Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Rasa Terima Kasih


__ADS_3

"Eh, Adek!"


Ara berteriak mengingatkan adiknya, Anggi, agar tidak sembarang bicara. Apalagi, ini ada oma dan opanya Awan juga.


Tentu saja, Ara sangat malu dengan perkataan adiknya itu. Pipinya tampak memerah meskipun matanya mendelik ke arah Anggi.


Sama seperti yang dialami oleh Ara, Awan juga merasa malu, karena perkataan Anggi. Adiknya Ara.


"Iya juga tidak apa-apa kok," sahut mama Amel, dengan melirik ke arah cucunya, Awan, berganti dengan Ara, yang ada di samping Anjani.


"Hehehe..."


"Eh, hehehe..."


"Ah, anak-anak."


Abimanyu dan papa Ryan, terkekeh kecil, mendengar perkataan dari mana Amel.


Sedangkan Awan, mengabaikan perkataan omanya, dan juga Anggi. Awan bahkan menggeleng beberapa kali, sambil menyebut Anggi sebagai anak-anak.


Anjani hanya tersenyum canggung, karena ulah Anggi, yang tidak sadar, jika sudah membuat kakaknya merasa malu.


"Oh ya, Anggi kenapa bilang, jika kak Awan adalah pacar barunya kak Ara?" tanya mama Amel, yang penasaran dengan perkataan Anggi.


Dia berpikir bahwa, jika Anggi menyebutkan Awan sebagai pacar ke dua Ara, lalu pacar Ara sebelumnya, atau pacar pertama Ara adalah...


"Bukan. Bukan begitu Oma. Ini karena biasanya Ara itu di antar kak Nanda. Nah kemarin itu, saat kak Nanda ada di rumah sakit nunggu tante Yasmin melahirkan, Ara di antar sama kak Awan. Jadi, Anggi pikir yang antar Ara itu pacar. Dia tidak tahu, apa arti dari pacar."


Anjani menjelaskan pada mama Amel, apa maksud dari perkataan anak keduanya, Anggi.


"Oh, begitu ya. Oma pikir..."


"Ihsss, Oma." Awan mengingatkan pada omanya itu, supaya tidak melanjutkan salah paham mereka semua.


"Hehehe... iya-iya."


Akhirnya, mama Amel tidak lagi membahas tentang pacaran. Dia kembali berpamitan untuk pulang.


Awan mengangguk samar, saat matanya bersirobok dengan Ara secara tidak sengaja.


Ara pun melakukan hal yang sama.


Mereka berdua jadi malu sendiri, dengan kejadian tadi, akibat perkataan Anggi yang tidak tahu tempat.


Setelah keluarga papa Ryan meninggalkan rumah Abimanyu, Ara ngambek dengan adiknya. Dia marah-marah, karena merasa malu dengan sikap adiknya itu.


"Sudah-sudah. Anggi kan masih kecil Kak. Dia tidak tahu arti pacaran juga kan? berarti setiap ada yang antar Kakak pulang di sebut pacar, Pak ojek kemarin pacar Ara juga dong?"

__ADS_1


Anjani justru ikut menggoda anaknya itu, agar tidak lagi ngambek.


"Ihhh, Bunda."


Ara merengek pada bundanya, karena godaan yang tadi dia katakan.


Abimanyu hanya tertawa-tawa senang, melihat bagaimana istri dan anak-anaknya itu saling bercanda, meskipun terkesan marah dan jengkel antara satu dengan yang lain.


"Awas ya Adek. Jangan kayak gitu lagi besok-besoknya."


Sekarang, Ara berganti pada Anggi. Dia menasehati adiknya itu, agar tidak sembarangan bicara, apalagi jika ada orang lain. Karena itu bisa menyebabkan kesalahpahaman.


"Iya-iya maaf."


Anggi hanya mengangguk dengan bibirnya yang mengerucut. Dia merasa bersalah, tapi juga tidak mau di salahkan. Dia berpikir jika, apa yang dia katakan tadi memang benar adanya.


"Ya sudah, ayok kita kembali tidur," ajak Abimanyu, pada kedua anaknya itu.


Anjani dan Ara, kembali membantu Abimanyu, supaya bisa berjalan menuju ke dalam kamar.


"Terima kasih Bunda, Kakak," ucap Abimanyu, setelah dia duduk di pinggir tempat tidur. Dia sangat berterima kasih, karena mereka berdua tidak pernah mengeluhkan kondisi tubuhnya yang selalu saja merepotkan mereka.


"Ayah tidur dulu. Bunda mau menenangkan Anggi dan Ara dulu," ujar Anjani, pamit pada suaminya.


Tadi, Ara langsung keluar dari dalam kamar ayahnya, begitu selesai membantu ayahnya hingga duduk di tempat tidur.


Abimanyu mengangguk mengiyakan perkataan istrinya. "Iya Bun. Suruh mereka cepat tidur m Besok harus masih sekolah juga mereka."


Setelah itu, Anjani keluar dari kamar, menuju ke arah kamar anaknya.


"Ara, Anggi. Ayo tidur Sayang. Besok Kalian berdua masih harus berangkat ke sekolah. Ayah tidak bisa tidur, jika kalian masih saja berantem terus."


Anjani mengingatkan kedua anaknya itu, karena ayah mereka, butuh istirahat. Tapi jika masih mendengar pertikaian mereka berdua, tentu saja, Abimanyu tidak bisa tidur dengan cepat dan nyaman.


Akhirnya, Ara dan Anggi sama-sama pergi ke tempat tidur masing-masing, yang bersusun tingkat. Jadi, sekarang mereka berdua tidak tidur satu ranjang, agar tidak berhimpitan.


Anggi di kasur dipan bagian atas, sedangkan Ara di dipan bawah.


"Semoga jatuh, biar kapok!"


"Ihhh Bunda. Kakak nakal. Masak doain Anggi jatuh!" Anggi mengadu, saat Anjani baru saja mencapai pintu kamar anaknya.


"Kakak," panggil Anjani, agar Ara tidak lagi berkata demikian.


"Iya-iya gak. Tidur yang nyaman adikku. Mimpi indah ya!"


"Sama-sama Kakak."

__ADS_1


Anjani tersenyum, mendengar perkataan kedua anaknya itu. Dia keluar dari dalam kamar tersebut, kemudian menutup pintunya.


Sekarang, Anjani membereskan peralatan minum, yang tadi disediakan buat tamu-tamunya. Dia juga merapikan parcel buah, yang tadi dibawakan oleh mama Amel.


Saat membuka parcel tersebut, ada sejumlah uang yang cukup banyak, di sebuah amplop putih. Dengan ditutup beberapa buah, tentu saja, amplop tersebut tidak terlihat dari luar.


"Ya Allah... mama Amel. Terima kasih," ucap Anjani, atas semua perhatian dari mantan mertuanya itu.


Padahal tanpa adanya amplop tersebut, Anjani sudah cukup senang, karena mama Amel dan keluarganya, sudah sangat baik selama ini. Meskipun dia tidak lagi menjadi menantu di keluarga mereka.


Setelah semua selesai, Anjani kembali ke dalam kamar. Dia juga ingin beristirahat dan tidur, agar besok pagi bisa kembali melakukan semua kegiatannya.


"Oh iya, Aku lupa cerita pada mas Abi, tentang Wawan. Tapi besok sajalah. Sekarang, biar dia beristirahat."


Anjani tidak jadi cerita tentang Wawan pada suaminya. Dia tidak tahu, jika malam ini, Wawan sedang ada di pos penjagaan di perumahan mereka.


Wawan sedang duduk-duduk bersama dengan Pak penjaga, dan berbincang-bincang tentang hal-hal yang dia ingin pamerkan.


*****


Di pangkalan tempat Wawan sekarang berada.


"Mas. Dari mana saja sih?" seorang wanita datang saat mobil pick up yang di kendarai Wawan berhenti.


"Kan tadi dari cabang Mi," jawab Wawan, pada wanita tersebut.


"Kok lama banget? kan seharusnya sudah sampai sekitar satu jam yang lalu."


"Biasalah Mi. Jakarta kan macet dan jika tidak mau macet, pas lebaran atau ada virus menyebar tuh, jalan lengang."


Wanita tersebut mencibir perkataan Wawan, yang sudah terbiasa memberikan banyak alasan, jika sedang di tanya-tanya.


Wawan melenggang pergi, masuk ke dalam rumah, tanpa menghiraukan wanita yang dia panggil dengan sebutan Mi.


Terdengar suara hembusan nafas panjang, saat wanita itu berbalik, kemudian melangkah menuju ke rumah yang sama, seperti yang dimasuki oleh Wawan.


Tak lama, lampu rumah bagian depan padam. Wawan dan wanita tersebut, sudah masuk ke dalam kamar. Mereka berdua tidur, karena besok pagi, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, untuk usaha mereka itu.


Pangkalan barang-barang bekas ini, adalah milik wanita tadi. Di depan, tampak sebagai sebuah penampungan barang-barang yang menjadi usahanya, sedang jika masuk lebih ke dalam lagi, ada rumah kecil, tempat dia beristirahat dan tidur pada malam hari.


Dan Wawan, adalah seorang gelandangan yang dia tolong saat dikejar-kejar satpol PP.


Karena gelandangan tersebut tampak tampan dan masih muda, dia mau merawatnya juga. Apalagi, gelandangan tersebut juga mau ikut membantunya bekerja.


Akhirnya, mereka berdua menikah siri, meskipun beda usia mereka cukup jauh.


Mereka menikah secara siri karena, Wawan tidak mau menikah secara resmi, dengan alasan tidak mempunyai identitas diri.

__ADS_1


Dan wanita tersebut tidak mempermasalahkan soal pernikahan siri, karena beranggapan jika, Wawan tidak akan bisa macam-macam dengan harta dan usahanya itu.


__ADS_2