
Ayah Edi benar-benar marah dengan istrinya. Dia merasa terabaikan sebagai seorang suami, karena istrinya itu tidak membicarakan masalah yang ada di dalam keluarga, dengan dirinya terlebih dahulu.
"Maaf Ayah. Ibu, Ibu panik dan hanya ingat Abi, saat ada masalah seperti ini. Ibu takut jika Ayah akan menyalahkan Ibu dengan masalah yang terjadi pada Yasmin," ucap ibu Sofie, sambil mengusap air matanya, yang masih terus mengalir.
Yasmin, sudah tidak terdengar menangis lagi. Dia hanya menunduk saja di samping ibunya. Dia merasa takut, jika amarah ayahnya yang tidak pernah dia lihat, akan terjadi dan dia rasakan sekarang ini.
"Hemmm... Ibu benar-benar sudah membuat Ayah kecewa. Dan Kamu Yasmin, untuk sementara tidak usah pergi kuliah atau kemana saja. Motor Ayah sita. Uang bulanan, tidak ada lagi. Dan satu lagi, di mana pacar Kamu itu kemarin tinggal, terus nomer handphonenya mana?"
Nada bicara Ayah Edi yang pelan namun penuh intimidasi, membuat Yasmin mengkerut. Dia bergerak, menggeser posisi duduknya, agar lebih dekat dengan ibunya, untuk meminta perlindungan. Tapi, ibunya hanya diam, karena ibu Sofie juga merasa takut, jika suaminya itu sudah benar-benar marah. Meskipun tidak ada bentakan dan suara yang bernada tinggi, tapi justru inilah bentuk kemarahan ayah Edi yang sebenarnya.
Ayah Edi berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kamar Yasmin. Dia ingin mengambil handphone, kunci motor dan dompet anaknya. Dia akan benar-benar melakukan semua yang tadi dia ucapkan, sebagai bentuk hukuman bagi Yasmin. Ini dia lakukan agar Yasmin tidak pergi ke mana-mana, dan melakukan hal yang tidak diinginkan. Handphone dia ambil, untuk antisipasi supaya pacarnya tidak bisa menghubungi Yasmin, begitu juga sebaliknya. Ayah Edi, ingin memantau perkembangan anaknya dan pacarnya dalam waktu beberapa hari ini.
Yasmin ingin protes, tapi di cegah oleh ibu Sofie. Ibunya itu mengatakan, jika dia protes, ayahnya akan memberikan hukuman yang lebih besar lagi. Jadi, lebih baik diam dan menerima semua konsekuensi dari perbuatannya itu.
"Tapi Bu, nanti kalau ada teman Yasmin yang menghubungi bagaimana? kemarin, Yasmin minta tolong pada teman-teman yang kenal pacar Yasmin, jika ketemu langsung minta infonya. Bagaimana Bu?" Yasmin merasa pertolongan pada ibunya. Dia ketakutan, jika pacarnya yang kabur, akan di cari dan dihajar ayahnya nanti.
"Ibu tidak tahu. Ibu juga takut jika ayahmu sudah marah seperti itu," jawab ibu Sofie, yang tidak mampu melakukan apapun, untuk membantu Yasmin. Dia tidak mau jika suaminya itu, akan bertambah marah kepada dirinya.
Saat Yasmin ingin mengatakan sesuatu pada ibunya, dari arah samping, muncul Risma, yang berjalan dengan sedikit pincang.
"Emhhh... Bu Sofie, Sa_saya minta maaf. Saya malah merepotkan keluarga Ibu, dan tidak bisa membantu meringankan beban permasalahan yang sedang terjadi di sini," kata Risma, setelah berada di dekat Yasmin. Dia tersenyum canggung, karena merasa tidak nyaman saat ada masalah keluarga di rumah ibu Sofie, yang seharusnya tidak dia ketahui. Padahal, dia sudah di tolong oleh keluarga ini, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa, untuk membantu mereka.
"Aduh Risma. Justru kami sekeluarga yang meminta maaf. Saat Kamu sedang sakit dan ada di sini, justru ada keributan yang terjadi," ucap ibu Sofie, dengan wajah kecewa. Ya, dia merasa kecewa, karena dengan permasalahan yang sedang terjadi pada anaknya, Yasmin, Risma jadi tahu, bagaimana kacaunya keluarganya ini.
Dari arah tangga, ayah Edi datang. Dia sudah mengambil semua barang milik Yasmin. "Semua sudah Ayah ambil. Pergi tidur, dan renungkan semua kesalahan yang sudah Kamu lakukan itu," kata ayah Edi, memerintah Yasmin.
__ADS_1
Yasmin, hanya mengangguk. Dia berdiri, dan berjalan menuju ke kamarnya untuk beristirahat. Ada banyak hal dia pikirkan untuk sebuah rencana yang tidak boleh diketahui oleh orang lain, termasuk ibunya sendiri.
Risma, yang merasa tidak nyaman, segera undur diri, untuk kembali ke dalam kamar tamu, yang dia tempati dua malam ini.
Sekarang, tinggal ibu Sofie dan ayah Edi, yang berada di ruang tengah. Mereka berdua saling diam, dengan pikirnya masing-masing. Hingga satu jam kemudian, mereka sama-sama menoleh, saat mendengar deru mesin mobil yang berhenti di depan rumah. Ayah Edi, kemudian berbicara pada istrinya, ibu Sofie.
"Ibu pergilah ke kamar, dan tidur. Aku akan bicara dengan Abimanyu." Ayah Edi, meminta istrinya itu, untuk pergi tidur ke dalam kamar. Dia tidak ingin, istrinya itu tahu, apa yang akan dia bicarakan nanti, dengan anak laki-lakinya, Abimanyu.
"Tapi Yah, Ibu juga ingin..."
"Bu," panggil ayah Edi, memotong kalimat istrinya, agar tidak lagi membantah.
Akhirnya, ibu Sofie mengangguk dengan terpaksa. Dia pergi dari ruang tengah, dan pergi ke kamar untuk beristirahat. Meskipun, dia tidak yakin, jika akan bisa tidur dengan cepat dan nyaman. Dia ingin tahu, apa yang sedang dibicarakan oleh suaminya itu dengan anaknya, Abimanyu.
Tapi, ibu Sofie juga tidak ingin mendapatkan amarah dari suaminya lagi. Dia sudah cukup banyak mendapatkan teguran dan juga kemarahan hari ini.
"Ayo masuk Sayang," kata Abimanyu, meminta istrinya itu untuk mengikuti langkahnya.
Begitu masuk ke dalam rumah, Abimanyu dan Anjani, langsung menuju ke ruang tengah, yang masih terlihat terang. Itu artinya, ada anggota keluarga yang belum tidur.
"Ayah," sapa Abimanyu, saat ayahnya berdiri menyambut kedatangannya. Dia menyalami ayahnya itu.
"Kamu datang bersama Anjani?" tanya ayah Edi, setelah melihat keberadaan menantunya, yang berada di belakang anaknya.
Anjani, mengikuti suaminya, menyalami ayah mertuanya. Dia juga tersenyum sambil mengangguk, membenarkan perkataan ayahnya yang tadi.
__ADS_1
"Iya Yah. Abi mengajak Anjani. Kasihan, baru juga Abi tinggal kemarin-kemarin, dan tadi sore, Abi sampai rumah, masa iya langsung di tinggal lagi. Kan belum kangen-kangenan Yah," jawab Abimanyu, sambil tersenyum-senyum sendiri.
Anjani, yang berada di belakang Abimanyu, mencubit pinggang Suaminya itu, karena merasa tidak enak, bergurau dengan ayahnya, dalam situasi yang sedang tidak baik-baik saja seperti sekarang.
"Hemmm..." ayah Edi, hanya bergumam tidak jelas.
"Ayah, Abi mau mandi dan bersih-bersih dulu ya. Nanti Abi temani di sini." Aji pamit untuk mandi terlebih dahulu. Dia mengajak Anjani, untuk pergi ke kamar, tanpa bertanya di mana keberadaan ibu dan juga adik-adiknya, terutama Yasmin, yang sedang bermasalah.
*****
Malam semakin larut. Semua penghuni rumah, sudah tertidur di kamar masing-masing. Ruang tengah juga sudah tidak lagi terang, seperti tadi, saat Abimanyu dan ayahnya membicarakan tentang masalah Yasmin. Ternyata mereka berdua sudah pindah berbincang-bincang di teras samping, sehingga tidak akan ada yang bisa mendengarkan perbincangan mereka berdua.
"Berarti, Yasmin itu hamil lebih dulu, dibandingkan dengan Anjani Yah," kata Abimanyu, menarik kesimpulan tentang keadaan adiknya, Yasmin.
"Maksud Kamu...? apa Anjani hamil juga?" tanya ayah Edi kaget. Dia memang belum tahu dengan kehamilan menantunya, begitu juga dengan istrinya, ibu Sofie.
"Iya Yah. Abimanyu juga baru tahu tadi, sewaktu baru pulang dari Jakarta. Makanya, sewaktu di telpon ibu, dan mengatakan jika Yasmin hamil, Abi berpikir jika kejadian ini bertolak belakang. Kebahagiaan yang seharusnya bisa kami bagikan pada Ayah dan ibu, tidak mungkin kami lakukan, karena adanya masalah Yasmin."
Abimanyu, mengatakan pada ayahnya, kalau dia belum memberikan kabar kehamilan Anjani pada ibunya juga. Dia tidak tahu sampai kapan akan menutupi semua ini, karena hati ibunya, sedang tidak baik-baik saja, dan juga banyak pikiran yang membuatnya susah, karena ulah dari salah satu anaknya, yaitu Yasmin.
"Apa Anjani sudah periksa ke dokter?" tanya ayah Edi, memastikan jika mereka berdua, Anjani dan Abimanyu, memperhatikan kondisi kesehatan kandungan Anjani.
"Belum Yah. Kami baru membicarakan tentang hal itu, tapi tiba-tiba ibu telpon, dan kami pun segera bersiap-siap untuk berangkat ke Jakarta. Jadinya ya memang belum," jawab Abimanyu, yang sangat disayangkan oleh ayah Edi.
"Seharusnya, Kamu beristirahat saja dulu, dan tidak buru-buru datang ke mari."
__ADS_1
Abimanyu, menggeleng mendengar perkataan ayahnya, karena dia tidak mungkin bisa tidur dengan nyaman saat keluarganya sedang ada masalah serius seperti sekarang ini.