
Beberapa bulan kemudian, Yasmin benar-benar berangkat ke luar negeri. Dia bertekad menjadi seorang TKI, dengan maksud untuk mendapatkan uang yang banyak, agar bisa melunasi hutang-hutangnya. Dia berpikir jika, tidak mungkin hutang-hutangnya itu bisa terbayar, jika hanya mengandalkan dirinya yang bekerja sebagai pegawai di sebuah pabrik garmen kecil. Gajinya tidak akan pernah cukup, untuk membayar hutang-hutang tersebut.
Ayah Edi, mau tidak mau, harus bisa memberikan ijinnya untuk Yasmin. Dengan catatan, bahwa dia harus bisa menjaga diri dan tetap berkomunikasi dengan keluarganya, karena ada Nanda, anaknya, yang dia tinggalkan nanti.
Sebenarnya, Yasmin juga tidak tega, jika harus meninggalkan anaknya itu, dalam jangka waktu yang lama. Karena masa kerja ke luar negeri, paling pendek adalah dua tahun.
"Iya Yah. Yasmin pasti akan rutin menelpon nanti," kata Yasmin, saat berpamitan dengan ayahnya.
Yasmin memeluk ayahnya itu dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan. Ada kesedihan, penyesalan dan harapan, yang ingin dia raih di negara orang.
Begitu juga saat Yasmin memeluk ibunya. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Semua tumpah, bersama dengan air mata yang mengalir begitu saja tanpa bisa di tahan.
"Bu, Yasmin titip Nanda ya Bu," kata Yasmin memberi pesan untuk ibunya, di sela-sela tangisannya.
Ibu Sofie, hanya bisa mengangguk sambil mengusap air matanya yang juga ikut mengalir deras. Dia merasa tidak tenang saat Yasmin berpamitan untuk pergi ke luar negeri, menjadi seorang TKI.
Tapi, dia juga tidak mungkin bisa menahannya. Dia sudah tidak punya apa-apa lagi, untuk membantu anaknya itu, agar terhindar dari semua hutang-hutang yang dimiliki Yasmin, saat masih menjadi istrinya Wawan.
Tabungan ibu Sofie sudah habis, begitu juga dengan suaminya. Bahkan, mobilnya juga sudah ikut terjual. Ibu Sofie, berangkat ke kantor dengan ikut satu mobil bersama suaminya, ayah Edi. Atau jika tidak, dia akan mengunakan motor Sekar sebagai kendaraannya. Itupun jika Sekar sedang ada di rumah, dan tidak ada rencana untuk keluar hingga sore hari.
"Kakak. Maafkan Aku ya. Aku pamit untuk kerja dulu. Semoga Kakak bisa menemukan laki-laki yang baik dan juga bertanggung jawab. Tidak seperti laki-laki yang selama ini Aku perjuangkan. Nitip Nanda juga ya Kak," kata Yasmin, sambil memeluk kakaknya, yang sedari tadi tidak berkata apa-apa.
Sekar hanya bisa menangis. Menangisi kepergian adiknya, yang menurutnya tidak hanya sekedar mencari uang, tapi juga ingin melupakan sakit hatinya pada mantan suaminya, Wawan. Papanya Nanda.
Mereka semua sama-sama dalam keadaan menangis penuh haru. Melepaskan Yasmin, anak dan juga adik di dalam keluarga ayah Edi, yang dulunya, hanya bisa meminta dan meminta saja. Yasmin yang manja dan semaunya sendiri, sudah tamat dan tidak ada lagi.
__ADS_1
Sekarang, Yasmin sudah berganti. Dia harus bisa berjuang dan mempertahankan kehidupannya, yang sudah hancur karena perbuatan dari suaminya sendiri, yaitu Wawan. Meskipun itu harus sampai ke negeri orang, menjadi seorang TKI, yang tidak pernah terlintas dalam benak Yasmin, dan semua orang yang ada di sekitarnya.
Menjadi seorang TKI, yang harus pergi jauh dan dalam jangka waktu yang lama. Semua itu, tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
"Yasmin!"
Dari arah pintu masuk bandara, muncul Abimanyu, yang datang bersama dengan istrinya, Anjani.
Abimanyu juga mengendong Ara, yang saat ini sudah berusia empat bulan.
"Mas."
Yasmin segera memeluk kakaknya, Abimanyu, yang sudah menyerahkan Ara pada Sekar, yang pada saat itu, posisi Sekar ada paling dekat dari tempatnya berdiri. Sedangkan Anjani, masih tertinggal di belakang. Abimanyu mengira bahwa mereka akan terlambat datang, dan Yasmin sudah keburu pergi. Itulah sebabnya, dia meminta ijin pada Anjani, agar dia bisa berjalan terlebih dahulu untuk mengejar waktu, karena jadwal penerbangan Yasmin tinggal beberapa menit lagi.
Yasmin memeluk kakaknya, Abimanyu, dengan berderai air mata. Dia merasa sangat menyesal karena telah berbuat jahat pada kakaknya selama ini. Bukan hanya pada kakaknya, Yasmin juga sudah tega membuat istri dari kakaknya, Anjani, harus keguguran dan bahkan nyawa dari Anjani sendiri, ikut terancam juga pada saat itu.
Dia terus menangis, mengenang masa lalunya yang sama seperti sebuah dongeng, dimana dirinya sebagai pemeran antagonisnya. Pemeran perempuan yang sangat jahat dan tidak ada sisi baiknya sama sekali. Seorang tokoh yang sangat angkuh dan sombong, serta memiliki kelakuan yang tidak benar, untuk dijadikan contoh pada kehidupan nyata. Tapi nyatanya, kehidupan Yasmin bukanlah sebuah dongeng dimana semua akan mudah.
Sekarang, saatnya Yasmin harus bisa menebus semua kesalahan dan dosa-dosa yang telah dia lakukan. Dengan menerima jalan hidupnya yang sudah jatuh terbalik dari keadaan sebelumnya.
Saat sadar dengan keberadaan Anjani, kakak iparnya, Yasmin melepas pelukannya pada kakaknya, Abimanyu.
Dia berganti memeluk kakak iparnya itu, dengan kembali berderai air mata lagi. Meminta maaf pada Anjani, atas semua perbuatannya selama ini, yang sebenarnya, tidak terhitung dan tidak bisa dimaafkan juga.
Sebuah perpisahan yang sangat mengharukan. Dan kepergian Yasmin, memberikan sebuah pelajaran untuk semuanya, bahwa kehidupan ini cepat berganti. Seiring berjalannya waktu, roda kehidupan juga berputar. Yang tadinya ada di atas, akan berganti posisi ke bawah. Begitu juga sebaliknya.
__ADS_1
*****
Seminggu kemudian, Yasmin sudah memberikan kabar, bahwa dia telah bekerja pada sebuah keluarga yang mempekerjakan dirinya, sebagai seorang pengurus anak berusia lima tahun, dan sudah bersekolah di sekolah anak-anak.
Dia juga menanyakan tentang keadaan Nanda, yang sekarang ini lebih sering berada di rumah Anjani. Itu karena Anjani yang selalu ada di rumah sepanjang hari. Sedangkan Sekar atupun ibu Sofie sendiri, masih harus bekerja pada siang harinya.
..."Jadi, Nanda sekarang di urus Mbak Jani Bu?"...
Yasmin pada saat berbincang dengan ibunya, melalui video call.
..."Iya. Nanda juga lebih betah ada di sana. Mungkin karena dia ada teman juga, anaknya mas_mu, sekarang sudah bisa merangkak."...
..."Hiks, Yasmin benar-benar merasa malu Bu. Apalagi mbak Jani juga mau merawat Nanda sekarang. Padahal Aku sudah sangat jahat padanya."...
Yasmin tampak menangis dan menyesali semua perbuatannya selama ini.
..."Kamu yang hati-hati ya, ada di negara orang lain itu tidak sama seperti berada di negara sendiri."...
Ibu Sofie, kembali memberikan beberapa pesan dan nasehat untuk anaknya, Yasmin.
Yasmin pun mengangguk mengiyakan perkataan ibunya.
..."Nitip salam buat mbak Jani dan juga mas Abi ya Bu."...
..."Iya, nanti ibu sampaikan. Pokoknya, Kamu harus berhati-hati dan juga jaga kesehatan."...
__ADS_1
Video call terputus. Ibu Sofie, mengusap air matanya yang menetes sedari tadi.