Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Nanda Sakit


__ADS_3

"Bagaimana bisa dia pergi dan mengabaikan keluarganya sendiri, terutama anaknya?"


"Bagaimana mungkin dia bisa tenang, jika ada tanggung jawabnya yang dia lupakan di sini?"


"Apa yang harus Aku lakukan sekarang?"


"Aku tidak mungkin merengek-rengek pada ayah atau ibu, tapi jika keadaan seperti ini terus dan mas Wawan tidak juga kembali, apa yang bisa Aku lakukan?"


"Kemana dia sebenarnya, dan apa yang dia lakukan di luar sana, sehingga melupakan kami?"


Begitu banyak pertanyaan yang datang di hati Yasmin. Dia merenungi nasibnya dari semua pertanyaan yang dia ajukan pada dirinya sendiri, tanpa ada yang bisa dia jawab.


Akhirnya, Yasmin ketiduran di samping Nanda, anaknya, yang bisa tertidur juga setelah minum obat dari warung, yang dibelikan oleh tetangganya tadi.


Dini hari, sekitar pukul setengah empat pagi, Yasmin terbangun. Dia meraba-raba kening Nanda yang terasa semakin panas. Bahkan, Nanda juga mengigau dalam tidurnya.


"Papa... papa... mama... mama..."


"Sayang, Nanda. Kamu kenapa nak?" panggil Yasmin dengan panik. Dia takut terjadi sesuatu pada anaknya.


Begitu berulang-ulang dan terus menerus. Yasmin jadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan, karena untuk menghubungi ibu ataupun ayahnya, dia sudah tidak memiliki handphone. Sebab, handphone miliknya sudah dia jual sebulan yang lalu, untuk membayar uang kontrakan rumah yang sudah tertunda-tunda, karena Wawan tidak juga memberinya uang untuk bayar kontrakan rumah ini.


Akhirnya, Yasmin nekad. Setelah membersihkan diri seadanya, dia mengendong Nanda ke luar rumah. Dia ingin meminta bantuan pada ibu dan ayahnya. Dia berpikir, tidak mungkin kedua orang tuanya akan tega jika sudah melihat keadaan Nanda yang seperti sekarang ini, sakit dan tidak terawat.


Yasmin berjalan menuju ke arah kampus dengan pengendong Nanda. Dia mencari-cari tukang ojek yang biasa mangkal di pangkalan ojek yang ada di sana. Akhirnya, dengan naik ojek yang ada di pangkalan depan kampus itu, Yasmin menuju ke rumah orang tuanya, untuk meminta bantuan.


"Pak nanti bayarnya kalau sampai di rumah ya, Saya tidak pegang uang sama sekali," kata Yasmin pada tukang ojek, dengan wajah yang cemas.


"Iya mbak, mari!"


Tukang ojek yang melihat keadaan Nanda yang sudah lemah, tidak tega dan setuju saja tanpa memikirkan banyak hal.


Yasmin pun membonceng dengan cepat, berharap agar Nanda segera mendapat pertolongan dari kakek dan neneknya.


"Pak, cepat sedikit ya pak! Anak Saya ini butuh pertolongan dengan cepat!" pinta Yasmin, supaya tukang ojek menjalankan motornya lebih cepat lagi.


Tukang ojek hanya mengangguk saja, dan melajukan motornya lebih cepat lagi, seperti permintaan penumpangnya.


Sekitar pukul lima lebih sedikit, akhirnya Yasmin sampai juga di rumah orang tuanya.


"Tunggu sebentar ya Pak!" kata Yasmin, meminta pada tukang ojek untuk menunggunya, sementara dirinya masuk ke dalam.


Tok tok tok!


Tok tok tok!

__ADS_1


"Bu! Ayah!" teriak Yasmin kencang.


"Bibi, kak Sekar!" Yasmin berteriak lagi, memanggil kakaknya, Sekar dan juga bibi pembantu rumah.


Tok tok tok!


"Ayah, Ibu. Tolong Nanda!"


Yasmin kembali mengetuk pintu rumah seraya memanggil-manggil ayah Edi dan ibu Sofie, orang tuanya.


Cklek!


Pintu terbuka, muncul bibi pembantu yang kaget melihat kedatangan Yasmin pagi-pagi sekali.


"Eh, non Yasmin, ada apa ini?" tanya bibi bingung, dengan kedatangan Yasmin yang tidak biasa. Dia juga menatap Nanda, yang berada di gendongannya Yasmin.


"Nanda Bi, Nanda sakit," jawab Yasmin dengan wajah cemas, dan ingin menangis.


"Yasmin!"


Dari arah belakang, muncul ibu Sofie dan ayah Edi, yang penasaran dengan suara keributan di ruang tamu.


"Bu, Nanda Bu. Yah, bantu Yasmin Yah, demi Nanda, huhuhu..."


Yasmin menangis tersedu-sedu, sambil mengatakan bahwa Nanda sakit dan butuh pertolongan dengan cepat.


Ayah Edi pun akhirnya luluh juga. Dia tidak mungkin bisa setega itu pada cucunya sendiri.


Saat ayah Edi menyentuh kening cucunya, dia segera sadar, karena suhu tubuh Nanda, benar-benar tinggi. Dia segera masuk ke dalam rumah, untuk mengambil kunci mobil yang akan dia pakai untuk membawa Nanda ke rumah sakit.


"Ayok!"


Ayah Edi, mengajak istrinya dan juga Yasmin, yang masih mengendong Nanda, untuk segera berangkat ke rumah sakit. Dia segera menyiapkan mobil.


"Bi, tolong bangunkan Sekar, dan beritahukan kepadanya, jika kami pergi ke rumah sakit ya," kata ibu Sofie, memberikan pesan pada bibi pembantu rumahnya.


"Iya Bu," jawab bibi pembantu dengan menganggukkan kepalanya patuh. Dia ikut merasa cemas melihat keadaan Nanda.


"Bu, ada tukang ojek di depan. Tadi, Yasmin belum bayar. Yasmin tidak ada uang sama sekali," kata Yasmin pelan, sebelum masuk ke dalam mobil.


"Oh, ya sudah Ibu yang bayar. Ibu tunggu di luar gerbang ya," ucap ibu Sofie, kemudian berjalan menuju ke luar pagar dan menemui tukang ojek yang masih menunggu.


"Pak maaf ya, lama. Ini ongkosnya," kata ibu Sofie, dengan memberikan selembar uang kertas merah pada tukang ojek.


"Iya Bu, tidak apa-apa. Tapi ini... uang kecil saja Bu, Saya tidak ada kembaliannya," jawab tukang ojek sambil tersenyum canggung. Hari masih pagi, dan dia belum ada penumpang lain sebelum Yasmin, jadi tidak ada uang untuk kembaliannya.

__ADS_1


"Ambil saja kembaliannya Pak. Dan sekali lagi, terima kasih," ucap ibu Sofie lagi, sambil mengangguk.


"Oh, terima kasih banyak Bu. Semoga si kecil tadi, cepat sembuh."


Setelah itu, tukang ojek kembali lagi menuju ke pangkalan ojek yang tadi.


"Ayo Bu!"


Mobil ayah Edi berhenti, dan menunggu istrinya, supaya masuk ke dalam dan ikut ke rumah sakit, mengantar cucu mereka, Nanda, yang sudah tdiak berdaya.


Tiba di rumah sakit, Nanda langsung di bawa masuk ke ruangan IGD. Dia segera di tanggani oleh dokter jaga.


"Kemana papanya?" tanya ayah Edi pada Yasmin, yang sedang menangis dalam pelukan ibunya.


Yasmin tidak menjawab. Dia masih saja menangis dan hanya bisa menggeleng, mendengar pertanyaan ayahnya, tentang suaminya, Wawan.


ayah Edi menghela nafas panjang dan memejamkan mata untuk membuat dadanya lebih lapang dan tidak terasa sesak. Dia merasa jika menantunya itu, Wawan, memang laki-laki yang tidak bisa bertanggung jawab.


"Kamu tidak mencarinya?" tanya ibu Sofie, sambil mengelus-elus punggung Yasmin.


"Sudah Bu. Tapi ternyata, dia sudah empat hari tidak masuk kerja. bahkan dia juga punya utang banyak sekali pada anak pemilik percetakan itu. Yasmin bingung, apalagi mas Wawan juga tidak memberi uang pada Yasmin. Terus, kemana uang yang dia pinjam itu?"


Yasmin bingung dengan kelakuan suaminya sendiri. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Wawan saat ini, karena dia menghilang tanpa ada kabar apapun.


Ayah Edi tentu saja tidak tega melihat keadaan anaknya, Yasmin. Apalagi dengan keadaan cucunya, Nanda, yang seperti tidak terurus. Bagaimanapun, Yasmin adalah anaknya. Dia tidak mungkin bisa marah terlalu lama. Dia merasa kasihan pada Yasmin, yang menjalani kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis dan tidak bahagia sama seperti yang dibayangkan dulu.


Dia juga merasa sangat menyesal, karena membiarkan anaknya itu, hidup bersama dengan Wawan, menantunya yang tidak bertanggung jawab terhadap istrinya dan anaknya sendiri.


Akhirnya, Ayah Edi mencoba untuk menghubungi Abimanyu. Dia ingin mengajak anak laki-lakinya itu, untuk mencari keberadaan Wawan, sama seperti dulu.


Tapi kali ini bukan untuk diminta pulang, tapi untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Wawan, sehingga tidak ada kabar apapun darinya, dan membiarkan anak serta istrinya terlantar seperti itu.


..."Halo Abi. Kamu ada kerjaan hari ini?"...


Ayah Edi menelpon Abimanyu, disaat dia berpamitan pada istrinya untuk pergi ke luar dari rumah sakit sebentar, dengan alasan mencari minum. Sementara cucunya, Nanda, masih berada di ruangan IGD.


..."Ada Yah, kenapa?"...


Abi pun menjawab pertanyaan dari ayahnya itu dengan biasa, karena dia memang tidak tahu apa-apa. Tidak ada yang memberinya kabar tentang Nanda, yang baru saja masuk ke rumah sakit.


..."Ayah mau ada perlu denganmu. Nanti, pulang kantor kita ketemu dulu ya?"...


..."Iya Yah. Nanti Abi kabari jika sudah pulang dari kantor."...


Begitu akhirnya, ayah Edi dan Abimanyu sepakat untuk bertemu sepulangnya dari kantor. Namum, Abimanyu tetap tidak tahu, apa yang ingin dikatakan oleh ayahnya itu padanya, karena saat ditanya, ayah Edi hanya menjawab, "nanti juga Kamu akan tahu."

__ADS_1


Abi pun tidak lagi bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya mengiyakan permintaan ayahnya itu.


__ADS_2