Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Harapan Dan Rasa Yang Canggung


__ADS_3

Hari-hari yang indah selama dua minggu ini, dijalani oleh Abimanyu dan Anjani bersama-sama. Jalan-jalan ke tempat-tempat yang indah dengan berbagai kegiatan yang mereka lakukan. Berwisata kuliner khas Bali dan juga makanan yang laris di pulau Dewata tersebut. Dan yang paling penting, mereka berdua, bisa menghabiskan waktu bersama tanpa memikirkan hal lain dan juga gangguan dari siapapun.


Hari ini, mereka berkemas untuk kembali ke Jakarta. Abimanyu, sudah selesai mengemas dua koper besar yang berisi baju-baju mereka berdua, dan oleh-oleh untuk keluarga mereka, terutama keluarganya Abimanyu, ibu dan dia adik perempuannya.


"Anjani, sedang pergi mandi. Dia sudah menyiapkan segala sesuatunya di kamar mandi, sehingga tidak perlu repot-repot lagi untuk mencari baju ganti yang akan dia pakai, karena semua sudah masuk ke dalam koper.


Cklek!


Pintu kamar mandi terbuka. Anjani keluar dalam keadaan sudah rapi. Dia melihat suaminya, yang sudah selesai dengan keperluannya dan bersiap untuk mandi juga. Tapi, mungkin karena kecapekan, Abimanyu jadi tertidur pulas tanpa dia sadari.


"Mas. Mas Abi," panggil Jani, berusaha untuk membangunkan Abimanyu.


"Hemmm."


Abimanyu, hanya menjawab tanpa berkata apa-apa. Tapi, dia kembali menutup matanya dan tertidur lagi.


Akhirnya, Anjani memilki ide untuk membuat suaminya itu segera terbangun.


Cup!


Anjani, mengecup bibir Abimanyu sekilas. Dia melakukannya dengan cepat karena masih belum terbiasa dan merasa malu, jika ketahuan oleh suaminya itu.


Tapi, usaha Jani tidak membuahkan hasil m Abimanyu tetap tertidur dan tidak terusik dengan kecupan di bibirnya.


Anjani kembali berpikir, apa yang akan dia lakukan, untuk membangunkan suaminya, supaya mereka tidak terlambat sampai di bandara.


"Mas. Ayok mandi, nanti terlambat lho ke bandara. Taksinya sudah dipesan belum?"


Anjani, berbicara seperti sedang mengobrol dengan suaminya, yang tidak dalam keadaan tidur.


"Mas."


Anjani, kembali memanggil. Tapi, Abimanyu tetap diam saja dan tetap tidur dengan nyaman.


Karena merasa gemas sendiri, akhirnya Anjani nekad menggelitik hidung Abimanyu. Dia juga memencet-mencet pipi suaminya itu.

__ADS_1


"Hemmm... apa sih Sayang? mau main lagi ya, gak capek?" Abimanyu, justru bertanya hal yang tidak terpikirkan oleh Anjani saat ini.


"Mas, Ihhh... bangun. Kita mau pulang lho, nanti terlambat dan ketinggalan pesawat." Anjani, mengingatkan Abimanyu, dengan rencana mereka hari ini.


"Hah, iya-iya. Kita kan mau pulang ke Jakarta. Ah, kenapa Aku bisa lupa dan masih ingin disini saja, bersama dengan Kamu Sayang," kata Abimanyu, begitu matanya terbuka. Dia merasa belum puas dan masih ingin menghabiskan waktu dengan istrinya, Anjani.


Semburat merah di pipi Anjani, terlihat jelas di mata Abimanyu. Dia jadi gemas dan ingin memakannya, apalagi pagi ini mereka berdua belum melakukannya, seperti pagi hari kemarin-kemarin.


Dengan gerakan cepat, dan tidak disangka oleh Anjani, Abimanyu sudah ******* bibirnya. Dia jadi terpaku dan tidak bisa menghindari hal manis yang dilakukan oleh suaminya itu pagi ini.


Setengah jam kemudian, mereka berdua masuk ke dalam kamar mandi bersama-sama, untuk mempercepat waktu, agar tidak terlambat sampai di bandara. Tapi, keinginan itu justru malah berbalik lagi menjadi lama. Mereka kembali mengulang kegiatan mereka di kamar mandi, sehingga acara mandi justru semakin lama dan tidak bisa cepat seperti pikiran awal yang diinginkan.


"Mas. Ah, ini bisa-bisa kita beneran terlambat," kata Anjani dengan gelisah.


Dia sedikit kesal karena tidak bisa mencegah kemauan suaminya, meskipun dia juga ikut menikmatinya.


"Hahaha... biar saja. Kita bisa bermalam di bandara dan ikut penerbangan berikutnya saja. Aku masih belum ingin kembali ke Jakarta."


Jawaban yang diberikan oleh Abimanyu, justru berbeda dengan apa yang tadi dipikirkan oleh Anjani. Dia pikir, Abimanyu akan ikut menyesal dan buru-buru bersiap. Tapi kenyataannya, Abimanyu tidak sama seperti yang ada di benak Anjani. Dia terkesan santai dan tidak menggubris soal waktu, sama seperti layaknya seorang pembisnis pada umumnya, yang memperhitungkan setiap waktu berharga mereka.


"Iya. Apa? Kamu mau protes apa?"


"Ehmmm... Mas tidak bosan dengan Jani?" tanya jani, yang membuat Abimanyu menoleh dengan cepat ke arahnya.


"Maksudnya?" tanya Abimanyu dengan cepat. Dia ingin tahu apa maksud dari pertanyaan Anjani, istrinya itu.


"Apa Mas Abi tidak bosan dengan..."


"Cup!"


Abimanyu, justru mencium bibir Anjani, agar tidak melanjutkan kata-katanya lagi.


"Jangan berpikir seperti itu lagi. Aku tidak akan bosan, meskipun kita sudah menua nanti. Kamu tidak boleh punya pikiran yang tidak baik seperti ini," kata Abimanyu, yang langsung paham kemana arah pertanyaan yang diajukan oleh Anjani.


"Maaf Mas."

__ADS_1


"Sudah-sudah. Kita segera berangkat sekarang. Minta pihak hotel saja yang mengantar kita ke bandara, tidak perlu pesan taksi."


Abimanyu, memutuskan untuk segera berangkat ke bandara, sebelum Anjani berpikir yang tidak-tidak lagi. Dia ingin, Anjani bisa menjalani hari-hari bersama dengannya, tanpa beban pikiran. Mungkin ini juga ada kaitannya dengan trauma masa lalu Anjani, dengan pernikahannya bersama dengan Elang yang singkat dan tidak ada kejelasan dari statusnya sebagai istri.


Dia memahami luka yang tidak terlihat di hati Anjani. Abimanyu bertekad akan membuat Anjani bahagia bersama dengan dirinya, kedepannya nanti.


*****


Hiruk pikuk keramaian bandara tidak pernah sepi di Bali. Apalagi musim liburan dan bulan-bulan yang penuh dengan moment pernikahan. Biasanya banyak pasangan baru yang akan berlibur untuk honeymoon ke Bali. Menghabiskan waktu bersama dengan pasangan mereka. Sama seperti yang dilakukan oleh Anjani dan juga Abimanyu.


"Untung tidak terlambat ya Mas," kata Anjani, begitu masuk ke dalam pesawat.


"Iya," jawab Abimanyu singkat, karena sibuk mencari tempat duduknya sesuai dengan nomor tiket penerbangan mereka.


Setelah beberapa menit kemudian, pesawat sudah berada di ketinggian, Anjani menguap.


"Hoammm..."


"Tidurlah. Nanti Aku bangunkan, begitu kita sampai di Jakarta."


Abimanyu, menepuk pundaknya, supaya Anjani tidur bersandar di bahunya. Dia tahu, Anjani sedang capek dan juga lelah, meladeni semua keinginannya dari kemarin-kemarin, selama dua minggu ini.


"Semoga, akan ada kabar baik setelah ini. Aku ingin mendengar Kamu bisa hamil dalam waktu dekat ini sayang."


Abimanyu, bergumam seorang diri, kemudian mengecup kening istrinya sebelum dia sendiri juga berusaha untuk bisa memejamkan mata, walaupun hanya untuk beberapa menit saja.


*****


"Huh, yang baru pulang dari honeymoon. Mana oleh-oleh untuk kita?"


Salah satu dari adik Abimanyu, menyapa mereka berdua, begitu mereka masuk ke dalam rumah.


Anjani diam, meskipun dia terlihat tidak enak hati. Dia merasa canggung, mendapatkan sapaan yang tidak biasa, dari adik iparnya sendiri.


"Sudah, tidak usah dihiraukan," kata Abimanyu, sambil menggandeng tangan Anjani untuk masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Huh, tidak ada basa-basi sama sekali. Untung ibu dan ayah tidak ada di rumah," ucap adiknya Abimanyu lagi, sambil mencibir kakak iparnya, Anjani. Istri dari kakaknya, Abimanyu.


__ADS_2