dan mandi.
Tapi sepertinya Nanda tidak menghiraukan panggilan telpon darinya.
Dengan menahan rasa marah dan kesal, akhirnya Wawan mengirim pesan pada Nanda, supaya segera menghubungi dirinya, jika sudah tidak sibuk lagi.
Brukk!
"Aduh!"
"Eh, aduh!"
Secara tidak sengaja, Wawan menubruk seseorang, yang sepertinya sedang berjalan dengan tergesa-gesa.
"Maaf-maaf."
Wawan meminta maaf pada orang tersebut, dan membantu memunguti barang-barang yang berserakan dimana-mana.
Orang tersebut juga meminta maaf pada Wawan, dengan memeriksa keadaan tubuh Wawan. Dia merasa tidak enak hati jika, ada luka atau cidera yang dialami oleh orang yang dia tabrak, yaitu Wawan tadi.
"Oh, Saya tidak apa-apa. Bagaimana dengan Anda sendiri Mbak?" tanya Wawan, saat melihat kecemasan yang terlihat jelas di wajah orang yang ada di depannya saat ini.
Pada saat melihat dengan jelas orang tersebut, Wawan jadi terdiam sejenak, dan menatap orang tersebut tanpa berkedip.
Begitu juga dengan orang tersebut. Mbak-mbak, yang tadi ditabrak Wawan, juga terdiam, melihat jika seseorang yang saat ini ada di depannya, dan menatap wajahnya, adalah temannya sendiri, pada waktu bekerja di percetakan, dekat dengan kampus.
"Mas Wawan kan ya?" tanya Mbak-mbak tersebut.
"Iy_iya. Saya Wawan," jawab Wawan dengan gugup.
"Hai, Kalian berdua. Jangan di tengah jalan ya! menganggu orang mau lewat tau!"
Seseorang berseru, menegur Wawan dan mbak-mbak tadi, yang memang saat ini ada di tengah jalan pasar, atau lorong pasar.
Tapi ternyata, teguran seseorang dari arah samping, membuat Wawan segera menutupi wajahnya.
Dia ingin segera pergi dari tempatnya berada sekarang ini. Karena Wawan tahu betul, siapa pemilik suara tersebut.
'Itu kan suaranya Mami. Mampus Aku!' Wawan membatin dalam hati, saat tahu, siapa orang yang berada tidak jauh dari tempatnya berada sekarang ini.
__ADS_1
Tapi gerakan Wawan yang kurang cepat, justru membuat Mami segera mengenali dirinya.
"Mas Wawan. Tunggu!"
Dengan sangat terpaksa, Wawan mengurungkan niatnya, untuk pergi dari tempat tersebut.
Apalagi tak lama kemudian, Mami segera mendekati dirinya.
Mbak-mbak yang tadi, tentunya merasa bingung sendiri, karena Wawan juga dikenal oleh Mami, yang memang sudah menjadi langganan untuk mengambil barang-barang bekas, di pasar ini, dari dua tahun yang lalu.
Tapi karena Mbak-mbak tersebut sedang terburu-buru, akhirnya dia tidak lagi menghiraukan apa yang terjadi antara Wawan dan Mami.
Sedangkan Mami sendiri, sudah berbicara dengan Wawan.
"Mas, ikut kerja dengan Aku ya? Aku gak ada yang bantuin. Yang biasa bantu, sudah pulang kampung dan tidak akan balik lagi."
"Dan yang satunya lagi, juga sudah buka usaha sendiri di daerah Jakarta Barat. Mau ya Mas Wawan?"
Mami berusaha untuk membujuk mantan suaminya itu, untuk mau bekerja sama dengan dirinya.
Tentu saja, tawaran dari Mami ini, tidak akan di sia-siakan oleh Wawan.
Sebuah kebetulan yang menguntungkan untuk Wawan sendiri.
"Emhhh..."
Wawan berpura-pura sedang berpikir, dan menimbang segala sesuatunya.
"Mas Wawan jangan khawatir. Mami akan bayar sesuai kok. Mas Wawan juga bisa tinggal di kamar yang ada di pangkalan, yang di luar rumah itu," ujar Mami, mengiming-imingi Wawan, dengan segala fasilitas yang akan dia berikan.
Kamar yang dimaksud oleh Mami adalah, sebuah ruangan, yang dulunya ditempati oleh dua orang yang ikut bekerja dengan Mami.
Tentunya, di dalam hati Wawan bersorak kegirangan, karena semua tawaran yang diberikan oleh Mami itu.
Apalagi dulu, Mami juga menjadi istrinya yang tidak terlalu pelit, jika dibandingkan dengan istrinya yang sekarang ini.
Di saat mengingat tentang istrinya yang sekarang, Wawan langsung mengangguk mengiyakan permintaan dari Mami.
Dia tidak mau melepaskan kesempatan, untuk bisa lepas dari kehidupan istrinya yang sekarang.
Jika suatu hari nanti, tiba-tiba Mami menawarkan diri untuk menjadi istrinya lagi, tentu saja, Wawan akan dengan senang hati menerimanya lagi dan melepaskan istrinya, yang menurutnya sangat pelit dan perhitungan.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, Wawan jarang bekerja, dan hanya kerja serabutan.
Sedangkan Wawan, selalu minta disediakan kopi dan rokok setiap harinya.
Tentu saja, istrinya sering mengomel ketika tidak diberi uang untuk belanja dan beli rokok untuk Wawan sendiri.
__ADS_1