
Ahmed bersama dengan papa dan mamanya, datang berkunjung ke rumah Anggi. Mereka memang tidak langsung pergi ke Bali, sama seperti yang dikatakan oleh Ahmed kemarin malam.
Dia dan kedua orang tuanya, menginap di hotel lainnya. Dan hari ini, saat sorenya. Mereka datang untuk mempererat silaturahmi. Atau bisa juga, niat Ahmed lebih dari itu.
Anggi dan ayah bundanya, memang baru pulang dari hotel siang hari. Karena harus menunggu sampai Awan dan Ara pergi, ikut pulang bersama dengan keluarganya Awan.
Sepasang pengantin baru itu, memang tidak ada rencana honeymoon ke luar negeri.
Selain karena mereka berdua harus segera bersiap-siap berangkat ke Amerika lagi, ada panggilan polisi yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena terkait dengan kasus yang terjadi pada Ara dan Anggi kemarin.
"Honeymoon bisa kapanpun. Toh kalian bisa juga ke Hawaii atau ke mana saja sebelum ke Amerika lagi."
Begitulah kata-kata mama Amel, untuk menenangkan hati cucunya. Padahal, baik Awan ataupun Ara sendiri, tidak pernah protes ataupun punya keinginan khusus untuk melakukan honeymoon.
"Gak usah honeymoon juga gak apa-apa Oma. Kami ke Amerika juga sudah sama seperti honeymoon kan?" Awan memberikan alasan pada omanya.
"Gak. Kalian butuh waktu dan privasi untuk bisa mendapatkan cicit untuk Oma!" sahut mama Amel cepat.
Dia tidak mau dibantah lagi sama Awan ataupun Ara.
Dan akhirnya, baik Awan ataupun Ara sendiri, hanya mengangguk saja tanpa mau menyahut perkataan yang diucapkan oleh mama Amel selanjutnya.
Begitulah kira-kira perdebatan antara mereka, saat berada di dalam kamar hotel. Tempat menginapnya setelah selesai acara pesta resepsi pernikahan.
Sedangkan Abimanyu, papa Ryan dan Elang sendiri, hanya diam mendengarkan semua pembicaraan mereka berdua.
Tok tok tok!
"Assalamualaikum..."
Ahmed mengucapkan salam, dengan mengetuk pintu rumah Anggi.
"Waallaikumsalam..."
Dari dalam rumah, terdengar suara sahutan yang menjawab salamnya Ahmed.
Clek!
Pintu rumah terbuka. Tampak Anjani yang merasa surprise. Karena melihat kedatangan tamu yang tidak pernah dia sangka-sangka.
__ADS_1
"Ahmed, Tuan dan Nyonya. Mari-mari masuk!" Anjani mempersilahkan ke-tiga tamunya itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Mari. Mari silahkan duduk!"
Anjani juga mempersilahkan mereka, untuk duduk di kursi tamu.
"Maaf ya, rumahnya kecil dan tidak mewah," ucap Anjani dengan tersenyum senang. Karena tamu-tamunya yang datang kali ini adalah salah satu pengusaha dari Amerika.
Termasuk Ahmed yang masih remaja. Tapi sudah menjalankan usahanya sendiri.
"Bunda..."
Anggi melongo melihat ke arah ruang tamu. Dia yang berniat memanggil bundanya, menjadi terkejut dengan keberadaan tamu-tamu yang datang ke rumahnya sore ini.
"Hai Anggi!"
Ahmed menyapa Anggi yang diam di tempat. Dia tidak bergerak maju ke depan, tapi juga tidak bisa mundur lagi.
Dia malu untuk maju karena, pakaian yang dia kenakan, hanya pakaian rumahan. Kaos oblong dengan celana training di bawah lutut.
Tapi jika dia mundur dan masuk kembali ke dalam kamar, mereka semua sudah terlanjur melihat keberadaan dirinya.
"Sini. Ada tamu kok malah melongo," ajak Anjani, dengan melambaikan tangannya. Meminta pada anaknya itu, supaya mendekat dan menyalami tamu-tamunya.
"Maaf Om, Tante. Anggi gak tau jika ada tamu," ucap Anggi dengan menundukkan wajahnya.
Papa dan mamanya Ahmed, hanya tersenyum mendengar perkataan yang diucapkan oleh Anggi. Mereka berdua, memaklumi bahwa, Anggi masih ada di usia remaja. Yang tentu saja, merasa bebas jika sedang ada di dalam rumahnya sendiri.
Ahmed tersenyum senang, bisa melihat bagaimana keadaan Anggi yang seperti ini.
Ternyata, semalam Ahmed sempat meminta alamat Anggi pada Nanda. Dan dari sepupunya Anggi itulah, akhirnya Ahmed tahu, di mana alamat rumahnya Anggi.
Belum lama mereka berbincang-bincang, Abimanyu datang. Dia tadi pergi ke rumah ayah Edi. Karena ada beberapa urusan yang harus dia kerjakan, bersama dengan Aksan dan juga ayah Edi sendiri.
"Wah, ada tamu ya. Maaf," ucap Abimanyu, begitu dia masuk dan mendapati jika ada tamu yang sudah duduk di ruang tamu.
Akhirnya, mereka semua berbincang-bincang akrab. Saling bertukar cerita tentang kehidupan keluarga, dan latar belakang yang tentunya sangat berbeda di antara mereka.
Dari apa yang dikatakan oleh papanya Ahmed, mereka meminta pendapat pada Abimanyu. Tentang keinginan anaknya, Ahmed, yang ingin melebarkan sayap usahanya di Indonesia.
__ADS_1
"Di sini, di Indonesia ini, makanan timur tengah ataupun Chinese sudah tidak asing lagi bagi warga Indonesia. Jadi, dia ingin membuka usaha makanan khas dari sana." Papanya Ahmed, menjelaskan apa yang diinginkan oleh Ahmed sendiri.
"Wah bagus itu. Semangat yang patut kita dukung." Abimanyu memberikan komentarnya, tentang apa yang dikatakan oleh tamunya itu.
Dia juga memberikan apresiasi kepada Ahmed, dengan mengacungkan kedua jari jempolnya.
"Tapi, Kami tidak tahu situasi pasar dan pemasaran di sini Mr Abimanyu. Dan lagi, kami juga tidak mungkin bisa mendampingi dirinya di sini lama," kesah mamanya Ahmed, yang merasa bingung kedepannya nanti.
Anggi melihat dengan tidak percaya, ke arah Ahmed. Dia tidak berpikir sejauh ini. Pada saat bercanda dengan temannya itu. Sewaktu masih berada di Amerika dulu.
Waktu itu, Anggi memang bercanda dengan Ahmed. Dia mengatakan bahwa, jika ingin selalu dekat dengannya, Ahmed di minta untuk membuka usaha kuliner di Indonesia. Supaya bisa lebih dekat, di saat Anggi sudah pindah lagi ke Indonesia.
Hal yang tidak pernah disangka oleh Anggi sendiri. Karena candaannya waktu itu, ternyata dianggap serius oleh Ahmed.
"Jika urusan konsep dan pemasaran kuliner, istri Saya ini yang berpengalaman."
Abimanyu menunjuk pada istrinya, Anjani, yang sedari tadi serius mendengarkan semua pembicaraan mereka.
Sesekali, Anjani melirik ke arah anaknya, Anggi, yang kadang-kadang tersenyum tipis, ataupun kaget karena ada hal yang tidak dia sangka.
Sekarang, Anjani berpikir jika, keinginan Ahmed untuk membuka usaha kuliner di Indonesia, ada kaitannya dengan Anggi juga.
^^^'Ini Anggi yang serius, atau Ahmed yang selalu menganggap setiap perkataan Anggi serius?' batin Anjani bertanya-tanya. ^^^
"Bun," panggil Abimanyu, dengan menyentuh lengan istrinya.
"Eh, i... iya Yah."
Anjani tergagap. Ternyata sepersekian detik tadi, dia melamun. Memikirkan apa yang sudah dikatakan Anggi pada Ahmed.
"Kami berharap, nyonya Anjani bisa membantu kam. Khususnya Ahmed. Untuk mengurus usahanya nanti," pinta mamanya Ahmed, pada Anjani.
Sekarang Anjani yang bingung untuk menjawabnya. Dia bukanlah ahli pemasaran produk. Bukan juga seorang ahli dalam bidang usaha apapun.
Karena selama menikah, dia hanya fokus mengurus rumah. Khususnya suami dan anak-anaknya.
"Bunda. Mereka hanya meminta Bunda untuk mendampingi Ahmed. Supaya tidak salah konsep dan juga bisa ikut mengarahkan. Jika ada kesalahan.
Anjani sebenarnya paham dengan maksud mereka. Tapi dia sendiri, tidak yakin. Jika apa yang dia lakukan bisa memajukan usahanya Ahmed ke depannya nanti.
__ADS_1
"Kita mulai dulu saja. Jika hanya dibicarakan, dan tidak segera dimulai, kita tidak akan pernah bisa tahu juga!"
Abimanyu dan Anjani mengangguk-anggukkan kepalanya setuju. Karena sebuah usaha, memang harus dicoba terlebih dahulu. Dan tidak akan terlihat hasilnya, jika hanya dibicarakan saja, sebagai sebuah rencana yang tidak pasti.