Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Cemburu


__ADS_3

"Kak."


Ara memanggil Awan, yang fokus pada jalanan. Karena dia sedang dalam keadaan menyetir.


"Hemmm... Ada apa Dek?" tanya Awan, menyahuti panggilan dari istrinya itu.


"Besok... besok Ara boleh gak ke rumah Bunda? Ara kangen Bunda, Anggi dan Ayah juga."


"Meskipun tadi ketemu sama Ayah, tapi kan tetap beda jika berada di rumah Kak," ujar Ara, mengatakan keinginannya untuk bisa datang ke rumah ayahnya.


"Emhhh... apa kita langsung ke sana saja malam ini?" tanya Awan, yang tidak secara langsung menyetujui permintaan istrinya itu.


"Tapi... kita kan belum bilang sama ayah Elang. Sama Oma dan Opa juga. Nanti kita di tunggu mereka Kak," jawab Ara, yang merasa tidak enak hati karena sedari pagi, mereka berdua memang sudah keluar dari rumah. Dengan semua keperluan mereka tadi.


"Jadi, gak apa-apa jika kita ke rumah ayah Abi besok saja?" Awan bertanya memastikan jika, istrinya itu tidak keberatan jika harus ke rumah ayahnya besok pagi saja.


"Iya Kak. Kak apa-apa. Makasih ya Kak!"


Ara menjawab dengan cepat, dan tersenyum senang. Dia merasa sangat bahagia, karena suaminya ini, tidak memaksanya untuk melakukan sesuatu yang dia inginkan saja. Tapi, mendiskusikan apa saja dengan dirinya juga.


"Kak."


Ara kembali memanggil suaminya. Setelah mereka berdua terdiam sejenak.


"Hemmm..."


Awan menyahuti dengan gumamam yang tidak jelas, sambil menoleh ke arah istrinya sekilas. Karena dia harus tetap berkonsentrasi, pada jalan Jakarta pada malam hari.


"Kira-kira, kapan ya kak Dika sadar?" tanya Ara, yang ternyata menanyakan tentang keadaan Dika.


"Tadi dokter sudah menjelaskan Ra. Kok sekarang tanya Kakak?"


Ara cepat menoleh ke arah suaminya. Karena sekarang, panggilan Awan bukan Dek lagi. Tapi hanya dengan namanya saja. Itu artinya, ada sesuatu yang terjadi pada Awan.


'Kak Awan capek ya? Apa dia kesal karena Aku ajak bicara terus?' batin Ara, tanpa mau bertanya kepada Awan.


Di dalam hatinya Awan, dia merasa sedikit kesal. Karena istrinya itu, membicarakan tentang Dika. Yang jelas-jelas cowok lainnya, yang dulu diketahui sebagai seseorang yang berambisi untuk mendapatkan istrinya ini.


"Kak."


"Kak Awan!"


Ara kembali memanggil suaminya, karena sedari tadi, Awan diam dan tidak mau menyahuti panggilannya.


"Hufhhh..."

__ADS_1


Terdengar nafas yang dibuang kasar. Sehingga membuat Ara menolehkan kepalanya, menatap ke arah suaminya itu.


"Kakak marah?" tanya Ara, yang mulai mengerti. Bagaimana keadaan Awan sekarang.


Awan masih diam dan tidak menjawab pertanyaan tersebut.


Akhirnya, mereka berdua sama-sama terdiam, dan tidak lagi membicarakan hal apapun itu. Bahkan sampai mereka berdua tiba di rumah.


Mereka berdua juga masuk ke dalam rumah, tanpa banyak bicara. Hanya mengucapkan salam dan menyalami tangan mama Amel, yang kebetulan sedang berada di ruang tengah.


Sedangkan papa Ryan dan Elang sendiri, sedang berada di ruangan kerja. Mereka berdua sedang berdiskusi tentang pekerjaan di kantor.


"Kalian berdua baik-baik saja?"


Mama Amel bertanya pada keduanya, yang sama-sama masih terdiam.


"Emhhh... gak apa-apa Oma."


Jawaban yang diberikan oleh Ara, membuat mama Amel semakin curiga jika, kedua anak muda di hadapannya ini, memang sedang tidak baik-baik saja.


"Duduk sini dulu Ra!"


Mama Amel, menepuk sofa di sebelahnya. Meminta pada Ara, supaya duduk terlebih dahulu.


Ara mengikuti kemauan mama Amel. Sedangkan Awan, pamit untuk pergi ke kamarnya. "Awan mau mandi dulu Oma."


Setelah Awan pergi, mama Amel bertanya pada Ara. "Kalian berdua baik-baik saja?"


"Emhhh... Iya-iya Oma. Kami baik-baik saja."


Jawaban Ara yang tampak gugup, membuat mama Amel tersenyum tipis. Dia merasa sangat yakin jika, keduanya memang sedang bermasalah.


"Dari mana kalian tadi?"


"Dari rumah sakit Oma."


"Rumah sakit? Ada masalah apa, kok sampai ke rumah sakit segala?" tanya mama Amel, yang takut jika keduanya dalam masalah besar.


"Gak apa-apa kok Oma. Hanya menjenguk kak Dika. Dia sedang koma."


Mama Amel mengerutkan keningnya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Ara.


Sekarang, mama Amel meminta Ara untuk bercerita tentang siapa Dika. Dan apa yang terjadi pada mereka berdua setelah pulang dari kantor lawyer tadi siang.


Akhirnya, Ara pun memberikan penjelasan kepada mama Amel. Tentang bagaimana pertemuan mereka di kantor lawyer. Setelah itu, Ara juga bercerita tentang kegiatannya ke rumah sakit, ke rumah tahanan negara dan kembali lagi ke rumah sakit. Baru setelah itu mereka berdua pulang ke rumah.

__ADS_1


Mama Amel mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Ara barusan.


Dia bisa menarik kesimpulan bahwa, cucunya, Awan, sedang cemburu. Ini karena Ara juga tidak peka, dan terus membicarakan tentang Dika di saat mereka berdua sedang perjalanan pulang tadi.


"Kamu tahu tidak kenapa Awan jadi dingin seperti tadi?" tanya mama Amel, memancing Ara.


Tapi ternyata Ara mengelengkan kepalanya, sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut.


Mama Amel tersenyum. Dia tahu, Ara tidak begitu paham dengan sikap Awan yang sedang cemburu. Mungkin ini karena hubungan antara mereka berdua, sedari dulu aman-aman saja. Tidak ada kendala yang berarti, selama mereka menjalin hubungan sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah.


"Itu karena suami Kamu cemburu Sayang."


"Cemburu? Sama kak Dika Oma?" tanya Ara, memastikan jika yang dia tebak benar.


Mama Amel mengangguk mengiyakan pertanyaan tersebut, dengan yakin.


"Ini sudah dari dulu Oma? Tapi dulu kak Awan biasa saja. Padahal dia kan tahu, jika kak Dika suka dengan Ara sejak sekolah."


"Kamu kan juga tahu Ara, bagaimana keadaan Awan. Dia itu susah ditebak karena diamnya. Mungkin, dulu dia diam karena merasa belum menjadi suaminya Kamu. Jadi, dia tidak punya hak untuk mengekang dan mendominasi diri Kamu seorang diri."


"Beda dong dengan sekarang ini. Dia merasa jika Kamu itu udah jadi miliknya. Jadi, gak boleh bicara soal laki-laki lainnya, jika sedang berdua."


Sekarang Ara paham dengan maksud mama Amel. Dia tersenyum, dan mengengam tangan omanya itu.


"Terima kasih Oma. Ara akan minta maaf pada kak Awan sekarang."


"Iya pergilah!"


Ara pamit dan beranjak dari tempat duduknya. Dia pergi ke kamar, menyusul suaminya yang tadi pamit untuk mandi.


"Pasangan muda itu selalu ada saja yang dijadikan alasan untuk ngambek-ngambek. Padahal, nanti juga akan mesra lagi. Hehehe..."


Mama Amel terkekeh sendiri, saat bergumam seorang diri.


"Ma. Mama gak kesurupan kan?"


"Hah Papa! Ngagetin Mama aja sih!"


Papa Ryan yang tiba-tiba muncul dan menegurnya, tentu membuat mama Amel kaget. Apalagi, tadi dia sedang memikirkan kedua cucunya. Yang sedang dalam keadaan perang dingin.


"Ada apa?" tanya papa Ryan, yang ingin tahu juga, apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu sekarang ini.


"Gak apa-apa Pa."


Tapi mama Amel tidak mau membicarakan tentang persoalan rumah tangga cucunya. Meskipun itu dengan papa Ryan sendiri.

__ADS_1


Mama Amel berharap jika, kedua cucunya itu bisa mengatasi permasalahan-permasalahan mereka berdua, dengan cepat dan baik-baik saja. Dan tidak ada permasalahan yang besar, yang harus membuat mereka berdua melewati cerita yang sama seperti kedua orang tuanya dulu.


__ADS_2