
Ara sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Asinan buah dari kafe rumah milik bundanya, Anjani, yang berada di kota Bogor.
"Ara mau nginap di sini?" tanya teteh koki, pada Ara yang sedang mengemas asinan tersebut pada tempatnya.
"Gak Tante. Ara mau langsung pulang. Nanti Anggi tambah ngambek, kalau Ara dan ayah kelamaan ada di Bogor." Ara menjawab pertanyaan dari teteh koki, sambil mengeleng beberapa kali.
Si teteh koki ikut tersenyum, mendengar jawaban dari Ara. Dia mencubit pipi Ara, yang terlihat mengemaskan dengan lesung pipi, yang hanya ada satu di bagian pipi kiri.
"Ihhh... Tante. Sakit tau!"
Ara cemberut dan menghindar, saat teteh koki mau mencubit pipinya lagi.
"Hahaha..."
Ara tertawa lepas, saat berhasil menghindar dari cubitan teteh koki, pada pipinya yang satunya.
"Awas kalau kena ya!"
Keduanya kejar-kejaran, disekitar kafe rumah, yang masih sepi, karena hari masih pagi, dan kafe juga baru dibuka.
"Ara. Sudah belum? Kayaknya mendung ini, kita harus segera pulang. Takutnya kehujanan di jalan." Abimanyu bertanya pada Ara, sambil memperhatikan langit Bogor yang tertutup mendung.
Ara yang berada di dapur kafe, berteriak menjawab pertanyaan dari ayahnya, " Iya Yah. Ini sudah kok!"
"Tuh kan, ayah sudah gak sabar mau pulang," kata Ara, pada teteh koki yang sudah tidak lagi mengejarnya.
"Ya sudah buru. Ini plastik buat tempat botol asinannya."
Ara menerima plastik bening, yang akan digunakan untuk menyimpan botol-botol asinan, yang sudah dia kemas tadi.
"Makasih ya Tan," ucap Ara, setelah selesai merapikan asinannya.
Tak lama setelah itu, Ara bersama dengan teteh koki, keluar dari dapur kafe, menuju ke tempat duduknya Abimanyu.
"Mas Abi tidak istirahat dulu di rumah? Mendungnya gelap banget. Pasti tidak lama lagi akan turun hujan Mas," kata teteh koki menawari, dengan melihat ke arah atas.
Langit memang terlihat gelap, sehingga pagi hari yang seharusnya sudah terang, jadi sama seperti pada waktu menjelang malam.
"Nuhun Teh. Lusa sudah masuk kantor, dan Ara juga sudah harus masuk sekolah. Dia kan mau ada UN juga. Sayang kan kalau harus absen sekolahnya," jawab Abimanyu, memberikan alasan.
Teteh koki mengangguk paham, dengan alasan yang diberikan oleh Abimanyu.
"Ara yang rajin ya belajarnya, biar pinter dan buat ayah bunda bangga sama Ara," kata teteh koki, sambil mengelus-elus rambut Ara.
Akhirnya, Ara dan Abimanyu berpamitan dengan teteh koki. Mereka berdua, akan melanjutkan perjalanan lagi, untuk pulang ke Jakarta.
__ADS_1
Apalagi, cuaca juga mengharuskan Abimanyu untuk segera pergi. Dia yang sudah lama tidak menyetir mobil dalam perjalanan jauh, pasti akan kesulitan, jika berada pada perjalanan dengan hujan yang turun. Karena sepertinya, mendung yang sekarang terlihat, akan menghasilkan curah hujan yang cukup deras.
Itu akan menyulitkan Abimanyu, untuk jarak pandang dan juga kelincahan dirinya dalam menyetir mobil.
Sekarang mereka berdua, Ara dan ayahnya, Abimanyu sudah naik ke dalam mobil, dan segera berjalan keluar dari halaman kafe rumah.
"Ayah, hati-hati ya Yah."
Ara menasehati ayahnya, saat mereka sudah berada di area jalan raya, menuju ke arah Jakarta.
"Iya Kakak Ara yang cantik..." sahut Abimanyu cepat, sambil mengacak-acak rambut anaknya.
"Ihsss, Ayah kebiasaan deh!"
Ara merenggut, karena ulah ayahnya, yang membuat rambutnya jadi berantakan.
"Hahaha..."
Abimanyu justru tertawa senang, melihat muka anaknya yang sedang ngambek.
"Coba Anggi ikut. Dia pasti gak mau pulang. Ya kan Yah?" Ara berandai-andai.
"Kenapa?" tanya Abimanyu, yang merasa heran dengan apa yang dikatakan anaknya itu.
Ara jadi membicarakan tentang sepupunya, Miko, anak dari tantenya, Sekar, yang memang aktif dan suka usil.
"Tapi kan dia lucu, jadi rame kan kalau ada si Miko di rumah," sahut Abimanyu, menanggapi perkataan anaknya, Ara.
"Ihsss... Ara jadi terganggu Yah belajarnya. Eh, tapi kalau lama gak ke rumah, Ara juga suka kangen sama Miko. Hihihi... aneh ya Yah? Ngeselin, tapi bikin kangen."
Ara tidak tahu, apa yang dia rasakan pada kenakalan sepupunya, Miko.
"Itu namanya Kamu juga sayang sama dia. Sayang sebagai seorang saudara. Kalian kan ada darah yang sama juga. Kamu dari ayah, sedang Miko dari tante Sekar. Dan kenakalan Miko, jadi ciri khasnya. Itu yang buat kangen. Apalagi kalau dia sedang sakit, dan diam saja. Jadi kerasa aneh kan!"
Abimanyu mencoba untuk menjelaskan pada anaknya, tentang rasa kasih sayang pada saudara.
Ara mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan dari ayahnya. Dia merasa, jika saat ini juga kangen dan ingin melihat sepupunya, si Miko, yang suka usil.
"Besok telpon tante Sekar, untuk datang ke rumah ya Yah. Suruh ajak Miko ke rumah."
Ara meminta pada ayahnya, supaya menghubungi tantenya, Sekar.
"Nanti saja, kalau sudah sampai di rumah," sahut Abimanyu, yang masih berkonsentrasi pada setirnya.
Duarrr!
__ADS_1
Tiba-tiba, guntur mengelegar. Kilat terlihat sangat jelas dan seperti tampak di depan mata. Padahal, hujan belum juga turun.
"Yah!"
Ara berteriak keras. Dia merasa takut, saat guntur yang datang bersamaan dengan kilat, yang terlihat seperti pecutan api.
"Baca-baca doa Ara." Perintah Abimanyu.
Ara menurut. Dia tampak komat-kamit, melantunkan doa, supaya diberikan keselamatan hingga sampai di rumah.
Tapi ternyata, hujan turun tak lama kemudian. Air yang jatuh terlihat besar dan keras, saat mengenai atap mobil.
Suara- suara yang seharusnya terdengar, jadi menghilang dan hanya air hujan yang turun saja yang sekarang terdengar di telinga.
Jarak pandang yang bisa terlihat, juga tidak bisa sejauh biasanya, saat keadaan normal.
Abimanyu jadi waspada, dan berhati-hati, supaya tidak menabrak mobil yang ada di depannya. Tindakan Abimanyu ini, juga dilakukan oleh kebanyakan pengendara yang lain.
Mobil-mobil yang sedang berjalan, jadi perlahan-lahan dan melamban, supaya tidak terjadi kecelakaan.
"Apa kita berhenti dulu ya? sampai hujan tidak sederas ini."
Ara hanya mengangguk saja. Dia pikir, ayahnya itu pasti kesusahan dan tidak bisa menyetir mobil dalam keadaan seperti ini, dalam waktu yang lama. Ayahnya bisa kram, pada kaki atau tangannya. Dan itu akan menjadi masalah baru, jika sampai terjadi.
Mereka bisa terlambat pulang, atau bisa jadi, perjalanan pulang mereka akan tertunda, jika keadaan ayahnya, sama seperti yang dibayangkan Ara.
"Iya Yah. Mending istirahat dulu di mana gitu," ucap Ara, sambil melihat ke arah samping, untuk menemukan tempat istirahat yang cukup baik.
"Ayah istirahat saja. Kuta berhenti dulu di warung atau toko, untuk membeli makanan atau minuman hangat." Ara melanjutkan kata-katanya, agar ayahnya bisa beristirahat dan tidak memaksakan diri untuk menyetir mobil dalam keadaan seperti saat ini.
"Iya. Kita cari tempat yang nyaman ya," kata Abimanyu, menyetujui usulan dari Ara.
Akhirnya Abimanyu menepikan mobilnya di sebuah minimarket. Tapi ternyata, tidak hanya Abimanyu yang sedang dalam perjalanan dan ingin beristirahat sebentar, sambil menunggu hujan reda.
Ada beberapa mobil yang sudah terparkir terlebih dahulu, di area parkir minimarket yang tidak terlalu besar itu.
"Penuh ya Yah," ucap Ara, saat ayahnya sedikit kesusahan untuk mencari posisi parkir.
"Mereka juga pastinya sama seperti kita. Dalam perjalanan, dan beristirahat sebentar sambil menunggu hujan reda."
Ara mengangguk setuju, dengan pendapat ayahnya itu. Apalagi, dari plat nomor kendaraan, mobil-mobil itu juga bukan dari daerah Bogor.
Ada beberapa yang dari Jakarta, dan ada juga yang dari Bandung.
Ara jadi mengingat-ingat, kode plat nomor kendaraan, yang berbeda-beda setiap kota.
__ADS_1