
"Ra. Kamu kan tahu jika, Clarissa itu yang justru meminta pada kedua temannya untuk melakukan hal yang dulu itu. Kok tadi dia bilang jika..."
"Biarin Bun. Terserah dia mau bicara apa. Kan semua juga sudah selesai."
Ara tidak mau jika bundanya, mempersalahkan hal yang sudah lama berlalu.
Ara berpikir bahwa, Clarissa hanya tidak ingin namanya jelek di matanya. Itulah sebabnya, dia mengambinghitamkan kedua temannya yang lain.
Hal yang sebenarnya tidak seharusnya dilakukan oleh Clarissa juga. Karena dia dipindahkan ke Eropa oleh kedua orang tuanya, agar dia bisa introspeksi diri, sehingga tidak melakukan hal yang sama juga diwaktu yang akan datang.
Tapi sepertinya, Clarissa bukan tipe orang yang mudah melupakan semua kenangan dan kejadian yang tidak menyenangkan bagi dirinya sendiri.
Dia juga sudah tidak bisa menghubungi kedua temannya yang dulu.
Karena itu, dia berusaha untuk mencari keberadaan tempat tinggalnya Ara, dan mengamati beberapa hari ini.
Dan semua yang dia lakukan itu, tanpa sepengetahuan dari Ara dan keluarganya.
Tapi Clarissa tidak pernah tahu jika, Ara bukan seperti yang dia lihat. Dia tidak tahu jika, Ara juga anak dari seorang pemimpin perusahaan yang ada di negaranya ini.
Yang lebih mengejutkan, ternyata Ara juga calon istri dari pewaris tunggal perusahaan tersebut.
Namun, papanya Clarissa tahu. Karena papanya Clarissa adalah manager di perusahaan yang dipimpin oleh Abimanyu.
Itulah sebabnya, papanya Clarissa, tanpa banyak bicara melakukan semua itu pada anaknya. Agar tidak terjadi apa-apa, yang tidak dia inginkan. Papanya Clarissa memang tidak memberitahu padanya, apa yang dia ketahui.
Tapi, papanya Clarissa, sudah memberitahukan hal ini pada mamanya Clarissa.
Sayangnya, mereka berdua sudah pisah rumah, dan Clarissa ikut bersama dengan mamanya, yang telah memiliki suami baru.
Mungkin, dari apa yang terjadi pada keluarganya sendiri itulah, yang membuat Clarissa menjadi arogan dan tidak punya siapa-siapa, untuk bisa dia ajak bicara.
Akibatnya, dia berbuat semaunya sendiri, dengan caranya sendiri juga.
Meskipun demikian, dari pihak keluarga Ara dan Awan juga tidak pernah tahu jika, manager perusahaan yang ada di Atlanta, Amerika, adalah papanya Clarissa.
Karena seperti yang diketahui oleh semua orang bahwa, manager tersebut hanya hidup seorang diri.
Dan menurut berita yang sering terdengar dari beberapa sumber, manager tersebut adalah penyuka sesama jenis.
Tapi karena Abimanyu ataupun pihak lainnya sadar dan tahu jika, negara ini adalah negara yang bebas dan tidak ada aturan yang mengatur semua itu, mereka juga diam dan tidak ikut campur dalam urusan privasi orang lain.
"Tapi, Kamu harus tetap berhati-hati dengan dia Ra. Bunda tidak mau terjadi sesuatu padamu, dengan adanya dia lagi di sini."
"Iya Bun. Lagian ya Bun, ini negara dia. Justru kita kan yang numpang?" tanya Ara, yang bermaksud untuk bergurau dengan jawaban itu.
"Hehehe... iya juga ya. Kok Bunda lupa sih," sahut Anjani, yang terkekeh sendiri, mengingat bahwa apa yang dikatakan oleh anaknya itu benar adanya.
__ADS_1
"Ya sudahlah. Ayok kita masak. Mumpung Kamu juga free hari ini."
"Oh iya Ra. Kamu gak ada acara apa gitu, dengan Awan?" tanya Anjani, setelah diam beberapa saat, setelah tadi selesai bicara.
"Acara apa Bun? Kak Awan juga harus kerja kan?" Ara balik bertanya pada bundanya, terkait dengan tunangannya itu.
"Hemmm... apa Kamu gak mau jalan-jalan gitu? Mumpung ada libur dua hari."
"Gak ah Bun. Takut ganggu kerjanya kak Awan juga."
"Oh..."
Anjani tidak lagi bertanya-tanya pada Ara, untuk bisa mendapatkan waktu berdua saja dengan Awan.
Dia pikir, hubungan antara anaknya itu, dengan Awan tampak datar. Tidak ada sesuatu yang bisa dia lihat lebih.
Padahal, Ara tidak pernah mempermasalahkan soal itu. Dia merasa, jika semuanya tidak perlu ditunjukkan pada orang lain. Karena sejatinya, rasa cinta yang ada di dalam hati, akan membuat orang tersebut bahagia, meskipun tidak dengan melakukan hal-hal yang perlu diperlihatkan.
Anjani merasa bersyukur atas apa yang menjadi pemikiran anaknya itu.
Dia juga merasa bersyukur karena, Awan adalah pemuda yang baik dan tidak sama seperti pemuda lainnya. Dengan apa yang dia miliki saat ini. Karena sebenarnya Awan bisa melakukan apa saja, dengan kemewahan dan kenyamanan yang dia miliki dari keluarganya.
*****
Malam ini, Awan berencana untuk datang ke apartemen tunangannya. Dia ingin meminta ijin pada ayahnya Ara, agar besok pagi, bisa mengajak anaknya itu pergi, setelah selesai kuliah.
Dengan begitu, dia juga minta ijin untuk bisa pulang dari kantor lebih cepat.
Padahal tadi seharian ini, Awan juga di kantor bersama dengan Abimanyu. Tapi Awan memang berusaha untuk bersikap profesional saja. Karena dia masih menjadi bawahannya Abimanyu.
Awan sudah bersiap-siap. Dia sedang mematut diri di depan cermin, saat handphone miliknya yang ada di atas meja sebelah cermin bergetar. Tanda jika ada panggilan yang masuk.
Saat melihat ke layar handphonenya, ternyata itu adalah tunangannya sendiri. Ara menghubungi dirinya.
..."Ya Ra. Sedang apa?"...
..."Kakak ada acara gak malam ini?"...
..."Emhhh... memang ada apa?"...
..."Bunda minta Kakak datang untuk makan malam bersama kami di rumah."...
Awan tersenyum sendiri, mengingat dia dengan rencananya. Yang memang sudah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah tunangannya itu.
..."Memang ada acara apa ya Ra? bukan ulang tahun Bunda kan?"...
..."Gak apa-apa Kak. Kebetulan tadi, bunda masak banyak. Dan kata Bunda, masakan ini kesukaan Kakak."...
__ADS_1
..."Wah, bunda calon mertua yang perhatian ya. Suka Aku. Hehehe..."...
..."Eh, kok Bunda aja yang disukai. Ara kok gak sih?"...
..."Hahaha.. Ara kan calon istri Kakak, bukan mertua. Apa mau jadi mertua juga?"...
..."Hehehe gak ah!"...
..."Makanya, gak usah cemburu dengan bunda juga ya?"...
..."Udah Kak. Buruan datang. Atau, nanti makanannya akan dihabisin Anggi?"...
..."Ya-ya. Kakak segera meluncur."...
Klik!
Awan tersenyum sendiri, mengingat apa yang sebenarnya ingin dia lakukan tadi.
Tapi sepertinya, rencananya itu didukung dengan situasi yang ada. Karena ternyata, bundanya sendiri yang mengundangnya untuk datang ke rumah.
Sekarang, Awan sudah siap untuk berangkat ke rumahnya Ara.
Beberapa saat kemudian, sepeda motor Awan sudah memasuki halaman parkir apartemen keluarganya Ara.
Dia yang sudah cukup dikenal oleh penjaga, hanya menganggukkan kepalanya saja, sebagai tanda permisi.
Setelah itu, Awan berjalan ke arah lift umum, untuk bisa sampai di bangunan atas yang dia tuju.
Tet tet tet!
Awan memencet tombol bel pintu.
Klek!
Pintu terbuka. Tampak Anggi yang muncul membukakan pintu untuknya.
"Kak Awan!"
Anggi berseru dengan senang hati, karena melihat siapa yang datang ke rumahnya.
Anggi memang tidak tahu jika, kakaknya menghubungi Awan atas permintaan bundanya. Supaya Awan datang ke rumah.
"Hai Adek cantik. Apa kabar hari ini?" tanya Awan, sok formal seperti layaknya orang-orang yang sedang melakukan konten.
"Hahaha... cocok. Cocok Kak jadi kreator konten. Yuk kita buat akunnya!"
Anggi justru bersemangat, saat mendapat ide bagus yang bisa membuatnya terkenal nantinya.
__ADS_1
"Eh, ada-ada saja Kamu," ucap Awan, sambil mencubit hidung adiknya Ara itu.
"Hehehe... siapa tahu, Anggi bisa jadi terkenal kayak artis-artis, yang biasa riwa-riwi di beberapa akun sosial media terkenal itu Kak. Dapat uang lagi. Kan hebat!"