Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Bukan Bibi


__ADS_3

Di dapur, ibu Sofie melihat bibi pembantu yang sedang memotong-motong sayur, segera mendekat.


"Bi. Ada ikan segar gak di lemari pendingin?" tanya ibu Sofie pada bibi pembantu.


"Ada Bu. Tadi pagi saya beli kok, sudah Saya bersihkan juga. Buat persediaan," jawab bibi pembantu sambil membuka lemari es, mengeluarkan kotak penyimpanan, yang berisi beberapa Ekor ikan.


"Ya sudah kalau ada, tolong masak ikan asam pedas manis ya Bi, yang sama seperti kemarin itu," kata ibu Sofie, memberikan tugas pada bibi pembantu.


Dengan wajah pucat, bibi pembantu ingin mengatakan sesuatu, tapi keburu ibu Sofie pergi dari dapur.


"Bagaimana bisa Aku masak ikan seperti kemarin, itu kan bukan Aku yang masak. Kalau sekarang Aku masak dan tidak enak pasti ketahuan, tapi kalau tidak di masak tambah salah lagi nanti," kata bibi pembantu dalam hati. Dia merasa cemas dengan permintaan majikannya itu, untuk memasak ikan asam pedas manis.


"Bagaimana ini ya?" Bibi pembantu, belum bisa memutuskan untuk segera memasak. Dia ragu, antara mengakui bahwa masakan kemarin itu bukan hasil masakannya, atau dia harus memasak sebisanya saja.


"Ah, non Jani. Bagaimana ini non, bibi malah pusing kan jadinya."


Saat bibi masih belum bisa memutuskan untuk melanjutkan, Sekar, adiknya Abimanyu, masuk ke dapur. Dia ingin membuat teh hangat pesanan ayahnya.


"Bibi kenapa? kok kelihatannya bingung begitu," tanya Sekar, saat melihat wajah bibi pembantu yang mengerut dan tampak bingung sendiri.


"Eh itu Non, emhhh... anu, Bibi diminta untuk masak ikan asam pedas manis sama ibu non," jawab bibi pembantu, memberitahu permasalahannya saat ini.


"Lah, tinggal masak dong, kenapa bingung?" tanya Sekar heran.


"Iya bingung Non. Kan kemarin itu, sebenarnya yang masak ikannya non Anjani, bukan Bibi."


Jawaban yang diberikan oleh bibi pembantu, membuat Sekar kembali sadar. Dia merasa bersalah, karena ikut menilai Anjani, kakak iparnya itu, dengan penilaian yang salah.


Akhirnya Sekar meminta bibi pembantu, untuk melanjutkan pekerjaannya, termasuk memasak ikan yang diminta ibunya tadi. "Bibi bikin saja lauknya, sesuai pesanan ibu. Kalau enak ya syukur, kalau gak sesuai selera, kemudian mereka komplain, Bibi tinggal cerita saja yang sebenarnya," kata Sekar, memberikan jalan keluar pada masalah yang dihadapi oleh bibi pembantu.


"Begitu ya Non? baiklah kalau begitu, bibi akan buat sesuai yang Bibi bisa."

__ADS_1


Sekar, tersenyum tipis mendengar perkataan bibi pembantu, yang terdengar lebih lega. Wajahnya juga tidak lagi terlihat kusut seperti tadi.


"Sekar ke depan dulu ya Bi. Bibi yang semangat buat lauknya. Semoga enak, dan Sekar juga akan makan dengan lahap!" seru Sekar, kemudian melangkah keluar dari dapur, menuju ke tempat ayahnya yang sedang duduk-duduk santai di teras samping.


"Ini Yah," kata Sekar, sambil meletakkan cangkir teh hangat pesanan ayahnya itu.


"Terima kasih Neng. Kamu gak ada tugas?" tanya ayah Edi, pada anaknya Sekar. ( Neng, sebutan untuk anak perempuan, sama seperti Nduk )


"Sudah Sekar buat kok Yah." Sekar, menjawab pertanyaan dari ayahnya itu dengan cepat.


"Tumben sudah selesai?" tanya ayahnya, yang merasa curiga dengan apa yang diinginkan anaknya, Sekar.


Ayah Edi, merasa jika Sekar sedang menginginkan sesuatu darinya. Dia menebak, jika tak lama lagi, Sekar akan mengatakan suatu permintaan, sebelum ibunya, ibu Sofie, datang dan melarang sang ayah untuk memenuhi permintaan Sekar.


"Yah. Emhhh... itu, Sekar... Sekar..." Sekar berkata dengan terbata-bata. Dia tidak melanjutkan kalimatnya, karena masih ada yang dia pikirkan.


"Apa?" tanya ayah Edi, sambil tersenyum tipis, karena merasa jika tebakannya tadi memang benar.


"Apa?" tanya ayah Edi, mendesak Sekar, agar mengatakan apa yang dia inginkan sekarang ini.


"Emhhh, itu Yah. Sekar mau minta ijin, pas liburan semester nanti, Sekar mau berkunjung ke Bogor, ke... ke rum... mah Mbak Jani."


Sekar, mengatakan keinginannya itu, dengan terbata-bata. Dia takut, jika ayahnya akan melarangnya untuk berlibur ke Bogor, ke rumah kakak iparnya, Anjani.


"Kamu mau ke Bogor, ke rumah kakakmu, Anjani?" tanya ayah Edi, memastikan bahwa pendengarannya masih berfungsi dengan normal dan tidak salah saat mendengarkan keinginan anaknya, Sekar.


Sekar, hanya mengangguk sambil tersenyum canggung. Dia merasa takut, jika ayahnya akan marah. Tapi tak lama kemudian, ayahnya itu tampak tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Beneran Yah?" tanya Sekar dengan cepat. Dia merasa sangat senang dan setengah tidak percaya, dengan ijin yang diberikan oleh ayahnya sendiri.


"Kamu tumben, pengen ke sana?" tanya ayah Edi, ingin tahu alasan anaknya itu.

__ADS_1


"Sekar pengen saja Yah. Lagian, rumah Mbak Jani itu rindang dan asyik. Apalagi ada kafe rumah miliknya juga kan? Sekar bisa bantu-bantu, dan belajar banyak pada Mbak Jani soal bisnis dan memasak juga, pada koki kafenya itu."


Ayah Edi, mengangguk paham, dengan apa yang dikatakan oleh anaknya. Tak lama setelah itu, ayah Edi mengambil cangkir teh hangat yang tadi dibawakan oleh Sekar untuknya. Dia meminumnya dengan perlahan-lahan, sambil berpikir jika Sekar sudah ada kemajuan dan tidak lagi memusuhi kakak iparnya, Anjani.


*****


Saat makan malam, semua hidangan sudah di tata dengan rapi oleh bibi pembantu. Dia menyiapkan makanan yang sesuai dengan selera keluarga majikannya itu, seperti biasanya.


Saat menu ikan asam pedas manis di letakkan bibi pembantu, ayah Edi ingin mencicipinya. Dia ingin tahu, kenapa aromanya tidak lagi sama seperti waktu kemarin. Warna kuah dari bumbunya juga berbeda, benar-benar tidak sama.


"Ini siapa yang masak Bu?" tanya ayah Edi, saat memotong ikan yang akan dia cicipi.


"Bibi Yah," jawab istrinya cepat.


"Hemmm, kok beda ya?"


Ayah Edi, sudah mencicipi ikan tadi. Sekarang, dia sedang mengunyahnya, dan merasakan rasa dari makanan tersebut. Ayah Edi, tampak mengerutkan keningnya, memikirkan perbedaan antara masakan yang dulu dan yang ada di depan matanya sekarang ini.


Ibu Sofie, jadi merasa penasaran juga saat mendengar perkataan suaminya tentang cita rasa makanan yang di masak bibi pembantu. Akhirnya, dia ikut mencicipi ikan asam pedas manis itu. Dan saat sudah selesai, dia juga merasa jika ikan ini, tidak sama seperti yang dulu.


"Kok beda sih. Bibi!"


Ibu Sofie, memangil bibi pembantu, untuk dimintai keterangan karena masakan yang rasanya tidak sama seperti yang dulu.


Saat ibu Sofie memanggil bibi pembantu, Sekar dan juga Yasmin, bersamaan mencicipi ikan asam pedas manis itu. Mereka juga penasaran, dengan apa yang dikatakan ibu dan ayah mereka.


"Emhhh... iya beda. Kayak masih terasa Annis, dan bumbunya juga tidak bisa pas seperti kemarin itu."


Sekar, yang mendengar perkataan Yasmin, juga mengangguk setuju. Tapi, dia hanya tersenyum samar, sebab dia sudah tahu, siapa yang kemarin memasak ikannya, dan itu bukan bibi pembantu, sama seperti yang sekarang berada di atas meja, di depan mereka semua.


"Bibi. Ini kenapa ikannya tidak sama seperti yang kemarin?" tanya ibu Sofie, yang merasa curiga dengan hasil masakan pembantunya itu.

__ADS_1


"Anu Nyah, itu... itu kemarin, ikannya yang masak non Jani. Bukan bibi," jawab bibi, dengan wajah menunduk.


__ADS_2