Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kabar Tengah Malam


__ADS_3

Kehidupan silih berganti, ada yang pergi dan ada yang akan datang. Perputaran waktu, akan terus berjalan, sesuai dengan apa yang seharusnya, dan sudah menjadi ketetapan Sang pencipta. Tuhan lebih tahu, apa yang kita butuhkan, bukan dari apa yang kita inginkan.


Begitu juga dengan apa yang digariskan oleh nasib, semua akan terjadi tepat saat waktunya juga, tidak mungkin maju, dan tidak mungkin mudur.


Semua sudah ditetapkan, dan kita sebagai manusia biasa, hanya mampu berusaha dan berdoa, untuk keselamatan, kebahagiaan, dan dari apa yang kita inginkan dan harapkan untuk kedepannya nanti.


Anjani juga sama. Dia ingin selalu bisa hidup bersama dengan suaminya, Abimanyu, dengan tenang dan bahagia selamanya. Tapi takdir Tuhan kadang-kadang memang tidak terduga.


Dua hari lagi Abimanyu akan kembali dari Jakarta. Anjani dan anak-anaknya, sudah tidak sabar menunggu kedatangan Abimanyu. Mereka bertiga, ingin membuat sebuah kejutan kecil, di saat Abimanyu pulang nanti.


"Kita buat pesta kecil-kecilan yuk, saat ayah Abi kembali nanti, sebagai kejutan gitu Sayang. Bagaimana, kalian setuju gak?" tanya Anjani, setelah menjelaskan pada kedua anaknya, Ara dan Nanda, saat mereka berdua selesai mandi di waktu sore.


Mereka bertiga, melakukan tos bersama-sama, karena sudah mendapatkan kesepakatan yang akan mereka lakukan untuk menyambut kedatangan ayah mereka, ayah Abimanyu.


Tapi, rencana tinggal rencana. Semua seperti debu yang berterbangan diterpa angin.


Begitulah kira-kira yang dirasakan oleh Anjani, pada waktu tengah malam, dan mendapatkan kabar dari mertuanya, ayah Edi, tentang kecelakaan yang terjadi didekat pintu tol, saat Abimanyu dalam perjalanan pulang dari kantor.


Dan kejadian itu seperti mimpi bagi Anjani. Dia tidak mau percaya dengan berita yang disampaikan oleh ayah Edi, mertuanya. "Abi mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang dari kantor," kata ayah Edi mengabarkan.


Tentu saja Anjani merasa sangat terkejut. Dia, yang tadi sore baru saja membuat sebuah rencana kejutan untuk suaminya itu, bersama dengan anak-anak, justru mendapat kejutan terlebih dahulu sebelum rencananya itu berjalan.


"Kamu ke sini kalau sudah pagi saja Jani. Kasihan anak-anak. Ini sudah ditangani oleh dokter. Semoga saja, Abimanyu tidak apa-apa," kata ayah Edi, memberikan saran, supaya Anjani tidak merasa panik.


"Tapi Yah. Jani... Jani khawatir. Bagaimana lukanya Yah, tidak parah kan?" tanya Anjani memastikan. Dia benar-benar merasa sangat khawatir dengan kondisi suaminya.


"Ayah juga belum tahu. Tadi, pihak kepolisian memberikan kabar pada Ayah, karena kontak panggilan terakhir kali di ponsel Abimanyu, adalah nomer handphone Ayah. Saat Ayah datang ke rumah sakit, Abimanyu sudah ada di dalam IGD. Dan sampai sekarang, belum ada korban kecelakaan yang keluar dari ruangan tersebut."


Ayah Edi menjelaskan pada Anjani, sejelas-jelasnya, agar menantunya itu tidak perlu khawatir terlalu lama.

__ADS_1


"Jani akan minta bantuan Om untuk mengantar Jani ke Jakarta. Anak-anak ikut Yah, biar nanti di temani baby sitter dan bibi pembantu rumah."


Anjani tidak bisa dengan tenang begitu saja, meskipun ayah Edi mengatakan jika Abimanyu tidak kenapa-kenapa. Dia ingin melihatnya secara langsung, dan ingin mengetahui bagaimana keadaan suaminya saat ini.


"Baiklah. Hati-hati kalau berangkat. Ayah akan menunggu. Di ruangan tunggu juga ada ibumu dan Sekar bersama dengan suaminya juga. Ini Ayah keluar sebentar untuk menelpon dirimu."


"Iya Yah. Jani siap-siap dulu," jawab Anjani, masih dalam keadaan terisak-isak.


Anjani segera membangunkan baby sitter dan bibi pembantu, untuk membantu dirinya berkemas. Merapikan barang-barang yang akan mereka bawa ke Jakarta.


"Kok mendadak Bu, ada apa?" tanya baby sitter, yang memang tidak diberitahu oleh Anjani, kenapa harus segera pergi ke Jakarta saat ini juga. Diwaktu tengah malam.


"Bapak kecelakaan," jawab Anjani sambil membuka almari dan memilih baju-baju anaknya.


"Ya Allah Bu, semoga saja tidak apa-apa ya di bapak," kata baby sitter dengan terkejut juga, saat mendengar alasan yang diberikan oleh Anjani.


Akhirnya dengan cekatan dia ikut membantu majikannya itu, membangunkan Ara dan juga Nanda.


Anjani memeriksa barang-barang yang akan mereka bawa. Begitu juga dengan anak-anaknya, dia meminta supaya baby sitter dan bibi pembantu rumah, untuk mengendong masing-masing, dan segera masuk ke dalam mobil. Dia mengabari teteh koki terlebih dahulu, sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam mobil juga.


"Om, kita berangkat sekarang," kata Anjani, meminta pada om_nya, untuk segera menjalankan mobil.


"Iya Jani. Kita berdoa ya, supaya bisa sampai di Jakarta dalam keadaan selamat, sehat dan tidak kurang suatu apapun." Om nya Anjani, meminta mereka semua untuk berdoa demi keselamatan mereka bersama.


*****


Perjalanan dari Bogor ke Jakarta, yang biasanya menyenangkan dan terasa cepat, sekarang jadi lebih lama dan menegangkan.


Ara dan Nanda, tertidur di sisi baby sitter dan bibi pembantu. Sedangkan Anjani, duduk di depan, menemani Om nya yang sedang menyetir.

__ADS_1


"Berdoa saja Jani. Semoga suami Kamu baik-baik saja. Om harap Kamu tetap kuat ya," kata Om nya, memberikan nasehat.


"Iya Om. Terima kasih. Maaf ya Om, Jani merepotkan tengah malam begini," jawab Anjani, yang merasa sungkan, karena membuat Om nya itu, jadi ikut repot dan terganggu tidurnya.


"Tidak apa-apa. Kebetulan memang Om tidak ada kerjaan juga besok. Jadi ini benar-benar tidak menggangu."


"Syukurlah kalau begitu. Terima kasih banyak ya Om," ucap Anjani sambil mengangguk dan melihat ke arah om nya.


Om nya Anjani, hanya mengangguk saja. Dia kembali fokus pada kemudi dan tidak mengajak Anjani berbicara lagi. Dia tidak ingin membuat Anjani merasa terganggu, dengan pembicaraan mereka nanti.


Sekitar pukul empat pagi hari, mobil yang mereka tumpangi, memasuki kawasan Jakarta. Jalan masih tampak sepi, meskipun tidak bisa dikatakan lengang juga. Karena kegiatan pagi hari di daerah Jakarta, sudah mulai berlangsung. Bahkan, Jakarta tidak pernah ada kata tidur.


Empat puluh lima menit kemudian, mereka semua memasuki halaman rumah sakit. Tapi, hanya Anjani yang turun dan mobil kembali berjalan menuju ke arah jalan raya, dan melaju ke arah rumah mertuanya Anjani, rumah ayah Edi.


Anjani meminta pada Om nya, untuk mengantar anak-anaknya, bersama dengan baby sitter dan bibi pembantu, untuk pulang ke rumah saja. Ini karena rumah sakit, tidak cocok untuk anak-anak. Apalagi, ayah mereka, Abimanyu, masih belum jelas bagaimana keadaan dan kondisi sekarang ini.


Setelah mobil menjauh, Anjani segera masuk ke dalam rumah sakit dan langsung menuju ke arah ruang IGD. Dari kejauhan, tampak ayah Edi yang sedang bersandar pada tembok, sedang ibu Sofie, duduk bersama dengan Sekar. Suami Sekar, tidak terlihat, mungkin sedang keluar atau pergi ke kamar mandi.


Dari wajah-wajah mereka, semuanya tampak sama-sama cemas, menunggu Abimanyu, yang belum juga keluar dari ruangan tersebut.


"Yah," sapa Anjani dari jarak dua meter.


"Jani!" Ayah Edi, tampak terkejut melihat kedatangan Anjani sepagi ini


Ibu Sofie dan Sekar, segera menoleh ke arah Anjani, yang saat ini sedang menyalami ayah mertuanya.


"Mbak Jani," panggil Sekar, kemudian berdiri dan berjalan menuju ke arah Anjani berada.


Sekar memeluk kakak iparnya itu, kemudian kembali menangis.

__ADS_1


"Hiks hiks hiks... "


Sekar tidak mampu berkata-kata. Dia hanya bisa menangis dalam pelukan Anjani.


__ADS_2