Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Semua Ada Akhirnya


__ADS_3

Ada banyak jalan dalam mengarungi kehidupan ini. Terjal, lurus, berliku, dan banyak lagi yang kadang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Semua itu adalah hal yang biasa, yang memang harus dijalani, karena dengan semua itu, proses kedewasaan dalam hidup berjalan dan berproses.


Tidak perlu banyak mengeluh, karena itu tidak akan banyak membantu. Tidak perlu banyak bertanya, karena dalam proses kedewasaan itu, akan banyak jawaban yang bisa di dapat, meskipun tidak semua kita sadari sedari awal.


Begitulah kira-kira apa yang sebenarnya terjadi pada sebuah perjalanan hidup. Dan tiap-tiap orang, itu berbeda dengan jalan dan prosesnya. Tidak perlu iri hati, membandingkan dan merasa paling menderita, karena di bawah sana masih banyak yang lebih sengsara dibandingkan dengan apa yang terjadi pada kita.


Begitu juga yang sedang ada pada kebahagiaan dan kepuasan dalam kehidupan, karena di atas langit, masih ada langit.


Percaya dengan apa yang Tuhan berikan. Itu sudah sesuai dengan apa yang kita butuhkan, takarannya juga sudah pasti untuk kita, tidak lebih dan tidak kurang. Tuhan lebih tahu, bagaimana yang terbaik untuk umat. Kita hanya wajib berusaha, berdoa dan pasrah, pada takdir yang telah ditetapkan Tuhan.


*****


Dua hari kemudian, pesta resepsi pernikahan Anjani dan Abimanyu, diadakan di aula sebuah gedung, yang ada di Jakarta.


Pesta tampak meriah dan mewah, karena ayah dan ibunya Abimanyu juga pegawai pemerintahan, yang cukup banyak teman serta kenalan dari berbagai kalangan, baik sesama pegawai pemerintahan maupun dari pengusaha-pengusaha.


Pesta pernikahan ini, juga yang pertama di kelurga mereka, karena Abimanyu adalah anak pertama laki-laki satu-satunya. Jadi, mereka tentunya ingin mendapatkan kesan yang baik dari acara ini untuk kebahagiaan semua.


"Mas. Aku deg-degan, banget nih," kata Anjani, sebelum memasuki ruangan pesta. Dia baru saja selesai di rias.


Abimanyu menarik tangan Anjani, dan menggenggamnya. Dia tahu, Anjani sedang nervous, untuk bertemu dengan banyak orang di pesta pernikahan ini.


"Tenang Sayang, ada Aku di sini," sahut Abimanyu, sambil tersenyum, untuk menenangkan istrinya itu.


Anjani, ikut tersenyum. Dia merasa lebih baik, dengan melihat senyum di wajah suaminya. Dia merasa sangat beruntung, mendapatkan Abimanyu, yang mengerti apa yang dia rasakan.


"Kita keluar sama-sama, nanti ada panggilan dari pembawa acara kok," kata Abimanyu, masih dengan menggenggam tangan Anjani.


"Iya Mas," sahut Anjani dengan wajah yang lebih tenang.


Tak lama, terdengar panggilan dari pembawa acara di luar, untuk kedua mempelai agar bisa hadir ke tengah-tengah pesta.


Musik mengalun dari pengeras suara. Gending Jawa terdengar merdu dan sahdu, menyambut kedatangan kedua mempelai. Semua tamu undangan, ikut menantikan kedatangan mereka berdua, untuk memulai acara pesta ini.

__ADS_1


"Wah, cantik sekali!"


"Ih, serasi Jeng sama mempelai pria."


"Riasannya pas ya, gak tebal, tapi tetap anggun."


"Mau juga jadi pengantin."


"Ganteng banget. Pas kayak namanya, Abimanyu, anaknya Arjuna yang ganteng sedunia."


Banyak sekali komentar-komentar dari para tamu undangan yang hadir dan menyaksikan kedua mempelai. Mereka banyak memuji kecantikan dan keanggunan Anjani yang tampil sederhana tapi tetap terlihat elegan.


Elang, yang hadir bersama dengan Adhisti dan juga mama Amel dan papa Riyan, melihat Anjani dan Abimanyu yang sekarang ada di atas panggung. Elang, melihat mantan istrinya itu dengan tatapan mata yang tidak bisa ditebak.


Adhisti, tersenyum melihat Anjani, yang tampak bahagia dengan senyuman yang menghiasi wajah anggunnya. Dia merasa sangat senang, karena Anjani bisa mendapatkan pengganti suaminya, Elang Samudra, yang kini sudah menjadi satu-satunya suami untuk sendiri.


"Mas. Anjani tampak bahagia ya? semoga mereka langgeng." Adhisti mengatakan itu pada Elang, untuk menyakinkan diri, bahwa Elang sudah benar-benar tidak lagi memikirkan mantan istrinya itu.


"Ya," jawab Elang pendek.


Adhisti melihat ke depan tanpa menyahut. Dia merasa tidak nyaman dengan mama mertuanya itu, mama Amel. Tapi, Adhisti tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya berusaha untuk tetap bersikap baik dan sopan, agar mama mertuanya, tidak lagi bertanya-tanya dan menyudutkan dirinya lagi.


Acara pesta, berlangsung meriah dengan kehadiran beberapa penyanyi dan artis, yang yang memang sengaja di undang, untuk memeriahkan acara pesta pernikahan Abimanyu dan Anjani.


Satu persatu para undangan naik ke panggung, untuk menyampaikan ucapan selamat pada mempelai. Kini tiba giliran keluarga Elang dan mama Amel naik.


"Selamat Jani. Semoga langgeng dan cepat dapat momongan."


Mama Amel, mengucapkan selamat pada Anjani, sambil memeluk Anjani.


"Terima kasih Ma," jawab Anjani, yang ada di dalam pelukan mama Amel. Mereka berdua, saling berpelukan dan menyalurkan dukungan.


"Abi, jaga Anjani ya. Jangan kecewakan dia," pesan mama Amel, pada Abimanyu.

__ADS_1


"Siap Tante. Itu sudah jadi kewajiban Abi sekarang," jawab Abimanyu sambil mengangguk.


Papa Riyan, juga melakukan hal yang sama seperti istrinya, mama Amel. Tapi, dia memeluk Abimanyu, layaknya laki-laki pada umumnya.


"Selamat untuk kalian berdua," ucap papa Riyan, sambil tersenyum dan mengangguk.


"Terima kasih Om."


"Terima kasih Pa," jawab Anjani, yang bersamaan dengan Abimanyu juga.


Kini, tiba giliran Elang dan Adhisti yang berada di depan kedua mempelai.


"Jani, maaf untuk yang kemarin-kemarin. Semoga, Kamu bisa menemukan kembali kebahagiaan dengan Abimanyu, suamimu yang sekarang," ucap Elang, dengan menyalami Anjani, mantan istri pertamanya itu.


"Aamiin, terima kasih Mas. Semoga, Mas Elang juga berbahagia dengan mbak Adhis tanpa ada halangan yang berarti."


"Iya terima kasih," kata Elang, kemudian berganti menyalami Abimanyu.


Adhisti, ganti memeluk Anjani dengan perasaan yang campur aduk. Dia merasa sangat bersalah tapi juga bersyukur karena pada akhirnya mereka berdua bisa memperbaiki hubungan dengan baik.


"Jani, maafkan Mbak ya. Mbak banyak salah sama Kamu," kata Adhisti dengan mata berkaca-kaca menahan air mata.


"Iya Mbak, sama-sama. Jani, juga minta maaf ya jika ada banyak salah selama ini."


Adhisti hanya mengangguk. Dia tidak mampu menjawab dengan suaranya. Tenggorokannya, terasa tersumbat sehingga tidak bisa mengeluarkan suara.


Suasana pesta, berlangsung meriah dengan para tamu yang terus berdatangan. Anjani dan Abimanyu, juga selalu menebar senyum pada semua orang yang datang mengucapkan selamat kepada mereka.


"Capek ya Sayang?" tanya Abimanyu, pada Anjani yang tampak payah dengan gaun pengantin dan hiasan kepala yang berat.


Anjani tidak menjawab. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum tipis karena merasa tidak enak, ketahuan jika sedang merasa capek.


"Duduklah, Aku akan turun dan mengambil minuman untukmu," kata Abimanyu, pamit untuk turun dari panggung dan mengambilkan minuman untuknya.

__ADS_1


"Terima kasih Mas," ucap Anjani, yang tampak bahagia karena suaminya itu penuh dengan perhatian dan memaklumi kondisinya yang sudah payah dan merasa capek.


Dari sudut pangung, kedua adik ipar Anjani, saling berbisik-bisik, menggunjing Anjani yang katanya manja pada kakak mereka.


__ADS_2