Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Sebuah Keputusan


__ADS_3

"Anggi ikut pulang ke Indonesia."


Abimanyu dan Anjani saling pandang, saat mendengar perkataan anaknya yang bontot itu.


Saat ini, mereka sedang bersiap untuk sarapan pagi. Dan tiba-tiba, Anggi yang baru saja mendudukkan dirinya di kursi, mengatakan keputusannya.


Ara, yang sudah duduk terlebih dahulu, tersenyum tipis. Mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya.


Itu adalah keputusan yang sama, yang sudah diambil oleh Anggi semalam.


"Jadi..."


Anjani mengantungkan kalimatnya, karena ingin mendengar alasan yang membuat Anggi mengatakan keinginannya untuk ikut pulang bersama mereka ke Indonesia.


"Ya Anggi ikut pulang bersama Ayah dan juga Bunda ke Indonesia."


Anjani melihat ke arah suaminya, yang sedang melihat kearahnya juga.


"Yakin Dek?" tanya Abimanyu, untuk mengetahui apakah benar Anggi ingin pulang, atau besok akan meminta untuk tetap berada di Amerika.


"Iya Yah. Anggi ingin pulang. Lagian, setahun kemudian, di saat kakak nikah, dia tinggal dengan kak Awan. Gak butuh Anggi. Terus Anggi bagaimana?"


Ara terbelalak mendengar jawaban yang diberikan oleh adiknya itu. Karena semalam, tidak ada pembahasan soal tersebut.


"Adek!"


"Hehehe... peace Kak," sahut Anggi cepat, karena dia tahu, jika kakaknya itu merasa tidak nyaman, dengan apa yang dia katakan barusan.


"Kenapa? bukannya yang dikatakan oleh Anggi benar?"


Sekarang, Abimanyu justru bertanya kepada anaknya, Ara, dengan maksud ingin menggodanya.


"Ih, Ayah. Gak gitu juga kali," ucap Ara, menyahuti perkataan ayahnya dengan wajah masam.


Anjani hanya tersenyum tipis, melihat drama suaminya, dengan kedua anaknya itu. Dia tahu jika, suaminya dan juga anaknya, Anggi, ingin menggoda Ara saja.


"Apa Kakak juga mau ikut pulang bersama kami ke Indonesia?" tantang Anggi, memberikan pilihan bagi kakaknya.


"Nanggung Dek. Tinggal dikit lagi Kakak lulus. Masa iya, ditinggal begitu saja?"


Anggi meringis karena tahu, jika kakaknya itu tidak mungkin bisa melepaskan pendidikannya yang tinggal setahun lagi.


"Seorang calon istri dari Awan Samudra, gak perlu titel dan bekerja Kak. Semua sudah disediakan!"


"Adek. Bukan seperti itu tujuan Kakak nikah dengan kak Awan."

__ADS_1


Ara protes dengan apa yang diucapkan Anggi, untuk pernikahannya dengan Awan.


Dan ayah serta bundanya, juga mengangguk mengiyakan apa yang dia katakan pada adiknya, Anggi.


Sekarang, Ara jadi memberikan pengertian kepada adiknya, apa tujuan dari sebuah pernikahan.


Titel dan segala macamnya, juga bukan untuk sebuah gengsi hidup. Bukan juga untuk tujuan akhir, agar bisa bekerja di sebuah perusahaan dengan posisi yang tinggi.


Anggi hanya meringis saja, mendengarkan semua perkataan kakaknya, yang mirip dengan sebuah ceramah.


"Sudah-sudah. Ayo makan!"


Anjani menghentikan apa yang mereka bicarakan. Dia mengajak keduanya dan bersama dengan Abimanyu juga, agar segera memulai acara makan mereka.


*****


Di Jakarta.


Nanda semakin dekat dengan Mita, yang sekarang ini sudah sendiri tanpa Dika. Meskipun sebenarnya, Mita belum pernah ada kata putus dari kekasihnya, Dika.


Nanda sering menemani Mita untuk berobat ke rumah sakit. Dia juga menemani Mita, jika ingin berjalan-jalan, atau nonton film di bioskop.


Papa dan mamanya Mita, merasa senang, karena anaknya tidak lagi merasa sedih.


Mamanya Mita justru merasa bersyukur, karena Nanda, jauh lebih baik dan sopan pada siapapun. Termasuk kepada para pembantu yang ada di rumahnya ini.


"Pa. Mama seneng deh Pa sama kedekatan Mita dengan Nanda itu."


Mamanya Mita, mengatakan apa yang dia rasakan, pada suaminya. Di saat keduanya bersiap untuk tidur.


"Iya Ma. Papa juga merasa bahagia sekali. Karena Mita tidak lagi banyak berpikir tentang Dika."


"Oh ya Pa. Kok si Dika gak ada kabarnya. Memang dia sekarang ini ada di mana?" tanya mamanya Mita, yang merasa penasaran dengan keberadaan Dika yang tidak ditemukan.


"Entahlah Ma. Semoga saja dia tidak kenapa-kenapa, dan juga sehat-sehat saja."


Meskipun keduanya tidak respek terhadap Dika, tapi mereka tetap berpikir positif, dengan keberadaan Dika yang sudah pernah memberikan kebahagiaan untuk anaknya.


Bagaimanapun juga, Dika juga pernah berbuat baik kepada keluarganya. Terutama pada anak semata wayangnya itu.


"Ya Ma. Semoga saja, terapi yang dilakukan oleh Mita, bisa menolong dirinya agar bisa kembali sehat lagi. Apapun yang dia putuskan untuk masa depannya nanti, entah dengan siapapun besok dia mau menikah, Papa juga tidak mau membuat dia merasa terpaksa."


"Iya Pa. Mama hanya berharap agar Mita bisa mendapatkan pendamping hidup yang bisa membuatnya bahagia."


Begitulah harapan kedua orang tuanya Mita. Mereka berdua, tidak lagi memikirkan banyak hal, tentang kerugian yang sudah mereka berdua alami, saat bekerja sama dengan perusahaan milik keluarganya Dika.

__ADS_1


Apalagi sekarang ini, PT ANTARA GROUPS sudah diambil alih oleh PT SAMUDERA GROUP.


Jadi, kerja sama mereka masih bisa dilanjutkan lagi, tanpa harus merasa dirugikan.


*****


Kehidupan Wawan juga sudah berubah. Sekarang, dia mau rujuk kembali dengan Mami.


Tapi, tentu saja Mami tidak mau ambil resiko yang lebih besar, dengan menikahi Wawan secara resmi.


Dia mau di ajak rujuk lagi dengan Wawan, tapi dengan syarat hanya menikah secara siri saja.


Mami berpikir bahwa, semua akan mudah diatasi, jika tidak ada dokumen-dokumen yang perlu di urus, jika sampai ada perpisahan lagi ke depannya nanti.


Dia merasa rugi, karena proses perceraian mereka yang dulu, hanya Mami saja yang repot mengurusnya. Dengan semua biaya dan waktu yang harus dia lakukan.


"Mi. Aku gak akan ulangi itu lagi Mi." Wawan berkata, menyakinkan istrinya.


"Udah Mas. Pokoknya kalau mau ya dengan syarat yang Aku minta. Tapi kalau gak mau juga gak apa-apa kok," sahut Mami datar.


Wawan menghela nafas panjang. Dia tidak bisa melakukan negosiasi lagi dengan calon istrinya, yang kedua kalinya itu.


"Ya sudah gak apa-apa. Aku juga gak perlu surat keterangan yang lainnya, jika menikah siri," kata Wawan menurut.


Wawan berpikir bahwa, perceraiannya dengan istrinya yang terakhir kemarin itu, yang belum resmi berpisah juga, tidak perlu diurus.


Apalagi tidak ada anak di antara mereka berdua.


Tapi Mami juga tidak tahu jika, calon suaminya itu belum mendapatkan surat cerai dari istrinya yang terakhir.


Itulah sebabnya, dia mau diajak untuk rujuk kembali dengan Wawan.


Dia berpikir bahwa, antara Wawan dan istrinya yang setelah dua, benar-benar sudah resmi bercerai.


Dan semua itu akan membawa dampak yang tidak pernah di sangka oleh sang Mami. Karena jika di mata dunia, Mami biasa disebut sebagai seorang pelakor.


Sama seperti yang dulu dia sangkakan pada janda, yang bekerja di konter laundry.


Itu semua karena, kesalahan informasi dan keterangan yang diberikan oleh Wawan padanya.


Mami tidak sadar jika, dia kembali dimanfaatkan oleh Wawan.


Laki-laki yg akan menjadi suaminya, untuk kedua kalinya.


"Kita ke penghulunya kapan Mi?" tanya Wawan, karena sudah tidak sabar menjadi seorang pengusaha barang-barang bekas lagi. Sama seperti dulu.

__ADS_1


__ADS_2