Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Drama Saat Pamit


__ADS_3

Bandara internasional tetap sama seperti biasanya. Sibuk dengan adanya penurunan dan penerbangan, dengan banyak rute. Baik domestik maupun internasional.


Pihak maskapai penerbangan juga ada banyak sekali jenisnya. Baik yang komersial maupun milik perorangan dan bahkan untuk pemerintahan.


Ara dan Anggi, bersama dengan bundanya, sudah sampai setengah jam sebelum jadwal penerbangan yang telah ditetapkan.


Ada keluarga mereka yang ikut serta mengantar ke bandara ini.


Ayah Edi dan ibu Sofie, Nanda bersama dengan keluarganya Miko juga ada.


Tapi, mamanya Nanda, Yasmin, sudah kembali ke kampung, dua hari kemudian setelah acara pertunangan Ara dan Awan dilaksanakan.


Orang tuanya Nanda, memang tidak bisa berlama-lama ada di Jakarta. Karena ada banyak pekerjaan di rumah mereka yang ada di kampung.


"Anggi. Kamu akan lama balik ke Jakarta lagi ya?" tanya Miko, yang duduk di sampingnya Anggi.


"Iya," jawab Anggi singkat, tanpa mengalihkan perhatiannya pada layar handphone yang dua pegang.


Anggi tidak memperhatikan Miko yang merasa kesal, karena dia sendiri sedang bermain game dari handphone milik bundanya.


"Anggi!"


Miko memanggil nama Anggi, dengan suara yang sedikit keras, supaya sepupunya itu mengalihkan perhatiannya dan melihat kearahnya juga.


"Apa?" sahut Anggi datar, dengan menolehkan kepalanya sekilas ke arah Miko.


Tapi dengan cepat, Anggi kembali memperhatikan layar handphone yang dia pegang. Karena merasa takut jika, game yang sedang dia mainkan akan berakhir game over.


"Huhhh!"


Miko tidak lagi berkata apa-apa pada Anggi. Dia hanya bergumam tidak jelas, karena merasa diabaikan begitu saja oleh Anggi.


Sekarang, Miko beralih pada Ara, yang sedang berbicara dengan Eyang putrinya.


"Kak Ara," panggil Miko, dengan berjalan mendekat ke tempat Ara duduk.


Ara menoleh ke arah Miko, kemudian bertanya melalui sorot matanya, "apa?"


Miko duduk di sebelah Ara, kemudian menarik-narik baju kakak sepupunya itu.


"Kak. Handphone bunda ambil gih dari Anggi. Dia gak mau ngobrol dengan Miko," kata Miko, dengan gayanya yang sedang merajuk.


"Hah?"


Ara tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh adik sepupunya itu. Tapi begitu melihat ke arah adiknya, Anggi, barulah Ara paham dengan apa yang dikatakan oleh Miko barusan.

__ADS_1


"Bilang sama Bunda Jani aja ya!"


Tapi Ara justru meminta pada Miko, supaya bicara soal Anggi pada bundanya saja. Dia tidak mau menganggu aktivitas Anggi. Karena bisa jadi, adiknya itu akan ngambek dengan dirinya nanti.


Miko tidak lagi menangis, sama seperti waktu dulu, saat Anggi pergi untuk pertama kalinya ke Amerika sana.


Sekarang, dia sudah cukup mengerti dengan jarak yang memang jauh dan kepentingan mereka yang berbeda.


Tapi, dia hanya ingin bisa bicara banyak dengan sepupunya itu, sebelum Anggi pergi ke Amerika lagi.


Akhirnya, Miko kembali duduk di samping Anggi dan merebut handphone yang masih menjadi pusat perhatian sepupunya itu.


"Eh... Eh..."


Anggi merasa kaget dengan apa yang dilakukan Miko.


"Ah, Miko!"


"Aku gak mau main sama Kamu lagi, jika pulang ke Jakarta!"


Miko tidak peduli dengan raut wajah Anggi yang kelihatan marah dan tentunya sangat kesal. Karena kesenangannya di ganggu.


"Apaan sih!" gerutu Anggi, dengan bibir mengerucut.


Padahal yang sebenarnya adalah, Anggi melakukan semua itu karena dia tidak mau terlihat sedih. Apalagi jika sampai ada drama seperti dulu, dengan Miko yang menangis karena ingin ikut bersama dengannya ke Amerika.


"Hiks Miko..."


Anggi tidak menjawab dan menyahuti perkataan yang diucapkan oleh Miko.


Dia justru menangis, dan segera memeluk sepupunya, yang biasanya sejalur dengannya itu.


"Eh!"


Miko tentu saja merasa kaget, dengan apa yang dilakukan oleh Anggi ini. Dia tidak menyangka jika Anggi akan menangis, karena game nya di ganggu.


"Ah, drama nih," ucap Ara, dari arah yang tidak begitu jauh dari kedua adiknya itu.


"Hehehe... mereka itu kompak ya. Apa aja busa mereka berdua lakukan."


Nanda memberikan komentarnya, tentang apa yang terjadi antara kedua adik sepupunya juga.


"Kamu gak nangis kan Ra?" tanya Nanda, melanjutkan kalimatnya yang tadi.


"Hah, nangis?" Ara justru balik bertanya pada Nanda yang sedang melihat ke arah adiknya dan juga Miko berada.

__ADS_1


"Iya. Siapa tahu, Kamu masih mau nangis. Sama seperti dulu, waktu Kakak tinggal pergi ke Taiwan."


Ara memukul lengan Nanda, dengan berkata, "Iya juga ya Kak. Mungkin Anggi dan Miko juga sama seperti Ara waktu itu."


Acara perpisahan mereka, di bandara, akan segera selesai. Karena terdengar suara pengumuman dari pengeras suara di bandara. Jika para penumpang untuk tujuan ke Atlanta, Amerika, di minta untuk masuk ke dalam boarding gate.


Ternyata, yang dihindari oleh Anggi tetap saja terjadi. Dia menangis juga, pada saat berpamitan pada semua anggota keluarganya yang ikut mengantar mereka.


Bukan hanya pada saat berpamitan dengan Miko saja.


Begitu juga dengan Ara dan Anjani. Mereka juga tetap berurai air mata, pada saat berpamitan.


Padahal, kepergian mereka ini, hanya untuk satu tahun ke depan nanti.


Namun, kesan sedih tetap saja terasa.


Untungnya, pihak keluarga mama Amel, hanya melakukan video call dari rumah. Karena papa Ryan yang sedang tidak enak badan.


*****


Di kantor PT SAMUDERA GROUP.


Elang sedang melakukan metting dengan beberapa petinggi perusahaan, untuk mengurus PT ANTARA GROUPS.


Dia tidak mungkin bisa menanggani perusahaan tersebut sendiri. Jadi, dia memutuskan untuk menugaskan salah satu bawahannya, yang tentu saja berkompeten dalam bidangnya.


"Saya harap, PT ANTARA GROUPS busa cepat bangkit dan mencari jalan keluar dari keterpurukan keuangan. Dan PT SAMUDERA GROUP, pasti akan membantu. Karena sekarang PT ANTARA GROUPS ada di bawah naungan PT SAMUDERA GROUP."


Kasus yang masih berjalan, membuat Elang juga tidak bisa berkonsentrasi hanya pada satu pekerjaan.


Dan dia, tidak mungkin membiarkan mereka-mereka, para pegawai dan karyawan yang bekerja di PT ANTARA GROUPS, terkatung-katung tanpa kejelasan.


Karena mereka juga punya kebutuhan yang harus diperhatikan. Sama seperti para karyawan PT SAMUDERA GROUP lainnya.


Itulah sebabnya, Elang segera mengambil tindakan, untuk mengalihkan segala sesuatu yang menyangkut kepentingan PT ANTARA GROUPS. Yang saat ini juga sudah menjadi miliknya.


Pengacara perusahaan, akan mengurus semua yang diperlukan. Dan pemilik PT ANTARA GROUPS, akan mendapatkan ganjaran, dari apa yang sudah mereka lakukan, bersama dengan manager PT SAMUDERA GROUP Juga.


"Saya harap, kasus seperti ini tidak akan pernah terulang lagi untuk masa yang akan datang."


Begitulah kata-kata yang diucapkan oleh Elang, saat mengakhiri metting kali ini.


Dia tidak bisa ikut mengantar calon menantu dan besannya, Anjani dan anak-anaknya, ke bandara. Karena harus melakukan metting ini juga.


Tapi tadi pagi, sebelum dia berangkat ke kantor. Elang sudah mengirimkan pesan ke Ara. Memintanya supaya berhati-hati dan menyampaikan salam buat bundanya, Anjani, dan kepada ayahnya, saat sudah sampai di Amerika.

__ADS_1


__ADS_2