Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Lupa Bertanya


__ADS_3

"Kenapa kalau Aku orang Indonesia?"


Anggi bertanya pada orang itu, dan dengan sengaja tidak mengunakan bahasa bule, dan justru mengunakan bahasa Indonesia biasa, seperti jika sedang berada di rumah.


"I banyak mendengar dan akhirnya belajar tentang Indonesia. Dan i, juga sudah beberapa kali datang ke Indonesia. Terutama Bali. U dekat dengan Bali Anggi?"


Anggi diam saja. Dia masih menyimak dengan apa yang dikatakan orang didepannya kali ini. Karena Anggi belum tahu, apa motif orang tersebut mendekatinya, dan bertanya-tanya kepadanya juga.


Dan yang membuat Anggi merasa lebih heran lagi adalah, orang itu, mengunakan bahasa Indonesia, sama seperti yang dilakukan oleh Anggi.


Meskipun dengan bahasa yang tentunya, masih belepotan, dengan action bahasa yang campur dengan bahasa bule juga.


"I sangat tertarik dengan Indonesia. Para cewek-ceweknya juga. Sangat indah mereka di pandang mata."


Anggi tahu, jika yang dimaksud oleh kata indah adalah cantik. ( Bukan sok cantik ya, hehehe... )


'Ini orang cerita, kasih tau, atau lagi ngetes Aku, yang orang asli Indonesia sih? Aneh,' kata batin Anggi, dengan rasa herannya.


"Kenapa u diam? apa u tak paham dengan apa yang i katakan? Maaf ya," tanya orang tersebut, karena sedari tadi, Anggi hanya diam saja, dan tidak berkata apa-apa. Bahkan, bertanya balik juga tidak.


Padahal yang sebenarnya tidak seperti itu juga. Anggi banyak bicara, meskipun orang itu tidak bisa mendengarkan suara Anggi yang sedang berbicara, sebab, hanya bicara di dalam hatinya saja. ( Bisa dengar dari mana? hehehe )


"Oh ya, boleh i tahu nama u siapa?" tanya orang tersebut, menanyakan nama Anggi.


"Huh... mau kenalan aja ribet," gerutu Anggi, pelan, agar orang tersebut tidak mengetahui arti perkataan yang diucapkannya tadi.


"What?" tanya orang tersebut, dengan keningnya yang berkerut.


"Eh, gak apa-apa. Aku hanya lapar saja," jawab Anggi asal, dengan kata-kata yang pelan juga, supaya orang itu lebih paham, dengan apa yang dia katakan.


Anggi juga merasa takut jika, orang itu akan mengetahui arti gerutuan_nya yang tadi.


Orang itu, cowok, dengan umurnya mungkin saja, di atas usianya Anggi. Ini jika dilihat dari postur tubuh dan ciri fisiknya yang lain, karena selama ini, Anggi belum pernah melihatnya berada di kelas yang sama dengan dirinya.


Cowok tersebut, bisa mendengar perkataan Anggi, dengan bahasa yang pelan dan jelas. Jika dengan berkata cepat, dia akan kesulitan, untuk mencerna arti setiap kata, dalam kalimat yang diucapkan oleh Anggi.


Sama seperti kebanyakan orang-orang luar, jika sedang belajar berbahasa Indonesia, atau orang Indonesia sendiri, yang sedang belajar bahasa asing.


"Oh, u lapar? ayo ke kafetaria sekolah. Kita bisa makan dan minum di sana." Orang itu mengajak Anggi, untuk makan ke kafetaria sekolah.


Anggi melihat, dan memegang bajunya sendiri, untuk memperlihatkan keadaan bajunya, yang penuh dengan keringat.

__ADS_1


"Hehehe... u ganti baju saja dulu. Nanti i tunggu di sini. Jangan takut, i tidak akan mengintip kok," ujar cowok tersebut, dengan tersenyum manis.


'Eh, manis juga ini cowok. Miko mah lewat. Hehehe....'


Anggi kembali membatin, dalam hati, saat menilai cowok yang sekarang ini, sedang menunggu dirinya.


Dengan tersenyum dibuat semanis mungkin, Anggi melanjutkan langkahnya, untuk masuk ke dalam ruang ganti anak-anak cewek.


Sedangkan cowok tersebut, menunggu Anggi di luar pintu.


Di ruang ganti, Anggi teringat sesuatu, yang lupa dia tanyakan pada cowok tadi.


"Oh ya, Aku lupa bertanya. Siapa nama dia?" gumam Anggi, bertanya pada dirinya sendiri, dengan menepuk jidatnya sendiri.


"Kelupaan tanya kan tadi. Gara-gara dia ngoceh mulu sih! Eh, Aku juga lupa, karena terlalu terpesona dengan senyumnya yang... wow, tidak bisa aku cari dari para artis India juga. Hehehe..."


Anggi kembali bermonolog sendiri, karena merasa senang, dengan kehadiran cowok tersebut.


Anggi jadi tersenyum-senyum sendiri membayangkan apa yang terjadi tadi.


"Aku akan ceritakan pengalaman ini pada kak Ara, biar dia pengen juga diperhatikan sama cowok. Eh, salah. Kak Ara sudah punya pacar ding. Di sini, ada kak Awan, yang malu-malu meong. Di rumah, yang di Indonesia, ada kak Nanda. Lho kok dua ya? ahhh, kak Ara malah banyak tuh pacarnya."


Tapi karena takut jika cowok tadi menunggu lama, akhirnya Anggi bergegas mengambil baju gantinya, dan masuk ke dalam kamar mandi, untuk keamanan dirinya sendiri, saat berganti pakaian.


Anggi tidak mau asal ganti di depan lokernya, sama seperti yang sering dilakukan oleh teman-temannya yang bule.


Dengan tidak ada malu_nya, mereka sering berganti pakaian, dalam keadaan polos.


Mungkin mereka berpikir bahwa, tidak apa-apa berganti pakaian dengan posisi seperti itu, karena semuanya berjenis kelamin cewek.


Tapi, berbeda dengan Anggi, yang sedari kecil, tidak terbiasa dengan keadaan seperti itu.


Jadi karena itu juga, Anggi lebih sering mundur dari area olah raga terlebih dahulu, agar dapat berganti pakaian dengan rasa aman dan nyaman, tanpa harus merasa canggung, atau tidak enak hati. Karena tidak biasa berganti pakaian bersama-sama dengan yang lainnya.


Setelah selesai berganti pakaian, dan merasa lebih rapi Dati pada yang tadi, Anggi segera keluar dari ruangan ganti. Dia ingin menemui cowok yang tadi menunggu dirinya di luar ruangan.


"Lho, kok gak ada?" tanya Anggi, di saat dirinya sudah membuka pintu ruang ganti.


Dengan mengedarkan pandangannya, Anggi celingak-celinguk, mencari keberadaan cowok yang tadi.


Yang mengatakan akan menunggu dirinya untuk pergi ke kafetaria.

__ADS_1


Dan secara tiba-tiba, ada seseorang yang mengejutkan Anggi dari arah belakang.


"Hai!"


Anggi terjengkit karena terkejut, dengan sebuah tepukan tangan, pada pundaknya.


"Sorry-sorry," ucap orang tersebut, yang merasa bersalah, karena membuat Anggi terkejut, dengan sapaan dan kedatangannya dari arah belakang. Dan dengan tiba-tiba juga.


"Hufhhh..."


Anggi membuang nafas lega, saat membalikan badannya. Dia juga mengelus-elus dadanya, karena rasa kagetnya.


Ternyata, orang yang membuat dirinya terkejut adalah cowok yang tadi, yang sedang dia cari.


Si cowok campuran. Ada timur tengah, ada Chinese juga. 'Unik,' kata Anggi, sambil memperhatikan wajah cowok tersebut.


"Sorry," ucap cowok itu lagi, dengan menunjukkan dua jari tangan, sebagai tanda permintaan maafnya.


"Dari mana?" tanya Anggi, yang tidak menanggapi permintaan maaf yang diucapkan oleh cowok tersebut.


Dia tidak ingin memperhatikan wajah cowok tersebut, dalam waktu yang lama. Anggi tidak mau jika, akan lebih terpesona lagi, dengan wajah yang Unik itu.


Cowok itu, menunjuk ke arah kran air, yang ada tak jauh dari ruangan ganti cewek.


Ternyata, dia mencuci tangannya terlebih dahulu. Cowok itu, tidak perlu mengganti pakaiannya, karena sedari tadi, dia tidak mengikuti kegiatan olah raga.


"Kenapa Kamu tidak ikut olah raga?" tanya Anggi, yang mempunyai rasa ingin tahu yang banyak.


"Tidak apa-apa," jawab cowok itu, tanpa melihat ke arah Anggi.


"Kamu sakit?" tanya Anggi lagi, karena wajah putih cowok tersebut, semakin terlihat pucat saja.


"Tidak. I tidak apa-apa," jawab cowok itu, dengan mengelengkan kepalanya.


Anggi tidak lagi bertanya. Dia hanya mengikuti langkah cowok tersebut, menuju ke arah kafetaria sekolah.


"Jangan berjalan di belakang. Sini!"


Cowok itu, berhenti dan meminta Anggi, yang tadi berjalan di belakang, untuk bersama dirinya.


Jadi sekarang, mereka berdua berjalan beriringan, bersama menuju ke kafetaria sekolah. Yang tentunya, tetap ramai, meskipun jam olah raga belum waktunya untuk selesai.

__ADS_1


__ADS_2