Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Mau Hadiah?


__ADS_3

"Bagaimana dengan usul dari Oma kemarin Wan?" tanya mama Amel, pada cucunya, Awan.


Mama Amel, menanyakan tentang kesediaan Awan untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri, setelah lulus nanti.


Awan tidak langsung menjawab. Dia tidak bisa memutuskan dengan cepat, apa yang seharusnya dia putuskan untuk masa depannya nanti.


"Ini untuk kebaikan Kamu sendiri Sayang. Kamu tahu sendiri, Oma tidak ada penerus lain, selain dirimu. Ayah Kamu juga, tidak mau menikah lagi. Hemmm..."


Kembali, mama Amel memberikan alasan dan mengatakan apa yang dia rasakan.


Dan ini membuat Awan bimbang. Di satu sisi, Awan sadar dengan keadaan yang ada pada keluarganya.


Tapi di sisi lainnya, Awan juga bimbang dengan perasaannya saat ini. Apa yang dia rasakan dalam hati, dan tidak bisa dia ucapkan, juga membuatnya menjadi bimbang.


Rasa resah dan juga gelisah yang dia miliki beberapa waktu terakhir ini, membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Ada yang mengganjal di hati, setiap dia ingin memutuskan sesuatu.


"Kamu juga, jika ada yang dipikirkan, ngomong. Jangan hanya diam dan di pendam sendiri. Itu juga tidak baik lho."


Awan menoleh ke arah omanya, yang kembali bicara. Bahkan, omanya itu seperti tahu, apa yang dia rasakan saat ini.


Omanya itu, bisa menebak isi pikiran dan hatinya Awan.


"Tapi jika Kamu tidak mau lanjut kuliah ke luar negeri, Oma tidak akan memaksa. Tapi, carilah universitas yang terbaik, dan belajarlah dengan baik juga. Opa dan Oma, tidak mungkin bisa terus-terusan menanggani bisnis dan usaha keluarga kita selamanya Wan. Kamu, yang akan menggantikan posisi kami. Itulah sebabnya, Kamu juga harus mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari diri Kamu sendiri."


Awan hanya diam, dengan mendengarkan semua perkataan yang diucapkan oleh omanya. Dia tidak membantah, ataupun memotong kalimat yang diutarakan oleh omanya itu.


"Ayah Kamu itu, sangat mencintai bunda Kamu, Adhisti. Sayangnya, dia juga yang sudah membuat ayahmu kecewa selama ini. Mungkin, itu juga yang menyebabkan ayahmu tidak ada keinginan untuk mencari penggantinya. Ayahmu takut, jika dia akan menemui wanita yang sama seperti istrinya yang dulu."


Awan masih saja diam, mendengarkan semua perkataan omanya.


"Sebenarnya, Oma tidak membenci bundamu Adhisti. Sayangnya, dia tidak tahu, bagaimana seharusnya menempatkan diri, dan menjalani kehidupannya bersama dengan ayahmu. Tapi, Oma memang sudah tahu, bagaimana dia sejak kecil di panti asuhan dulu. Tapi... sudahlah. Semua sudah berlalu. Semoga, dia tenang di alamnya sana."


Mama Amel, tidak lagi ingin membicarakan Adhisti, istri dari awamnya Elang, yang sudah meninggal dunia.


"Kamu, kalau mau cari pendamping, harus hati-hati ya, jangan asal cantik dan menarik hati Kamu saja."


Kembali, mama Amel menasehati cucunya itu. Dan Awan tahu, omanya itu, bukannya membandingkan dirinya dengan ayahnya. Omanya hanya berharap, dia tidak lagi mengulang kesalahan yang sudah pernah dilakukan oleh ayahnya.


"Wan. Kamu tahu kan maksud perkataan dari Oma?"


Akhirnya, mama Amel bertanya kepada Awan, dengan semua maksud perkataannya tadi.


Awan mengangguk, menjawab pertanyaan dari omanya. Dia tahu, jika omanya hanya menginginkan sesuatu yang terbaik untuk dirinya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, mobil mama Amel, memasuki gerbang mall.


Setelah mencari tempat parkir di lantai atas, mama Amel mengajak Awan untuk turun, dan mencari lift untuk menuju ke mall nya.


"Kamu mau ada yang di beli gak?" tanya mama Amel, saat menuggu lift yang masih ada di lantai dasar.


"Tidak ada Oma."


"Kamu ini, selalu menjawab kayak gitu kalau di tanya."


Mama Amel merasa sedikit kesal, karena cucunya itu tidak bisa mengutarakan keinginannya. Apa yang diinginkan, Awan tidak mau mengatakannya. Jadi, mama Amel yang harus bisa menebak-nebak, apa yang sebenarnya diinginkan oleh cucunya itu.


"Nanti, jika ada yang ingin Kamu beli, ngomong ya!"


Awan kembali mengangguk mengiyakan. Dia masuk ke dalam lift, menyusul omanya yang sudah terlebih dulu masuk.


Beberapa detik kemudian, pintu lift terbuka. Mereka berdua, sudah sampai di area mall, yang tampak ramai dengan pengunjung.


Maklum, hari ini hari libur, jadi pengunjung mall pastinya juga akan lebih banyak, di banding dengan hari biasa.


"Kita ke sana dulu Wan."


Mama Amel, mengajak Awan untuk menuju sebuah toko, yang menjual tas-tas dengan harga selangit.


Kadang Awan berpikir dengan bingung, dengan mode para wanita.


Tapi, banyak pada wanita yang dengan rela, harus menguras uang tabungan atau uang dari suami mereka, hanya untuk sekedar mendapatkan satu tas saja.


'Mungkin itu sebabnya, wanita banyak yang lebih stress jika tidak mempunyai uang, dibanding dengan laki-laki.'


Awan jadi membandingkan sedikit sifat manusia, berdasar jenis kelamin mereka.


"Wan. Ini bagus gak?"


Pertanyaan yang diajukan oleh omanya, membuat Awan tersadar dari lamunannya. Dia tampak gelagapan, dan tidak bisa langsung menjawab pertanyaan dari omanya itu.


"Bagus tidak?" tanya mama Amel sekali lagi.


"Ya. Bagus Oma," jawab Awan, setelah menghela nafas panjang, untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Emhhh... kalau yang ini?"


Mama Amel terus bertanya, meminta pendapat pada Awan, soal tas wanita, yang tentunya Awan juga tidak begitu paham.

__ADS_1


Setelah beberapa lama kemudian, mama Amel tampak selesai dengan acara memilih-milih tas yang dia inginkan.


Ada tiga tas yang sudah dipilih oleh mama Amel, dan diserahkan kepada penjaga toko tersebut.


"Kamu gak ada niatan untuk kasih Ara hadiah tas gitu?"


Tiba-tiba, mama Amel bertanya kepada Awan, tentang hadiah dan Ara.


Tentu saja, pertanyaan yang diajukan oleh omanya itu, membuat Awan mengerutkan keningnya bingung.


"Emang Ara ulang tahun lagi?" Awan justru balik bertanya.


"Hahaha... ya bukan gitu. Emhhh... ini untuk hadiah aja gitu. Buat perhatian."


Awan tidak mengerti apa maksud dari perkataan omanya. Dia merasa jika, omanya terlalu mengada-ada, karena Ara sedang tidak ulang tahun, atau ada sesuatu yang membuatnya harus memberikan sebuah hadiah.


"Mungkin ini cocok untuk Ara Wan," ujar mama Amel, saat melihat sebuah tas dengan model simpel.


Sebuah tas dengan bentuk kecil dengan tali panjang, yang bisa digunakan dengan santai untuk bepergian atau sekedar jalan-jalan. Khas anak muda atau remaja.


Tapi sepertinya Awan tidak ada niatan untuk memberikan sebuah hadiah pada Ara.


Tentunya dia juga akan bingung sendiri, saat akan memberikan hadiah tersebut pada Ara. Dia tidak ada alasan yang jelas, untuk dijadikan moment tersebut.


Ini akan membuat Awan gugup dan malu sendiri, jika Ara bertanya kepada dirinya, tentang hadiah tersebut.


Jadi, Awan menolak tawaran omanya, untuk membelikan sebuah tas untuk Ara.


"Beneran gak mau?" tanya mama Amel, sekali lagi, sambil memperlihatkan tas tersebut di depan Awan.


Dari arah pintu masuk toko, ada Dika yang datang bersama dengan mama dan papanya.


Begitu melihat sosok Awan yang dia kenal, Dika langsung berteriak memanggil temannya, yang tadi menolaknya, saat dia ajak untuk mencari keberadaan rumahnya Diyah.


"Woi Bro! Ahhh, Wan!"


Dika melambaikan kedua tangannya ke atas, supaya Awan melihat ke arahnya, yang baru saja masuk.


Tapi sepertinya Awan tidak mendengar panggilan dari temannya, si Dika.


"Siapa Dik?" tanya mamanya Dika.


"Awan Ma," jawab Dika pendek.

__ADS_1


"Awan? Teman sekolah Kamu itu?" tanya mamanya Dika, sekali lagi.


Dika hanya mengangguk, kemudian terus berjalan menuju ke arah tempat Awan berada, di dekat etalase kaca, di samping kasir.


__ADS_2