
"Naik apa ya dia?"
Awan bertanya-tanya sendiri, sambil terus memperhatikan beberapa angkutan yang lewat.
Dari beberapa angkutan yang dia periksa, tidak ada yang melihat keberadaan Ara. Padahal, jika dihitung dari jumlah angkutan yang dia kejar, dengan lamanya waktu saat Ara naik ke angkutan, Awan yakin jika dia masih bisa mengejarnya.
Tapi sepertinya dia belum bisa mendapatkan hasil, dari usaha yang dia lakukan, untuk mengejar Ara.
"Apa Nanda... sudah ketemu Ara lebih dulu ya tadi?"
Sekarang, Awan berpikir yang lain lagi. Dia berpikir bahwa, Nanda sudah menemukan Ara, dan mengajaknya pulang, sebelum dia datang dan mencarinya.
"Aku tanya Om Abi gak ya? takutnya, Ara atau Nanda belum pulang, dan Om Abi jadi tambah khawatir. Terus, Aku gimana enaknya ini?"
Awan merasa bingung, dengan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Dia ingin bertanya pada Abimanyu, ayahnya Ara, tapi Awan juga bingung, dengan alasan yang harus dia katakan, untuk mengetahui, apakah Ara sudah ada di rumah, atau belum.
Dia benar-benar merasa bingung, dengan apa yang seharusnya dia lakukan.
"Hubungi Om Abi gak ya?" gumam Awan, menimbang-nimbang, apa yang harus dia lakukan sekarang ini.
Namun di saat Awan sedang dalam kondisi bimbang, dia melihat bayangan Ara, yang sedang berjongkok, untuk membetulkan tali sepatu.
Dengan cepat, Awan berlari menuju ke arah tempat Ara berada. Namun sayangnya, itu bukan Ara. Hanya postur tubuhnya saja yang mirip dengan Ara.
"Eh, maaf Mbak. Saya pikir teman Saya tadi," ucap Awan, saat mengetahui bahwa, cewek tersebut bukannya Ara yang dia cari.
"Ya Mas. Tidak apa-apa kok."
Dengan membuang nafas panjang, Awan kembali ke tempat motornya berada, di trotoar, yang tidak jauh dari halte bus.
"Ara. Kamu di mana?"
Kembali Awan bergumam, dan bingung sendiri, karena dia belum juga menemukan keberadaan Ara.
Di saat masih dalam keadaan bingung dan cemas, Awan terkejut dengan suara seseorang, yang menyapanya dari arah belakang.
"Kak Awan bukan?"
Dengan cepat, Awan menoleh ke belakang karena merasa mengenali suara siapa yang menegurnya kali ini.
Dalam keremangan senja yang hampir berganti dengan malam, Awan melihat Ara, yang sedang memegang minuman Boba, yang sedang trend sebagai minuman gaul saat ini.
Awan masih terpana, melihat keberadaan Ara, yang sedari tadi dia cari-cari. Dan kini, Ara justru ada di dekatnya, dan Ara juga yang menegurnya. Itu artinya, Ara yang sudah menemukan dirinya. Jadi kebalikan dari hal yang sebenarnya.
__ADS_1
"Kak. Kakak sedang apa?" tanya Ara lagi, karena pertanyaannya yang tadi, belum dijawab juga oleh Awan.
"Eh, emhhh... itu, emhhh... sedang cari minum. Kayaknya Aku haus nih!"
Ara memicing melihat keadaan Awan. Apalagi, jawaban yang diberikan oleh Awan, juga terdengar gugup dan tidak pasti. Itu artinya, Awan sedang berbohong.
"Kakak mau ini? belum Ara minum kok," kata Ara, menawarkan minuman Boba yang dia pegang.
Satu tangan Ara, yang kanan, memegang gelas minuman Boba, sedang yang satunya lagi, tangan yang kiri, memegangi kado, yang ada di plastik besar. Kado pemberian dari Dika.
Awan tidak langsung menerima gelas, yang disodorkan oleh Ara padanya. Tapi dia justru melihat ke arah kado, yang ada di tangan kiri Ara.
"Kamu dari mana?" tanya Awan, yang berpikir bahwa, Ara dari toko atau mana saja, untuk membeli kado, yang saat ini dia jinjing dengan plastik.
"Dari sekolah Kak. Emang dari mana?"
Jawaban yang diberikan oleh Ara, membuat Awan bingung.
"Biasanya bareng Nanda. Mana dia?" tanya Awan lagi, yang pura-pura tidak tahu, jika tadi Nanda justru mencari-cari keberadaannya juga.
"Kakak mau gak ini?"
Pertanyaan yang diajukan oleh Ara, sepertinya ingin mengalihkan perhatian Awan, supaya tidak membahas tentang Nanda.
"Mau pulang?" tanya Awan, dengan maksud untuk menawari Ara, supaya dia antar pulang ke rumah.
"Ara naik angkutan."
"Kakak antar Ra. Nanti bunda khawatir, jika Kamu pulang sendiri, dengan naik angkutan."
Alasan yang dikatakan oleh Awan, membuat Ara kembali sadar, jika dia tidak seharusnya ngambek dengan Nanda, yang mengharuskan dirinya pulang sendiri.
Selain kekhawatiran yang dirasakan oleh bundanya, sikapnya ini akan membuat kakak sepupunya, Nanda, merasa bersalah, dan tidak berani pulang terlebih dahulu, sebelum menemukan keberadaan dirinya.
"Ara pulang."
Tapi sebelum Ara berjalan menjauh, menuju ke halte bus, Awan menarik tangannya. "Ikut Kakak. Nanti Kakak antar," kata Awan, meminta pada Ara, supaya mau ikut pulang bersama dengannya.
"Tapi, itu akan membuat Kakak pulang semakin malam." Ara menolak tawaran tersebut, dengan cara halus.
"Tidak. Pokoknya, ikut Kakak, atau Kakak akan ngadu ke Om Abi, jika Kamu pulang naik angkutan umum. Sendirian."
Ternyata, ancaman yang diucapkan oleh Awan, membuat Ara menjadi ragu dan juga cemas. Dia tidak mungkin bisa menolak tawarannya Awan lagi, jika sudah menyangkut perasaan bunda dan juga ayahnya.
__ADS_1
Ara tidak mau membuat bunda dan ayahnya cemas, serta khawatir, dengan keadaan dirinya. Karena semua ini menyangkut keselamatan dirinya sendiri, sebagai seorang cewek.
Setelah berpikir sebentar, dengan segala pertimbangan yang dipikirkan oleh Ara, akhirnya dia mau menerima tawaran dari Awan, yang ingin mengantarkan dirinya pulang ke rumah.
Ara tidak punya pilihan lain.
Akhirnya, Ara naik ke atas boncengan motor Awan, tanpa mengunakan helm untuk keamanan kepalanya.
"Kak. Ara gak pake helm gimana nih?"
"Nanti Kakak lewat jalan tikus, biar aman dan tidak terkena razia polisi lalu lintas."
Ara pun tampak tersenyum, dengan membuang nafas lega. Dia tidak merasa khawatir lagi, karena Awan bisa mengatasi semuanya.
"Minum aja dulu itu," ujar Awan, yang melihat gelas Boba masih penuh, dan belum sempat di minum.
"Kakak bantu habiskan ya!"
Awan terbelalak, mendengar perkataan Ara, yang memintanya untuk ikut minum Boba_nya.
Dan benar saja. Setelah beberapa tegukan, Ara menyerahkan gelas Boba miliknya, pada Awan. Dia berharap agar Awan juga meminum Boba_nya, supaya bisa lebih cepat habis.
"Ayo minum, biar abis."
Karena tidak ada pilihan lain, Awan menerima gelas tersebut, kemudian meminumnya, dengan mengunakan sedotan yang sama, yang tadi dipakai oleh Ara untuk minum.
Ara tersenyum senang, melihat Awan yang minum Boba_nya juga.
Sedangkan Awan sendiri, merasa kikuk, setelah minum. Dia tidak berani melihat ke arah Ara, yang sedang senyum-senyum sendiri, karena berhasil memaksa dirinya untuk ikut meminumnya juga.
"Plastiknya taruh sini saja Ra," kata Awan, dengan menunjuk ke arah stang motor.
"Ribet gak pas Kakak megangin stang_nya?"
"Gak. Tenang aja, aman."
Tak lama kemudian, motor sport Awan meninggalkan tempat mereka berdua bertemu, dan memutuskan untuk pulang berdua.
"Pegangan Ra," kata Awan dengan berteriak, karena sudah berada di perjalanan.
Ara jadi teringat saat dirinya, untuk pertama kalinya, naik di atas boncengan motor Awan. Meskipun pada saat itu, Ara tidak tahu, dan juga tidak sadar, jika orang yang sedang menolong dan membonceng dirinya waktu itu adalah Awan.
Dan baru setelah beberapa lama kemudian, Ara mengetahuinya. Jika orang tersebut, yang sudah menolongnya waktu itu adalah Awan, yang sudah dia kenal juga.
__ADS_1