Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Ingin Tahu


__ADS_3

"Wah, maaf ya Bro. Kita gagal jalan-jalan."


Awan, mengantar temannya pulang ke rumah, karena mereka berdua tidak jadi jalan-jalan sore ini.


"Ah, gak apa-apa. Tapi kejadian tadi seru ya Bro. Gue aja gak nyangka, bisa berantem sama preman-preman tadi. Asal ngawur aja tadi. Hahaha..."


Kini, mereka berdua sedang berbincang-bincang di teras depan rumah temannya Awan. Dia tidak langsung pulang, karena butuh istirahat sebentar.


"Bentar ya, gue ambil minum dulu!"


Awan mengangguk, saat temannya pamit masuk ke dalam rumah, untuk mengambil air minum. Sekarang, Awan memeriksa beberapa luka lebam yang ada pada lengan dan kakinya. Dia meringis, saat menyentuh lebam yang ada di lengan. Sepertinya, lebam itu yang sedikit parah, dibanding dengan luka dan lebam di tempat yang lainnya.


"Bagaimana, ada yang luka?" tanya temannya, saat keluar dengan membawa botol air minum untuknya.


"Gak sih. Cuma memar dan nyeri dikit," sahut Awan mengeleng, mendengar pertanyaan dari temannya itu.


"Nih minum dulu. Gue cari obat buat luka memar dulu," kata temannya, dengan meletakkan botol air minum tadi. Setelah itu, dia kembali ke dalam rumah, untuk mencari obat-obatan yang diperlukan untuk luka Awan dan juga lukanya sendiri.


Awan memeriksa luka-lukanya lagi. Baru setelah itu meminum air yang disediakan oleh temannya.


Tak lama kemudian, temannya datang dengan obat-obatan yang dia bawa.


"Ini, bisa sendiri apa perlu gue bantu?" tanya teman Awan, sambil menyerahkan obat itu pada Awan.


"Sini! bisa sendiri gue."


Awan mengambil obat tersebut. Setelah itu, dia mengoleskan obat itu pada luka-lukanya.


Awan meringis saat obat-obatan itu mengenai lukanya.


"Bagaimana, bisa sendiri?" tanya teman Awan, saat melihat Awan yang meringis kesakitan.


Awan hanya mengangguk saja. Dia masih mengoleskan obat itu pada beberapa luka yang ada di kakinya.


"Nih! Periksa juga luka-luka Kamu. Kalau gak bisa, gue bantu."


Awan menyerahkan obat tersebut pada temannya, karena dia melihat ada luka juga di tangan temannya.


Teman Awan meringis canggung, karena dua tidak menyadari jika dirinya juga terluka akibat perkelahian tadi. Tapi, karena luka Awan yang terlihat jelas dan ada banyak, dua jadi tidak memperhatikan keadaan dirinya sendiri.


Setelah semua selesai, Awan pamit untuk pulang. "Gue pulang dulu ya. Mau tidur, biar gak terasa sakit."


"Tidur sini aja Bro. Gak ads orang kok di rumah. Hanya bibi saja yang ada," jawab temannya, menyarankan untuk tidur di rumahnya terlebih dahulu.


"Gak. Gue pulang saja. Entar oma gue nyari-nyari, dan telpon juga. Mending di rumah, biar oma juga gak khawatir. Gue pulang dulu ya Bro!"

__ADS_1


Awan menolak tawaran dari tempatnya itu. Dia tidak mau membuat omanya, mama Amel, merasa khawatir, begitu juga dengan ayahnya, Elang, karena dia tidak ada di rumah. Meskipun tadi dia sudah berpamitan dengan bibi pembantu, yang ada di rumah.


*****


Hati manusia itu, kadang kala berubah-ubah. Dia lemah untuk waktu tertentu. Namun, ada saatnya dimana hati akan menjadi keras.


Entah karena alasan apa pun, begitulah sesungguhnya hati manusia biasa, yang memang tidak tahu apa yang diinginkannya dalam kehidupan yang juga sering berubah.


Ada masa hati bahagia, tapi ada waktunya untuk bersedih juga. Karena memang begitu juga rasa yang ada dalam perjalanan hidup.


Kebahagiaan berdampingan dengan kesedihan. Karena sesungguhnya kehidupan ini berdampingan dengan semua rasa yang ada. Tidak akan bisa menjadi satu, karena lika liku kehidupan yang ada itu komplit, sempurna dengan segala sesuatunya.


*****


Sehari kemudian, di kota Bogor.


Di sebuah pemakaman umum daerah Bogor.


Tampak seorang laki-laki yang berjongkok dengan khusyuk berdoa.


Saat baru saja datang, dia tampak menabur bunga dan menyiram air di atas pemakaman tersebut. Baru setelah itu dia berdoa.


Setelah semua selesai, dia menarik nafas panjang sambil melihat ke arah langit. Membuang rasa bersalah dan sesak yang tiba-tiba datang dalam hati.


Penyesalan yang dia rasakan saat ini, tidak mungkin bisa dia ulang dan perbaikan. Hanya ada doa dan harapan yang baik, yang bisa dia lakukan kali ini. Karena semua sudah berlalu, dan waktu juga sudah berganti. Tidak lagi sama seperti waktu dulu.


Begitulah doa yang bisa dia panjatkan, untuk harapan waktu kedepannya. Dia hanya bisa meminta maaf, untuk semua kesalahan yang sudah dia dilakukan, meskipun itu tidak dia ketahui dan sadari sendiri.


Kini, dia hanya bisa menyesalinya, tanpa bisa melakukan perbaikan apa-apa. Dia pasrah pada perjalanan waktu yang menguasai takdir.


Hal yang sama untuk semua manusia. Karena sang waktulah yang tahu, apa yang akan terjadi di depan sana.


Laki-laki tadi beranjak dari posisinya yang sedang berjongkok. Dia berdiri dan mengusap nisan itu sebelum pergi. Dia menatap nanar ke arah batu nisan itu.


"Maafkan Elang Yah. Elang tidak pernah nyekar ke sini. Elang terlalu sibuk dengan kehidupan Elang sendiri. Elang pamit duku Yah."


Ternyata, laki-laki itu adalah Elang. Dia pergi ke pemakaman tersebut untuk nyekar ke makam ayah Anjani, mantan mertuanya, yang dulu meninggal dunia karena kecelakaan yang terjadi dan dia sendiri adalah penyebab kecelakaan itu.


Dia melangkah meninggalkan makam tersebut, tapi sebelum langkah ke lima, dia berpapasan dengan seorang laki-laki yang sedang mengandeng seorang gadis kecil, yang baru tumbuh remaja.


"Mas Elang."


"Abi. Abimanyu?"


Mereka berdua saling menyebutkan nama, untuk menegur, kemudian bersalaman dan berpelukan ala laki-laki pada umumnya, secara dewasa. Melupakan ego masing-masing, yang kadang ada pada waktu tertentu.

__ADS_1


Elang mengingat laki-laki yang baru saja datang. Dia adalah Abimanyu, suaminya Anjani, mantan istri sirinya, yang dia ceraikan, saat dia sedang sakit dan berada di rumah sakit.


Abimanyu juga ingat, siapa laki-laki yang saat ini ada didepannya. Laki-laki yang menjadi suami pertama istrinya. Mantan suami, lebih tepatnya. Anak dari bos-nya, mama Amel, yang selalu berbaik hati padanya dan juga keluarganya.


"Mas Elang..."


"Iya, Aku datang nyekar ke makam ayah. Maaf, aku hanya datang untuk berdoa. Sudah lama sekali Aku tidak datang ke sini."


Abimanyu tidak meneruskan kalimatnya, karena dipotong oleh Elang.


Sekarang, Elang melihat ke arah gadis kecil yang ada di samping Abimanyu. "Dia... Dia Ara?" tanyanya kemudian sambil mengingat-ingat.


"Iya. Dia Ara, anak kami."


Abimanyu mengiyakan pertanyaan dari Elang. Dia meminta pada Ara, untuk menyalami Elang.


"Ara. Ini Om Elang. Dulu Kamu sudah kenal, tapi waktu itu Kamu masih kecil, dan tentunya sekarang lupa. Ayo salim Sayang!" kata Abimanyu, meminta anaknya, Ara, untuk bersalaman dengan Elang.


"Udah besar ya Ara. Kelas berapa?"


Elang tersenyum, saat Ara menyalami dan mencium tangannya. Dia juga bertanya pada Ara, tentang hal umum untuk anak-anak.


"Kelas enam Om," jawab Ara dengan malu-malu.


$Wah, berarti tahun ajaran baru udah naik kelas tujuh ya? Yang rajin ya, semoga cita-cita Ara tercapai," ucap Elang mendoakan keberhasilan Ara.


"Aamiin."


"Aamiin."


Ara dan ayahnya, Abimanyu, sama-sama mengamini harapan dan doa yang dikatakan oleh Elang.


"Ya sudah. Aku duluan ya Bi, Ara," pamit Elang pada Abimanyu dan juga Ara.


"Iya Mas, hati-hati." Abimanyu mengangguk dan juga tersenyum.


Ara, hanya mengangguk saja, sambil memperhatikan laki-laki yang ada di depannya saat ini. Dia ada banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan pada ayahnya nanti, tentang om Elang, yang baru dia kenal tadi.


Setelah Elang berjalan jauh dari tempat mereka berdua, Ara segera bertanya pada ayahnya. "Yah, tadi itu siapa? kok nyekar ke makam kakek?"


"Kan tadi udah kenalan, kok masih tanya juga?" jawab Abimanyu, dengan sebuah pertanyaan juga untuk anaknya. Dia bingung, mau bagaimana caranya menjelaskan pada anaknya itu, tentang Elang.


Abimanyu kebingungan sendiri, saat mau menjelaskan pada Ara, tentang hubungannya dengan bundanya, Anjani, yang sudah berakhir.


Tapi, jika tidak dijelaskan, Ara akan terus bertanya-tanya karena ingin tahu.

__ADS_1


Akhirnya, Abimanyu mengatakan bahwa, dia akan menjelaskan tentang Elang pada Ara, nanti setelah mereka berdua selesai nyekar, dan berdoa ke makam kakeknya. Ayahnya Anjani.


__ADS_2