Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Sebuah Harapan


__ADS_3

Besok pagi, menjelang siang, mobil yang membawa Abimanyu dan Anjani tiba di rumah. Mereka berdua, keluar dari dalam mobil dengan perasaan yang membuncah.


Haru, dan bahagia bercampur menjadi satu. Membuat dada terasa penuh dan sesak.


"Mas," panggil Anjani, yang melihat suaminya itu juga sedang dalam keadaan yang sama seperti dirinya juga.


"Ayah... Ayah merasa bersalah. Sudah meninggalkan rumah kita ini. Rumah yang penuh dengan kenangan kita juga Bun," ujar Abimanyu dengan terbata-bata. Kemudian merangkul pundak Anjani, sehingga Anjani merasa lebih sesak di dadanya.


Anjani juga menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh suaminya itu.


Dia sendiri juga merasa sangat bersalah. Meskipun sebenarnya dia juga tidak mau jika, meninggalkan suaminya itu sendirian. Oleh sebab itu, apapun yang dilakukan dan diputuskan oleh suaminya, dia ikuti. Selama itu bukan hal yang buruk.


Termasuk dengan mengikuti apa yang diinginkan oleh suaminya kemarin-kemarin. Untuk bisa hidup di desa, dengan segala kesederhanaan yang mereka inginkan.


"Ayah... Bunda..."


Anggi keluar dari dalam rumah dengan berteriak keras. Menyongsong keduanya dengan merentangkan kedua tangannya.


Dari dalam rumah, di belakang Anggi, juga ada Ara dan Awan. Di susul dengan ayah Edi dan ibu Sofie, bersama dengan Miko dan mamanya, Sekar.


Anggota keluarga mereka yang lain, sedang sibuk dengan pekerjaan dan sekolah mereka.


Seperti Juna, adiknya Miko dan juga Nanda.


Sedangkan keluarganya Awan, baru akan datang nanti malam. Untuk bertemu dengan Abimanyu serta Anjani.


Anggi memeluk ayah dan bundanya bersamaan. Dengan waktu yang cukup lama, sehingga ditegur oleh kakaknya.


"Dek. Gantian Kakak lah meluk ayah dan bunda!"


"Ihsss, Kakak!"


Anggi pun baru melepaskan pelukannya, dan mundur beberapa langkah. Untuk memberikan kesempatan kepada kakaknya itu. Agar bisa memeluk kedua orang tuanya juga.


"Kak Ara..."


Anjani menyapa anak tertuanya itu dengan berderai air mata haru dan bahagia. Dia tidak bisa banyak berkata-kata. Dengan tersenyum dan isakan tangisnya yang tertahan, dia memeluk anak pertamanya itu dengan penuh rasa syukur.


Begitu juga dengan Abimanyu, yang saat ini masih memeluk Anggi. Dan baru setelah istrinya itu selesai memeluk Ara, dia berganti memeluk anak tertuanya.


"Ayah..."


Ara juga memeluk ayahnya dengan bahagia. Meskipun pipinya banjir dengan air mata. Tapi, semua itu adalah air mata kebahagiaan yang tidak bisa dia ungkapkan.

__ADS_1


Semuanya yang ikut menyaksikan kejadian ini, juga ikut menangis penuh keharuan.


Miko bahkan berkali-kali mengelap air mata dan ingusnya. Karena dia juga terisak-isak. Padahal belum mendapatkan giliran untuk memeluk ayah Abi dan bunda Jani nya.


Suasana haru penuh dengan kebahagiaan di rumah ini, sangat terasa. Bahkan, saat para tetangga yang bergantian datang untuk mengucapkan selamat datang kembali pada Abimanyu dan juga Anjani. Suasana haru justru semakin terasa lebih sempurna.


Mereka semua, akhirnya bisa berkumpul kembali di rumah ini.


"Maafkan ayah ya Kak, Dek."


"Gak Yah. Justru kami yang meminta maaf pada Ayah. Kamu gak bisa jauh-jauh dari Ayah dan Bunda."


Abimanyu kembali memeluk Ara, yang duduk di sampingnya.


Abimanyu ingat, bagaimana keadaan mereka dulu, di saat Ara masih kecil. Dengan keadaan dirinya yang sedang tidak baik-baik saja. Karena lumpuh dan tidak bisa melakukan apa-apa.


Anak pertamanya ini, adalah anak yang kuat dan berani. Abimanyu berdoa, untuk keselamatan dan kesehatan Ara, yang saat ini sedang hamil cucu pertamanya.


"Cucu Ayah baik-baik ya di dalam perut sana?" tanya Abimanyu, sambil memegang perut Ara.


"Iya Yah. Dia baik-baik saja, sejak mendengar suara Ayah yang bilang mau balik ke rumah ini," jawab Ara, yang membuat Abimanyu mengelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Ada-ada saja Kamu ini. Hahaha..."


Kebahagiaan mereka semua, terlihat jelas. Dari wajah-wajah mereka yang berseri-seri, dan tawa yang terdengar sedari tadi.


Di pangkalan barang-barang bekas.


Awan baru saja datang dari mengirimkan barang pesanan. Dia juga membawa pesanan istrinya, yang ingin makan makanan khas Jawa Timur.


Yaitu rujak cingur.


Rujak cingur bukanlah irisan buah pada umumnya rujak biasa. Tapi, makanan tradisional yang berasal dari daerah Jawa Timur. Terutama di daerah asalnya Surabaya.


Bumbu rujak cingur, memakai saus atau bumbu yang sama seperti rujak pada umumnya. Bedanya hanya karena bumbu olahan yang digunakan adalah petis udang dan irisan cingur. Hal ini yang membedakan dengan makanan rujak pada umumnya yang biasanya tanpa menggunakan bahan cingur atau bibir sapi tersebut.


Dalam bahasa Jawa , kata cingur berarti "mulut". Hal ini merujuk pada bahan irisan mulut atau moncong sapi, yang direbus dan dicampurkan ke dalam hidangan.


Itulah sebabnya, makanan ini lebih dikenal dengan sebutan rujak cingur.


Cita rasa rujak cingur adalah gabungan dari manis, pedas, gurih, juga asin dan segar. Yang berasal dari seluruh bahan yang menyatu lengkap dalam satu piring. Aroma khas sayur dan buah yang segar, berpadu dengan gurih dari cingur dan petis serta kacang. Sangat lengkap untuk rasa dan aromanya.


"Mi. Mami!"

__ADS_1


Wawan berteriak memanggil istrinya, yang tidak tampak di luar rumah.


Biasanya, Mami selalu ada di depan rumah, saat dia mau tiba di rumah. Karena Wawan juga sudah memberikan kabar terlebih dahulu. Jika dia sudah dalam perjalanan pulang.


Tapi ternyata tidak ada sahutan dari istrinya. Akhirnya Wawan masuk ke dalam rumah, untuk memeriksa keadaan Mami.


"Mi. Mami!"


Wawan kembali memanggil istrinya. Karena dia berpikir jika istrinya itu sedang ada di dapur.


Ternyata di dapur juga tidak ada. Akhirnya Wawan mencoba untuk mencarinya dia dalam kamar. Dan ternyata, istrinya itu memang dalam keadaan tertidur di dalam kamar.


"Mi. Mami bangun Mi!" tanya Wawan, membangunkan istrinya.


Tapi tidak ada sahutan dari istrinya.


"Mi. Ya ampun Mi. Mami kenapa?"


Wawan kaget, saat memegang tangan istrinya. Hawa panas tubuh istrinya terasa panas.


Dengan cepat, Wawan memeriksa keadaan istrinya. "Panas banget ini Mi. Kenapa gak bilang tadi, jika sedang sakit?"


Mami tidak bisa menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Wawan. Dia merasa sangat pusing, dan suhu tubuhnya juga panas.


"Kita ke rumah sakit Mi. Ayok!"


Wawan membantu istrinya itu, untuk berjalan menuju ke luar rumah. Dia mengajak Mami, untuk memeriksakan diri ke rumah sakit.


"Tahan ya Mi. Kita ke rumah sakit langsung. Gak usah ke klinik atau ke dokter terlebih dahulu. Ini panas Kamu sudah melebihi batas normal."


Mami hanya mengangguk saja. Dia tidak bisa menjawab, karena mulutnya terasa panas dan kering.


Dengan cekatan, Wawan memutar mobil pick up nya untuk kembali ke jalan besar. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada istrinya itu.


"Sabar Mi. Tahan ya."


Wawan terus mengajak bicara istrinya, supaya tetap dalam keadaan sadar.


Dia merasa sangat khawatir, dengan kondisi tubuh Mami saat ini.


'Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan.' Batin Wawan berharap.


Sekarang, Wawan benar-benar sudah berubah. Tidak lagi egois dan mementingkan dirinya sendiri. Dia sadar jika, dia tidak bisa berbuat apa-apa jika tidak ada Mami. Yang selalu membimbingnya untuk bisa bekerja dan bertanggung jawab atas semua yang dia usahakan.

__ADS_1


"Mi. Mami harus sehat. Katanya mau lihat Nanda nikahan juga kan! Sehat ya Mi!"


Wawan mempercepat laju mobilnya, agar bisa cepat sampai di rumah sakit yang dia tuju.


__ADS_2