
Sebulan kemudian, Anjani mendapatkan kabar dari adik iparnya, Sekar, yang sudah dinyatakan positif hamil.
Sekar datang pagi-pagi ke rumah Anjani, seperti biasanya, sat pulang mengantar Miko ke sekolah.
Dia mampir ke rumah Anjani, untuk membagikan kebahagiaan yang sedang dia rasakan bersama dengan suaminya, Juna.
"Jadi, ini sudah berapa minggu, usia kehamilan kamu?" Anjani bertanya dengan antusias.
Kabar bahagia yang dibawa oleh adiknya itu, membuat Anjani juga ikut merasakan kebahagiaan. Dia juga berharap, bisa memberikan kebahagiaan yang sama pada suaminya, dalam waktu dekat. Meskipun harapan itu hanya beberapa persen saja.
"Sudah tiga minggu Mbak." Sekar menjawab, dengan memberitahukan usia kandungannya.
"Selamat ya Sekar. Semoga dia cewek, sama seperti yang kalian berdua harapkan."
Sekar mengangguk dan tersenyum, mendengar ucapan selamat dari kakak iparnya. Dia juga berharap agar kakak iparnya itu, bisa hamil juga.
"Iya, terima kasih Mbak Jani. Aku juga berdoa, semoga Mbak Jani ikut segera menyusul dan bisa memberikan Anggi adik," ujar Sekar, sambil tersenyum senang.
"Aamiin. Iya, Mbak juga mau kok. Mas Abi pasti seneng banget ya, kalau mendengar Aku bisa hamil lagi," kata Anjani, yang tanpa sadar mengatakan bahwa kemungkinan itu tidak bisa iya dan bisa tidak.
"Bisa hamil lagi? maksudnya bagaimana Mbak?" tanya Sekar dengan cepat.
Sekar seperti menangkap sinyal yang tidak beres dari kalimat yang diucapkan oleh kakak iparnya itu.
"Emhhh, ya gak bagaimana-bagaimana Sekar. Maksudnya, itu kan Aku juga tidak tahu ya, bisa apa tidak. Semua kan tergantung dari pemberian Tuhan. Mbak juga gak pernah pakai alat kontrasepsi kok, sejak mas Abi sakit dulu itu, sampai sekarang. Dan Alhamdulillah, masih bisa ada Anggi. Tapi gak tahu juga kan untuk kali ini," jawab Anjani, mencoba memberikan penjelasan dan alasannya berkata demikian.
"Oh..."
Sekar hanya menanggapi dengan perasaan lega.
Begitu juga dengan Anjani. Dia merasa sangat lega, karena bisa menyakinkan adiknya itu, dan sehingga tidak curiga dengan perkataannya yang tidak dia sadari sendiri.
"Oh ya, Miko bagaimana? Emhhh, maksudnya dia seneng gak waktu tahu, bahwa dia akan punya adik nanti?"
Anjani mencoba mengalihkan perhatian Sekar, dengan bertanya tentang anaknya, Miko.
"Iya Mbak. Dia seneng banget, sampai jingkrak-jingkrak. Tapi dia bilang gak mau kayak Anggi. Pas Sekar tanya, kenapa, dia jawab Anggi cengeng. Hehehe..."
__ADS_1
Anjani ikut tertawa senang, mendengar jawaban dari Sekar, yang menceritakan tentang anaknya, Miko, yang senang menjaili Anggi, sehingga Anggi sering menangis jika sedang bermain-main dengannya.
"Hehehe... dasar si Miko. Entar kalau main ke sini, Aku mau bilang, biar adiknya lebih cengeng lagi daripada Anggi. Hehehe.. buat dia cemberut dan ngambek," kata Anjani, yang lebih suka melihat Miko di saat sedang tidak usil dan ngambek.
Di saat Miko sedang ngambek, pipinya akan ngembung, dan tidak lama usilnya akan lebih parah lagi.
Tapi yang istimewa dari Miko, dia tidak pernah marah dan ngambek dalam waktu yang lama.
Apalagi jika jatuh dan terluka. Dia tidak berani menangis dan mengatakan jika terasa sakit. Itu karena Miko takut jika lukanya akan di beri obat merah, atau Betadine. Dia tidak mau diberi obat itu untuk lukanya.
Itulah sebabnya, dia jadi jarang menangis, meskipun sebenarnya merasa sakit juga saat terjatuh, ataupun karena luka akibat ulahnya sendiri.
*****
Di rumah mama Amel, Awan baru saja pulang dari sekolah.
Dia kaget, saat melihat omanya sudah ada di rumah, bersama dengan ayahnya, Elang.
Tapi dia tidak melihat keberadaan istri baru ayahnya, yang katanya orang Meksiko, rekan bisnis ayahnya di sana.
Awan menyalami oma dan memeluk omanya. "Kok gak kasih kabar kalau pulang Oma?" tanya Awan, setelah melepas pelukannya pada mama Amel.
Mereka berdua berpelukan lama, melepaskan rindu, karena memang lama tidak bertemu. "Ayah apa kabar?" tanya Awan dalam pelukan ayahnya.
"Ayah baik. Kamu bagaimana, sekolahnya juga?" tanya Elang, kemudian melepas pelukannya pada Awan.
"Baik Yah. Dua minggu lagi ada tes kenaikan kelas." Awan menjawab sambil melihat ke sekeliling.
"Kamu cari siapa?" tanya Elang memicingkan mata melihat wajah anaknya.
"Emhhh... itu, emhhh katanya Ayah..."
Awan tidak melanjutkan kalimatnya, saat melihat ayahnya tertawa kecil. "Hehehe..."
Mama Amel mengeleng beberapa kali, melihat kedua laki-laki yang ada di depannya kali ini. Anak dan cucunya, yang hanya ada satu.
Setelah itu, mama Amel beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kamar. Dia pamit untuk beristirahat pada anak dan cucunya. "Oma ke kamar, mau istirahat dulu," pamit mama Amel, pada Awan dan Elang.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, setelah mama Amel pergi, Elang baru menjelaskan pada Awan, tentang wanita yang di kabarkan akan menjadi mama sambungnya.
Jadi, wanita yang menjadi rekan bisnisnya Elang, memang seharusnya menjadi istrinya beberapa minggu yang lalu. Tapi ternyata dia tidak tahu kebenaran yang sesungguhnya pada wanita tersebut.
Dari semua keperluan yang di urus untuk melakukan pernikahan dengan Elang, ternyata baru diketahui bahwa, wanita tersebut ternyata masih memiliki seorang suami, yang belum bercerai secara resmi.
Padahal sebelumnya, wanita itu mengaku jika dia dengan mantan suaminya sudah bercerai lama, dan tidak punya anak.
Tapi pada kenyataannya, wanita itu baru pisah rumah selama dua bulan dan ada dua anak dalam perkawinannya, bersama dengan suaminya yang dulu.
Berarti, selama berhubungan dengan Elang, wanita itu sebenarnya masih berstatus sebagai istri dari laki-laki lain.
Itulah sebabnya, Elang tidak mau meneruskan rencana pernikahannya, dan kembali pulang ke Indonesia bersama dengan mamanya. Sedangkan papa Ryan, sedang mengurus bisnisnya yang ada di Singapura, sehingga tidak bisa ikut pulang ke Indonesia.
Elang menghela nafas panjang kemudian membuangnya perlahan-lahan. Dia tidak tahu, apa yang terjadi pada kehidupannya, sehingga tidak bisa menemukan wanita yang baik dan bisa dia ajak untuk hidup berumah tangga secara baik-baik juga.
Dia juga berpesan kepada anak laki-lakinya itu, supaya berhati-hati saat mengenal gadis yang dia sukai.
"Entah apa kesalahan yang Ayah lakukan, sehingga tidak bisa menemukan wanita yang baik dan bisa menjadi seorang istri yang baik juga. Ayah harap, Kamu bisa berhati-hati, saat Kamu mulai menyukai seseorang gadis. Nasib Ayahmu ini, semoga tidak terjadi pada Kamu," kata Elang, kemudian menepuk pundak Awan.
Awan hanya bisa mengangguk saja. Dia tidak tahu, apa yang harus dia katakan untuk bisa menghibur ayahnya, yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Awan juga teringat dengan mendiang bundanya, yang sudah pergi lama, dengan semua kasus bundanya, yang tidak seharusnya. Karena yang terjadi pada bundanya, tidak lazim untuk seorang wanita, apalagi seorang istri dari pengusaha yang tentunya terpenuhi segala sesuatunya secara materi.
Awan tidak pernah habis pikir, apa yang sebenarnya diinginkan oleh bundanya waktu itu. Dia tahu semua berita dan informasi tentang bundanya, Adhisti Andriyani, karena dia menemukan berkas yang berisi berita kematian dan juga kasus-kasus bundanya, yang masih tersimpan di almari ayahnya sampai sekarang.
"Ya sudah sana, ganti pakaian dulu!"
Elang menyuruh Awan untuk berganti pakaian seragamnya terlebih dahulu.
"Memang Ayah mau ngajak Awan kemana?" tanya Awan ingin tahu, apakah ayahnya akan mengajak dirinya ke suatu tempat.
"Mau kemana? Ayah mau istirahat dulu. Ayah sangat capek. Apa Kamu mau meminta pada Ayah, untuk menemanimu main?"
Awan tertawa lepas, karena ayahnya itu masih mengingat kebiasaan dirinya sewaktu masih kecil dulu.
"Hahaha... Awan sudah besar Yah. Sudah tidak lagi sama seperti waktu dulu." Awan mengatakan dengan nada protes.
__ADS_1
Elang hanya bisa mengeleng, mendengar protes dari anaknya.