Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Saling Membantu


__ADS_3

"Anggi, Miko. kok pada tidur di situ sih? bikin orang pada takut aja tadi," tanya Ara, pada kedua adiknya. Anggi dan Miko.


Anggi dan Miko, saling pandang tanpa berbicara. Mereka berdua, masih dalam keadaan bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.


"Aku cuma lomba makan sana miko tadi Kak, di sini. Tadi eyang Putri tahu kalau Aku jalan ke sini kok." Anggi mencoba untuk menjelaskan pada Ara, kenapa dia sampai ada di belakang kursi sofa.


Sedangkan ibu Sofie, eyang Putrinya, yang kata Anggi tahu apa yang dia lakukan bersama dengan Miko, mengerutkan keningnya. Ibu Sofie, justru merasa bingung, karena dia benar-benar tidak tahu, dan tidak melihat mereka berdua ada di belakang kursi.


"Eyang gak lihat kalian ke sini, kapan ya?" tanya ibu Sofie, dengan berpikir bahwa, mungkin dia melupakan seseorang.


Tapi ayah Edi memegang lengan istrinya itu, untuk membuatnya tidak merasa bersalah.


"Mungkin, eyang putri sedang tidak melihat kalian berdua. Tapi sedang memperhatikan tempat lain. Dan kalian berdua pikir, Eyang melihat kalian. Eyang sedari tadi ngobrol tuh, sama Oma Amel."


Ayah Edi, membela istrinya, supaya tidak lagi menjadi sorotan, pandangan dari semua orang.


"Ya sudah-sudah. Tidak ada yang perlu diperdebatkan. Besok-besok, kalau mau makan jangan di tempat yang tersembunyi. Jika ada tikus atau semut di rumah, berarti itu ulah dari kalian sendiri lho ya," ujar ayah Edi, eyang kakung mereka, menengahi perdebatan mereka.


Anggi dan Miko, saling pandang dan meloncat secara bersamaan. Mereka berdua merasa takut, jika ada tikus atau semut, yang mengerubungi mereka berdua.


Dan ulah mereka berdua yang spontan meloncat dari tempat duduknya, membuat semua orang kaget, tapi akhirnya tertawa terbahak-bahak juga, karena jeritan mereka.


"Bunda!"


"Bunda Jani!"


Anggi dan Miko, berteriak memanggil Anjani dan minta dipeluk, agar terhindar dari tikus atau semut. Padahal, tadi eyang Kakung mereka, cuma memberi kiasan saja. Tapi ternyata, mereka berdua menganggap bahwa semua itu memang nyata adanya.


Sekarang mereka berdua, Anggi dan Miko, memeluk Anjani bersama-sama. Anjani juga memeluk, mencoba untuk menenangkan mereka berdua.


Dan semua itu diperhatikan oleh Awan. Bagaimana keluarga mereka yang ramai, saling melindungi dan menjaga, serta memberikan rasa aman dan nyaman.


Awan merasa jika dia tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti yang ada di rumah Anjani. 'Bahagianya punya bunda seperti bunda Jani.' Awan berkata dalam hati, sambil tersenyum tipis, melihat kegembiraan di rumah ini.


Tak lama kemudian, keluarga papa Ryan, berpamitan untuk kembali pulang. Mereka semua mengucapkan terima kasih, kepada semua keluarga besarnya ayah Edi.


Ayah Edi juga sebagai wakil dari keluarga Abimanyu, selaku tuan rumah, mengucapkan terima kasih, atas kunjungan keluarga mereka. Dengan adanya syukuran ini, dia juga berharap agar silaturahmi tidak akan terputus. Dan jika ada acara-acara, bisa diundang dan mengundang.

__ADS_1


"Nda, pamit dulu. Besok buru daftar ke sekolah. Entar jadi adik kelas Aku," kata Awan pada Nanda.


"Siap Kak!"


Nanda pun mengangguk mengiyakan perkataan Awan. Dia juga tidak mau, jika terlalu lama nganggur dan tidak belajar.


Setelah semua keluarga papa Ryan pulang, kini giliran keluarga Sekar dan ayah Edi yang pamit untuk pulang.


Tapi Miko membuat drama, yang masih enggan untuk diajak pulang oleh mamanya.


"Miko masih mau di sini Ma. Miko mau di sini!" Miko merengek pada mamanya.


"Miko pulang ya, Mama udah ngantuk ini Sayang. Papa juga besok masuk kerja. Miko juga sekolah," ujar Sekar menasehati anaknya, Miko.


Anggi, yang sekarang ini juga mulai mengantuk, tidak menghiraukan keadaan. Dia tertidur di gendongan bundanya, Anjani.


"Mau tidur kayak Anggi," kata Miko beralasan jika ingin tidur dalam gendongan.


"Eh, Mama sedang ada adek di perut. Tidak bisa Sayang. Sama papa ya?" Sekar memberikan tawaran pada Miko, supaya tidur sambil digendong oleh papanya.


Juna akhirnya mengangkat tubuh anaknya itu, untuk digendong. Setelah itu, Miko baru mau di ajak untuk pulang ke rumah. Tapi dia juga merengek lagi, supaya dikasih kue yang tadi. Kue yang sama seperti yang dia makan bersama dengan Anggi di belakang kursi sofa.


Anjani mengangguk mengiyakan permintaan Miko. Dia meminta pada Ara, supaya kue yang masih ada di piring, dibungkus untuk Miko.


Tentu saja, permintaan Miko dengan kue itu, membuat semua orang tertawa senang.


"Anak-anak memang penuh dengan kelucuan mereka. Keluguan anak-anak, yang membuat keluarga jadi ramai," ujar ayah Edi, yang ikut merasakan kebahagiaan yang ada di rumah anaknya ini, Abimanyu dan juga Anjani.


"Ra. Balik dulu ya. Besok Kakak daftar ke sekolah kamu."


Nanda berpamitan pada Ara. Setelah itu, dia juga berpamitan kepada Anjani dan Abimanyu.


Begitu juga dengan mamanya, Yasmin. Ayah Edi dan ibu Sofie, juga ikut berpamitan untuk pulang.


Sekarang, rumah kembali sepi seperti biasa jika Anggi sudah tertidur.


"Kak, bantu Bunda beres-beres bentar ya!"

__ADS_1


Ara mengangguk mengiyakan permintaan dari bundanya itu. Dia juga tidak mungkin membiarkan bundanya membereskan semua peralatan jamuan ini, karena semua juga untuk dirinya sendiri.


Dengan senang hati, Ara membantu bundanya untuk membersihkan peralatan makan dan minum, serta merapikan tempat yang tadi sedikit berantakan, karena ulah Anggi dan Miko.


Tapi karena keadaan hati yang sedang berbahagia, tentu saja, semua itu tidak menjadi beban dan tidak membuat rasa capek juga.


"Ternyata, pemuda yang membantu bunda itu Awan ya. Bunda gak nyangka lho!"


Anjani masih tidak menyangka, jika waktu itu, Awan yang sudah menolongnya.


Ara tersenyum, mendengar perkataan dari bundanya. Dia juga tidak pernah menyangka bahwa, kakak kelasnya itu, adalah anak dari mantan suami bundanya. Yang katanya adalah seorang pengusaha muda, dan kedua orang tuanya juga pengusaha semua. Tapi ternyata memang benar, karena mereka adalah bos di perusahaan, di mana ayahnya, Abimanyu bekerja.


Cuma yang tidak pernah disangka oleh Ara adalah, ternyata itu Awan. Kakak kelasnya yang sudah membuatnya merasa...


"Ra!"


Ara kaget saat mendengar panggilan dari bundanya, Anjani. Jadi, tadi dia melamun, saat mencuci piring dan gelas.


"Eh iy_iya Bun. A_ada apa?" tanya Ara gagap.


"Kamu melamun ya? Apa yang Kamu pikirkan?" tanya Anjani, yang melihat anaknya itu sedang tidak berkonsentrasi pada pekerjaannya.


Air di tempat cucian masih mengalir terus, tapi tangan Ara, tidak bergerak untuk membersihkan piring atau gelas, yang sudah ada di tempat cucian.


"Emhhh... gak apa-apa Bun. Hehehe... maaf."


Ara akhirnya sadar, dan tersenyum canggung, karena ketahuan juga jika dia sedang melamun.


"Udah. Tidak usah melamun. Ayo buruan dikerjakan, biar cepat selesai. Setelah itu kita istirahat untuk tidur."


Ara hanya mengangguk, sambil nyengir kuda. Dia melanjutkan pekerjaannya, yang tadi sempat tertunda karena dirinya yang sedang melamun.


Di ruang tamu, Abimanyu ikut menyapu. Membersihkan lantai, dari remah-remahan makanan yang tercecer.


Abimanyu, tidak bisa mengerjakan sesuatu yang berat dengan beban. Itulah sebabnya, dia hanya bisa membantu istri dan anaknya, dengan menyapu saja.


Tentu saja, itu sudah membuat mereka merasakan kebahagiaan, karena bisa saling bantu membantu, untuk membersihkan rumah. Ini membuat pekerjaan terasa ringan, sehingga mereka juga bisa beristirahat dengan cepat. Setelah semua selesai dikerjakan.

__ADS_1


__ADS_2