
Tok tok tok!
Tok tok tok!
"Dik. Dika!"
"Gue di sini Wan!"
Dika berteriak keras, menjawab panggilan dari Awan, yang berada di depan pintu dan juga mengetuk-ngetuk tiap pintu kamar mandi yang berderet.
Akhirnya, Awan menunggu hingga Dika membuka pintu kamar mandi, yang sekarang ini ada di depannya.
Tak lama kemudian, Dika keluar dari dalam kamar kecil, dengan bajunya yang sudah terbuka bagian atasnya.
Baju seragam sekolah atasan Dika yang basah, sudah merembes ke celana seragamnya juga. Itulah sebabnya, tadi Dika meminta pada Awan, supaya membeli satu set seragam sekolah.
Karena seragamnya memang sudah basah semuanya.
Awan melihat keadaan Dika dengan heran. Dia juga mengeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah temannya itu.
"Jangan ngeliat gitu ahhh, Gue malu nih!"
Dika yang bertingkah seperti anak gadis, yang ketahuan telanjang, membuat Awan mencibirnya dengan berkata, "jijik kali Aku lihatnya."
"Hai..."
Tapi karena setelah memberikan bungkus plastik berisi seragam sekolah, Awan langsung pergi dengan masih mengeleng, Dika jadi tidak melanjutkan kalimatnya.
"Sialan tuh sie kulkas!"
Dika mengumpat sambil memegangi plastik pemberian Awan. Yaitu satu set seragam sekolah, yang dia pesan tadi.
"Huh! dasar si kulkas. Tapi tak apalah, yang penting Gue dapat juga ini gantinya," kata Dika, dengan tersenyum senang, sambil memperhatikan bungkusan plastik yang sekarang ini ada di tangannya.
Beberapa saat kemudian.
"Waduh!"
Dika menepuk jidatnya sendiri, setelah selesai mengenakan pakaian seragam sekolah, yang baru saja dibeli oleh Awan untuknya.
"Ah, ngerjain Gue dia!" ucap Dika kesal.
"Ada apa dengan hari ini? Kenapa Gue sial terus sedari tadi."
Dika terus menerus bertanya pada dirinya sendiri, dengan kekesalan yang ada di dalam hatinya juga.
Itu karena sedari tadi, dia mengalami hal yang tidak dia inginkan sama sekali.
__ADS_1
Saat memasuki kelas, Dika sangat tidak sama seperti biasanya. Ada yang membuatnya merasa tidak bebas, untuk berjalan menuju ke arah tempat duduknya sendiri.
Awan, memperhatikan bagaimana cara jalannya Dika dengan memicing.
"Napa?" tanya Dika dengan nada sewot.
Awan diam, dan hanya mengangkat kedua bahunya, karena tidak tahu, mau menjawab apa dengan pertanyaan yang diajukan oleh Dika.
Tentu saja, Dika merasa sangat tidak nyaman dan percaya diri, karena baju seragam sekolah yang dia kenakan saat ini kebesaran.
Celananya harus dia lipat, agar menyapu lantai. Begitu juga dengan lengan bajunya, yang tampak besar dan dia gulung.
Awan, menahan senyum dan pura-pura tidak tahu, bagaimana penampilan Dika yang tampak seperti orang-orangan sawah.
"Awas Loe Wan!" gumam Dika , dengan melotot ke arah Awan, yang tampak tidak peduli, dengan semua ketidak nyamanan yang dia rasakan saat ini.
Dan untungnya bel sekolah berbunyi, sehingga Dika terdiam di tempat duduknya. Apalagi tak lama kemudian, teman-teman yang lain, sudah kembali masuk ke dalam kelas. Karena jam istirahat sekolah sudah usai.
*****
Pulang sekolah, Dika tidak langsung pergi meninggalkan tempat duduknya. Dia menunggu hingga kelas menjadi sepi.
"Wan, tunggu!"
Awan, yang sudah berdiri dan hampir meninggalkan tempat duduknya menoleh. "Ada apa lagi?" tanya Awan, yang cukup heran juga, karena Dika masih duduk di tempatnya.
Hal yang tidak pernah dia lakukan selama menjadi temannya Awan.
"Loe sengaja ya mau ngerjain Gue?" Awan mengeryit heran, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Dika untuknya.
"Maksudnya?" tanya Awan balik, menjawab pertanyaan dari Dika.
"Ini," jawab Dika, dengan memegang lengan baju dan juga celananya.
Tapi tetap saja, Awan pura-pura tidak paham, dengan apa yang dimaksud oleh Dika dengan semua pertanyaan yang berhubungan dengan baju seragam sekolah tersebut.
"Sialan Loe Wan!"
Dika mengumpat kesal, karena Awan masih belum paham, dengan apa yang sudah dilakukan oleh Awan padanya.
"Ini! kenapa Loe beli baju seragamnya kebesaran?" tanya Dika, menjelaskan pada Awan, apa yang sedari tadi dia katakan.
"Oh itu. Kata mbak-mbak koperasi, tidak ada yang seukuran Aku. Ya udah, Aku beli yang lebih besar dikit. Dari pada Aku beli yang lebih kecil, nanti malah gak muat gimana?"
Awan menjawab dan menjelaskan pada Dika, tentang baju seragamnya yang kebesaran.
"Hiiiihhh! Kenapa sih, gue bener-bener apes banget hari ini?"
__ADS_1
Dengan mengangkat kedua bahunya, Awan juga tidak mungkin bisa untuk menjawabnya.
"Hah, sudahlah. Ayok kita pulang!"
Akhirnya, Dika tidak lagi membahas tentang seragam sekolahnya. Dia berdiri, dan merangkul pundak Awan, untuk mengucapkan terima kasih kepadanya.
"Thanks ya Bro. Meski apapun keadaan seragam sekolah itu, tapi setidaknya Gue punya gantinya. Hahaha..."
"Udah, jangan peluk-peluk. Jijik Aku."
Awan menepis tangan Dika, yang merangkul pundaknya. Dia teringat akan perkataan penjaga koperasi, yang mengira jika Awan membeli seragam sekolah untuk pacarnya.
"Napa sih Loe Wan?"
Dika bertanya dengan heran, atas sikap temannya itu.
"Gak apa-apa," jawab Awan datar.
Setelah itu, Awan berdiri dan bermaksud untuk ke luar dari ruangan kelas. Dia mau pulang.
"Tunggu! Ada yang ingin Gue katakan. Dan ini sangat penting Wan."
Dika mencegah kepergian Awan. Dia ingin mengatakan bahwa, ada yang penting untuk disampaikan kepada Awan saat ini.
Awan mengurungkan niatnya untuk berjalan, dan menoleh ke arah Dika, yang berjalan mendekat ke tempat dia berdiri.
"Ini bahunya Aku ganti," kata Dika dengan menyodorkan beberapa lembar uang, untuk harga satu set seragam sekolah yang dia pasti sudah hafal dengan harganya.
"Gak usah Dik. Aku gak minta ganti kok."
"Tapi Gue mau ganti Wan. Gue tau, Loe gak mungkin kekurangan uang saku, meskipun satu koperasi Loe beli. Tapi ini Gue yang minta tadi."
Dika bersikukuh untuk mengantikan uangnya Awan, yang sudah digunakan untuk membeli seragamnya tadi.
"Hemmm..."
Akhirnya, Awan menerima uang tersebut, karena tidak mau ada perdebatan yang akan membuat orang lain penasaran.
"Dan Gue juga mau kasih tau Loe Wan. Gue mau segera menembak Ara. Gue gak mau ada saingan lagi yang akan terus bertambah."
Dika memberitahu pada Awan, dengan rencananya itu.
"Saingan? maksud Kamu?" tanya Awan, yang bingung dengan perkataan Dika soal Ara.
"Iya. Gue tadi siang liat Ara, berbincang-bincang dengan ketua OSIS SMP. Tuh anak bau kencur mau saingan ma Gue. Ogah!"
Awan mengerutkan keningnya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Dika barusan.
__ADS_1
"Mungkin mereka berdua sedang ada yang dibahas Dik. Kamu tidak usah menyimpulkan sendiri, segala sesuatu yang belum pasti benar," ujar Awan, memberikan pandangannya tentang apa yang dikatakan oleh Dika.
"Bodo ah. Pokoknya Gue mau nembak Ara besok!"