Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Jail Lagi


__ADS_3

Tok tok tok!


Tok tok tok!


Pintu rumah Abimanyu, di ketuk-ketuk dari luar oleh seseorang, yang datang pada siang hari. Tapi sepertinya, rumah itu kosong, karena sedari tadi, tidak sahutan atau seseorang yang membuka pintunya.


Tok tok tok!


Tok tok tok!


Sekali lagi, pintu di ketuk-ketuk. Tapi tetap saja sepi, sama seperti tadi.


"Kayaknya, tidak ada orang di rumah Pa," kata mamanya Dika. Istri dari seorang laki-laki, yang sedang mengetuk pintu rumah Abimanyu.


"Iya gak ada orang itu Pa. Kita pergi aja yuk!" ajak Dika, yang setuju dengan perkataan dari mamanya.


"Iya sih. Kayaknya emang gak ada orangnya ini," sahut papanya Dika.


Tadi, begitu mobil masuk ke halaman rumah Abimanyu, suasana di rumah memang terasa sepi. Bahkan, lampu tetas depan juga menyala. Tidak seperti biasanya, jika ada orang di rumah.


Tapi karena ingin membuktikan bahwa apa yang mereka pikirkan benar, akhirnya mereka bertiga turun, dan mencoba untuk mengetuk pintu rumah tersebut.


Dan ternyata memang benar. Tidak ada orang di rumah.


"Pak, cari pak Abi ya? Pak Abi nya sedang ke kampung. Nganter mas Aksan, adik iparnya!"


Ada seseorang yang memberi tahu mereka, jika pemilik rumah sedang tidak ada, dan pergi ke kampung untuk mengantarkan adiknya pulang.


"Kalau istrinya Bu?" tanya mamanya Dika, memastikan jika memang tidak ada orang di rumah ini.


"Ikut semua, jadi tidak ada orang di rumah. Baru berangkat tadi pagi kok mereka."


"Oh gitu ya Bu, terima kasih."


Mamanya Dika, mengucapkan terima kasih, pada seorang wanita, yang kebetulan lewat dan memberi tahu mereka, jika pemilik rumah tersebut, Abimanyu, sedang pergi bersama dengan semua anggota keluarganya.


"Huh, kan gak ada orang. Eh, masak nganter pulang kampung kok ikut semua, emang acara mudik, atau karena tidak pernah bepergian, jadi pada ngikut?" tanya Dika, yang meragukan keluarga Abimanyu.


Papa Dika hanya mengangkat kedua bahunya, karena dia juga tidak tahu jika keluarga ini sedang tidak ada di rumah.


Begitu juga dengan istrinya, mamanya Dika. Dia juga sama seperti suaminya, yang tidak tahu.


"Ya sudah. Kita lanjut jalan-jalan aja kalo gitu Ma." Dika berkata, mengusulkan supaya langsung pergi ke mall untuk jalan-jalan.


"Ya sudah. Yuk Pa, mumpung Dika juga mau ikut ini tadi. Sayangnya ya ini, mereka tidak ada di rumah," sahut mamanya Dika, menyetujui permintaan dari anaknya itu.


Sebenarnya, papa dan mamanya Dika, kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Abimanyu. Mereka berpikir jika, mereka kehilangan kesempatan untuk bisa berbicara dengan Abimanyu,. untuk urusan bisnis mereka.


"Tidak jodoh kan Ma? hahaha... apa kata Dika tadi di rumah," ujar Dika, begitu mobil meninggalkan halaman rumah Abimanyu.

__ADS_1


Mamanya hanya diam. Begitu juga dengan papanya.


Dan diam-diam, Dika bersyukur, karena tidak jadi berkenalan dengan seorang cewek, yang dia tidak tahu, bagaimana keadaan cewek tersebut.


Dari penilaian Dika saat melihat rumah yang tadi dikunjungi, dia beranggapan bahwa, cewek yang dimaksud oleh mamanya, hanya seorang cewek biasa. Tidak ada yang menarik, karena tidak memiliki keistimewaan apa-apa.


Beda jauh dengan Diyah, cewek manis yang selalu ada di dalam pikirannya. "Yah, Gue kangen nih," gumam Dika, yang samar terdengar oleh mama dan juga papanya.


"Kangen siapa Dik? Band yang lagi viral itu?" tanya papanya Dika, yang pada waktu mudanya dulu, menyukai lagu-lagu grup band tersebut.


"Eh, itu kan band kesukaan papa, mana juga lho Dik," sahut mamanya Dika, yang tentunya sama saja.


Mereka berdua, salah paham dengan perkataan Dika yang tidak jelas tadi.


"Putar lagunya Ma," kata papanya Dika, meminta pada istrinya itu, untuk mencari dan memutar lagu kesukaan mereka berdua, waktu masih muda dulu.


Dan tak lama kemudian, keduanya sama-sama ikut bernyanyi bersama, mengikuti irama dan lirik yang dinyanyikan oleh band tersebut, dari musik yang diputar di dalam mobil.


Peluk erat tubuhku


Sentuhlah jemariku


Rebahkan sayap-sayap patahmu


Dan terbanglah bersamaku


Tuk melintasi langit ke tujuh


Peluk erat tubuhku


Sentuhlah jemariku


Rebahkan sayap-sayap patahmu


By Kangen Band


Dika, yang belum begitu fasih dan mengenal lagu tersebut, hanya ikut mengangguk-anggukkan kepalanya, mengikuti irama musik.


"Enak juga lagunya. Simpel ya Ma," ujar Dika menilai lagu tersebut.


"Iyalah. Lagu ini tenar pada masanya, dan sekarang tenar lagi. Tapi menurut mama, lagu-lagu jaman dulu itu seperti abadi. Beda dengan lagu-lagu jaman sekarang. Gak ada ruh_nya."


Akhirnya, mereka membicarakan tentang lagu-lagu dan musik, saat perjalanan mereka menuju ke mall.


Dan tak lama kemudian, mereka sampai di tempat tujuan, yaitu mall yang diinginkan oleh Dika.


*****


Bus rombongan yang pergi mengantarkan Yasmin dengan Aksan, baru sampai di luar Jakarta.

__ADS_1


Dan Ara serta Nanda, sudah tertidur pulas di tempat duduk mereka.


Anggi dan Miko, yang sudah tidur terlebih dahulu, terbangun, dan melihat ke sekeliling. Mereka berdua, melihat jika eyang kakung dan juga eyang putri mereka, sudah pada tidur semua.


Begitu juga dengan ayah Abi mereka. Apalagi, tadi Abimanyu juga minum obat dulu, kemudian baru tertidur.


Bunda mereka, Anjani, sedang membantu tante Yasmin, yang sedang mengantikan popok bayi, adiknya Nanda.


"Eh, kak Ara udah tidur. Kak Nanda juga," kata Miko, memberitahu pada Anggi.


Anggi menoleh ke arah tempat duduk kakaknya, dan tersenyum jail, saat melihat mereka berdua tertidur dengan posisi, yang menurut Anggi tidak biasa.


"Miko, Miko! Tadi Kamu bawa handphone gak?" tanya Anggi, saat punya ide jail untuk kedua kakaknya itu.


Anggi bertanya demikian, karena tadi Miko merengek pada mamanya, agar diperbolehkan untuk membawa handphone milik mamanya, Sekar.


Dan karena tidak ingin Miko rewel saat di perjalanan tanpa adanya mereka berdua, akhirnya Juna, papanya Miko, mengijinkan anaknya itu untuk membawa handphone mamanya.


Sekarang, Anggi meminta handphone tersebut, untuk mengambil foto kedua kakaknya itu, yang sedang tertidur pulas di dalam bus.


Beberapa foto sudah di ambil Anggi. Sekarang, dia minta pada Miko, untuk ganti mengambil foto keduanya. Sedangkan dia sendiri, mengarahkan beberapa gaya, untuk Nanda dan Ara yang sedang tertidur.


Akhirnya, beberapa foto yang mereka ambil, dengan rekayasa posisi yang diinginkan Anggi, bisa mereka lihat di ponsel milik Miko.


"Hihihi... lucu ya," kata Anggi, dengan terkikik geli, melihat hasil dari foto tersebut.


"Entar Kak Ara marah gimana?" Miko sedikit takut, saat melihat hasil jepretannya tadi.


"Yeee, gak papa. Paling juga ngamuk-ngamuk. Hahaha..." Anggi justru tertawa senang, karena berhasil membuat kakaknya marah nanti.


"Dek. Ada apa?" tanya Anjani, saat melihat Ara yang tertawa senang, sedangkan Miko terlihat cemas, sambil melihat ponselnya sendiri.


Anjani jadi merasa jika, ada sesuatu yang ada di dalam ponsel tersebut.


"Miko," panggil Anjani, memastikan jika semua baik-baik saja.


"Eh, iya Bun. Emhhh, gak papa kok. Ini tadi, Anggi cuma liat video lucu aja," kata Miko, berusaha untuk menjelaskan pada bundanya, Anjani.


"Ya sudah. Kalian tidur saja lagi. Ini masih lama kok sampainya."


Miko hanya menurut saja. Begitu juga dengan Anggi. Mereka berdua, saling pandang, dengan memberikan kode, supaya tutup mulut masing-masing.


Bayinya Yasmin, kembali tertidur, setelah diganti popoknya. Dan Anjani, bisa kembali ke tempat duduknya sendiri, dan berusaha untuk bisa tidur juga, sama seperti yang lain.


Berbeda dengan Anggi dan Miko. Keduanya sedang menahan tawa mereka, saat melihat kembali beberapa foto yang tadi mereka ambil.


"Hihihi... lucu ya?"


"Iya. Eh, yang ini malah terlihat aneh."

__ADS_1


Anggi dan Miko, memberitahu ulasan dan komentar mereka pada foto-foto tersebut.


__ADS_2