
Kehidupan seseorang, tidak akan bisa berubah, jika orang tersebut juga tidak ada keinginan untuk bisa merubah dirinya.
Ibarat baju kotor, jika tidak dicuci terlebih dahulu, meskipun ingin di pakai lagi, keadaannya tetap saja akan terlihat kotor, karena tidak ada usaha untuk membersihkannya terlebih dahulu.
Hal ini juga terjadi pada Wawan. Laki-laki yang selalu membuat berbagai macam masalah di keluar mantan istrinya, Yasmin, kini juga hidup terlunta-lunta. Tidak ada yang bersimpati dan juga mau menampung dirinya, meskipun sekarang ini dia sudah keluar dari dalam penjara. Hal yang dijauhi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, jika ada mantan napi yang keluar dari tahanan adalah, sebisa mungkin tidak berhubungan dengan mereka, karena merasa takut jika, orang tersebut akan melakukan hal yang sama seperti dulu lagi.
Wawan, yang sudah tidak memiliki keluarga lagi, jadi semakin tidak terurus, karena pihak istrinya yang kedua, juga tidak mau tahu lagi, apa yang sudah dia lakukan.
Mereka, tidak lagi peduli dengan keadaannya Wawan. Apalagi, istri keduanya juga sudah mengajukan gugatan cerai, pada saat dia diproses secara hukum saat kasus video yang dia sebarkan. Dan mereka, istri keduanya bersama dengan keluarganya, sudah pindah dari kota Jakarta.
Entah mereka pindah kemana, karena tidak ada informasi dan kabar mereka lagi.
Jadi, otomatis Wawan hidup sendiri. Sama seperti waktu dia belum menikah dulu. Sayangnya, saat ini keadaan dirinya jauh dari kata baik-baik saja.
Wawan menjadi gelandangan, yang seringkali terkena razia satpol PP, karena dia tidur di sembarang tempat. Tidak hanya di emperan toko-toko, tapi juga sering ditemukan berada di tempat-tempat yang tidak seharusnya. Seperti warung remang-remang, ataupun tempat sambung ayam.
Meskipun dia tidak melakukan apa-apa, tapi keberadaannya di sana, tentu membuatnya ikut terkena razia juga. Dan itu juga yang menyebabkan dirinya jadi seperti sekarang ini.
Jadi gelandangan!
Wawan hidup sendiri. Tidak ada yang peduli dengan keadaannya, karena dia tidak ada penyelesalan juga dengan apa yang dulu dia lakukan. Dia tidak meminta maaf, dan juga merendahkan dirinya, untuk meminta sedikit pengampunan dari hukumannya yang cukup berat.
Wawan terlalu keras kepala dan juga tidak mau melunakkan hatinya.
Hal yang sangat disesali oleh keluarga Yasmin. Mantan istrinya yang pertama.
"Itu bukannya Wawan ya? yang dulu jadi menantunya pak Edi, suaminya bu Sofie," tanya salah satu tetangganya pak Edi, yang melihat keberadaan Wawan, di salah satu toko roti.
"Lho, bukannya dia di penjara?" jawab orang yang tadi ditanya.
Mereka berdua, adalah para tetangga ayah Edi dan ibu Sofie. Jadi, tentunya mereka berdua juga mengenal Wawan, dan tahu keadaannya juga, serta apa yang sebenarnya terjadi pada Wawan.
"Mungkin sudah keluar. Kan sudah lama itu Jeng," jawab yang satunya lagi.
"Wah benar juga ya. Dia sudah lama juga tidak terlihat. Tapi untungnya, Yasmin tidak mau lagi jadi istrinya. Dan sekarang, Yasmin bisa hidup berbahagia dengan suaminya dan juga Nanda di Taiwan."
"Benar-bener. Orang macam Wawan itu, tidak boleh di kasih hati. Dia akan terus hidup menjadi benalu, karena itu sudah watak dan sifat aslinya. Itu karakter aslinya!"
"Tapi kasian juga ya kalau lihat dia dalam keadaan seperti ini."
"Halah, jika di kasihani, dia akan ngelunjak juga sih!"
__ADS_1
"Iya juga sih."
"Semoga saja, Kita dijauhkan dari orang-orang seperti Wawan. Bukan hanya kenalan saja, tapi juga keluarga kita. Semoga tidak ada yang seperti Wawan itu."
"Aamiin. Bener itu!"
Sekarang, para tetangga ayah Edi jadi berbincang tentang nasibnya Wawan. Mereka semua berharap, supaya terhindar dari orang-orang yang sama seperti Wawan, matan istrinya Yasmin, anak tetangga mereka. Ayah Edi.
*****
Ara pulang dari sekolah bersama dengan teman-temannya. Mereka semua berjalan dengan riang, dan saling bercanda satu sama lain.
"Ara pasti akan jadi terkenal di sekolah baru nanti," kata salah satu teman Ara, yang satu arah dengannya.
Sekolah Ara, tidak jauh dari rumahnya. Itulah sebabnya, jika berangkat ke sekolah, kadang kala dia diantar oleh ayahnya, yang sekalian jalan untuk pergi ke kantor.
Dan jika waktunya untuk pulang, dia akan berjalan bersama dengan teman-temannya, yang satu komplek perumahan dengannya, atau perumahan eyang kakungnya, ayah Edi.
"Beri Aku uang untuk beli makan siang!"
Tiba-tiba, ada seorang gelandangan yang menghalangi jalan mereka. Gelandangan itu, meminta uang pada mereka, Ara dan teman-temannya.
"Kami tidak punya!" jawab salah satu temannya Ara yang cowok.
"Itu teman Kamu yang cewek pasti punya. Biasanya cewek punya uang jajan simpanan, untuk ditabung."
Gelandangan itu berkata dengan melihat ke arah Ara, dan teman-temannya yang cewek.
Sekarang, Ara dan teman-temannya itu semakin ketakutan, karena pandangan gelandangan itu terkesan mengintimidasi dan juga mengancam.
"Kamu punya uang tidak?" tanya Ara pada teman yang ada disebelahnya.
"Ada ngoceng Ra," jawab temannya Ara.
"Aku juga cuma ngoceng. Tadi udah dipakai untuk jajan di sekolah," kata Ara, dengan mengeluarkan uang lima ribuan dari dalam kantong bajunya.
"Kasih aja sih Ra. Ini punya Aku juga kasih. Mungkin orang itu kelaparan. Biar di bisa beli makanan."
Akhirnya, Ara dan temannya itu memberikan uang jajan mereka pada gelandangan itu.
"Pak. Ini uang yang Kami punya. Bapak bisa beli makanan untuk makan." Temannya Ara, memberikan uang tersebut pada gelandangan yang masih berdiri di depan mereka semua.
__ADS_1
Gelandangan itu, menerima uang tadi dengan mata memicing. "Cuma segini! Makanan apa yang bisa dibeli?" tanya gelandangan itu dengan membentak.
Ara dan teman-temannya jadi ketakutan.
"Kamu punya lagi gak?"tanya Ara pada temannya yang lain.
"Tinggal dua ribu saja Ra."
"Aku gak ada."
"Ya sudah, kasih aja ya?"
Akhirnya, uang dua ribu milik temannya yang lain diberikan juga pada gelandangan.
"Maaf Pak. Sudah tidak ada lagi," kata Ara, memberitahu.
Gelandangan tadi, menerima uang dua ribu itu dengan wajah kesal. Tapi tetap saja di terima, tanpa mengucapkan terima kasih.
Setelah mendapatkan uang dua belas ribu, gelandangan tadi pergi begitu saja, tanpa mengucapkan apa-apa.
"Kok gak bilang makasih?" kata teman Ara, yang merasa heran dengan sikap gelandangan itu.
"Mungkin dia lupa, atau tidak tahu apa yang seharusnya dikatakan jika menerima sesuatu," jawab Ara, dengan apa yang dia pikirkan saat ini.
"Aku takut Ra."
"Aku pikir Aku tidak takut juga?"
"Ayo kita pulang! moga saja besok-besok, dia tidak ada di jalan ini lagi."
Anak-anak itu akhirnya melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang ke rumah masing-masing. Mereka semua berharap, agar besok-besok tidak ada gelandangan itu lagi di jalan yang akan mereka lalui.
Tak lama, Ara sampai di rumah. Ada tantenya yang datang bersama dengan anaknya, Miko.
Sekar, yang sudah ada di rumah Ara, sebenarnya hanya sekedar mampir, karena ada sesuatu yang ingin dia sampaikan pada kakak iparnya, Anjani.
Tapi belum sempat bicara, ternyata Ara sudah keburu pulang. Dan Sekar, tidak jadi membicarakan tentang hal penting yang ingin dia sampaikan pada kakak iparnya itu.
Tak lama, Sekar pamit untuk pulang terlebih dahulu. Dia beralasan bahwa, dia belum memasak untuk makan mereka nanti. Dia juga berjanji, jika ada waktu akan datang lagi ke rumah kakaknya ini. Rumah keluarga Abimanyu.
***Hai semua, mampir ke novel TK yang lain juga yuk! 😍😍🙏✌️
__ADS_1